Kapan Cahaya Nyata Itu Datang, Bu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 7 December 2015

Pernahkah kalian merasa seperti gila? Ya mungkin kalian belum dan aku sudah. Aku merasa diriku sudah gila, aku tertekan karena keadaanku yang seperti ini. Aku seperti hidup di dua dunia, dunia nyata dan khayal. Dan itu sangat menyakitkan. Jika kalian merasakan itu pasti kalian berharap ingin cepat-cepat pergi dari dunia ini.

“Re, sudah sore bangun nyuci piring..” panggil Nenek. Aku hanya diam membisu sembari mengusap air mataku yang deras mengalir. Aku pun bergegas untuk menyelesaikan tugasku menyuci piring. “bu, kenapa Ibu tinggalin aku. Aku sayang Ibu. Aku ingin ikut Ibu.. dan ke mana Ayah? kenapa Ayah memberikan penderitaan ini? Aku benci dia bu, aku ingin bunuh dia, aku ingin dia mati..” batinku dalam hati.

Aku memang terlahir di keluarga yang sangat menyayangiku, yang selalu memberikan perhatian khusus untukku tapi aku tak pernah puas dengan perhatian yang mereka berikan padaku karena yang ku butuh saat ini adalah perhatian dari Ayah dan Ibuku. Tapi sepertinya perhatian yang ku harapkan hanyalah khayalan yang tak pernah usai, karena Ayahku entah ke mana dan Ibu sudah meninggal 3 tahun yang lalu. Sejak saat itu aku membenci kehidupanku sendiri dan lebih menyukai kehidupan orang lain. “Andai aku jadi Hilma pasti aku akan bahagia, karena bisa tinggal di rumah yang besar bersama Ayah dan Ibu.” pikirku.

Aku selalu berharap ada sosok Ayah dan Ibu dalam kehidupanku meski itu tak mungkin terjadi. Semua ku jalani dengan sabar dan ikhlas. Hingga akhirnya aku mulai bosan dan muak hidup seperti ini terus.. hidup dalam ketidaknyamanan membuatku tertekan dan hampir gila. Sekarang aku lebih suka melamun, mengkhayal dan tiba-tiba saja menangis lalu tertawa dan terkadang aku menyakiti diriku sendiri. Ah apakah aku depresi atau bahkan sudah gila? kenapa ini sangat menyakitkan, semua yang ku lakakukan juga dibatasi. Hmm ya, sudah semestinya aku paham dan sadar ini bukan hakku, bukan hakku untuk bahagia.

Ayah, Ibu kenapa hanya penderitaan yang kau tinggalkan mana kebahagiaan yang kau tinggalkan? Aku terasa bodoh dan lemah dalam menjalani hidup. Semua yang ku lakukan terasa tak berguna, sempat aku berpikir suatu saat nanti pasti akan ku temukan cahaya yang nyata dan indah. Tapi pikiran itu luntur bersama air mata yang mengalir deras, entah ke mana motivasi itu tiba-tiba lenyap membuatku sulit bernapas semuanya gelap dan gelap. “Ayah, Ibu aku merindukanmu. Aku ingin seperti teman-teman yang lain menjalani hidup dengan tenang dan bahagia tanpa adanya beban pikiran.”

Tapi aku sadar aku tak layak hidup seperti mereka, karena aku memang sudah ditakdirkan hidup berbeda dengan mereka. Mulai saat ini aku harus bisa menerima keadaan dan mulai berpikir lebih dewasa bahwa aku adalah aku dan mereka adalah mereka. Aku tidak bisa menjadi mereka dan mereka tidak bisa menjadi aku. “Bu, kau yakin kan aku bisa melewatinya?”
“terima kasih telah mempercayaiku bu, aku pasti akan menggapai kebahagiaan itu. Love you so much, mom.”

Cerpen Karangan: Icha Agustin

Cerpen Kapan Cahaya Nyata Itu Datang, Bu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pertemuan yang Kuimpikan

Oleh:
Brakkk…! terdengar suara barang terjatuh dari kamar seorang gadis yang pagi ini tengah terburu-buru. Nenek dari gadis tersebut buru-buru menuju kamar, “Ada apa ini?” tanya Nenek. “Eh Nenek, maafkan

Masker

Oleh:
Aku kira lantai teras rumahku ada yang merubah warnanya, tapi ketika kuinjakkan kakiku di atasnya ada sesuatu yang halus yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku segera mencari sapu

Kita Perlu Bersabar

Oleh:
“Ada satu hal yang terlihat kecil namun ia seperti suatu bilangan Besar dalam Metode BIG-M Pemrograman Linier. Satu hal itu tertanam dalam hati. Dan ia kau kenal dengan H.A.R.A.P.A.N”

Kenangan di Hari Terakhir

Oleh:
Hai teman-teman!Nama lengkapku, Muhammad Rafid Nadhif Rizqullah. Aku sering di panggil Nadhif. Ini adalah ceritaku saat berlibur bersama kedua Orangtuaku dan seorang Kakakku. Semoga kalian bisa menikmati cerita ini

Aku Pergi Ma, Pa

Oleh:
Semilir angin malam menembus jendela kamarku. Hingga tiba-tiba pintu kamarku terketuk pelan. “Hem pasti Tante Lia.” Gumam Ara. “Ra, ayo makan malem, semuanya udah pada kumpul di bawah.” ajak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *