Kapsul Cita-Cita


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 13 April 2013

Matahari mulai terbit dari ufuk timur dan mulai menyelinap masuk menerobos jendela kamar Nia. Tak lama kemudian terdengar seseorang membuka pintu kamar Nia perlahan dan dengan suara lembutnya membangunkan Nia yang masih tertidur pulas.
“Nia… bangun sayang, sudah pagi. Nanti terlambat loh masuk sekolahnya.”
Nia pun perlahan mambuka matanya. “ehmmmmmmmhhh, Nia masih ngantuk ma.”
“Iya, tapi kamu harus bangun, lihat itu sudah jam 6 loh nanti kamu telat.”
Melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 6, Nia lekas bangun dari tempat tidurnya dan langsung menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi dan berseragam, Nia menuju ke meja makan untuk sarapan. Setangkap roti dan segelas susu menemani sarapannya hari ini.

“Nia berangkat dulu ya ma, pa.” Nia mencium pipi papa dan mamanya.
“Hari ini aku mau berangkat naik sepeda sama Rino.”
“Kalau begitu hati-hati ya.” sahut mama dan papa Nia serentak.
“Oke, ma..daaaa” Nia pun bergegas pergi.
Di luar pagar rumah Nia sudah tampak Rino menunggunya dengan sepeda birunya. Seperti hari-hari biasanya mereka memang sering berangkat sekolah bersama naik sepeda. Nia hidup di tengah keluarga yang kecil namun sangat bahagia dan harmonis. Mereka termasuk keluarga yang berkecukupan. Nia anak yang cukup mandiri di usianya yang baru menginjak 6 tahun. Ia anak yang ceria dan suka sekali membaca cerita. Sedangkan Rino adalah tetangga sekaligus sahabat Nia sejak TK. Mereka juga satu kelas.

Setelah menempuh perjalanan yang memang tidak terlalu jauh. Akhirnya mereka sampai di sekolah.
Kriiiinggggg!!! Bel masuk pun berbunyi. Pelajaran pertama dimulai yaitu pelajaran Bahasa Indonesia. Bu Ninik sudah sampai di pintu ruang kelas dan mulai melangkah masuk. Serentak semua murid berdiri dan Anton sebagai ketua kelas memimpin anak-anak yang lainnya untuk memberi salam. “Selamat pagi, Ibu.”
“Ya, selamat pagi anak-anak” balas Bu Ninik dengan senyuman.
“Hari ini kita akan belajar membuat karangan. Temanya tentang cita-cita. Kalian bebas mengarang apa saja asalkan sesuai dengan cita-cita kalian dan bagi yang karangannya paling bagus, akan dibacakan di depan kelas minggu depan.” Bu Ninik menjelaskan.
Setelah selembar kertas folio dibagikan, beberapa anak sudah mulai menulis karangan mereka termasuk Nia. Namun ada juga beberapa anak yang masih asik melamun memikirkan apa yang harus mereka tulis di selembar kertas yang cukup panjang itu. Ternyata Rino termasuk salah satu diantara mereka.

Satu jam pelajaran pun berlalu. “Ayo anak-anak kumpulkan karangan kalian ke depan karena waktunya sudah habis.” Nia maju ke depan dan mengumpulkan karangannya. Dua halaman kertas folionya penuh dengan tulisan-tulisan kecilnya. “Wahhh, karanganmu panjang sekali” kata Rino sambil melirik kertas yang sedang dikumpulkan Nia. “Iya nih.. aku keasikan nulis tadi hahah” jawab Nia sambil tertawa.

Waktu sudah menunjukan pukul 12. Pelajaran di sekolah pun sudah usai. “Nia, sebenarnya aku penasaran sekali dengan apa yang kamu tulis tadi, memangnya kamu mengarang tentang apa?” tanya Rino.
“Ehmmm.. tentang cita-citaku lah Rin.” Jawab Nia sambil tersenyum.
“Ya aku tahu itu. Kan memang temanya tentang cita-cita, Ni.”
“Ahhhh.. ada deh….” jawab Nia sambil tertawa membuat Rino penasaran.
“Yahhh kan aku cuma mau tahu aja, abisnya tadi aku aja bingung mau nulis apa jadinya cuma nulis satu halaman deh.”
Mereka pun terdiam karena Nia tak membalas perkataan Rino.
“Aku punya ide!” teriak Nia sedikit mengagetkan
“Ide apa, Ni? Kamu membuatku kaget saja.”
“Bagaimana kalau kita buat kapsul waktu? seperti di film-film itu loh. Lucu kan?”
“Kapsul waktu? itu apa Ni?”
“Wah kamu tidak tahu ya? Kapsul waktu itu semacam kotak yg bisa kita isi apa saja. Nanti setelah kita dewasanya nanti kita bisa melihatnya lagi. Tapi kali ini kita isi kotak itu dengan kertas yang bertuliskan cita-cita kita, Rin. Gimana pendapatmu?”
“Wahhh sepertinya menarik hahah. Oke aku setuju” jawab Rino dengan penuh semangat.
Tak berapa lama Nia keluar dari rumahnya membawa dua buah kotak berwarna biru. Mereka berdua mengisi kotak itu dengan secarik kertas yang berisikan cita-cita mereka. Dan mereka berjanji akan membuka kapsul itu saat mereka sudah berumur 20 tahun.

11 tahun berlalu, hal yang buruk menimpa Nia saat ia menginjak kelas 2 SMP. Keluarga Nia yang semula bahagia dan harmonis kini dilanda kesedihan. Papa Nia meninggal karena kecelakaan pesawat yang tak diduga saat ia ingin pergi memenuhi panggilan meeting di Malaysia. Nia merasa sedih dan sangat terpuruk. Terlebih lagi karena mamanya menjadi sering sakit-sakitan semenjak papanya meninggal. Mungkin karena terlalu sedih. Nia pun juga begitu. Ia sangat sedih atas kepergian papa yang sangat disayanginya. Perasaan itu menghantuinya cukup lama. Sampai-sampai nilai Nia sempat menurun.

Namun belakangan ini Nia sudah mulai melupakannya dan ia mulai bangkit kembali menjadi anak yang ceria. Ia sadar, ia harus menjaga mamanya dan berusaha sebaik mungkin untuk sukses. Untungnya mereka masih memiliki uang simpanan hasil kerja papanya dulu. Nia mulai lebih bersemangat dalam belajar karena terutama ia ingin membahagiakan mamanya dan juga berterimakasih kepada Om Donny, adik papa Nia yang sudah mambantu nia dan mamanya 4 tahun belakangan ini. Mengantar mamanya ke rumah sakit dan juga membantu dalam hal biaya.

Ia kembali ingin mengejar cita-citanya yang muncul semasa kecilnya dulu. Menjadi seorang penulis. Nia memang gemar menulis sejak kecil. Ia paling menyukai pelajaran mengarang. Nia juga suka membaca novel novel sejak kelas 6 SD. Awalnya Nia pesimis akan bisa menggapai cita-citanya itu. Waktu itu ia pun bercerita dengan Rino yang sampai sekarang masih menjadi sahabat baiknya dan teman satu kelasnya. Nia ingat sekali kata Rino waktu itu. “Langit itu luas dan tak terhitung, di atas langit masih ada langit, di atasnya juga masih ada langit. Tapi lihatlah langit pada malam hari, yang terlihat hanyalah bulan dan bintang kecil yang bersinar. Meskipun langit itu luas, dan tak terhitung, namun pasti ada satu bintang di antara jutaan bintang yang paling bersinar, dan kamu pasti bisa menjadi seperti bintang itu.” Kata-kata Rino itulah yang akhirnya bisa membangkitkan semangatnya lagi.

Rino memang sahabat yang baik. Dengan terus belajar rajin dan akhirnya Nia lulus SMA dan mendapat peringkat 3 nilai UN di sekolahnya. Mamanya sangat bangga dengan prestasi Nia. Sambil terus menulis novel, Nia kuliah di salah satu universitas swasta. Sudah ada 4 novel yang ia kirimkan dari 1 tahun lalu namun belum ada respon dari penerbit. Suatu hari ketika Nia sedang asik menulis novel terbarunya, handphonenya berdering. “Apakah bisa bicara dengan Ibu Nia?” tanya suara di telepon itu.
“Ya, saya sendiri.” jawab Nia.
“Oh iya Nia, kami dari penerbit Media Pustaka ingin memberi tahu kalau novel-novel anda yang anda kirimkan ke redaksi kami akan kami terbitkan semuanya dalam akhir bulan ini.”
“Ah apakah benar begitu Pak?”
“Ya, benar, tentunya kami menghubungi anda untuk mengatur pertemuan kita mengenai tandatangan kontrak novel ini kalau nantinya akan diperbanyak dan tentunya mengenai honor juga” jawab laki-laki di telepon itu.
“Baiklah, tentu saja aku bisa” jawab Nia.
Setelah menutup telepon, Nia merasa seperti mimpi. Ia tidak pernah menduga ini sebelumnya. Nia pun mendapat honor yang begitu besar dari hasil penjualan novelnya. Ia kini sudah menjadi penulis yang terkenal. “Nia Chandra Wijaya” siapa yang tidak tahu namanya. Namun dibalik semua itu ia mengerti bahwa tujuannya bukan untuk mencari ketenaran namun hanya untuk membahagiakan orang tuanya, mama dan juga papanya.

Suatu ketika, Nia ingat akan janjinya kepada Rino bahwa mereka akan sama-sama membuka kapsul cita-cita itu saat mereka berumur 20 tahun. Hari itu hari ulang tahun Rino dan ia sudah genap 20 tahun. Bahkan Rino sendiri pun lupa akan janji Nia itu. Mereka berdua lekas ke halaman rumah Nia dan menggali tanah tepat di bawah pohon mangga di halaman rumah Nia. “Kau sudah siap Rin?”
“Siap dong haha tapi aku agak malu nih.”
“Malu kenapa? kamu curang tahu udah tau cita-cita aku duluan sebelum waktunya”
“Hahahh biarin ayo buka saja” Rino malah mulai tak sabar.
Mereka pun membuka kapsul itu dan betapa terkejutnya Nia ketika melihat apa yang ditulis Rino di kertas itu. “JIKA AKU BESAR NANTI AKU MAU MENJADI BADUT UNTUK MENGHIBUR SEMUA ORANG” Nia pun tertawa terbahak-bahak. Wajah Rino memerah pertanda malu. Beginikah cita-cita seorang anak berumur 6 tahun? Namun sesungguhnya Rino telah menjadi badut dalam hidup Nia.

Cerpen Karangan: Natasha Cynthia
Facebook: natasha cynthia
NATASHA CYNTHIA
JAKARTA, 5 MEI 1995
SMA VIANNEY

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Keluarga Cerpen Motivasi Cerpen Persahabatan

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One Response to “Kapsul Cita-Cita”

  1. Mutiara says:

    Cerpen yang sangat menarik! Aku izin copas untuk keperluan sekolahku ya? Tenang saja, nama pengarang asli tetap aku cantumkan. Tapi mungkin aku akan mengeditnya sedikit. Terima kasih banyak! Semoga kakak bisa terus berkarya, amin! ^^

Leave a Reply