Kakak Baru

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 20 February 2018

“Bunda sama Ayah tuh gak ngerti! Lily gak mau punya Kakak baru, apalagi dari panti asuhan! Titik!”

Makan malam berubah mencekam. Ya, hanya karena satu hal. Bunda dan Ayah memutuskan mengangkat seorang anak perempuan yang lebih tua 5 tahun dariku untuk menjadi kakak baruku. Alasannya sih simple, biar ada yang nemenin aku kalo Bunda sama Ayah kerja. Jelas saja aku gak mau.

Aku menghentakkan kaki dengan kesal menuju kamarku. Air mata keluar perlahan dari pelupuk mataku.

Oh iya, sebelumnya perkenalkan namaku Lilyana Aulia Sarah, biasa dipanggil Lily.

“Li, kamu harus mengerti! Ini juga untuk kebaikan kamu!” kata Bunda. Aku tak menghiraukan omongan Bunda.

“Lily, bangun!” teriak seseorang.
“Ah, ganggu aja!” bentakku. Aku akhirnya bangun, dan memakai kacamataku. Hmm, Ayah rupanya.

“Kita kedatangan seseorang istimewa di ruang tamu!” kata Ayah menggebu-gebu. Aku terhenyak. Siapa?
“Siapa, Yah?” tanyaku heran.
“Udah ayo!” Ayah menarik tanganku menuju ruang tamu.

Sesaat, setelah menuruni tangga aku melihat seorang anak perempuan tengah berbincang-bincang dengan Bunda. Pasti anak yang jadi ‘calon kakak baru’ ku. Ia sama-sama berkacamata denganku.

“Ooh, ini ya Yah? Yang anak dari panti asuhan itu?” tanyaku dengan nada tinggi. Kesal? Banget! Kenapa Bunda sama Ayah maksain banget, sih? Gerutuku dalam hati.
“Ini Kakak barumu, Lily” kata Bunda mencoba sabar. “Bunda sama Ayah baru aja jemput dari panti asuhan, jadi mulai sekarang bersikap baiklah dengannya!”
“Iya, Lily. Ayo sekarang berkenalan dengan kakak barumu” pinta Ayah.

“Aisyah Putri, panggil aja Kak Putri. Kamu Lilyana Aulia Sarah, kan? Kakak panggil Yana boleh gak?”
“Ihh apaan si, kalo udah tau gak usah nanya! Heh aku gak suka dipanggil Yana!” kataku membentak anak itu. Hmm, Kak Putri, maksudku.
“Lily,” tegur Ayah.

“Apapun itu, Lily gak mau punya kakak kayak dia!” tunjukku pada Kak Putri. Aku balik ke kamar lagi. Menangis tersedu-sedu

“Lily, ayo bangun dek. Kamu belum mandi dan sarapan, ini udah jam 11 loh!” dari suaranya sepertinya suara Kak Putri.
“Apaan sih! Pergi sana! Kamu bukan kakakku!” teriakku.
“Tapi…!”
“Udah sana!” Kak Putri akhirnya pergi.

Aku memutuskan untuk mandi. Setelah rapi, aku pergi ke rumah temanku, namanya Kayla.
“Assalaamu’alaikum, Kayla!” panggilku. Mataku masih sembab.
“Waalaikumussalam, Lily! Ada apa? Abis nangis ya?” tanyanya heran. “Masuk dulu yuk!” ajaknya. Aku dituntun untuk ke kamarnya.

“Jadi ada apa? Cerita cepet!”
“Bunda sama Ayahku mengangkat seorang anak perempuan untuk jadi Kakakku, ia lebih tua 5 tahun dariku namanya Putri” kataku sambil menangis.
“Loh, ya bagus dong! Terus kenapa kamu nangis?”
“Bagus darimana?! Aku tuh gak mau punya Kakak kayak Kak Putri! Dia dari panti asuhan! Dia juga memintaku supaya ia memanggilku Yana!” kulihat, Kayla tampak menghela nafas panjang.

“Kamu tau adikku, Ciko kan Li?” tanya Kayla. Aku heran, kok jadi Ciko sih?
“Iya, taulah” kataku.
“Dia sebenarnya bukan adik kandungku,”
“Hah?” aku terperanjat. Ah, masa sih? “Boong kamu Kay” kataku.

“Iya, bener” wajahnya tampak serius. Kulihat kejujuran dimatanya. “Ciko juga sama dari panti asuhan. Awalnya aku juga menolak, aku maunya jadi anak tunggal saja sepertimu. Tapi Ibu dan Ayahku memaksa, aku turuti saja. Ciko akhirnya dijemput dari panti, tapi aku cuek aja. Aku sering bentak-bentak Ciko. Terlebih, Ibu dan Ayahku menyekolahkan Ciko di sekolah yang sama dengan kita, Lily. Waktu itu, aku pulang sekolah bersama Ciko. Di tengah jalan ada preman. Aku ketakutan, tapi Ciko menyelamatkanku, ia melawan preman-preman itu dengan tangkas. Aku berterimakasih dengan Ciko. Sejak itu aku selalu akur dengan Ciko. Ternyata Ciko itu adik yang baik” Kayla bercerita panjang lebar.

“Apa benar?” tanyaku lagi.
“Iya, coba saja sama Kakakmu. Aku saja senang, selalu bermain dengan adikku jadi aku tidak kesepian kalo di rumah sendiri. Aku selalu mengajari dia mengerjakan PR. Aku rasa, Kakakmu itu baik. Ia tulus, kalau kamu sedang mengerjakan PR yang sulit, pasti ia datang membantu. Seorang kakak pasti mau mengajari adiknya mengerjakan PR. Aku juga begitu dengan Ciko. Soal nama, kalau ia mau memanggilmu Yana, biarkan saja. Terserah sih, kalau kamu tidak mau ya bilang saja aku maunya dipanggil Lily” jelas Kayla. Aku mengerti. Aku berpamitan pulang pada Kayla.

“Assalaamu’alaikum” kataku lirih. Seseorang menghampiriku dari dalam rumah. Kak Putri. Tapi, Bunda sama Ayah ke mana? Kok sepi?
“Waalaikumussalam, kau dari mana?” tanya Kak Putri lembut.
“Dari rumah temen” kataku cuek. “Bunda sama Ayah ke mana?”
“Pergi ke kantor” jawabnya. “Makan dulu yuk, Kakak suapin!” ajak Kak Putri. Aku memang sedikit manja. Makanya aku sering minta suapin kalo makan sama Bunda.

Mataku mulai berkaca-kaca. Perlahan-lahan, aku menangis. Dengan sigap, Kak Putri menghapus air mataku.
“Kak, maafin Lily ya. Gak jadi adik yang baik. Kakak boleh panggil aku Lily ataupun Yana. Terserah Kakak. Intinya aku sayang Kakak” aku memeluknya. Kak Putri membalas pelukanku sambil tersenyum. Pelukannya hangat, persis seperti pelukan Bunda.
“Iya, Kakak ngerti. Kamu belum terbiasa kan? Yaudah yuk makan bareng Kakak!” ajaknya lagi. Aku mengangguk.
“Ayo, Kak!”

Cerpen Karangan: Salma Suhailah Rajwa
Haii, ini Cerpenku yang ke 3, baca juga yah cerpenku yang lainnya!

Cerpen Kakak Baru merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Tak Akan Runtuh

Oleh:
Halloo perkenalkan namaku karina andriani bisa dipanggil karin, Sekarang aku duduk di kelas 8 smp. Sifat ku orangnya emosional, gak sabaran! Namun, dan walau sifat ku seperti itu aku

Arti Berpulang Sebenarnya

Oleh:
Awan cerah mulai bertransformasi, perlahan namun pasti Sang Awan menunjukkan gelapnya malam. Tak lama kemudian rintik-rintik air mulai membasahi pipi ini. Yap.. tepat di sini, di Pelabuhan aku mengukir

Ruang 18

Oleh:
Melewati semilir angin malam dengan sejuta kebisingan suara mobil ambulans membuat udara ini begitu sangat sesak. Ku termangu dengan ayah dalam meratapi ibu yang kini terbaring di atas ranjang

Cita Cita Hasyim

Oleh:
Teng… Teng… Teng… Bunyi lonceng sekolah menandakan waktu pulang sekolah telah tiba, sorakan suara siswa pun terdengar dengan riangnya. Begitu juga dengan Hasyim siswa kelas 4 SDN 2 Simpang

Setetes Air Surga (Part 2)

Oleh:
Andrew menatap dalam-dalam. Matanya kelam. “SP yang kedua, seorang pelanggan komplain. Suatu hari saya tidak masuk karena tiba-tiba bayi saya sakit. Sehari sebelumnya saya sudah menitipkan tiket beliau di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *