Jiwa Klasik

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 6 June 2018

Ann mengendarai mobilnya memasuki pekarangan. Ia memarkirkannya di bawah pohon eik yang ada di sisi rumah. Ann keluar dari mobil, tidak repot-repot untuk menguncinya. Siapa juga yang berminat mencuri mobil van tua miliknya? Dia melewati teras dan menuju pintu masuk. Mengeluarkan kunci yang diterimanya dari Tuan Kinz beberapa hari sebelumnya, ia membuka pintu.

Memasuki pintu mendapatinya di aula. di kanan dan kiri terdapat lorong menuju ruang tamu dan ruang kerja. Di ujung lorang adalah dapur sekaligus ruang makan. Ada tangga kayu menuju lantai dua yang ia ingat terdapat tiga buah kamar tidur.

Ann melangkah masuk menuju ruang tamu. Langkah kakinya menimbulkan decit pada beberapa bagian lantai kayu. Di dalam ruang tamu terdapat seperangkat sofa dan mejanya. Ann menyeberangi ruangan dan membuka gorden jendela yang tertutup. Ia mengibas debu yang beterbangan, terbatuk pelan.

Ruang tamu tidak terlalu menarik. Perabotannya cukup untuk menerima tamu, namun tidak ada sentuhan lain yang menunjukkan pribadi rumah tersebut. Ruang tamu terasa kaku dan kosong.

Ann meninggalkan ruang tamu dan menuju ruang kerja. Suasana ruang kerja berbeda jauh dengan ruang tamu. Ruangan tersebut penuh dengan barang-barang, terlihat hampir berantakan. Di sisi tembok terdapat rak buku yang sepertinya sudah kelebihan muatan, sebagian buku ditumpuk di lantai. Meja kerja yang berada di sisi jendela juga penuh dengan buku jurnal dan kertas-kertas, pena, dan sebuah bola dunia.

Seperti sebelumnya, Ann membuka gorden jendela ruangan. Kemudan ia mengamati tumpukan buku yang ada di samping rak. Buku-buku tersebut kebanyakan bersampul tebal berwarna gelap dan terlihat tua. Ia mengambil salah satu buku tersebut, Hamlet karya Shakespare. Kapan terakhir kali aku melihat nama ini? Pikir Ann. Ia meletakkan buku itu di atas meja, di samping pena, dan memilah-milah buku lainnya; nama Sir Athur Conan Doyle dan Charles Dickens terpampang di sampul buku. Ia membuka halaman-halaman buku, menemukan bahasa yang sebagian sudah tidak digunakan lagi.

Ann menumpuk buku-buku yang diambilnya. Kemudian ia melihat jam kecil yang ada di antara deretan buku di rak. Ia mengambil jam itu. Jam tersebut terbuat dari kayu dengan ukiran-ukiran indah. Ada pegangan yang juga dari kayu menempel di atasnya. Wajah jamnya berbentuk lingkaran yang ditutupi kaca. Jarum tersebut menggunakan jarum jam, bukan angka digital seperti kebanyakan model sekarang. Angka-angka jamnya tertulis dengan angka romawi.
Ann berpikir bahwa jam itu sangat cocok dengan buku-buku yang ada di dalam ruangan.

“Permisi!” terdengar suara yang memanggil dari arah pintu masuk. Ann mengenal suara itu sebagai suara Tuan Kintz.
“Masuklah!” Ana menjawab. Terdengar suara langkah kaki dan denyit kayu mendekati ruang kerja. Ann meletakkan jam yang dipegangnya di atas meja, di samping tumpukan buku.
“Ah, Nona Rosewatter,” sapa Tuan Kintz, “Aku berpikir apa kau benar-benar akan datang hari ini.”
“Hm, aku belum lama tiba,” kata Ann, matanya tidak lepas dari tumpukan di atas meja. Ia mendengar tuan pengacara melangkah dan berdiri di belakangnya.

Setelah beberapa lama, Tuan Kintz berkata pelan, “Jiwa Tuan Rosewatter hidup di abad pertengahan.”
“Ya,” kata Ann, “setahuku ia tidak pernah pergi dari sana.”

Selalu mengurung diri di ruang kerja, menghabiskan waktu dengan buku-buku yang hampir seusia dirinya. Kenangan Ann dengan kakeknya tidak terlalu banyak. Saat ia dulu beberapa kali berkunjung dengan orangtuanya, hanya sosok neneknya yang banyak memenuhi ingatan. Ann hanya bertemu dengan kakeknya di meja makan, kakeknya tersenyum menyapanya, kadang mencium pipi dan keningnya, tapi tidak bicara banyak.
Itu sudah lebih dua puluh tahun yang lalu.

“Apa rencanamu pada buku-buku ini, jika aku boleh tahu?” Tanya Tuan Kintz.
“Kurasa aku akan membuang sebagian besar, menyumbangkannya mungkin. Aku yakin masih ada banyak orang yang bisa lebih menghargai klasik.”
“… dan sebagian lainnya?”

Ann memandang tumpukan di meja untuk beberapa lama sebelum menjawab.
“Aku akan menyimpannya,” Ann menoleh tersenyum pada Tuan Kintz, “lagipula, jika ada jejak-jejak jiwa kakekku yang tertinggal di sana, lebih baik jika aku memilikinya, kan?”
Jika pengacara itu melihat basah di mata Ann, ia tidak berkomentar apa-apa.

Cerpen Karangan: Nina Ruliana
Blog: otakuneesan.blogspot.com

Cerpen Jiwa Klasik merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rindu yang Tak Pernah Sampai

Oleh:
Malam yang begitu sunyi dan damai. Hatiku berdebar menanti kepulanganmu. Aku rindu kepadamu, Kak. Aku sudah tidak bisa membendung rinduku lagi. Namun aku sudah tahu, rindu ini tidak akan

Tombak Dalam Surat

Oleh:
Terlahir dari keluarga yang serba berkecukupan ditambah dengan tingkat pendidikan tinggi tidak membuatku merasa bangga. Sifat kedua orangtuaku yang sangat amat berbeda membuatku sukar untuk berbagi cerita. Sosok Ibu

Kakaki Cafe

Oleh:
Aku mencoba nomor telepon papa. Tidak bisa lagi. Oh pa, papa dimana sih? Ini sudah pukul 11 malam. Ketika aku sudah menyerah, handphone milikku berbunyi. Ini dari papa! Akhirnya,

Bagian Dari Kejutan

Oleh:
Aku sheryl, gadis yang masih mengenakan seragam SMA. Hari ini adalah salah satu hari terbaik bagiku. 23 tahun yang lalu seorang gadis terlahir di dunia. Aku baru sadar hari

Berbagi Itu Indah

Oleh:
“Temen-temen.. lihat nih…” Ody memasuki kelas sambil mendongakkan kepala. Dengan sengaja ia menghentak-hentakkan sepatu barunya, “papaku baru beli sepatu. Ini belinya pake dollar gitu deh, kemaren belinya di Australi..”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *