Kado Natal, It’s a Great Miracle

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Kristen, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 20 June 2017

Semuannya diam, tak ada satupun yang bicara. Padahal di sana ada Papa, Tere, dan Sera adiknya. Mereka masih dalam balutan kesedihan. Kepergian sang mama mebuat mereka sangat terpukul. Kini, hanya kisah di masa lalu sajalah yang bisa mereka kenang, dan foto untuk sekedar dilihat, atau mungkin dipeluk.

Pagi ini, hati mereka masih tak secerah mentari pagi. Walau begitu, Papa tetap berusaha membuat hati malaikat-malaikat kecilnya itu untuk bisa tersenyum. Diurusnya Tere dan Sera, sebagaimana yang biasa dilakukan mama tiap hari. Mulai dari membujuk mereka bangun dan merapikan kamarnya, menyiapkan baju, sepatu, dan sarapan pagi untuk mereka. Ya, pagi ini menjadi sangat lain. Tak ada rasa yang selezat buatan mama. Tak ada yang serapi lipatan mama, dan tak ada yang secekatan mama. Tapi, Sera sudah mulai bisa menerima semuanya, bahkan senyuman lebarnya itu pun sudah mulai bisa ia tampilkan. Berbeda dengan Tere. Jelas saja, selama mama masih ada, dia begitu dekat dan sangat sering menghabiskan waktu berdua dengan mamanya.

“Pagi sayang. Ayo, makanannya dihabiskan, kalau tidak kalian bisa sakit.”
“Makasih papa.” Jawab Sera tersenyum.
Papa yang tadinya asik makan bersama Sera, tiba-tiba berhenti, melihat putrinya yang satu lagi itu, tak menyentuh piring sedikitpun.
“Loh, Tere ga makan? Loh, kok malah nangis? Ga enak, ya?”
“Ga usah nanya-nanya. Tere mau makan di sekolah aja!”
“Mau papa buat dibekel? Eh, bukan apa sih namanya… aduh… oh, bekal maksud papa.”
“Ga ah, roti kayak gitu bisa aku beli kali di sekolah. Udah aku mau pergi dulu.”
Tere meninggalkan papa dan Sera adiknya di sana. Hati papa begitu hancur menyaksikan sendiri perbuatan Tere yang kasar padanya. Tapi ia segera menghapusnya, di hadapan Sera. Ia tak mau Sera membaca perasaannya.

“Kamu kenapa sih, bisa gitu nerima papa? Dia itu kan udah jahat.”
“Hummh? Jahat? Maksud kakak apa sih?”
“Udah deh, Ser, kamu gak akan ngerti. Mending sekarang kita pulang!”
Mereka berdua segera keluar dan menaiki angkot biru itu. Begitu sampai di rumah, emosi Tere semakin menjadi. Tak ada lauk untuk disantapnya siang ini. Semua pikiran buruknnya tentang sang papa jadi tambah kacau. Ia segera meninggalkan Serra, dan pergi ke sebuah kafe. Di sana, dia bertemu dengan seorang pria yang kira-kira seumuran dengannya. Entah kenapa, belakangan ini, Tere mulai genit sama laki-laki. Secepat kilat ia menjumpai pria itu.

“Halo, aku Tere. Kamu siapa?”
“Oh, aku Rian.”
Setelah berbincang agak lama, Tere meninggalkannya. Begitu keluar kafe, Tere menunggu temannya Karina, untuk menemaninya pergi ke mall. Iya, Karina, teman baru Tere, mereka berdua belum begitu mengenal, hanya, mereka sama-sama menyukai beberapa barang, dan hobi yang sama. Hal itu membuat mereka jadi merasa semakin cocok untuk berteman.

Selama berada di mall percakapan mereka berdua semakin asyik. Mereka merasa jadi sangat dekat dan nyaman. Apalagi semenjak mama Tere meninggal, tak ada lagi senyum di wajahnya. Sedangkan bersama Karina, ia bisa menemukan kebahagiaan itu.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11 tepat, dan ini, adalah kali pertama Tere untuk pulang selarut itu. Ya, walaupun ia tak biasa melakukan hal ini sebelumnya, tapi ia tak merasakan kejanggalan sedikitpun. Begitu sampai di rumah, ia sangat terkejut, melihat papa yang sudah bersiap menunggu kedatangannya.
“Dari mana kamu?”
“Dari mall, pa.”
Tapi jawaban Tere membuat lukisan amarah di wajah papa. Tere merasa jengkel dengan raut itu.
“Kenapa sih pa, papa mau marah? Iya? Kenapa harus marah. Ini semua kan karena papa. Udah deeh, papa ga usah sok-sok perhatian sama Tere. Papa yang udah buat mama meninggal, Tere benci papa!”

Walau begitu, papa masih tetap berusaha untuk menyayangi dan mengurus Tere. Dan malam itu, papa menyempatkan waktu yang sangat sedikit itu, untuk mencari artikel-artikel tentang bagaimana menjadi single parent yang baik, dan trik-trik jitu yang biasa dilakukan seorang ibu agar anaknya senang. Ia, juga sengaja belajar mengerjakan semua pekerjaan seorang ibu, agar tidak memakai jasa asisten rumah tangga.

Pagi itu menjadi jam sekolah yang menyenangkan. Wah, bu guru membawa seorang murid baru ke dalam ruang kelas Tere. Dan tak disangka murid baru itu adalah Rian. Raut senang di wajah Tere tak bisa disamarkan, pasalnya, sejak bertemu dengan Rian, cinta itu sudah tumbuh, dan tak bisa dibunuh. Dan, ketika bel istirahat berbunyi, Tere mulai memanjangkan obrolan dengan Rian. Sangat bersemangat! Bahkan selama jam belajar. Ia hanya memperhatikan Rian.

Pulang sekolah, Tere mengejar Rian ke parkiran. Dia meminta mereka untuk saling bertukar media sosial dan nomor telepon. Dan, itu memakan waktu sekitar 15 menit tambah lagi selama bertukar, Tere tak bisa mengunci mulutnya agar diam, dia asyik saja menanyai Rian. Tapi Tere tidak sadar dengan perbuatannya itu, sedikit membuat Rian jengkel.

Begitu sampai di rumah, Tere langsung berlari menuju kamarnya, dan memutar lagu-lagu kesukaannya dengan volume agak keras. Ditutupnya pintu dengan kakinya yang masih memakai sepatu putih itu. Dan handphone, adalah barang yang paling cepat ia keluarkan dari dalam tasnya. Segera ia buka semua sosmed Rian. Tak ada rasa lapar di perutnya, tak ada niat untuk mengerjakan tugas apalagi belajar. Semuanya hanya Rian, Rian, dan Rian.

Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Papa pulang, di dalam hatinya dia ingin sekali ada Tere yang sudah bisa menerimanya, tapi, semuanya sirna. Tak ada Tere menyambutnya, melainkan Sera. Tapi papa memang sangat sabar, dia tak mau Sera kecewa dengan harapannya. Dan seperti biasa, papa, hanya memendam kekecewaannya pada Tere.

Tiga jam telah berlalu, tapi Tere belum juga makan atau mandi. Dia masih sibuk dengan semua sosial medianya yang bisa dibilang sebenarnya itu tidak penting.
“Tere, kamu ga makan sayang?” tanya papa, mengetuk pintu pink itu.
“Ga penting. Udah pergi sana.”
Mendengar itu, kuping Sera sangat panas. Dia merasa sangat jengkel dengan perilaku kakaknya. Malam itu hampir saja terjadi kerusuhan, tapi papa tetap menahan emosi Sera kepada kakaknya itu. Dan selama satu harian Tere habiskan dengan kegiatan yang konyol itu.

Hari telah berganti, tapi pandangan Tere masih tetap pada telepon genggam 5 incinya itu.
“kakak, kakak ngapain sih?”
“iih, jangan ganggu!”
“kak, bisa ga sih ngehargain orang sedikit. Sedikit aja kak. Kakak itu keterlaluan, nggak aku, nggak papa, semuanya, semuanya kakak cuekin. Aku ngomong kayak gini bukan karena aku manja sama kakak, tapi kakak mikirin dong perasaan orang lain. Kenapa? Kenapa kakak diam sekarang? Kakak itu gak bisa kayak gini terus-terusan. Gara-gara mama udah nggak ada, terus kakak mesti berubah. Kak, mungkin papa bisa kakak gituin, tapi aku, nggak bisa kak.”
Omelan Sera membuat Tere sangat jengkel, kata-kata kasar mulai berani ia keluarkan
“eh, emang kamu siapa? Mama bukan. Lagian kalo kamu mau mikirin perasaan papa, papanya aja nggak masalah. Kenapa kamu yang sewot? Biasa aja dong!”
“terserah kakak, kakak mau ngapain kek, aku udah nggak peduli.”

Percakapan mereka berdua di taksi pagi itu menjadi awal kebencian mereka satu sama lain. Apalagi Tere masih belum bisa mengendalikan emosinya, jadi, apapun yang dikatakan orang lain tak akan ia perdulikan. Dan semakin dalam kebencian di hatinya pada papa, dan Sera adiknya. Benar sekali, di pikirannya, tak ada yang menyanginya. Karina menjadi satu-satunya tempat yang ia rasa bisa memberinya jalan keluar. Begitu sampai di sekolah, ia segera menjumpai Karina. Dan kata-kata dari mulut Karina membuatnya menjadi semakin berubah, tak seperti Tere yang dulu. Kini Tere jadi sangat urakkan, dan sangat buruk. Tiap harinya ia lalui dengan kegiatan-kegiatan yang sama, yang tak bermutu, dan yang jelas tak ada lagi belajar di pikirannya. Padahal tiap harinya, papa sudah berusaha menjadi papa yang baik buatnya. Tapi ia tak menghiraukan itu. Sampai suatu hari, ada ujian sebanyak 3 kali berturut-turut, dalam satu hari. Alhasil nilainya 0 semua. Hal ini membuat pikiran papa semakin berat. Pasalnya, karena itu, papa dapat panggilan orangtua. Bukan itu, yang membuatnya semakin suntuk, tapi nilai putrinya yang satu ini, membuatnya merasa ini semua terjadi karena kesalahan dan kegagalannya. Walau papa sangat peduli pada Tere tapi dia sama sekali tak mau membuka hatinya untuk papa.

Kali ini, papa mulai mencoba menjadi papa yang lebih baik. Menjadi papa yang diinginkan Tere. Yang lebih tegas pastinya. Malam itu, papa putuskan untuk menawarkan semuanya pada Tere.
“Tere… buka dong pintunya.”
“kalo cuma mau marah mendingan pergi deh!”
Tapi papa memang lembut, dia masih bisa membicarakan semua pada Tere dengan cara yang sangat halus. Hal inilah, yang membuatnya mau mengikuti papa, walaupun belum seutuhnya. Tapi dia memberikan banyak syarat. Salah satunya, mengantar jemputnya les balet. Sampai ia lomba itu diadakan, dan tak boleh mengganggu keesenangannya.

Tere mulai kembali menggeluti dunia balerinanya untuk melupakan masalah masalahnya. Karena semua usaha papa menyenangkannya belum juga berhasil. Karena rasa bencinya itu sangat sulit ia hapus. Dan kembali berlatih balet juga ia lakukan untuk memikat hati Rian.

Makin hari, Tere semakin tergila-gila sama Rian. Sekalipun Tere itu cantik, tapi benih cinta itu tidak ada pada diri Rian. Cinta Rian masih belum tahu entah untuk siapa. Dan saking cintanya Tere sama Rian, dia maksain Rian nganterin dia ke kursus baletnya. Dan akhirnya Rian pun mau melakukannya.
Tere udah bener-bener ga bisa lagi mendam rasa cintanya ke Rian. Sampai, suatu siang. Tere nekat mau nembak Rian. Tapi sayang begitu sampai di rumah. Rian langsung memusatkan perhatiannya ke Sera. Chemistry antara Rian dan Sera sangat kuat. Hal itu membuat Tere merasa sakit hati, terlebih lagi pada, Serra.
Hingga, tibalah saatnya Rian menyatakan perasaannya kepada Serra. Dan hal itu mereka sembunyikan dari Tere. Tapi bagaimanapun itu, usaha menutupi kebohongan besar kepada Tere adalah hal yang sangat sulit, dan hal mudah bagi Tere untuk mengetahuinya. Hal ini semakin membuat hatinya kacau. Dan kini tak hanya Sera dan papa, Rian pun jadi orang yang dia benci.

Lagi-lagi, Karina memberi ajaran sesat bagi dia, mulai dari mempengaruhinya untuk tak berlatih balet, berhenti belajar lagi, dan berhubungan dengan si badboy Very. Tak hanya itu. Pergi ke klub sampai subuh juga sering ia lakukan. Perilaku putri kecil papa itu membuatnya sangat terpukul. Sudah berulang kali papa membujuknya pergi ke gereja, tapi ia merasa semua itu tak penting. Ini adalah puncak yang paling menghancurkan hidup Tere. Dia bukan lagi Tere yang papa kenal. Bahkan file meeting papa yang sudah deadline, dihapus oleh Tere. Malam itu jadi malam deadline terberat papa. Dan di malam itulah emosi papa sudah tidak bisa ia bendung lagi.

“Tere! Kamu kenapa sih nak? Kamu tau kan, itu file papa, yang harus papa bawa besok buat presentasi.”
“ya, maaf Pa!” Tere membalas dengan bentakan yang lebih keras
“kamu tambah lancang, ya!” tangan papa mulai bergerak
“kenapa, papa mau tampar Tere, ayo pa ayo!”
Suasana semakin kacau hati papa benar benar kecewa saat itu. Dan kali ini papa benar-benar kesulitan mengurus anaknya ini. Entahlah, mungkin itu semua kerja roh kudus tangisan papa membuat hati Tere bergerak.

“papa, papa nangis? Pa, Tere minta maaf pa. Tapi tere udah bingung, Tere juga enggak tau kenapa Tere jadi kayak gini. Semuanya jadi kacau setelah mama pergi. Tere sadar kepergian mama bukan karena papa. Tapi pa, dunia Tere itu hancur. Tere ga punya harapan. Lihat Rian, pa. Rian aja, lebih milih Sera, padahal yang dari awal ngincar Rian itu aku, bukan Sera paa. Dan itu tu sakit. Seakan-akan Tuhan itu udah ga ada lagi, aku udah capek pa. Udah ga ada lagi yang sayang sama Te…”
Dengan segera papa memeluk Tere. Malam itu jadi sangat hangat bagi mereka berdua.
“ssst. Kamu ga boleh ngomong kayak gitu sayang. Papa akan selalu ada buat kamu. Papa, orang yang gak akan pernah ninggalin kamu. Tapi kamu mau berubah kan?”
“iya, pa.”

Sejak saat itu, Tere perlahan-lahan bisa kembali menjadi diri dia sendiri kembali. Dan sebentar lagi bukan hanya natal yang akan tiba. Bersamaan di hari itu, lomba balet Tere itu juga akan diadakan. Dalam waktu yang sempit itu, dia berlatih dengan sangat keras. Di hatinya, latihan dan kemenangannya nanti ia persembahkan buat papa. Ia melakukannya untuk meminta maaf pada papa.

Ini adalah hari dimana lomba itu berlangsung. Walaupun tak ada sosok papa di depan Tere. Tapi dia tetap memberikan yang terbaik, tanpa berpikir negatif sama papa karena tidak hadir pada saat Tere tampil. Usahanya yang tanpa pikiran negatif itu membuahkan hasil yang sangat baik. Tere menang. Bahkan dia akan melanjutkan lomba itu ke jenjang yang lebih tinggi lagi.
Tapi kebahagiaan itu langsung sirna. Papa kecelakaan, ketika ingin menjemput Tere. Dan itu sangat parah. Hal ini membuatnya sangat terpukul. Selama satu minggu bersama, mengerti, didampingi papa setiap harinya. Ditambah lagi, setelah mama pergi, banyak sekali perbuatan tidak pantas yang ia lakukan ke papa. Rasa sesal itu semakin menjadi ketika mengetahui kondisi papa yang sangat tipis untuk bisa bertahan.

Tere memutuskan untuk masuk ke ruangan medis itu. Air matanya tak bisa berhenti, sedangkan di luar ada Sera dan Rian melihat dari kaca bersih itu.
“papaaaa. Papa bangun pa. Tere belum sempat bahagiain papa. Tere udah jahat sama papa…”
“Papa belum lihat pialanya, papa belum lihat kostum balet Tere tahun ini. Aku baru bisa sadar lagi sama semua kebaikan papa, itu pun hanya satu minggu.”
“papaaaaaa. Aku mohon papa jangan pergi. Nanti kalo papa pergi, Tere sama siapa. Mama udah nggak adda paaa. Cuma papa satu-satunya orang yang bisa selalu ada buat aku. Pa, janngan tinggalin Tere.
“papa harus bisa bertahan. aku nggak mau kehilangan cahaya aku lagi. Aku mohon pa, jadi kado natal ku tahun ini dengan bertahan pa. Aku sayang sama papa.”
“papaaaaaaaaaaa!”
Tangisan terakhir dan pelukan kencang Tere, bisa membuat papanya bertahan. Dan itu adalah mukjizat dan hadiah natal terbesar yang bisa diterima Tere.

Dan setelah hari itu, semua kehidpan Tere sudah kembali lagi Seperti Tere yang dulu lagi. Dia kembali menjadi Tere yang baik, bijak, rajin, dan semua kebaikan kebaikannya yang dulu sudah bisa ia temukan dan dapatkan lagi. Menjadi sebuah kado natal terbesar untuknya dan semua orang yang ada di sekitarnya.

Cerpen Karangan: Astrid Sitorus
Facebook: Astrid Anastasia

Cerpen Kado Natal, It’s a Great Miracle merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menulis Di Atas Waktu

Oleh:
Dibawah gema azan maghrib, suasana perkampungan yang hening, hanya ada terdengar suara imam di mushola-mushola yang samar tedengar. Dari bilik pintu terlihat tangan yang begitu lincah memainkan pulpen di

Wasiat Cinta

Oleh:
Putra namamu. Untuk pertama kalinya kau titip salam kepadaku lewat sahabatku, Maya namanya. Waktu itu dan sekarang sangat berbeda. Kali ini aku bahagia, aku telah tahu semua kebenarannya. Aku

Aku Merindu

Oleh:
Sebuah gelas pun enggan diisi air yang butek, sekali saja diisi air butek, tak terbayang bagaimana bekasnya, bakal susah dibersihkan. Yaa seperti halnya manusia, makan dan minum pun harus

Sahabat

Oleh:
Ini hari pertama duduk di bangku SMA bagi Tina. Gadis dengan rambut lurusnya yang menjuntai bak air terjun Angel itu bergabung bersama kawan-kawannya. Tak ada kata yang tepat untuk

Cinta Dalam Diam

Oleh:
Aku berjalan tanpa arah yang pasti menembus tipisnya rintik hujan, angin bertiup membuat jaket dan jilbabku berterbangan. Kuteringat pada sebuah kejadian tadi siang di sekolah. Saat itu cuaca tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *