Kado Terakhir Untuk Mami

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 1 April 2013

Setiap manusia terlahir berbeda, tak ada manusia yang terlahir sama. Begitu dengan aku dan anak-anak lainnya. Namaku Shakira, aku kelas 3 SMA, aku dari kecil tinggal bersama mamiku dan dady tiri ku. Kehidupanku semakin lengkap ketika mami menikah lagi dengan pria yang kini menjadi dady ku. Tetapi disela-sela kebahagianku bersama keluarga ku yang baru ini, tersimpan kerinduan sama ayah kandungku, yang telah lama terpisah, karena sebuah keretakan di dalam keluarga ku dulu. Jauh dalam hatiku ingin sekali bertemu dengan ayah ku sendiri, tetapi, mami yang tidak memperbolehkan ku untuk bertemu dengan beliau.

Selama 2 tahun aku mencoba hidup sendiri di Semarang. Selama aku hidup sendiri, dan mami dadyku menetap di Surabaya. Aku mencoba mencari kesibukan agar tidak merasa jenuh berada di rumah sendiri, dan d temani seorang pembantu. Aku mencoba kembali dalam dunia modeling, yang dari kecil sudah mendapatkan berbagai juara dalam lomba fashion show. Dalam hati ku mengatakan “aku ingin menjadi sukses, aku ingin membanggakan orang tua ku, termasuk orang-orang terdekatku”.

Dengan adanya dukungan dari para sahabat-sahabat terdekatku, dan kekasihku, aku berhasil menjadi seorang model. Tetapi tanpa adanya dukungan dari mami dan dady ku. Aku tidak pernah memberitahu mereka, kalau aku menjadi model, karena aku tahu pasti mereka tidak akan setuju. Model memang cita-citaku, tetapi disisi lain, aku merasa bersalah karena telah membohongi mereka. Dengan sendirinya mereka tahu ketika aku berlibur di Surabaya, kalau aku menjadi model, ya, mereka tidak marah besar, tetapi hanya menasehatiku secara halus.
“hentikan aktivitas model kamu!” kata dedy sambil menghisap rokok, yang asap nya bikin sesak nafas.
“tapi dy…” kataku belum selesai.
“tapi apa? Tapi itu cita-citamu dari kecil?” kata mami tiba-tiba.
“iya mi, mami kan tahu sendiri, dari kecil aku juara dalam lomba fashion, dan mami sendirikan yang menginginkan aku ikut lomba fashion waktu dulu” kataku menahan tangis.
Tanpa banyak omong lagi, aku langsung masuk kamar dan melihat hasil foto-foto ku.

Pagi harinya aku memutuskan untuk pulang ke Semarang dengan honda jaz putih milikku, karena ada jadwal pemotretan. Sore harinya aku pun tiba di Semarang. Untuk menghilangkan penatku, aku menghubungi sahabat-sahabatku dan kekasihku, kita semua pun nongkrong bareng di salah satu cafe di Semarang “Han’s coffe”. Dengan berbagai canda ria nya mereka, menghilangkan semua penatku, hidupku serasa tak ada beban masalah lagi. Cuma sahabat-sahabat yang bisa bikin hidup ini berwarna dan indah tanpa ada beban.

Pemotretan yang dari pagi hingga siang, karena berpindah lokasi menguras tenagaku, dengan tiba-tiba kondisi ku menjadi droup. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba setelah aku bangun, aku berada di rumah sakit dan kekasihku, Nanda, yang ada di sampingku, dia sedang tertidur dan memegang tangan ku. Gerak gerik tangan ku membuat dia terbangun dan mengusap kening ku. Dan dia pun menceritakan semua yang terjadi pada diriku. Dalam hatiku berbicara.
“tak ada sedikitpun yang kamu ketahui tentang diriku nanda, aku melakukan semua ini, agar aku bisa mendapatkan penghasilan di sela-sela sekolahku, dan sela penyakitku, untuk membelikan sesuatu untuk orang tua ku sebelum aku meninggal karena penyakit ku itu”. Dan tak ku sadari aku meneteskan air mata dan melihat Nanda penuh arti.
“kenapa kamu menangis?” kata Nanda heran.
“haa? Enggak kenapa-kanapa kok.” Kataku tersenyum dan mengusap mata.

Tidak lama kemudian aku diperbolehkan untuk pulang, tepat saat ada Ujian Nasional. Ujian pun berlalu sangat cepat. Disaat Ujian ku yang terakhir, aku kembali drop, karena terlalu memikirkan semuanya ini. Aku kembali dirawat di rumah sakit dan lagi-lagi hanya Nanda yang menemaniku di rumah sakit, dan mama nya Nanda yang menjengukku, tanpa ada mamiku di sampingku, saat aku sakit.

Ujian pun telah selesai, hanya menungu hasil Ujian, dan menunggu keputusan dokter, kapan aku di perbolehkan untuk keluar dari rumah sakit. Disaat menunggu hasil Ujianku, dokter menegaskan lagi pada diriku, agar aku tidak terlalu memikirkan sesuatu yang membuat pikiranku menjadi sedikit stres, karena itu bahaya untuk kondisiku, yang semakin parah. Dan dokter menyarankan untuk melakuan kemoteraphi.
“Sha, kamu sebenarnya sakit apa? Aku yang pacar kamu sendiri aja gag tau? Beri tau aku sayang, kalo kamu enggak keberatan, aku juga bakal ada setiap kamu membutuhkanku.” Kata Nanda sambil menyisir rambut panjangku.
“kamu beneran mau tau? Tapi kamu janji ya enggak akan ninggalin aku, tepatin janji kamu satu tahun yang lalu?” kata ku sambil menghentikan Nanda menyisir rambutku.
“iya sayang, aku janji.” Kata Nanda menatap mataku begitu dalam.
“aku, aku, hm, aku punya leukimia atau kanker darah Nanda.” Kataku.
“kenapa kamu enggak bilang dari dulu Shakira? Kalau aku tau dari awal, aku bakal ngebatasin aktivitas kamu.” Kata Nanda.
“iya sayang, terimakasih, tapi aku mohon jangan beritahu mamiku, aku enggak mau mami tahu dan menjadi beban pikiran nya mami.” Kata ku memeluk Nanda. Dan Nanda pun mengangguk.

Tiba saatnya menerima hasil Ujianku, disela-sela pengumuman, aku pergi ke bank untuk mengambil sejumlah uang untuk membelikan mamiku sebuah mobil. Dan tak ku sangka hasil Ujianku pun memuaskan, aku lulus dengan nilai yang sempurna. Saking terharunya aku menangis melihat kertas yang berisi nilai-nilaiku.
“ini untuk mami, selama ini aku menjadi model, diam-diam tanpa sepengetahuan mami, buat membelikan mami sebuah mobil, tapi di kesibukan ku aku juga tidak pernah menelantarkan kewajiban sekolahku, nilai ku memuaskan, ini buat mami, yang sudah membesarkan ku dan mengajariku banyak hal, dan setidak nya aku bisa membahagiakan mami ku di sisa hidupku mam.”

Aku segera pulang untuk ganti baju dan prepare untuk pemotretan esok hari. Setelah tiba nya dirumah aku terkejut setelah masuk rumah kenapa suara gaduh orang mainan playstation, setelah aku memasukin ruang tengah, tak kusangka kakak sepupu, Angga, yang paling aku sayang datang mengunjungiku. Aku senang, karena Cuma dia yang mengerti tentang kondisiku dan sayang sama aku.
“kakak!” teriak ku sambil berlari dan memeluknya.
“adeg lepasin kakak, kamu bau asem tau gak deg!” katanya sambil mencium bau badanku.
“yeee, kakak wangi tau kak, hehehe, kangen ni sama kakak.” Kataku sambil mencubit hidung mancungnya.
“iya deg, tapi adeg mandi dulu sana, biar tambah wangi dan tambah cantik.” Kata kakak ku sambil membelai ku seperti anak kecil.
“yee, kakak pinter ngerayu deh, mesti ada sesuatu, kakak nginep disini kan, adeg kesepian kak.” Kataku
“hehehe, iya, anterin kakak jalan-jalan ya, ngemall, iya kakak nginep disini, sudah sana mandi.” Katanya sambil menutup hidung nya.
“huh, iya iya kak.” Kataku bergegas mandi.

Setelah selesai aku bergegas menuju ke mall bersama kakakku. Tak lama kemudian kami pun sampai, baru sebentar jalan, aku melihat di salah satu galery, ada tas yang bagus, yang cocok untuk mamiku, tak pikir panjang aku pun membelinya.
“kayak ibu-ibu banget deg tas nya.” Kata kak Angga bermaksud mengejek ku.
“ya emang ini untuk ibu-ibu, ini untuk mami kak.” Kataku sambil melihat kualitas tas itu.
“adeg, adeg kamu selalu perduli sama mami, tapi kamu jarang di perduliin sama mami.” Katannya heran.
“ya bagaimana pun dia mami aku kak, yang sudah melahirkan aku seperti ini.” Kataku menuju ke kasir.
“iya deg, kamu benar, tapi apa mami tau tentang penyakit mu deg?” kata kak Angga yang tiba-tiba menghentikan langkah kaki ku.
“belum mas, aku enggak akan pernah memberi tahu tentang penyakitku.” Kata ku sedih.
“hm, ya sudah jangan sedih, nanti cantik nya hilang loh.” Kata kak Angga merangkulku.
“aku tak tahu, aku bisa bertahan sampai kapan Tuhan, aku merasa tubuh ku semakin lama semakin melemah, kuat kan aku Tuhan, jangan biarkan aku melemah di hadapan orang yang aku sayang dan menyayangiku Tuhan, tapi jika saat nya tiba aku iklas.” Kataku dalam hati dengan memandang kak Angga tanpa berkedip. Aku beruntung memiliki kakak sepupu yang begitu perduli terhadap kondisiku.

“aku dimana ini?” kataku kebingungan.
“kamu di rumah sakit Sha, seharusnya kamu enggak terlalu capek Sha.” Kata Nanda memegang tanganku.
“Nanda, kakak,” kataku melemah.
“iya,” kata Nanda dan kak Angga berbarengan.
“aku sudah gag kuat lagi, aku pengen tidur.” Kataku tersenggal-senggal.”
“enggak Shakira, kamu pasti kuat, bertahan ya, demi aku.” Kata Nanda menangis.
Aku melihat kak Angga menangis dan meninggalkan ku sama Nanda, dan menggenggam ponselnya, dia hendak menelfon seseorang, tapi aku tak tahu.
“Oh Tuhan, kenapa engkau membiarkan adeg aku yang sangat aku sayangi, harus menderita sendirian tanpa ada orang tua nya disisi nya, hanya kekasih yang menerimanya apa adanya dan sayang sama dia yang selalu menemaninya” kata kak Angga menangis.
“kak, kak Angga, sini kak.” Kataku sambil mengambil tas dan kunci mobil.
“iya deg, ada apa.” Kata kak Angga menahan tangis.
“ini tas yang barusan aku beli, dan ini juga kunci mobil yang juga barusan aku beli, tolong berikan mami ya kak.” Kataku lemah.
“iya deg, kakak bangga sama kamu, kamu bisa memberikan semua nya untuk mami, sedangkan mami tidak pernah tau keadaanmu, kakak bangga banget deg, kamu anak baik, kamu pintar, kamu cantik, kamu juga kuat menghadapi semua penderitaanmu.” Kata kak Angga menangis.
“iya Shakira, aku juga bangga sama kamu, aku bangga bisa menjadi bagian dalam hidupmu, kamu selalu tegar, kamu penyabar, kamu bisa mengatur waktu, kamu juga kuat, aku bangga memilikimu sayang, mami mu juga pasti bangga, karena anak nya selalu mementingkan mami nya dari pada dirinya sendiri, kalau kamu mau pergi, pergi lah sayang, kita semua iklas.” Kata Nanda sambil menangis dan menciun keningku.

Tiba-tiba aku mendengar suara mami memanggil nama ku. Dan tiba-tibah telah ada di hadapanku dan memeluk ku.
“Shakira, sayang, kenapa kamu tidak pernah memberitahu mami tentang penyakitmu, kenapa kamu yang harus menanggung semua ini sendirian, mami bisa carikan dokter yang paling hebat untuk mengobatimu.” Kata mami membelai dan mencium ku.
“enggak mi, aku enggak mau nyusahin mami, aku cuma mau membahagiakan mami bukan nya nyusah in mami, mami cukup repot dengan bisnis nya mami, mi, itu Shakira belikan tas dan mobil yang mami inginkan, itu semua buat mami, itu hasil Shakira sendiri mi. Kataku semakin lemah.
“iya sayang, terimakasih ya, mami suka, terimakasih, kamu sudah bikin mami bangga, kamu anak mami yang baik, sabar, yang patuh sama orang tua, mami bener-bener bangga sama kamu.” Kata mami menciunku.
Ciuman terakhir mami menghantarkan ku menghadap Tuhan. Terimaksih Tuhan Engkau telah memberikan aku waktu untuk membahagiakan dan memberikan sebuah kado terakhir untuk mami.

Cerpen Karangan: Shandra Kirana
Facebook: shandra

Cerpen Kado Terakhir Untuk Mami merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Siapa Diriku

Oleh:
Pagi mulai menampakkan siratan cahayanya, semerbak harum pagi kian menyapa dengan iringan suara cicitan burung yang bertengger. Pagi masih menyisakan rasa dingin, ya semalam hujan deras dengan kilatan petir

All is Fair in Love and War

Oleh:
“Siapa yang bisa menjawab mengapa hatimu menghela napas berat sebagaimana cintamu pergi? Hanya waktu yang bisa. Siapa yang bisa menjawab mengapa hatimu menangis ketika cintamu musnah? Hanya waktu yang

See You Again Papa, Mama

Oleh:
Mendung datang dalam kehidupanku. Sudah berhari hari sejak aku kehilangan semua orang yang kusayangi. Aku selalu didatangi mendung tanpa akhir. Kehidupanku sunyi dan kelam. Kapan aku hidup bahagia. Mungkin,

Tak Pernah Kusadari

Oleh:
Pagi yang dingin menyapaku hari ini, dengan berat hati aku bangkit dari tempat tidurku, langsung kuambil air untuk bersuci dan melaksanakan kewajiban bagi seluruh umat islam (sholat) setelah kewajiban

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *