Kak Reza

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 10 June 2015

Aku memiliki seorang kakak namanya Reza Aditya Putra yang sekarang ia duduk di kelas 3 SMA, sedangkan aku duduk di kelas 6 SD. Jarak kami berdua memang cukup jauh, hal ini juga lah yang membuat aku dan kak reza tidak terlalu dekat ditambah lagi Ayah dan Ibu selalu berkelahi karena perbedaan pendapat.

Pada suatu hari di pagi yang cerah aku membuka jendela kamarku, aku memandang matahari pagi yang menyejukkan hatiku. “Elita..” terdengar suara ibu memanggilku dari lantai bawah.
“Iya bu. Elita datang” sahutku
“cepatlah nak, sarapannya nanti dingin” tambah ibu lagi.
“Ibu sebaiknya tidak mempekerjakan orang sebanyak itu di toko kita bu” tegas ayah.
“Udalah pak, toh kalo bapak sendiri yang menjaga toko itu. Bapak juga kewalahan kan!” jawab ibu. Hm, perdebatan dimulai lagi cerutuku dalam hati. Aku pun menghampiri ibu dan ayah yang sedang berdebat di meja makan.
“pagi ayah, ibu..” sapaku. “pagi juga sayang” jawab ayah dan ibu hampir bersamaan. Pada saat aku turun aku melihat kak reza sangat terburu-buru hari ini dia terlihat rapi dan memakai baju seragam SMA-nya. Aku tersenyum dan menghampirinya di meja makan. Akan tetapi, saat itu kak reza langsung pergi tanpa pamitan dan tanpa melihatku serta ayah dan ibu. Kak reza memang selalu seperti itu tidak pernah peduli dengan ayah, ibu maupun aku sendiri.
“Elita, kamu udah selesai sarapannya sayang” tanya ayah. “Udah ayah” sahutku. “ya udah, ayo berangkat nanti kamu telat” ajak ayah. Di dalam mobil menuju ke sekolah aku menggambar kak reza dengan penampilannya hari ini. Dan memang inilah yang biasanya aku lakukan.

Jam menunjukkan pukul 12:30 dan bel pulang pun berbunyi. Hari ini, ayah tidak bisa menjemputku karena ayah sedang melakukan pertemuan bersama kliennya, jadi hari ini aku berjalan kaki pulang ke rumah. Tiba di rumah seperti biasanya tidak ada orang selain bi Ina pembantu rumah kami. Aku pun langsung mengganti pakaian dan langsung mengambil peralatan menggambarku dan aku mulai mencorat-coret buku gambarku lagi. Tak lama terdengar suara bising dan tak asing lagi itu suara bising dari motor kak reza. Kak reza pun langsung masuk tanpa mengucapkan salam. Dia masuk dan nampak kelihatan lelah. Dan dia tidak memandang maupun menyapaku. Dan aku beranikan diri untuk menyapanya terlebih dahulu.
“Baru pulang kak” tanyaku memulai
“kau lihat apa? Ya baru pulang lha!” jawabnya dengan nada membentak
“kakak capek? Duduk dulu kak” tambahku lagi
“Apa ini (sambil menarik buku gambarku) Ngapain kau lukis orang jahat ini, mereka enggak pernah peduli’in kita apalagi kau.. kau selalu membuat masalah!!!” jawabnya membentak
Mendengar nadanya membentak aku hanya bisa diam. Tiba-tiba saja kak reza batuk-batuk.
“kak, kakak kenapa?” tanyaku cemas
Aku lekas mengambil air putih dan menyodorkannya kepada kak reza. Setelah ia merasa mulai lega dan kelihatannya ia sedang memperhatikan gambar-gambar yang aku lukis.
“Elita, kenapa kamu enggak ngelukis pemandangan pantai atau pengunungan seperti anak-anak yang lain?” tanya kak reza
“aku lebih suka ngelukis kakak atau papa mama, ini lukisan kakak waktu hari sabtu pake baju batik, yang ini hari minggu, yang ini senin dan masih banyak lain (sambil menunjukkan lukisan-lukisan yang aku buat” tuturku menjelaskan
“kamu selalu memperhatikan kakak?” tanya kak reza
“Iya kak” jawabku singkat
“kenapa?” tanya kak reza lagi
“karena elita sayang kakak, kak elita tau keluarga kita memang enggak harmonis dan elita tau hal itu yang membuat kakak jadi kayak gini” jawabku murung
“makasih ya, kamu udah tetep mau sayang sama kakak padahal selama ini kakak udah berlaku kasar sama kamu” sahut kak reza
“iya kak, elita senang kakak akhirnya mau berubah” jawabku
“O iya, kamu mau enggak lukis kakak sekarang juga” tanya kak reza
“oke kak” jawabku singkat

Saat itu aku baru sadar kalau wajah kak reza pucat pasi dan terlihat sangat kurus dan tak bertenaga, lingkaran matanya hitam pucat dan matanya sayu kemerahan. Tiba-tiba aku merasa kaku dan aku tidak sanggup melanjutkan lukisan dari kak reza.
“Elita, Hei.. kenapa termenung? Ayo lukis kakak” ajak kak reza sambil terdengar terbata-bata karena batuknya semakin parah.
“kak, kakak kenapa?” jawabku sangat cemas
Saat itu aku melihat badan kak reza kejang-kejang dan hal itu membuatku panik. Aku pun langsung menghubungi ibu dan ayah agar lekas pulang.

Ayah dan ibu pun sampai di rumah dan langsung menghampiri aku dan kak reza.
“Kenapa kakakmu elita?” tanya ibu dengan suara cemas
“Enggak tau bu, tadi kakak batuk dan kejang-kejang” jawabku panik
“Ayah akan hubungi dokter” sahut ayah
“Ti..dak perlu ayah” kata kak reza terbata-bata
“Reza sayang, kamu kenapa nak?” tanya ibu sedih
“Ibu ayah aku punya satu permintaan” sahut kak reza
“apapun nak, apapun..” jawab ayah dan ibu hampir bersamaan
“ayah.. ibu.. aku ingin mendapat pelukan dari kalian seperti waktu aku kecil dulu” pinta kak reza
Sambil memeluk kak reza, aku melihat air mata ibu mengalir dan aku hanya bisa terdiam dan mengenggam tangan kak reza. Tak terasa air mataku jatuh membasahi pipiku. Dan aku menghapus air mataku aku merasa bahwa tangan kak reza sudah tidak bertenaga lagi. Aku langsung menangis histeris. Kami sangat berduka atas kepergian kak reza pada saat itu.

Kak reza, aku baru tahu bahwa dia mencari pelarian dengan bergabung dengan Geng sepeda motor dan menggunakan narkotika sebagai obat pelariannya. 18 Desember tanggal kepergian kak reza disebabkan overdosis barang haram tersebut. Tidak terasa sudah 6 tahun setelah kepergian kak reza aku tetap menyimpan lukisan terakhir yang aku buat sebelum kepergian kak reza. Dan aku selalu mencoba untuk menggambar lagi tapi ternyata tanganku sudah terasa kaku. Aku pun memutuskan untuk tidak memaksakan diri. Lukisan terakhirku aku bingkai rapi dan aku pajang di dinding kamar tidurku. Kak Reza, Elita sangat sayang sama kakak. Semoga kakak tenang dan bahagia di sana.

Cerpen Karangan: Khadijah Siregar
Facebook: htttp://www.facebook.com/khadijah.siregar

Cerpen Kak Reza merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cita-Citaku

Oleh:
Semua orang pasti memiliki cita-cita. Termasuk aku. Aku mempunyai cita-cita yang sangaat tinggi. Hanya saja, cita-citaku ini akan membuat orang di sekitarku merasa sedih, tetapi membuatku bahagia. Minggu pagi.

Tiga Cinta Satu Muara (Part 1)

Oleh:
Hujan mengguyur Semarang sore itu. Dua bidadari kecil asyik bercengkerama bersama sang Bunda di teras rumah. Dingin memang, tapi canda tawa menghangatkan suasana. Satu per satu perbincangan mengalir. Tentang

Haruskah Sama Sama Lagi

Oleh:
Apakah cuma aku yang di dunia ini yang tidak bisa punya barang sendiri? Harus terus berbagi dan berbagi. Mentang-mentang aku lemah dan tak bisa apa-apa bukan berarti aku tidak

Ulang Tahun Terakhir Anne

Oleh:
Bingung. Akan memberikannya sebuah kado apa. Hmmm, aku memutuskan akan memberikan Anne sebuah boneka tedy bear. Anne adalah gadis yang sudah menjadi sahabatku selama 4 tahun. Sayangnya ia menderita

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *