Kado Terindah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 20 June 2014

Rembulan malam telah kembali ke posisi awalnya, kini Sang Mentarilah yang menggantikan posisinya. Hari ini adalah hari jumat tepatnya tanggal 4 oktober 2010. Hari ini juga adalah hari yang sangat istimewa bagi gadis manis ini. Ya hari ini adalah hari dimana gadis tersebut merayakan hari jadinya yang ke 17. Gadis ini adalah Adinda atau biasa dipanggil Dinda oleh sahabat-sahabatnya. Hari ini dengan senyum yang selalu mengembang di sudut bibirnya. Dinda melangkahkan kakinya menuju ruang makan, disana sudah berkumpul keluarga dari Dinda yaitu ayahnya, ibunya dan kakak-kakaknya.
“selamat pagi semua” sapa Dinda masih dengan senyum manisnya.
“pagi” jawab mereka serempak. Dinda duduk di samping Cinday lalu dia pun mengambil rotinya.
“ciiee kayanya ada yang lagi seneng nih” ucap Cinday seraya menyenggol bahu Dinda.
“hehe.. iya dong, hari ini kan hari spesial buat aku” ujar Dinda seraya menyunggikan senyuman manisnya. “oh iya happy birthday yah sayang” ucap wanita paruh baya yang tak lain adalah mama dari Dinda.
“makasih mama” ucap Dinda senang.
“happy birthday yah Nis semoga makin dewasa” ujar Cinday seraya memeluk adik kesayanganya
“happy birthday yah sayang” kini giliran pak Adi yang mengucapakan.
“makasih papa, oh iya gimana pestanya udah siap belum” tanya Dinda pada papanya.
“pesta untuk apa?” tanya pak Adi balik
“ya ampun papa pesta buat ulang tahun akulah” jawab Dinda.
“emang harus yah dirayain kamu kan sudah besar Din, lagian juga buang-buang uang aja, daripada buat pesta mending uangnya ditabung buat kuliah kamu nanti” ucap Pak Adi bijak.
“aduhh, papa gimana sih.. aku kan udah bilang di ultah ku yang ke 17 nanti aku mau dibuatin pesta yang besar” Ucap Dinda dengan nada yang cukup tinggi.
“jaga ucapan kamu Din, pokoknya papa bilang gak ada pesta, yah gak ada pesta kamu itu udah besar bukan anak kecil lagi yang setiap ulang tahun dirayain” bentak pak Adi.
“tapi kan,” belum sempat Dinda melanjutkan pak Adi sudah memotongnya terlebih dahulu. “gak ada tapi-tapian sekali nggak tetep nggak” tegas Pak Adi. Dinda pun pergi meninggalkan meja makan tanpa pamit. Sementara itu pak Adi dan yang lain hanya bisa menggelengkan kepalanya karena kelakuan Dinda yang menurut pak Adi terlalau manja.

Kini Dinda sudah sampai di halaman sekolahnya yaitu di SMA 1 Bandung yang merupakan SMA favorit di Bandung. Dinda terus berjalan melewati koridor sekolahnya dengan memasang wajah juteknya.
“pagi Dinda” sapa sahabatnya serempak. Namun yang disapa tidak menjawabnya justru Dinda malah membanting tasnya ke meja. ‘BRAAK’
“kamu kenapa Din” tanya Angel salah satu sahabat terdekat Anisa.
“gak usah kepo deh jadi orang” cetus Dinda. Yah dibalik wajah cantiknya Dinda mempunyai sifat yang sangat buruk yaitu apabila dia sedang kesal dengan orang lain maka, semua orang akan kena imbasnya *just story*. Angel yang melihat tingkah sahabatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya karena dia sudah paham dengan sifat Dinda. Selain Angel, Dinda juga mempunyai Vera dan Bintang sahabat terbaiknya.
“kamu kok gitu sih Din, Angel kan nanyanya baik-baik” ucap Vera yang mulai kesal dengan sifat buruknya Dinda.
“terserah aku dong mau ngejawab kaya apa” cetus Dinda.
“kebiasaan deh, kalau ada masalah sama orang lain jangan dilampiasin ke kita-kita dong” kini giliran Bintang yang mulai terpancing emosinya.
“ya udah kalau gak suka tinggal pergi repot amat sih jadi orang” jawaban Dinda semakin tidak mengenakkan untuk didengar.
“oh jadi gitu.. ok fine kita pergi, lagian kita udah cape sama sifat kamu yang kekanak-kanakan Din, selama ini kita udah cukup sabar mengahadapi kamu karena kita selalu berfikir bahwa kamu pasti bisa berubah tapi apa kenyataanya justru kamu malah semakin buruk dari sebelumnya Din” unek-unek yang selama ini dipendam oleh Vera akhirnya keluar juga.
“apa aku kekanak-kanakan?.. ada juga kamu yang kekanak-kanakan, ya udah sana pergi aja lagian aku gak butuh sahabat kaya kalian yang gak pernah ngertiin perasaan aku” Dinda semakin emosi.
“apa kita gak pernah ngertiin kamu?, gak kebalik tuh, ada juga kamu yang gak pernah ngertiin kita.. ingat yah Din sehebat apapun kamu, sepintar apapun kamu dan secantik apapun kamu semua orang akan menjauh dari kamu, kalau sifat burukmu itu masih melekat di diri kamu” ucap Vera seraya menatap tajam mata Dinda.
“udah dong malu tahu dilihatin orang” ucap Angel yang berusaha meredam amarah mereka.
“udah yuk Ver, Ngel mending kita pergi dari sini, sebelum sifat buruk dia menular ke kita” ajak Bintang. Mereka bertiga pun pergi meninggalkan Dinda.

Sejak pulang sekolah tadi Dinda hanya berdiam diri di kamarnya. Dia terus meratapi nasibnya yang kini dijauhi oleh sahabat-sahabatnya. Yah memang sejak kejadian tadi ketiga sahabatnya menjauhi dia, itu sudah terbukti karena biasanya setiap jam istirahat Dinda pasti selalu bersama sahabat-sahabatnya, tapi jam istirahat tadi mereka justru terlihat duduk masing-masing, hal itulah yang kini sedang dipikirkan oleh Dinda.

“ingat yah Din sehebat apapun kamu, sepintar apapun kamu dan secantik apapun kamu semua orang akan menjauh dari kamu, kalau sifat burukmu itu masih melekat di diri kamu” kata-kata Vera masih terekam jelas di otaknya.

“emang bener yah aku gak pernah ngertiin mereka” batin Dinda.
“dasar Dinda bodoh.. gara-gara keegoisan aku sekarang semuanya menjauh dari aku padahal kan hari ini ulang tahun aku, bisa-bisanya aku ngacauin semuanya” Dinda terus menyalahkan dirinya sendiri.
“ya tuhan maafin Aku, karena selama ini Aku udah egois gak pernah mikirin perasaan orang lain, selama ini aku hanya mementingkan diri sendiri dan gak pernah mau mikirin perasaan orang lain, sampai-sampai aku membuat orang-orang yang menyayangi aku pergi menjauh, mulai dari mama, papa kak dinda dan sahabat-sahabat aku.. aku janji, aku akan berubah, aku gak akan egois lagi tapi yang aku mau sekarang mama, papa kak Cinday dan sahabat-sahabat aku ada disini sekarang, aku kesepian disini sendiri, aku gak mau ngerayain ulang tahun sendirian” tak terasa air mata Dinda pun mengalir di pipi lembutnya. Dinda sanget menyesali perbuatannya yang berakibat ia dijauhi oleh orang-orang yang dia sayang tepat di hari ulang tahunnya yang ke 17.

Tiba-tiba pintu kamar Dinda terbuka secara perlahan dan munculah beberapa orang dengan membawa kue tart yang bertuliskan Happy Birthday Dinda dari balik pintu tersebut. “happy birthday to you.. happy birthday to you.. happy birthday.. happy birthday… happy birthday Dinda” nyanyian Happy birthday pun menggema di kamar Dinda. Ternyata keluaraganya lah yang menyanyikan lagu itu.
“mama, papa kak Cinday.. maafin Dinda yah” ucap Dinda seraya memeluk mama, papa dan kakanya. “iya sayang mama, papa dan kak Cinday udah maafin kamu kok, asal kamu berjanji untuk menghilangkan sifat buruk kamu itu yah” ucap pak Adi
“iya pa Dinda janji akan berubah” Dinda pun memeluk papanya.
“ya udah sekarang tiup lilinnya dong” seru Cinday. Namun Dinda pun terdiam dia masih merasa bersalah sama sahabatnya.
“kok diam Din kenapa?” tanay ka Cinday.
“aku sedih kak di hari ulang tahun ku yang ke 17 ini tanpa kehadiran sahabat-sahabat aku”.

Tiba-tiba muncul beberapa orang dari belakang Cinday.
“siapa bilang kita gak datang, masa di hari spesial sahabatnya kita gak datang sih, Iya gak girls” ucap Angel lalu diiyakan oleh kedua sahabatnya.
“kalian, maafin aku yah aku janji aku akan berubah kok” Dinda pun memeluk ketiga sahabatnya dengan tangan mungilnya.
“iya Dinda kita juga minta maaf yah, karena gak seharusnya kita bersikap begitu ke kamu” Vera pun meminta maaf ke Dinda.
“sama-sama Ver.. jadi kalian udah gak marah kan sama aku” tanya Dinda mencoba meyakinkan dirinya.
“kita akan marah kalau besok kamu gak traktir kita” ujar Bintang.
“kalau itu mah pasti, ntar aku traktir baso bang kumis deh” ucap Dinda
“ih.. ogah ah nanti yang ada aku digodain sama si pak kumis itu” ucap Angel dengan nada jijik.
“haaha padahal sebenarnya Angel seneng tuh digodain sama bang kumis” goda Vera. “oh iya yah Ver, Angel kan kalau abis digodain bang kumis terus senyum-senyum sendiri yah” Bintang ikut menggoda Angel. Angel hanya bisa memanyunkan bibirnya karena dia bukan tipe orang yang suka berdebat apalagi berdebat dengan Vera yang ada dia mati konyol karena terus-terusan diledekin Vera.

“ehh, kapan nih lilin mau di tiup, pegel tau tangan kakak” Cinday yang sedari tadi hanya diam saja akhirnya bersuara juga.
“hehe iya maaf kakaku yang cantik.. ayo ma, pah semua kita tiup lilinya bareng-bareng yah.”
‘fiiuuh’ akhirnya mereka pun merayakan ulang tahun Dinda secara sederhana yaitu hanya dengan berkumpul bareng sambil membakar jagung.
Tawa renyah pun menghiasi malam itu dengan ditemani cuaca yang sangat indah terlebih pancaran sinar bulan purnama pun ikut menemani mereka.

‘terima kasih semua, sekarang aku baru mengerti momentum ulang tahun gak harus dirayain secara besar-besaran, tetapi cukup dengan sederhana dan berkumpul bersama orang yang kita sayang itu akan terasa sangat-sangat istimewa. Kalian adalah KADO TERINDAH buat aku di sweet seventeen ini’

Cerpen Karangan: Eni Widya
Blog: eniwidya23.blogspot.com
Nama: eni widiyawati
Sekolah smkn 23 jakarta kelas x akuntansi

Cerpen Kado Terindah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jus Mangga

Oleh:
“Nih Jo, buat lo,” Husein datang menghampiriku, memberikan sebuah jus manga padaku. “Buat gue? Dari siapa Hus? “Dari Axel, tadi nyuruh gue kasih lo. Ya udah, gue ke kelas

Pertemuan Musim Dingin

Oleh:
Musim dingin. Lagi-lagi ia datang. Kenapa musim dingin tahun ini begitu membosankan seperti tahun-tahun yang lalu?. Tak ada yang spesial. Tak ada yang dapat membuat deretan gigi putihku terlihat.

Sudah Terlambat

Oleh:
“Maaf kak, Adek gak bisa terima permintaan kakak yang kakak kirim lewat Facebook itu. Maaf banget kak” Dengan perasaan bersalah dan keraguan pun terpaksa aku lontarkan kalimat itu kepadanya.

Cinta Yang Lain

Oleh:
Masa SMA adalah masa-masa yang paling indah. Begitulah yang sering dilantunkan oleh mereka yang sedikit-banyaknya telah merasakan berbagai kisah dalam lembaran-lembaran ketika mereka berada dalam warna-warninya proses metamorfosa masa

Waktu Yang Berharga

Oleh:
Kosong. Kutatap nanar apa yang ada di hadapanku saat ini. Tak kuhiraukan rasa dingin yang mulai menelusup sampai ke tulangku. Duniaku seakan terpusat pada satu titik saat ini, yaitu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *