Just One Day

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Keluarga, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 10 September 2016

“Ini sudah waktunya kamu pergi.” Panggil seseorang berbaju putih kepada seorang pemuda yang sedari tadi memandang ke arah ranjang dengan tatapan kosong. Di ranjang itu terbaring seorang pemuda dengan alat-alat rumah sakit yang menempel di tubuhnya.

Entah apa yang di pikirannya, matanya agak sayu, dia memandang sosok yang tadi memanggilnya, kemudian tersenyum lemah.
“Maukah kamu mendengarkan permintaanku?”
“Hmmm… Baiklah.”

Keesokan harinya…
Jam 07.05 WIB
“Ahhh… Akhirnya sampai juga.” Ucap seorang pemuda sambil membanting tubuhnya ke kasur yang empuk.

Liburan selama dua minggu benar-benar menguras tenaganya. Bagaimana tidak, selama dua minggu liburannya dihabiskan dengan mendaki Gunung Rinjani.
Selain pikiran dan tubuhnya yang lelah, hatinya juga merasa lelah. Jujur saja dia kecewa dan marah. Bang Rizki –kakaknya, yang berjanji akan ikut mendaki bersama membatalkan rencananya, karena tiba-tiba dia mendapat tugas dari kantor untuk pergi ke Singapura.
“Maaf banget ya, dek. Abang nggak bisa.” Ucap Bang Rizki lewat telepon, sehari sebelum dia berangkat ke Singapura. Dia menelepon dari kantornya.
“Tapi kan abang udah janji.” Jawab Fahmi yang kini tengah berada di mobil bersama kedua sahabatnya, menuju bandara.
“Iya. Tapi abang nggak mungkin nolak amanah dari kantor.”
“Ade kecewa sama abang. Ade BENCI BANG RIZKI!.”
Klik! Fahmi langsung mengakhiri pembicaraan di telepon.

Fahmi dan Rizki adalah dua kakak beradik. Fahmi merupakan mahasiswa semester dua di salah satu PTN terbaik di kotanya. Sementara Rizki bekerja disalah satu perusahaan kontraktor. Mereka berdua yatim-piatu, ayah mereka meninggal lima tahun yang lalu dan ibunya menyusul dua tahum setelah sang ayah pergi.

“Ck, daripada mikirin itu lebih baik aku tidur.” Ucap Fahmi pelan, dia tidak mau memikirkan yang rumit-rumit, seluruh tubuhnya sangat lelah, dia ingin tidur.

Namun, tak lama dia memejamkan matanya tiba-tiba tubuhnya merasa berat dan sulit dibangunkan. Seseorang tengah mendudukinya dan dia tau siapa itu.
“Bang Rizki.”
“Masih marah ya sama abang?”
“Tau ah…” Fahmi menjawab ketus.
“Gini deh, sebagai permintaan maaf, abang ajak ade jalan-jalan hari ini.”
“Jalan?! Males. Cape.”
“Iya deh, sekalian abang traktir makan juga.”
Mendengar kata traktiran wajah Fahmi berubah cerah seketika.
“Iya-iya, ade terima permintaan maafnya. Ade juga minta maaf nggak ngerti sama kondisi kantor abang.” Jawab Fahmi. ”Awas, abang minggir dulu, jangan duduk di perut ade. Sekalian abang mandi dulu sana. Bau asem juga. Hoek.” Ledek Fahmi sambil menutup hidungnya.
“Hehehe… Oke! Abang mandi dulu ade manis.” Jawab Rizki berlalu ke luar dari kamar adiknya.

Dengan t-shirt hitam, jaket dan celana jeans yang dikenakan, Fahmi segera ke luar dari kamarnya menemui bang Rizki yang menunggu di ruang tengah.
“Lama amat dandannya, kaya putri solo.” Sewot Rizki padanya. Fahmi hanya bisa manyun.
“Oiya bang, sampe rumah jam berapa semalam?”
“Sekitar jam 11.”

Mereka segera menuju mobil yang terparkir di depan rumah. Rumah yang kini mereka tempati adalah peninggalan dari orangtua mereka. Selama perjalanan Fahmi lebih banyak diam, keadaan ini agak kurang biasa karena biasanya Fahmi banyak bicara. Matanya sudah tidak bisa lagi menahan kantuk, hingga akhirnya dia tertidur. Rizki tersenyum malihat adiknya yang tidur terlelap.
“I know you are tired, but just for this day. Just one day.” Ucap Rizki pelan

Fahmi terbangun dari tidurnya, entah sudah berapa lama dia tidur. Matanya kini membelak. Yang ada di hadapannya bukanlah ilusi semata. Sungguh dia tidak menyangka, abangnya akan membawanya ke tempat ini.
“Bang, otaknya lagi nggak error kan?”
“Emang kenapa? Speechless banget. Ah… Atau jangan-jangan terharu ya abang bawa ke tempat ini?”
“Ngapain sih abang ajak ade kesini?”
“Kan udah bilang mau jalan-jalan.”
“Emang nggak bisa ke tempat lain selain kebun binatang?”
“Ade lupa ya? Ini kan tempat pertama kali kita jalan-jalan sekeluarga?”
Fahmi terdiam, benar juga. Kebun binatang ini adalah tempat pertama kali mereka sekeluarga berlibur. Saat itu usianya baru menginjak lima tahun. Fahmi menerawang, tiba-tiba dia ingat kedua orangtuanya.

“Nah lho malah diem. Mau masuk nggak?”
“Kamu aneh, bang” Fahmi segera ke luar dari mobil.
“Hari ini abang ajak ade ke tempat-tempat dulu kita pernah kunjungi bersama. Pokoknya ini harus jadi kenangan yang nggak terlupakan buat abang dan ade.” Rizki tersenyum, lalu menggandeng bahu Fahmi, masuk ke dalam kebun binatang.

Setelah puas melihat-lihat semua binatang, mereka kemudian pergi lagi.
Mereka pergi nonton, main di game center, sampai keliling kota. Tertawa, tersenyum, dan menghabiskan waktu bersama. Sungguh hari yang menyenangkan. Mereka bermain sampai kelelahan hingga akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah.

“De, kamu tau hari ini adalah hari yang bahagia buat abang.” Kata Rizki, saat ini mereka sedang tiduran di kamar Fahmi. Melepas lelah. Fahmi menaruh kepalanya di perut abangnya. Sementara Rizki mengelus-elus rambut Fahmi.
“Makasih ya de. Abang tau kamu cape habis pulang dari Gunung Rinjani, tapi kamu tetep mau nemenin dan ngikutin kamauan abang.”
“Iya sama-sama bang. Kapan ya terakhir kali kita jalan-jalan berdua gini?”
“De, abang nggak mau kalau misalkan abang nggak ada, ade jangan nagis ya, kamu boleh nangis tapi jangan terus-terusan, nanti abang juga ikut sedih.”
“Abang ngomong apaan sih, aku sedih lah kalau abang nggak ada.” Fahmi bangkit dari posisi tidurnya, duduk memeperhatikan Bang Rizki.
“Ade tau abang tuh saaayaang banget sama ade. Abang ingin ade hidup bahagia, abang ingin ade terus maju ke depan apapun yang terjadi, abang akan selalu jagain ade. Ade nggak usah takut sendirian.” Rizki kini duduk berhadapan dengan Fahmi, dia memegang kedua tangannya.
“Kenapa abang ngomong seolah-olah abang mau ninggalin ade.”
Fahmi menatap bingung. Sejak tadi perkataan abangnya terlalu memutar-mutar. Kata-kata abangnya seolah-olah dia akan pergi dari sisinya. Fahmi nggak mau itu terjadi.

Rizki tersenyum mendengar pernyataan adiknya itu. Dia mengambil sesuatu dari saku celanaya, sebuah kalung. Itu adalah kalung milik almarhum ayahnya yang diberikan ibunya kepada Rizki. Lalu dia memasangkan kalung dengan sepasang cincin sebagai liontinnya di leher Fahmi.
“Kata ibu dulu, cincin ini akan melindungi orang yang memakainya. Dan abang selalu jagain ade. Simpan baik-baik ya.” Rizki menatap adiknya yang masih bingung.
“Inget ya, ade harus janji sama abang. Ade harus jadi orang yang bahagia. Abang akan selalu jagain ade.”
“Abang mau pergi ninggalin ade? Jangan ngomong kaya gitu.”
Rizki tersenyum dan memberikan kelingkingnya. “Janji ade harus bahagia tanpa abang di sisi ade.”
“Kenapa?”
“Ade harus janji dulu.”
“Iya ade janji.” Balas Fahmi pelan lalau di menautkan kelingkingnya di kelingking abangnya.
“You are always be my special. Abang bahagia punya adik kaya kamu.” Ucap Rizki sambil memeluk erat bahu Fahmi.
Selama beberapa saat mereka saling berpelukan. Hingga akhirnya Fahmi tertidur dipangkuan abangnya. Rizki mengusap air mata yang jatuh dipipi adiknya. Setelah membaringkan Fahmi dan menyelimutinya dia beranjak ke luar dari kamar.

“Sudah puas?” Ucap seseorang yang tiba-tiba muncul di belakang Rizki, tepat setelah dia menutup pintu kamar Fahmi.
“Iya, thanks ya.”
“Kamu nggak bilang padanya.”
“Nanti dia juga bakal tau.” Rizki tersenyum, matanya kini berair.
“Kamu bahagia.”
“Aku sangat bahagia, sekali lagi makasih. Aku nggak nyangka ternyata dewa kematian mau mendengarkan keegoisanku.”
“Aku nggak mau membawamu yang penuh penyesalan. Cuma merepotkan aku nantinya.”
Kemudian keduanya menghilang.

Fahmi terganggu dari tidurnya karena bunyi bel. Dilihatnya jam di dinding. Masih pukul 05.00 WIB. Siapa yang pagi-pagi sudah berada di depan rumahnya. Dan kenapa Bang Rizki tidak membukakan pintu.
Fahmi berjalan gontai ke arah pintu. Saat dia membukakan pintu terlihat Bang Rehan –teman dekat dan juga teman kantor dari Bang Rizki, wajahnya terlihat habis menangis. Lalu dia memeluk Fahmi erat.

“Ada apa, bang?” Tanya Fahmi bingung.
“Kamu yang sabar ya de. Rizki… Kakakmu… Dia sudah meninggal.”
Bagai petir di siang bolong, hati Fahmi hancur mendengarnya.
“Abang jangan bercanda.” Fahmi melepas pelukan dari Bang Rehan. “Kemarin kita berdua habis jalan-jalan.”
Bang Rehan menatap wajah Fahmi dengan heran.
“Itu nggak mungkin, de…” Sergahnya
“Kenapa nggak mungkin.”
“Kakakmu mengalami kecelakaan kemarin malam. Dan selama itu dia masih di rumah sakit.” Jawab Bang Rehan. “Dan tadi malam dia menghembuskan napas terakhir. Abang nggak bisa ngehubungin kamu, abang kira kamu belum pulang dari Gunung Rinjani.”
“Abang jangan bohong! Semalam aku masih sama Bang Rizki.” Fahmi berseru galak. “Dia pasti masih tidur di kamarnya.”

Fahmi segera berlari ke kamar abangnya. Dan saat dibuka, keadaannya masih sama saat terakhir kali Fahmi melihatnya. Bang Rehan sekarang menatap bingung Fahmi.
Mata fahmi memanas, perlahan air matanya ke luar.

‘Jadi ini maksud perkataan Bang Rizki.’

“De.” Bang Rehan mendekati Fahmi. Dipegangnya kedua bahunya.
“Bang, bawa aku ke rumah sakit.”
Bang Rehan mengangguk paham.
Pikiran Fahmi sekarang berkecamuk. Dan tubuhnya langsung lemas ketika melihat bang Rizki yang sudah tidak bernyawa lagi. Dia langsung menagis sekencang-kencangnya.

Fahmi masih berdiri di pusaran abangnya, dia masih ingin berada di dekat kakaknya. Entah ilusi atau bukan. Fahmi melihat Bang Rizki tersenyum padanya.
“Keep your promise.” Bisik Rizki pelan sambil memeluk Fahmi. Kemudian bayangan itu menghilang, Fahmi sudah tak mampu lagi membendung air matanya.
“Kamu tau bang, satu hari bersamamu waktu itu sungguh sangat bahagia untuk ade. Kali ini saja… Kali ini saja biarkan ade menagis dan bersedih bang. Lalu ade akan kembali tersenyum, kembali tersenyum padamu.”

TAMAT

Cerpen Karangan: F. Akhdan
I’m introvert and socially awkward. But I’m a good listener.

Cerpen Just One Day merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Telah Kutepati

Oleh:
“Aku tidak dapat menjelaskan lagi padamu, bagaimana agar kau mengerti bahwa cintaku ini sejati.” Tidak lama dari hari jadi aku -Fiola- dan Eki, dia meminta untuk putus tanpa alasan

Little Suzanne

Oleh:
Suzanne adalah saudaraku. Ia berbeda dari yang lainnya. Aku tak tahu mengapa ia begitu istimewa. Aku? Kalian bisa memanggilku Grance. Aku harus terus melindunginya, begitu yang dikatakan orangtuaku. Awalnya

Friend and Boyfriend (Part 5)

Oleh:
Kriinggg.. Hani menerima pesan dari Levin. “Siapa yang akan kau pilih? Seseorang yang membuat hatimu berdebar atau seseorang yang membuatmu nyaman?” “Apa maksudnya?” tanya Hani bingung. “Apanya? Siapa yang

Magical of Miror

Oleh:
Gaun hitam menyelimuti seluruh tubuhku. Hari ini adalah hari pemakaman kakekku. Kemarin kakekku baru saja meninggal. Tepat dihari ulang tahunku yang kesepuluh. Di dunia ini hanya kakek yang kumiliki.

Bidadari Kecilku

Oleh:
Cahaya terang di balik jendela mengusik indra penglihatanku. Aku tahu hari telah beranjak siang, tapi rasanya malas sekali, alih-alih beranjak bangun aku justru makin menggulung diri dalam selimut, kulirik

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *