Kantil dan Kenanga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 25 January 2014

Tak ada yang istimewa dari tempat tinggal Sania. Sebuah rumah sederhana berdindingkan kayu jati, tapi di situlah rasa kasih sayang dan cintanya ia curahkan terhadap kedua orangtuanya. Ia sangat menyayangi ibu dan bapaknya. Orangtua yang telah berjuang demi kehidupan yang lebih baik untuknya. Di depan rumahnya tumbuh dua pohon bunga kesayangannya. Yaitu bunga kantil dan kenanga. Saat hujan membasahi bumi, daun dan bunga yang mekar akan menimbulkan aroma harum yang khas. Baginya, saat-saat itulah ia melamun, jika rumahnya nanti akan harum dan semegah istana putri raja. Tapi, itu hanya khayalannya.

Sania tinggal dalam kehidupan yang serba pas-pasan. Ia tahu bagaimana kondisi keluarganya. Maka dari itu ia hanya menerima dengan ikhlas dan menjalani hidup yang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Tak banyak yang ia harapkan. Ia ingin keluarga kecilnya selalu diberi kesehatan yang baik agar bisa menjalani kerasnya hidup yang ia jalani bersama ibu dan bapaknya. “Bapak ingin kamu jadi orang yang bisa menjunjung derajat kedua orangtua mu, Nak.” Kata bapaknya. “Iya, Pak” Jawab Sania.

Sebuah beban dipikulkan ibu dan bapaknya pada kedua pundak Sania. Dalam hatinya tersirat banyak keinginan besar. Ia ingin memberikan kehidupan yang layak bagi kedua orangtuanya. Ia ingin kedua orangtuanya Istirahat di rumah, dan ia yang mencari nafkah untuk keluarganya. Orangtuanya selama ini sudah bekerja keras dengan susah payah. Keringat yang mengucur akan menjadi saksi hidup mereka. Saksi betapa sayangnya mereka terhadap Sania. Sania sadar, ia anak satu-satunya. Dan darinyalah, harapan orangtuanya digantungkan. Berharap anaknya kelak akan memperoleh kehidupan yang jauh lebih baik.

Tak banyak yang bisa Sania lakukan. Ia hanya belajar dengan sungguh-sungguh demi mencapai cita-citanya demi membahagiakan kedua orangtuanya. Setiap malam, dalam remang-remang lampu rumahnya, ia tetap semangat untuk belajar. Kedua orangtuanya merasa kasihan lantaran ia harus belajar dalam remang-remang. Ingin sekali ia membeli lampu yang lebih terang, tetapi rezeki mereka masih mereka gunakan untuk keperluan yang lain. “Mungkin, suatu saat Sania yang akan memebelikannya untuk bapak dan juga Ibu.” Kata Sania dalam hati.

“Sania, badan bapak pegal-pegal. Tolong pijatin badan bapak, ya!” Perintah bapaknya. “Iya, Pak” Jawab Sania segera berjalan menuju kursi tempat bapaknya duduk. Tangannya memijat tengkuk bapaknya, dan memberi pijatan lembut di kedua pundak ayahnya. “Ya Allah, hilangkanlah rasa lelah dan pegal di tubuh bapakku ini. Tak ada yang bisa aku lakukan selain memberikan pijatan ini. Agar rasa ngilu di tubuhnya tak semakin menyiksanya kala tidur nanti. Aku ingin ia tidur lelap malam ini.” Do’a Sania dalam hati.

“Pak, Nia, makan dulu. Oseng kangkungnya sudah matang.” Kata Ibu Nia, menyuruh mereka berdua makan malam. “Iya, Bu. Sebentar lagi.” Jawab Sania. Oseng kangkung ibunya memang tak ada duanya. Kangkung yang ditanam di sepanjang jalan di pinggir sawahnya, menjadi menu setia makannya. Ibunya memang senang menanam sayuran sendiri. Dengan menanam sendiri, mereka akan mengurangi pengeluaran uang untuk membeli sayuran. Bahkan, jika kangkung yang ditanam tumbuh subur dan lebat, ibunya selalu menitipkannya ke pedagang sayur keliling. Lumayan, bisa menambah penghasilan keluarganya.

Kesuliatan memang tak pernah membuat mereka putus asa. Ada berbagai cara yang bisa mereka lakukan demi tetap berlangsungnya hidup. Bagi mereka, selama mereka tidak pernah malu melakukannya, mereka akan mendapatkan uang. Apa pun itu, selagi halal akan mereka lakukan. Sawah yang digarap kedua orangtuanya hanyalah sawah milik tetangganya. Jika sudah dipanen padinya, mereka akan mendapatkan beberapa dari hasil panennya.

Sania juga tak ingin berdiam diri. Ia juga memutar otaknya, bagaimana ia bisa mendapatkan sedikit uang demi membantu kedua orangtuanya. Ia sangat bersyukur dianugerahi keterampilan untuk membuat bros. Sebenarnya, Nia mendapatkan bantuan dari pihak sekolah. Dari uang itulah, ia memulai usaha kecilnya. Dari modalnya itu, ia belikan sebuah benang dan dua jarum songket. Ia mendapatkan keterampilan dasar menyongket dari ibunya. Kemudian, ia berlatih terus sehingga kemampuannya perlahan-lahan bertambah. Ia bisa mengkreasikan sendiri bros-bros songketan hasil karyanya.

Ada keinginan besar dalam hatinya untuk membelikan mesin jahit untuk ibunya. Atau jika tidak, ia ingin sekali membawa mesin jahit ibunya ke tempat Pak Yoko. Agar mesin jahit milik ibunya yang rusak bisa digunakan lagi. “Bu, ini apa?” Tanya Sania pada Ibunya saat ia membantu ibunya memasak. “Itu buku ibu zaman ibu masih kursus jahit.” Jawab ibu Sania. Dulu, ibunya pernah mengikuti sebuah kursus. Sania tertarik untuk melihat Buku itu. “Sudahlah, bukunya juga sudah dimakan rayap. Dibakar saja ke dalam tungku, biar apinya tambah besar dan masakannya cepat matang.” Perintah ibunya.
“Kenapa harus dibuang. Lagian juga masih bisa dibaca bukunya. Ah, jangan. Mungkin, aku bisa mempelajarinya. Tapi, mesin jahit ibu kan rusak, Huft…” Desah Sania. “Lebih baik aku simpan saja. Mungkin, suatu saat akan bermanfaat untukku.
“Sania, ibu ke sawah dulu. Terusin masaknya, ya” Kata ibunya yang mengagetkan Sania. “Iya, Bu” Jawab Sania sedikit gugup.

Banyak sekali yang Sania harapkkan demi membahagiakan kedua orangtuanya. Ia ingin bapaknya membuat mebel seperti dahulu. Tapi, sekarang hutan sudah semakin gundul. Ia tak ingin musibah menimpa banyak orang. Mungkin sawah satu-satunya tempat bagi bapaknya, agar tubuhnya tetap gerak melakukan aktivitas. Sania juga ingin membelikan ibunya mesin jahit, agar ia bisa memakai baju buatan ibunya. Ia juga ingin bisa menjahit seperti ibunya. “Semoga Allah memudahkan langkahku demi membahagiakan bapak dan juga ibu.” Kata Sania.

Kini, hari-hari Sania diwarnai dengan kegiatannya membuat bros rajutan. Ia biasanya menitipkan di kopsis sekolahan. Kebetulan, ia sekolah di Madrasah Tsanawiyah yang semua murid putrinya memakai jilbab. Ia juga sering menitipkan ke toko-toko dekat rumahnya. Sania memang anak yang kreatif. Ia bisa membuat model brosnya bervariasi, sehingga banyak orang yang tertarik untuk membelinya. Sania bersyukur, sekarang bros yang ia jual semakin banyak, lantaran banyak peminatnya. Tetapi, kendala modal membuatnya bingung. Uang dari sekolah ia gunakan untuk membayar spp yang sudah menunggak. Lagian, pihak sekolah juga tidak akan mengijinkannya mengambil uang. Karena, spp dan buku Sania belum dibayar.

Tiba-tiba, sebuah bunga kenanga jatuh mengenai kepalanya. Sania mengambil dan mencium aroma harumnya. “Harum sekali.” Kata Nia tersenyum. Jarang sekali tetangganya yang mempunyai bunga kenanga seperti dirinya. Ibunya memang suka menanam bunga. Setiap orang yang lewat di rumah sederhananya itu, akan mencium aroma harum. Terlebih saat hujan usai mengguyur bunganya. Harumnya semakin menyegarkan.

Kini, bunga kenanganya menjadi banyak, karena ibu Sania sering mencangkok dan menanamnya kembali. Hanya bunga itulah yang menghiasi rumah sederhanya yang kecil itu. Tapi sayang, bunga kantil di depan rumahnya hanya satu-satunya yang ia miliki. Ibunya berulang kali mencangkok tetapi tidak berhasil dan batangnya malah mati.

“Sania, besok ibu bawakan bunga kantil dan kenanga, ya!” Pinta Nek Maryam pada sania. “Iya, Nek. Besok sania bawakan.” Jawab Sania. Sania pun langsung melanjutkan perjalanannya agar cepat sampai di rumah. Kakinya sudah terasa berat karena harus berjalan jauh dari sekolah menuju ke rumah. Tapi, ia masih semangat mengangkat kakinya yang sudah berat dan terasa pegal. Sesampainya di rumah, ia langsung meneguk segelas air putih. Seketika, rasa dahaga dan lelah hilang dalam sekejap.

Kini, ia hanya tinggal bersama ayahnya. Ibunya telah tiada dan pergi untuk selama-lamanya. Tak ada sosok ibu dalam keluarganya. Kini, Sania lah yang bertugas menggantikan semua tugas ibunya dulu. Mulai memasak, mencuci baju ayahnya, memebersihkan rumah dan membantu ayahnya bekerja. Hatinya selalu sedih jika ia ingat dengan ibunya.

Dan kini, Sania jugalah yang merawat bunga kesayangan ibunya. Kantil dan kenangan. Ibunya selalu merawat bunga itu dengan baik. Ibunya dengan sabar memetik bunga-bunga itu dan menjualnya ke pedagang bunga. Biasanya, bunga itu digunakan untuk campuran bunga tabur untuk ke makam. Terkadang, jika ada tetangga yang meninggal, ibunya selalu menyertakan bunganya itu saat ia melayat. Ibu begitu murah hati dan baik. Itulah yang selalu Sania contoh dari sosok ibunya. Tapi, ia juga yang bermurah hati kepada dirinya saat ia meninggal. Bunga yang ditanam ibu nyalah yang bertabur di atas makamnya.

Hatinya selalu sedih saat ia menyapu dedaunan bunga kantil dan kenanga yang kering dan gugur di pelataran rumahnya. “Ini satu-satunya peninggalan ibu yang harus aku rawat dengan sungguh sungguh. Dengan bunga ini juga, aku bisa membantu ayah mendapatkan uang tambahan.” Kata Sania saat ia menyapu. “Seharum kasih sayang dan cinta ibu. Bunganya selalu lebat dan mekar indah seperti cinta ibu yang besar terhadapku. Ibu, aku sangat menyayangimu.” Kata Sania sambil mencium bunga kantil yang masih kuncup. Kemudian, ia menusukkan bunga itu ke rambutnya yang diikat dengan karet gelang.

“Sekarang, nenek jadi ingat dengan ibumu. Kenapa kau tancapkan kantil itu di rambutmu?” Tanya Nek Maryam pada Sania. Tapi, Sania hanya tersenyum saja. “Kenapa? Kau ingat dengan ibumu, ya?” Tanya Nek Maryam. “Iya, ibu selalu menancapkan kantil pada rambut yang digelungnya.” Jawab Sania dengan mata berkaca-kaca. “Sudahlah, tak usah sedih. Ibumu sudah tenang di alamnya sana. Ini uangnya. Belajar yang rajin, ya!” Nek Maryam memberikan uang kepada Sania sebagai ganti bunga yang dipesannya.

Hari-harinya diliputi kesedihan, setelah sang ibu pergi. Tak ada lagi baginya untuk mencurahkan semua kasih sayang dan cintanya. Tapi, Sania berusaha menyemangati dirinya sendiri agar tetap semangat. Bahkan, ia bertekat harus lebih bersemangat demi bapaknya. Sepucuk bunga kantil dan kenanga selalu ia bawa kemana-mana. Ia menyimpannya dalam kotak snack. “Kantil dan kenanga ini sudah kering dan layu. Semua ini mengingatkan aku pada ibu. Ibu, aku sangat merindukanmu”. Kakinya terus berjalan menyusuri jalan yang berliku dan berbatu. “Aku harus bisa memberikan kehidupan yang lebih baik bagi bapak. Sebelum bapak pergi meninggalkan aku seperti ibu, aku harus membuatnya bahagia di dunia ini.”

“Ibu, Sania akan selalu merawat bunga yang ibu tanam. Dari sana pulalah Sania bisa membantu bapak mencari uang. Terima kasih Bu, engkau tinggalkan kantil dan kenanga ini, agar aku selalu ingat dengan ibu. Bunga yang selalu menjadi teman ibu di pusaran tanah. Tak bisa Sania ungkapkan. Sania sangat rindu dengan ibu.” Kata Sania sambil mengamati kotak yang dibukanya. Di dalamnya ada dua buah bunga, kantil dan kenanga yang sudah kering.

Sania pun mengambil kedua bunga itu dari dalam kotak. Ia taruh kotaknya di atas meja. Kemudian ia berbaring tidur sambil meletakkan kedua bunga tersebut di atas dadanya. “Ibu, Sania rindu dengan Ibu. Aku tak ingin bunga yang ibu tanam mati. Aku ingin ia tetap hidup menemaniku dan bapak. Aku ingin keharumannya menghiasi rumah sederhana kita. Agar aku dan bapak tidak kesepian. Aku rindu, Bu. Aku Rindu.” Sania pun memejamkan matanya. Seketika air mata menetes di kedua pipinya. Dan malam mulai membawanya memasuki alam bawah sadarnya untuk bertemu dengan ibunya di alam mimpi. Kerinduan yang teramat dalam pada sosok ibu yang telah tiada.

Selesai

Cerpen Karangan: Choirul Imroatin
Facebook: Choirul Imroatin

Cerpen Kantil dan Kenanga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Say Good Bye Egi

Oleh:
“aku ingin hanya kau yang kurindu” okta menghapus bulir-bulir itu “aku juga ingin kau hanya merindukanku, namun di antara kita tidak akan ada yang bisa melawan takdir, bukan?” “sudahlah

Hadiah Istimewa Dari Ibu

Oleh:
23 Januari 2010 Hari ini hari ulang tahunku yang ke 8 tahun.. yeyy! aku gak sabar untuk membuka kado dari ibu dan bapak.. “papa, mama.. mana kadoku?” tanyaku, tapi

Sebuah Mimpi

Oleh:
Kenapa ya di keluarga kecilku tak kutemukan kasih sayang mereka untukku, namaku Rahmi, sekarang orangtuaku tak menyayangiku, mamaku tidak peduli padaku, papaku apa lagi, aku hanya memiliki seorang adik,

Marah Karena Sayang

Oleh:
Aku menunduk kesal setiap kali Mama memarahiku karena hal yang sepele. Itu semua karena ulah adikku yang membuatku dimarahi oleh Mama. Ada saja ulah adikku yang membuatku dimarahi setiap

Maudy Lidya dan Masa Lalu

Oleh:
Dia masih terpaku pada bentangan langit biru, sesekali ia meneteskan air mata.. Peristiwa 10 tahun silam itu masih menggelayut di dalam pikirannya. Begitu kejamnya takdir yang tertulis untuknya, seakan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *