Kamulah Milik Ku Yang Paling Berharga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 8 December 2015

Jam menunjukkan pukul sebelas malam, terlihat sebuah mobil memasuki halaman sebuah rumah mungil berwarna hijau muda. Tampak seorang wanita muda buru-buru membuka pintu ruang depan, dengan senyum bahagia dia menyambut kedatangan suaminya.

“Kok telat pulangnya sayang? Jalanan macet ya?”
“Iya begitulah By, sudah tradisi kan,” jawab suaminya sambil merangkul istrinya dan membimbingnya memasuki rumah.
Marvi dan Virby adalah sepasang suami istri yang belum dikaruniai buah hati semenjak pernikahan mereka tiga tahun yang lalu, namun mereka hidup bersahaja dan saling menyayangi.
“Vi, kapan ya kita seperti dulu lagi?” tanya Virby kepada suaminya sambil merebahkan kepalanya di lengan pria tersebut.
“Maksudmu apa? Sahut Marvi sambil mengerutkan alisnya.

“Dulu kita punya banyak waktu untuk bersama kan Vi, berkomunikasi, bercanda, jalan, nongkrong bareng bahkan menikmati kuliner di kaki lima, dan banyak hal yang dapat kita lakukan bersama. Aku merindukan masa-masa itu Marvi.”
“Sabar ya sayang, saat ini kesibukanku sangat padat, tapi aku janji dalam waktu dekat ini akan mengajakmu untuk liburan ke Bali atau ke Lombok.” Jawab Marvi sambil mengelus rambut sang istri tercinta. Demikianlah pembicaraan ringan kedua pasangan tersebut menjelang tidur.

Ya, sebagai seorang pengusaha muda yang baru menanjak karirnya Marvi sedang bersemangat bergumul dengan pekerjaannya, sehingga ia hanya memiliki sedikit waktu yang diluangkan bersama istrinya. Kurang-lebih dua tahun keadaan ini berlangsung dalam rumah tangga mereka, semakin hari semakin dirasakan bahwa komunikasi mereka tidak seperti dulu lagi karena selain Marvi sering pulang larut malam, ia juga acap kali keluar kota unuk urusan pekerjaannya, sehingga Virby jadi lebih sering menjalani kesendiriannya di rumah. Memang tujuan Marvi mulia, mencari nafkah untuk membahagiakan istrinya. Namun kebahagiaan seseorang tidak selalu diukur dari segi materi, melainkan kebersamaan, perhatian dan kasih sayang, itulah yang terpenting dalam sebuah hubungan.

Pada suatu hari ketika Marvi pulang ia terlihat sangat kusut dan Virby bisa melihat dengan jelas dari raut wajah suaminya bahwa ia sedang mengalami masalah.
“Malam sayang,” tegur Virby. Namun tak ada jawaban dari mulut Marvi, ia berlalu dari hadapan Virby masuk ke dalam kamar, Virby merasa aneh dengan sikap suaminya, tidak seperti biasanya ia bersikap seperti itu. Akhirnya Virby pun hanya bisa menghela napas lalu menghempaskan pantatnya ke atas sofa, duduk termangu dengan tatapan mata yang kosong. Beberapa saat kemudian Marvi ke luar dari kamar dan langsung menuju ruang makan, sesaat kemudian terdengar teriakan Marvi.

“By! Virby!!” ia memanggil Virby dengan intonasi suara yang tinggi.
Virby terkejut dan buru-buru menghampiri Marvi. “Ada apa sih, kok berteriak seperti itu?!”
“Aku ini cape, banyak kerjaan, mana banyak masalah lagi! Lihat apa yang bisa aku makan di rumah ini?! Aku kerja banting tulang untuk mencari nafkah, tapi ketika aku pulang kamu tidak menyiapkan aku makanan untuk aku makan!”

“Hey tunggu dulu Marvi! bukankah semalam kamu yang bilang tidak usah masak karena kamu akan mengajak aku makan malam di luar? Sungguh terlalu kamu ini.” Ia pun menangis karena tidak dapat menerima perlakuan Marvi.
“Tapi kamu lihat dong sudah jam berapa ini, seharusnya kamu berpikir cerdas kalau aku terlambat pulang berarti makan malamnya batal!” dalil Marvi tak mau kalah.
“Mending gak usah punya istri aja sekalian kalau seperti ini!” Sambungnya.
Virby tersentak kaget dan tidak menyangka akan mendengar kata-kata itu ke luar dari bibir Marvi, ia pun jadi semakin gusar, emosinya terpancing dan meledaklah pertengkaran yang sengit hanya karena masalah yang sepele.

“Oh jadi begitu ya, lebih baik tidak punya istri sekalian katamu! Baik, mulai saat ini kamu urus dirimu sendiri, tak ada gunanya aku di sini kalau tidak pernah dianggap. Aku akan pergi!!” ancam Virby sambil terisak-isak.
“Oh, ya silahkan.. Pergi! Angkat semua barang-barang berhargamu, aku tidak akan menghalangimu!” Tantang Marvi tak mau kalah sambil berlalu dari hadapan Virby.

Sambil menangis dengan hati yang sangat terluka Virby masuk ke dalam kamar, ia mengeluarkan beberapa pakaiannya, dan semua perhiasannya dari dalam lemari lalu memasukannya ke dalam koper merah muda miliknya. Ia tidak pernah menyangka akan meninggalkan rumah dan orang yang paling ia cintai pada malam itu. Ia kembali memandangi kopernya, kedua lututnya terasa tak sanggup lagi menopang dirinya sehingga dia terduduk di samping koper tersebut. Sementara itu di luar Marvi masih bersungut-sungut, entah iblis mana yang merasuki hatinya. Hampir dua jam Virby tidak ke luar dari kamar, Marvi pun merasa khawatir. Ia pun memasuki kamar untuk memastikan apa yang terjadi. Sesampainya di kamar ia mendapati Virby masih menangis di samping kopernya, lalu ia berkata, “kenapa kamu belum pergi?”

Nanar mata Virby memandangnya, lalu ia pun menjawab, “semua barang-barang ku sudah ku masukkan ke dalam koperku, tapi masih ada satu benda yang sangat berharga yang belum aku masukkan, bagaimana aku mau pergi?”
“Benda berharga apa yang belum kamu masukkan itu?” tanya Marvi penasaran.
“Kamu.” Jawabnya mantap. “Ya kamulah yang belum aku masukkan ke dalam koperku. Bersediakah kamu masuk ke dalam koperku agar aku bisa segera meninggalkan rumah ini? Karena di antara sekian banyak barang milikku hanya kamulah milikku yang paling berharga.”

Seketika Marvi menjatuhkan diri, berlutut, memeluk dan mencium istrinya, dan air mata kedua pasangan tersebut tak dapat terbendung lagi. Dengan penuh penyesalan Marvi meminta maaf kepada istrinya, ia sadar betapa besar cinta yang diberikan Virby padanya yang selama ini tidak ia sadari karena ia terlalu disibukkan oleh pekerjaannya. Akhirnya kejadian malam itu memberikan pelajaran yang berharga buat mereka. ‘Cinta yang sederhana memadamkan hati yang membara.’

Sering kali orang-orang tercintalah menjadi sasaran kemarahan kita hanya karena permasalahan-permasalahan yang sepele. Dan tak jarang hal itu dapat berakibat fatal.

Cerpen Karangan: Boma Damar
Blog: bomadamar.blogdetik.com

Cerpen Kamulah Milik Ku Yang Paling Berharga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Secret of Adriana (Part 1)

Oleh:
Sesekali wanita itu menimang boneka beruang yang ada di tangannya, dengan senyum manisnya yang menyiratkan kasih sayang, sesekali ia menatap langit biru lalu kembali tersenyum dan kembali menunduk seolah

Pensil Rapuh

Oleh:
Pensil menggores kertas Mencetak angka demi angka Menyusun kata demi kata Menghambur debu Hingga akhirnya merapuh Dia masih terbaring tak sadarkan diri. Sudah seharian penuh ia harus menelan obat

Kisah Fasya

Oleh:
Pada awalnya aku tak pernah memperhatikannya, gadis kecil berambut panjang yang selalu mencuri-curi pandanganku. Tiap kali aku bertatapan mata dengannya dia selalu memalingkan pandangannya seolah-olah tidak melihat ke arahku.

Allah Itu Adil

Oleh:
Terdengar suara riuh rendah di lokal Aqira, yaitu IV-D. Pak guru sedang membagikan hasil ulangan Matematika. Semuanya takut dan agak deg-degan sambil menelan ludah. Menurut mereka, matematika adalah mata

Aku Dan Harapanku

Oleh:
Langit terlihat begitu sendu, matahari terlihat bersembunyi di balik awan tebal, hujan seakan ingin menyapa tapi angin menolaknya. Ketika harapan tidak sesuai dengan keinginan? Mungkin hati akan merasa sakit,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *