Kanaria dan Putih

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 30 September 2017

Kalimat itu pendek saja, namun artinya terasa amat panjang bagi hidupku. Sekilas saja pernah diucapkan, namun sepanjang hari aku telah mengingatnya. Waktu itu, entah kesekian kali dalam tahun di jam besuk yang sama, masih di kamar yang sama, di atas kursi besi berbusa merah di bagian kanan ranjangnya. Seingatku, akulah penyebab percakapan itu. Aku penyebab janji itu terucap.

“kak, harusnya kakak minta kamar yang dindingnya bercat warna cerah. Kalau warnanya cerah nanti suasana hatinya juga ikut cerah, kalau warnanya putih begini kan serem” ujarku
Kanaria tertawa, “memangnya kenapa kalau warnanya putih? Bukannya wajar? Rumah sakit kan identik dengan warna putih”
Aku menggelang, menolak argument itu “oleh karena itu kak, justru warna putih itu seram karena rumah sakit. Kalau lihat warna putih, aku jadi ingat kakak di sini. Kalau lihat warna putih, aku jadi ingat mayat yang kulitnya warna putih, iih, serem” aku bergidik ngeri kala itu.

Saat itu, umurku masih teramat belia. Sebagaimana wajarnya, aku mengucapkan semua hal yang aku rasakan. Aku tak pernah tahu kala itu, aku telah menyakiti hati kakakku. Ia telah genap 11 bulan berada di rumah sakit ini, di kamar ini, entah hingga kapan dan sampai kapan, aku tidak ingat benar. Aku memiliki seekor kucing berbulu putih, tapi namanya bukan putih mungkin karena unsur tadi, menurutku warna putih itu menyeramkan. Namanya coklat, karena menurutku coklat itu manis seperti tingkah kucingku dan kakak tertawa saat aku menyebutkan alasannya, tawa itu, entah bagaimana terkenang sekali, tawa dimana aku masih sempat berbagi tawaku juga untuknya.

Hari itu adalah hari bumi ke-16, di jam besuk yang sama aku datang dengan masih menenteng tas sekolahku. Ada sebuah kejadian yang berbeda hari itu, ritual yang kulakaukan saat datang adalah menceritakan hal-hal yang kulihat di jalan, bagaimana teman dan sekolahku juga kabar mama dan papa di kantor tapi saat itu aku tak melakukan apapun kecuali meratapnya dari sisi kanan ranjangnya. Ia menangis dan aku bahkan tidak berani untuk bertanya apapun. Aku hanya berdiri mematung di sana, aku sungguh tidak tahu apa yang harus kulakukan, hingga beberapa menit kemudian kakak baru sadar aku ada di sana, ia mulai berhenti tersedu, menghapus air mata dengan anggun dan tersenyum padaku. Hingga saat ini, aku tidak pernah mengerti bagaimana ia dapat melakukannya.

“kemari Lil, ada musik yang perlu kamu dengar” ia menyodorkan kotak musik kemerahan dengan embed wajik keemasan.
Lihat, ia bahkan tidak memberiku luang untuk bertanya. Atau, saat itu aku yang terlalu bodoh dan memilih untuk tidak bertanya. Aku mendengarkan lagu berbahasa inggris yang aneh, tidak pernah kudengar di manapun sebelumnya, tapi aku suka, mungkin karena aku mendengarkan dulu dengan kakakku dari kotak musik miliknya.
“bagus ya lagunya, penyanyinya bernama Paganini”
Aku mengagguk saja waktu itu, saat itu seharusnya aku bertanya judul lagu itu, siapa Paganini dan lainnya. Tapi kakak sudah terlanjur bertanya tentang pelajaranku hari itu. Dan aku suka itu, hal yang tidak pernah ditanya mama dan papa setiap aku bertemu mereka sebelum tidur atau saat aku sempat berbicara dengan mereka, mereka sibuk bekerja, hanya itu yang aku tahu. Aku bertemu mereka, kalau beruntung, sesaat sebelum tidur dan sarapan pagi. Jadi, hanya itu yang kukatakan pada kakakku tentang mereka berdua. Kakak selalu bertanya tentang mereka walau jawabanku selalu sama, tetapi mereka tidak pernah bertanya tentang kakak, dan setiap aku bercerita mengenai keadaan kakak, mama menjawab pendek “kami sudah tahu, Lil”

“aku belajar banyak hari ini, tetapi yang paling menarik adalah pelajaran dimana aku akan menulis surat!” ucapku bangga, kakak tertawa dan itu adalah hal terbaik yang aku miliki darinya.
“dan kepada siapa kamu akan menulis surat Lil?”
“belum tahu, rahasia”

Cerita kami terputus, seorang perawat berbaju putih, dan seragam itu akan selalu putih, membawanya entah ke ruang apa, tetapi kakak berjanji akan segera kembali jadi aku menunggu. Saat itu, aku menyadari sesuatu tentang kotak musik berwarna kemerahan yang memutar musik si Paganini tadi, aku belum pernah melihat itu sebelumnya, jadi menurutku benda itu pasti baru. Perkiraanku waktu itu tepat sekali saat kutemukan sebuah kotak paket atas namanya di sebuah tempat sampah kecil di ujung ruangan, tepat seukuran kotak musik merah itu. Di sana tertulis seperti ini.

…Untuk Kanaria Frasanti, kau tahu aku tak akan menyesal. lagu ini untukmu…
Tertera nama seorang lelaki di sana, hal pertama yang aku pikrkan adalah mencatat nama dan alamatnya, aku akan mengirim surat kepadanya. Aku akan mengirim surat untuk teman kakakku di luar kota dan memberikan alamat sekolahku untuk mendapat balasannya, bukankah menyenangkan nanti saat kakak tahu temannya mengirimi adiknya surat? Bahkan, mungkin hanya aku yang akan mendapatkan surat dari provinsi yang berbeda, bukahkah itu keren?

Dan aku sungguh menulis surat untuknya, menunggu jawabannya sepanjang hari. Bercerita tentang sakit kakakku yang waktu itu aku sendiri tidak tahu apa. Bercerita tentang tawanya. Bercerita tentang senyumnya saat mendapatkan kotak musik itu.

Lalu hari itu tiba. Ketika surat balasan itu tiba di sekolahku, aku tahu hari itu aku tidak akan pernah kembali menjadi putih, aku ternoda, hatiku, perasaanku, kehormatan keluargaku, semuanya! Surat itu tidak langsung sampai kepadaku sebagaimana semesetinya. Surat itu sampai ke ruang guru diberikan kepada ketua kelasku. Surat itu dibacakan di kelas. Saat itu kepalaku serupa terbentur, aku pusing, malu sekaligus marah. Bagaimana mungkin aku telah mengirim surat kepada seorang lelaki yang membuat kakakku terbaring di rumah sakit selama ini. Lelaki itu menodai kakakku dan membuatnya mengidap penyakit serupa dengannya, kakakku mengidap penyakit AIDS. Bagaimana mungkin aku tidak tahu? aku bahkan tidak mengerti mengapa seluruh dunia waktu itu menatapku hina. Aku masih berusia 9 tahun.

Aku marah juga tidak mengerti, orangtuaku tak henti memakiku dengan kalimat bodoh dan tak berguna. Aku berhenti menjenguk kakakku, aku benci padanya, ia membuatku begitu malu dan marah. Aku tidak peduli, karenanya seluruh sekolah tahu tentang surat sialan itu. Keluargaku berada, cukup sehari bagi orangtuaku untuk memutuskan di mana letak sekolah baruku. Aku juga sudah tidak peduli tentang itu, aku benci sekolah lamaku dan juga teman-teman yang mencemoohku. Aku membenci kakakku, dan sekarang aku tahu mengapa orangtuaku membencinya.

Seminggu kemudian, kudengar kabar ia telah meninggal. Kami sekeluarga mendatangi pemakamannya, aku juga membawa si coklat kucingku. Mendadak aku mengingat tawanya yang menyejukkan namun saat itu juga aku teringat tatapan hina semua temanku. Hari itu, aku tidak menangis.

Hari ini, usiaku genap 16 tahun, aku berkunjung ke rumah sakit dimana kanaria dirawat, oh, aku sudah berhenti memanggilnya kakak sejak hari itu. Aku tidak merubah jam besukku, tetap pada jam yang sama di hari biasa. Aku terdiam beberapa saat, sejujurnya aku tidak tahu apa yang membawaku kemari. Kamar VVIP itu ditempati seorang gadis kecil, seusiaku dulu saat masih bersama Kanaria. Aku hanya mengintip dari luar ruangan, dan gadis kecil pucat itu tersenyum padaku, begitu juga seorang perawat berbaju putih yang sedang bersamanya, jadi aku membalas mereka dengan hal serupa. Aku benci warna putih, mengingatkanku padanya, mengingatkan rasa sayangku padanya dan bagaimana itu bisa menghilang karena sepucuk surat yang datang atas ulahku sendiri. Aku hendak berjalan pulang menyadari suasana hatiku yang memburuk, aku tidak datang kemari untuk marah dan mengenang hal tidak berguna. Namun sebuah suara menghentikanku

“Liliana bukan?”
Aku berpaling dan mendapati perawat tadi keluar. Dia memperkenalkan diri tanpa kuminta. Dia adalah perawat yang rutin mengurus Kanaria dulu. Tetapi aku tidak peduli.
“Lihat bagaimana kakakmu mengetahui, bahwa adiknya akan kembali ke sini suatu hari nanti” aku terkejut mendengarnya, Jadi Kanaria telah memprediksi kedatanganku setelah kematiannya. Luar biasa, tetapi aku tidak terkesan, sejak dulu ia memang selalu mengerti apapun tentangku. Tetapi aku tidak, dia sulit dimengerti.
“Lil, aku tidak ingin banyak berbicara, aku hanya ingin menyampaikan pesanya untukmu”
“pesan itu untuk adiknya, dan aku sudah bukan dia” sergahku, perawat itu tampak menarik nafas panjang dengan sebal.
“tidakkah kamu ingat kasih sayangnya padamu gadis menyebalkan? tidakkah kamu ingin tahu kebenarannya?”
Kebenarannya… hatiku terantuk sesuatu.

“Kanaria bertahan hidup untukmu saja, ia sudah tidak punya siapapun yang ia sayangi kecuali kamu, adiknya. Seorang adik bodoh yang pergi meninggalkannya karena sepucuk surat bodoh .. humph, Liliana pernahkah kamu tanya pada kakakmu bagaimana ia dapat menjadi seperti itu? pernahkah orangtua kalian bertanya?”
Aku tersikap, tidak, aku memang tidak pernah bertanya padanya. Toh, bukahkah semuanya sudah begitu jelas. Kanaria, anak sulung keluarga ternama di kota. Menodai dirinya sendiri. Menodai nama keluarganya, membuat malu adiknya. Bukahkah semuanya sudah jelas?
“Lil, dia tidak menginginkan hal itu, juga tidak ingin dibenci olehmu dan kedua orangtuamu. Ia berpesan untuk menjaga hatimu tetap putih, tetapi sepertinya ia gagal, sudahlah.. maaf aku sibuk” ucapnya dan berlalu. Aku menatap perawat itu berlalu, saat itu kusadari perbedaan yang ada pada name tag miliknya dari perawat lainnya. Ternyata ia adalah kepala bagian di bangsal VVIP ini.

Malamnya aku tidak tertidur lelap. Hatiku tergugah. Kotak musik kemerahan itu masih ada di rumah ini. Aku yang menyimpannya. Sebagai pelajaran, jauh di lubuk hatiku demi sebuah penyesalan. Aku tidak mengerti apa yang ingin disampaikan kepala perawat itu. Kanaria tahu aku akan kembali. Demi apa, entahlah. Dia seharusnya tahu aku membencinya. Lalu, nada itu mengalir pelan di kepalaku. Memoar luar biasa yang disertai senyumnya. Aku ingin mendengar lagu itu lagi, sekali saja. Membiarkan tawa itu menjadi kenangan yang harus aku ingat. Kenangan ketika aku memiliki seorang yang disebut kakak.

Lagu itu mendayu pelan. Aku bisa menulis partiturnya tepat lagu itu berputar 5 kali. Kemudian kucari judul lagu itu. Dan aku segera tahu mengapa kepala perawat itu menatapku hina. Aku memang adik tidak tahu diri.
Tidakkah kalian ingin tahu kebenarannya?

Lagu itu berjudul Emblishment, dinyanyikan oleh Niccolò Paganini di White House Evening of Classical Music 4 November 2009. Setelah itu, ia mati. Lagu itu ditujukan untuk mendo’akan penyanyi sekaligus yang mendengarnya cepat mati.
Lagu itu kini terdengar seperti penderitaan di telingaku. Lelaki itu mengirim lagu ini, dan berharap kakakku segera mati. Tetapi aku di sana untuknya saat itu, dan ia tersenyum. Astaga, aku ingat bagaimana tangis itu berubah menjadi senyuman manis untukku. Kanaria, tidak, kakakku memang bertahan hidup untukku. Lalu, ketika aku membencinya, berhenti menjenguknya. Bukahkah aku turut membunuhnya?
Malam itu aku menangis, tangis yang seharusnya ada di pemakaman belasan tahun lalu di depan nisan Kanaria.

Gadis yang bernama Kanaria itu tidak pernah menodai dirinya. Tetapi ia dinodai, ia tidak pernah dapat melawan. Harga dirinya menghitam. Tak seorangpun rela mendengarkan penjelasannya. Bahkan, kedua orangtuanya. Martabat dan nama baik keluarga segalanya, tanpanya tidak ada harta. Hanya seseorang yang membuatnya tetap ingin tersenyum menghadapi dunia. Adik kecilnya yang tidak menyukai warna putih itu, yang tidak mengerti tentang segala prihal martabat dan harta yang harus dipertahankan itu. Kanaria memutuskan berjuang, gadis itu harus punya seorang kakak. Tempatnya berbagai dan mengadu. Dan ketika gadis kecil itu turut membencinya. Kanaria menyerah. Lalu kini, juga sejak belasan tahun lalu. Gadis kecil itu berhenti mempunyai seorang kakak.

Gadis kecil itu aku. Seseorang yang sangat menyukai warna putih dan menjadi seorang dokter demi kakaknya. Dan kumohon, maafkanlah kelurgamu atas apapun kesalahan mereka. Kau hanya butuh satu alasan. Karena mereka keluargamu. Karena kau punya sekali kesempatan untuk memiliki dan menjaganya.

Cerpen Karangan: Hafizhatunnisa
Facebook: Hafizha Anisa

Cerpen Kanaria dan Putih merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta 18 Hari (Part 1)

Oleh:
Perkenalkan, namaku Muhammad Ilham Fauzi Effendi atau bisa kalian panggil Ilham. Usiaku 17 tahun, oh ya, harus kuralat, 18 tahun pada Agustus nanti. Aku duduk di kelas IPA 12-2

Terima Kasih Kakak

Oleh:
Suatu hari ada kakak beradik yang selalu rukun. Sang Kakak bernama Erlinda yang berumur 20 tahun dan sang adik bernama Riana yang berumur 15 tahun. Riana dan Erlinda memiliki

Ayah

Oleh:
Rintik hujan membasahi bumi. Seolah mengerti betapa kalutnya aku. Dengan angin yang menusuk kalbu. Yang temani hari itu. Indah memang bila ku lihat masa lalu. Masa dimana aku masih

Fred & Jam Kantong Ajaib

Oleh:
Fred… Terburu-buru melangkahkan kakinya di jalanan sempit, ia melirikan matanya pada sebuah jam yang berada di tangan kanannya. Pukul 23.30 malam aku pasti akan terlambat sampai ke stasiun, kereta

Cinderella’s Pan

Oleh:
Masa putih abu-abu sudah berakhir dan besok adalah acara perpisahan sekolah. Momen yang dinantikan siswa-siswi namun, tidak bagiku! Aku sudah tak peduli dengan apa yang akan ku kenakan nanti.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *