Jangan Tanya Kenapa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 3 January 2018

Namaku Adinda umurku 16 tahun, masih sangat muda memang tapi aku sudah tak sanggup untuk menjalani kehidupan ini. Dan aku berencana untuk bunuh diri, ya aku tahu itu dosa, tapi saat ini lebih baik aku mati. Hari ini hari ulangtahunku yang ke 16. Dan hari ini aku berniat mengakhiri hidupku di hari yang sama aku dilahirkan.

Sebelum aku berangkat ke jurang, aku memeluk tubuh ibuku dan meminta maaf padanya. Di perjalanan ku sepertinya ada yang mengikutiku, namun aku abaikan saja. Setelah sampai di jurang kematian aku berteriak “Oh Tuhan maafkan aku yang melanggar LaranganMu, maaf kan aku. Aku sudah cukup lelah dengan kehidupanku. Aku benci pada mereka, aku benci dunia ini.” Lalu ku bersiap untuk melompat, tiba-tiba ada yang menarik lenganku.

“Kak Iyan, kakak kenapa ada di sini?” ucapku sambil menangis. “Tidak aku tidak ingin kau mati dengan sia-sia seperti ini.” ucap kak iyan dengan marah. Lalu kak iyan mengikat tangan dan kakiku, lalu menghubungi keluargaku. Oh iya, kak iyan adalah teman kakakku, dulu aku cinta padanya tapi perasaan itu aku buang jauh-jauh karena aku sadar aku tak bisa memilikinya.

Setelah kak iyan selesai menelepon dia membopongku dan membawaku pulang, aku pun masih berteriak dan meronta-ronta. “lepaskan aku kak, biarkan aku pergi, jangan bawa aku pulang ke rumah.”. Tetangga yang melihat aku dibopong kak iyan langsung penasaran dan mengikuti kami.

Sampai di rumah ikatanku dilepas dan aku disuruh duduk di kursi. Aku melihat sekelilingku ternyata semua keluargaku berkumpul di sini. Aku hanya tersenyum sinis. “Kau bodoh sekali, mengapa kau lakukan itu!” bentak ayahku, aku hanya diam dan meneteskan air mata. “Dinda apa yang kamu lakukan itu tindakan bodoh. Kamu mau keluarga kita malu karena tindakanmu itu!!” timpal kakakku. Lagi-lagi aku terdiam, dan semua orang yang ada di sini ikut-ikut memarahiku, dan membentakku termasuk kak iyan.

Aku sudah sangat capek mendengarkan kata-kata mereka. Lalu aku berdiri sambil menggebrak meja. Bruukkk!!!. Mereka semua terdiam. “Kenapa semuanya diam, ayo marahi saja lagi. Pasti kalian belum puas kan dengan marah marah saja, ayo sini pukul dinda sekalian.” kataku pada mereka. “Adinda!!, yang sopan kalo bicara.” teriak kakakku. “Cukup kak, kalian semua sudah cukup banyak bicara dan sekarang aku yang bicara. Apa kalian tau aku sudah sangat capek hidup dengan kalian. Di setiap do’a yang aku panjatkan selalu terselip kata-kata. “Ya Allah cabutlah nyawaku ini agar aku tak semakin tersiksa di dunia ini.” ucapku menjelaskan. “Tapi kenapa, sayang” tanya mamaku berlinang air mata.

“Ma, sejak aku lahir sampai sekarang pernahkah keluarga ini harmonis?… Yang ada hanyalah pertengkaran mama dan ayah, sampai-sampai ayah ingin membunuh mama. Tapi apa kalian tau, apa yang aku rasakan? Kebencian!! Ya kebencian terhadap dia (aku menunjuk ayahku) ya karena dia aku tidak bisa melanjutkan sekolahku. Dia hanya bisa menghambur-hamburkan uang dengan berj*di. Dan aku? Aku harus bekerja di tempat yang jauh. Teman-temanku di sana semuanya munafik seperti tetangga kita.” kataku panjang lebar.

“Huss jangan bilang seperti itu, sayang.” ucap mama. “Kenapa Ma??, kenyataannya memang benar kan busukk di belakang!! Dan mentalku semakin tertekan di sini. Apalagi kakak, kakak bilang bahwa aku ini bodoh, tolol dan gak berguna. Kata-kata kakak semakin membuat mentalku tertekan. Paman dan kakek selalu saja membandingkan aku dengan sepupuku. kenapa? Oh iya, karena kalian tak pernah puas dengan apa yang aku kerjakan. Memang kalian tak pernah menyayangiku.” kataku sambil menangis. Semuanya menjadi hening.

“Kami minta maaf dinda, kami salah telah menuntutmu untuk hidup sempurna” ucap kakakku penuh penyesalan. “Oh ya?? Sekarang kalian sadar bahwa gak semua orang bisa hidup dengan sempurna, seperti kalian. Tapi maaf, aku tak bisa memaafkan kalian.” ucapku sambil bergegas pergi. Tapi kak iyan menahanku untuk pergi. “Kau ingin ketenangan bukan? dan kau ingin jauh dari mereka semua. Baiklah, ikutlah denganku pergi ke negara lain. Sampai kau merasa tenang dan bisa memaafkan mereka.” kata kak iyan. “Baiklah, aku akan ikut, jika ini memang yang terbaik selain mati.” kataku.

Akhirnya aku dan kak iyan pergi ke malaysia selama 4 tahun. Setelah aku merasa tenang dan bisa memaafkan mereka, aku pulang ke rumah. Dan setelah sampai di rumah, kedatanganku dan kak iyan disambut dengan suka cita.

Selesai

Cerpen Karangan: Rita Aprilia
Facebook: Rita Aprilia

Cerpen Jangan Tanya Kenapa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mutiara dan Bunga (Part 1)

Oleh:
Namaku Hamidah. Aku tinggal di sebuah desa kecil di Kabupatan Banjarnegara. Aku terlahir dengan ketidakmampuanku berbicara. Mendiang nenekku, orang yang paling menyayangi dan menerimaku, pernah bilang padaku kalau aku

Aku Hebat

Oleh:
“Aku hebat,” kata ayah. Saat mengagumi fotoku yang terpampang di FB ku, terdapat foto keluarga serta anak asuh ayah. Semua kegiatan ayah, sengaja kusimpan di FB ku, agar aku

Mawar di Ujung Senja

Oleh:
Bumi berotasi, berevolusi, begitupun hidup sebuah kupu-kupu berotasi dari ulat renta, buruk rupa, menjadi makhluk Tuhan paling diteladani keteguhannya. Siluet jingga menebarkan senyumnya untukku, “Selamat malam” gumamku tersenyum pula

Amabel

Oleh:
“Ha-hantuuu.. Ibu rumah itu ada hantunya! Rumah itu ada hantunya!!!” Lelaki kecil berusia sekitar 9 tahun berlari ketakutan ketika melewati rumah megah di ujung gang Redrose tersebut. Ia melihat

Believe With Your Life

Oleh:
Ketika matahari telah menampakkan diri, berbagi cerita bersama awan yang membiru. Mencoba melukis hari yang sempat menjadi misteri. Aku tidak tahu, entah apa yang akan aku lakukan kali ini.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *