Jarak (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 17 January 2022

Hari ini adalah jadwal penerbanganku untuk pulang. Semuanya sudah kupersiapkan dengan matang. Oleh-oleh dan lainnya.

Sesampainya di rumah… Sama seperti dugaanku hanya kakak yang menunggu dan bahagia atas kepulanganku malam ini. Sementara ayah dan ibu sudah terlelap dalam tidurnya. Aku merasa canggung ketika kembali menyusuri seisi rumah. Rasanya seperti baru pertama kali datang kemari.

Keesokan paginya… Kami mulai mempersiapkan pernikahan kakak mulai dari konsep, tamu undangan, dan lainnya. Untuk pertama kalinya aku melihat kakak iparku. Dia tampan dan terlihat mapan. Tidak tahu apa yang kakak lakukan hingga lelaki itu mau menjadi pasangan hidupnya. Beruntung sekali kakak.

Kedatangan kakak ipar membawa kebahagiaan di rumah kami. Rencananya, ia akan mengajak kakak untuk memilih gaun pernikahan. Manis sekali hahaha. Mereka pergi dan meninggalkanku bersama dengan ayah dan ibu. Aku merasa canggung. Mereka sama sekali tidak membuka obrolan. Aku mencoba memulai dengan menanyakan kabar mereka. Dan yaa… sinis sekali reaksinya. Hanya mengatakan hmmm. Percobaan kedua aku mulai membuka obrolan dengan bertanya mengenai bagaimana pertemuan antara kakak dan kakak ipar. Dan yaa… ibu hanya menjawab dengan singkat kalau mereka satu kantor. Ahhhh… rasanya mulai menyerah untuk mengajak mereka mengobrol. Kemarahan masih tergambar jelas di wajah mereka.

Aku merasa haus dan memutuskan mengambil minum di dapur. Tapi ternyata saat aku berjalan menuju ruang tamu kakiku terpeleset dan air minum itu tumpah mengenai daftar tamu undangan. Melihatnya, kemarahan ayah semakin membludak. Dan ibu mulai menatapku dengan tatapan tajamnya seakan-akan ingin memangsaku saat itu juga.

“Apa yang kau lakukan. Tidak bisakah kau tidak membuat masalah. Jika kau memang tidak ingin membantu lebih baik pergilah ke kamar. Dasar kau tidak berguna” Bentak ayah padaku

Aku sudah berusaha menjelaskan ketidaksengajaanku. Tetapi ayah tidak mendengarkan dan hanya kalimat bahwa aku tidak berguna sajalah yang terus ia lontarkan. Aku mulai merasa terganggu dengan hal ini. Tidak tahan dengannya, aku langsung meluapkan amarahku.
“Ya… Aku memang tidak berguna. Apapun yang kulakukan, sengaja atau tidak, semuanya tidak ada gunanya. Bukankah itu yang ayah ingin dengar dariku” Balasku pada ayah

Tanpa kami sadari ternyata kakak telah berdiri di depan pintu dan menyaksikan semuanya. Hanya tangisan yang kakak perlihatkan sebagai respon terhadap pertengkaran kami. Dia lari ke kamar, mengunci pintunya, dan mulai memecahkan barang-barang. Kami takut jika kakak berbuat hal yang tidak-tidak, karena itu ayah mulai mendobrak pintunya.

“Tidak bisakah kalian mengakhiri jarak ini demi diriku meskipun hanya sampai waktu pernikahanku hah. Mengapa kalian selalu seperti ini. Kalian marah padanya karena dia tak sengaja menumpahkan air di daftar tamu dan mulai menganggapnya tidak berguna. Dan kau Al, aku sama sekali tidak memintamu pulang hanya untuk melihatmu bertengkar. Aku kecewa dengan kalian semua” Ucap kakak sembari terisak tangis
“Tolong maafkan kami Mayang. Kumohon jangan menangis” Saut ayah sembari mengusap air mata kakak
“Kumohon demi diriku berjanjilah bahwa kalian akan berdamai” Pinta kakak
Tanpa berpikir panjang dan melihat bagaimana kondisi kakak. Kami memutuskan untuk berdamai.

Sudah lama sejak hari itu berlalu dan pertengkaran diantara kami terasa tamat begitu saja, jika aku melakukan kesalahan bukan bentakan yang kudapat, melainkan hanya sekedar tatapan sinis dari mereka. Rasanya aku ingin tertawa melihat kondisi mereka yang seperti dibungkam itu hahaha. Akhirnya setelah sekian lama rumah menjadi damai rasaku.

Bisa kukatakan persiapan pernikahan kakak sudah semakin matang. Malam ini kami membahas mengenai warna undangan dan makanan apa sajakah yang akan kami sajikan saat pernikahan nanti. Kami mulai mengajukan pendapat masing-masing dan perdebatan pun dimulai. Apa yang kakak inginkan rasanya tidak sesuai dengan ayah, ibu dan aku. Bisa dibilang kali ini kami memiliki pemikiran yang sama. Kami mulai membahasnya satu persatu. Penolakan dan kesepakatan terus saja berlangsung. Kami mulai tertawa bersama, bercanda, bercerita, dan mengingat masa kecilku dan kakak sampai-sampai tak sadar jika waktu telah menunjukan tengah malam. Rasanya malam itu seperti jarak yang tercipta diantara kami terhapuskan begitu saja. Aku bahagia sekali saat itu dan berharap agar hari-hari berikutnya bisa berlalu sama seperti malam itu.

Pagi ini kami sedikit santai karena rata-rata persiapan telah selesai kami siapkan. Karena itu kakak mengajak kami semua menghabiskan waktu bersama untuk berjalan-jalan. Rasanya definisi keluarga bahagia benar-benar cocok untuk kami hahaha. Melihat matahari mulai menenggelamkan dirinya kami pun bergegas untuk pulang. Sesampainya di rumah, setelah selesai membersihkan diri aku menghampiri kakak di teras rumah.

“Bisakah aku mengucapkan terimakasih padamu kak” Ucapku
“Heyy Al. Kemarilah. Terimakasih untuk apa?” Tanya kakak dengan heran
“Untuk semuanya. Rasanya jarak itu seperti sudah terhapus begitu saja” Jawabku
“Boleh kukatakan sesuatu padamu Al?” Tanya kakak padaku
“Ayolah… mengapa kakak meminta izin dariku. Katakan saja apa yang ingin kakak katakan” Jawabku

“Apa yang terjadi sebelumnya memanglah tidak benar. Aku mohon kau jangan tersinggung. Aku tahu alasan mengapa ayah dan ibu sangat marah padamu hingga mereka menolak impianmu itu. Sebenarnya Al mereka juga adalah seorang penulis dulu. Tapi nasib mereka sangatlah tidak beruntung. Mereka ditipu. Buku yang mereka buat yang seharusnya mereka miliki, buku itu justru menjadi milik orang lain. Mereka hanya tidak ingin kalau kau juga merasakannya. Itulah sebabnya mereka bersikap seperti itu. Kuharap kau bisa mengerti” Ucap kakak

Aku tidak bisa berkata apa-apa saat mendengarnya, seakan-akan mulutku sedang digembok. Aku sama sekali tidak tahu mengenai hal itu dan mulai mempertanyakan mengapa ayah dan ibu merahasiakannya dariku. Mengapa mereka tidak memberitahukannya. Aku sangat terkejut dan ingin segera pergi ke kamar. Namun, ketika aku membalikkan badan aku melihat mereka (ayah dan ibu) berdiri di belakang kami. Mereka memperlihatkan tatapan sedih padaku. Sontak saja aku langsung berlari dan memeluk mereka berdua.

“Mengapa kalian tidak pernah memberitahukan hal itu padaku?” Tanyaku sembari terisak tangis
“Kami tidak ingin kau mengetahui hal apapun mengenai masa kelam kami” Jawab ibu sembari menangis
“Apa aku harus berhenti?” Tanyaku pada ayah dan ibu

Plak Plak
Ayah menamparku. Aku tidak tahu mengapa ayah melakukan itu. Rasanya sakit sekali dan membuat tangisku semakin menjadi-jadi.

“Apa kau begitu bodoh sampai kau mengatakan hal itu hah. Dimana Alesa yang selalu bersikeras. Apa hilang dalam sekejap. Apa kau melenyapkan putriku” Ucap ayah sembari bercanda

“Dengar Al kau tidak perlu melakukan hal itu. Kami salah karena kami menganggap jika sejarah akan terulang kembali. Kami salah karena kami tidak mempercayai dirimu yang merupakan seorang penulis terkenal saat ini. Kumohon jangan menyakiti kami dengan pertanyaan itu. Kau harus melanjutkannya. Jika kau berhenti maka aku akan mengusirmu dari rumah ini sampai-sampai kau tak akan berani untuk berpikir kembali” Saut ibu sembari bercanda dalam isakan tangis
“Aku sayang kalian. Jika bisa tolong maafkan sikapku kemarin” Ucapku sembari menangis

“Wah Wah ada apa ini. Apa sekarang aku bukan bagian dari keluarga ini. Mengapa kalian melupakanku” Ucap kakak sembari bercanda
“Heyy… Apa yang kau katakan. Kemarilah. Ahhh rasanya kita seperti menjadi keluarga bahagia nomor 1. Kami bangga padamu Al dan kau juga Mayang. Apapun yang terjadi kemarin mari kita lupakan” Ucap ayah dengan bahagia

Malam itu berakhir dengan pelukan dan beberapa jepretan foto karena kami tidak ingin ketinggalan momen manis itu.

Hingga akhirnya tibalah di waktu pernikahan. Kami sangat senang melihat kakak begitu bahagia bersanding bersama kakak ipar hingga pandangan kami tak pernah lepas darinya hahaha. Sampai-sampai aku lupa bahwa ada tamu spesial yang harus kutemui disana untuk mengucapkan terimakasih dan membayar taruhan karena aku kalah. Yaa… kalian pasti tahu, dia adalah sahabatku Rubby yang menyarankan padaku untuk kembali ke rumah. Dan kurasa perkataannya memang benar saat itu bahwa akan jauh lebih menyakitkan jika membiarkan jarak itu tercipta dan hanya kebersamaan yang bisa menghapuskan jarak. Aku tidak bisa membayangkan jika aku tidak pulang hari itu.

Jika kalian semua ingin bukti maka kuharap kisahku ini dapat menjadi bukti dan contoh bagi kalian semua jika kalian dihadapkan pada situasi yang sama denganku. Terimakasih dan kuharap kalian bisa selalu menjaga dan mempertahankan hubungan antara kalian dan keluarga kalian.

Cerpen Karangan: Ika Pramudita

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 17 Januari 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Jarak (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Anak Perempuan Pertama

Oleh:
Hai, aku Dinda Puspasari anak perempuan pertama untuk ayah bundaku. Anak yang ditunggu-tunggu kehadirannya oleh mereka. Dan aku sangat senang bisa dilahirkan ke dunia ini dengan selamat. Aku juga

Tompel

Oleh:
“Dua puluh lima tahun lalu? Tidakkah Bapak ingat?” katanya kepadaku. Ah, usia mengikis memoriku. Aku bahkan sudah lupa kapan aku lahir. Hal terakhir yang aku ingat adalah hari wafatnya

Dari Rahim Yang Sama

Oleh:
Seharian penuh mentari menyinari bumi pertiwi. Kini ia telah kembali ke peraduannya, bercumbu dengan belahan bumi lainnya. Pendarnya yang memancar dari sela-sela awan sore di petala langit senja, kini

Sayap Sayap Patah

Oleh:
Enam belas tahun silam, aku ditemukan oleh seorang wanita, yang sekarang menjadi ibu angkatku, dalam keranjang bayi di pinggir jalan. Keranjang itu ditemukan bersampingan dengan seorang pria yang sudah

Aku Rindu Ibu

Oleh:
Hari-hari kulewati tanpa kasih sayang ibu, aku haus akan kasih sayangnya, belaian manjanya, pelukan hangatnya, ciuman sayangnya, mata teduhnya, senyum ramahnya, nasihat penenang hati, dan semua tentang ibu. Kini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *