Karena Ada Rumah Yang Tak Akan Hancur

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 5 January 2016

Ia terduduk di sudut kamarnya yang terkunci. Matanya ia pejamkan lekat-lekat, tangannya menutup rapat telinga -mencoba menghalang semua suara gaduh menyentuh syaraf pendengarannya, ia bernapas dengan cepat dan berat-bagai semua yang ia hirup dan yang ia hembuskan adalah gemuruh emosi yang sedang memenuhi dirinya.
“Mana hormat kamu sama aku hah! Aku ini masih suami dan Ayah anak-anak kamu!” terdengar suara seorang lelaki bernada menghardik.

“Oh jadi kamu masih ingat kalau kamu berperan sebagai suami dan Ayah di rumah ini? Kalau begitu mana tanggung jawab kamu hah! Pergi berhari-hari dari rumah, nggak ada kabar pergi ke mana, nggak tahu apa yang dikerjain di luar sana. Apa masih pantes kamu dihormati hah!” terdengar jawaban dengan nada tak kalah tinggi dari seorang wanita.

“Nggak perlu kamu tahu soal itu. Yang penting uang aku masih cukup kasih makan kalian, beliin kalian ini itu yang mungkin nggak bisa dimiliki orang lain. Kalian itu harusnya seneng bisa hidup dengan harta benda yang lengkap..”
“Kami bukan cuma butuh harta.. tapi kami juga butuh keluarga yang utuh, kami butuh kepala keluarga yang dapat diteladani, anak-anak butuh ayah yang dapat melindungi. Bukan sosok seperti kamu!”

Plaak!

Sebuah tamparan mendarat di wajah sang wanita. Si anak sulung yang sedari tadi mengunci diri di kamar mendengar semua yang terjadi. Jiwanya serasa diremuk kembali, namun ia tak bisa selamanya mengurung diri. Lalu ia memberanikan diri mengambil tindakan. Dengan tangan gemetar ia membuka kontak lalu menelepon seseorang, suaranya terbata-bata. Suara lirihnya cukup mewakili sebagaimana buruk suasana yang ia alami.

Seusai menelepon ia berkemas, layaknya orang yang akan pergi. Dengan semua sakit hati ia melangkah ke luar lalu menghampiri ibunya yang sedang menangis sambil mendekap erat adik perempuannya.
“Sudah Bu, cukup Ibu menderita. Ini bukan lagi rumah, tapi neraka..” Kata sang anak sambil memeluk ibunya.
Ibunya hanya menatap sendu dengan mata sembabnya. Tatapannya sangat dalam, menyiratkan seribu kata yang tak terucap.

“Paman akan menjemput Ibu, ia akan datang beberapa menit lagi. Berkemaslah dan pergilah ke rumah Nenek.” kata sang anak. Ibunya terisak, “Bagaimana pamanmu bisa tahu?” tanya sang ibu.
“Aku telah meneleponnya tadi, sekarang segeralah berkemas..” Kata sang anak.

Ibu itu lalu segera berkemas, bersiap untuk meninggalkan neraka di tempat ini. Lalu sang anak ke luar dengan melewati si ayah yang tertunduk di kursi. “Dia Ibuku, tak ada yang boleh menyakitinya. Termasuk Ayahku sendiri, tak akan bisa lagi.” kata sang anak lalu berjalan ke luar dari rumah.
“hei.. mau ke mana kamu?” tanya sang ayah.
“Kemana pun asal ke luar dari neraka ini.” kata sang anak.
“Ya sudah, kalau buat kamu ini neraka pergi saja sana. Dasar anak durhaka!” bentak sang ayah.

Ia ke luar dari rumahnya, melangkah tanpa arah di gelap dan kelamnya malam. Ia menyusuri jalan perumahan elit yang pernah jadi saksi kisah harmonis keluarganya dahulu, beberapa tahun yang lalu. Terlalu cepat semuanya berubah, bagai sedang bermimpi buruk lalu tak bisa bangun. Semenjak ayahnya mulai memiliki kerja sama dengan pengusaha club malam semuanya perlahan-lahan berubah.

Ayah jarang pulang ke rumah, jika pulang pun lebih sering marah, sampai dengan kabar adanya wanita lain. Semua itulah yang membuat orangtuanya lebih sering bertengkar. Sungguh situasi yang sangat melukai hati dan jiwanya, ada sedikit perasaan bersalah kala ia tak bisa sepenuhnya melindungi ibunya. Dan itu membuatnya semakin hancur, kehilangan arah, pudarnya harapan dan kehilangan jati diri sebenarnya. Namun ia mencoba selalu bertahan demi ibunya.

Ia terus berjalan. Telah ribuan langkah yang ia ayunkan. Membawa ke tempat yang jauh dari rumahnya. Ia berkali-kali berbelok jalan yang ia tak tahu ke mana ujungnya. Yang penting ia ingin sendiri, menjauhkan semua bebannya. Namun semakin jauh melangkah, semakin ia tak tahu kondisi keamanan daerah tersebut. Saat ini ia merasa seseorang tengah mengincarnya, menatap dalam gelap. Ia berjalan lebih cepat. Tiba-tiba seseorang langsung menyergap menodongnya. Dinginnya pisau ia rasakan berada di pangkal lehernya. Siap merobek kulit dan seketika membunuhnya jika ia melakukan tindakan gegabah.

“Serahkan semua harta bendamu, cepat!” pinta si penodong.

Tanpa berkata apa-apa ia perlahan melepas tasnya. Tapi langsung dengan cepat, ia memutar tangan si penodong dan meraih pisaunya. Pisau itu langsung ia buang jauh ke semak-semak dekat selokan. Dan sekarang ia siap untuk menerima serangan si penodong. Ia mendapat serangan pukulan, lalu kemudian ia menghindar dan menghantamkan tendangan keras ke kepala penodong.

Si penodong tersungkur, lalu ia memanfaatkan momen ini untuk berlari menghindar dari kejaran. Ia berlari secepat-cepatnya, berharap ia bisa bebas dari kejaran penodong. Sial baginya, saat ia berbalik melihat penodong itu ternyata ia telah berlari mengejarnya dengan bantuan satu orang penodong lainnya. Sungguh, malam ini ia merasa nyawanya ada di ujung tanduk.

Dari kejauhan, terlihat mobil melaju dari arah berlawanan. Ini satu harapan baginya. Ia terus berlari mendekati mobil, berusaha menghadang dan berharap mobil itu bersedia menyelamatkan nyawanya dari buruan penodong yang terus mengejar. Mobil itu makin dekat, ia melambaikan tangan tanda memberhentikan. Bunyi klakson panjang tak menggetarkan usahanya. Mobil itu berhenti satu meter tepat di depannya. Ia menghampiri pengendara mobil. Dan sungguh tak terduga ternyata yang berada dalam mobil adalah ibu dan pamannya.

“Rasya? Kamu ke mana saja Nak? Kamu kenapa?” tanya ibunya kaget.

Dengan napas terengah-engah ia berkata, “ceritanya panjang Bu, sekarang biarkan aku naik dulu Bu.”
Ia kemudian naik bergabung dengan ibunya di dalam mobil. Sang paman yang seorang pemburu melepaskan tembakan ke udara demi menakuti para penodong. Benar saja setelah tembakan para penodong langsung berhenti mengejar hilang di kegelapan.

Ia mencoba mengatur napasnya. Kejaran maut masih membayang di benaknya, ia bersyukur masih bisa selamat.
“Kamu mau pergi ke mana Nak? Ibu kira kau akan pergi bersama Ibu dan Paman..” Kata sang ibu.
Luka hatinya terbuka kembali. Ia tertunduk, perlahan air matanya menetes membasahi pipinya. “Rumahku hancur Bu, hancur.”

“Naunganku tak mampu lagi melindungiku. Dan lebih menyakitkannya lagi semua kehancuran pada jiwaku disebabkan oleh ayahku sendiri Bu. Orang yang dulu begitu membanggakan aku dan Ibu. Selama ini aku diam dan dengan jahatnya membiarkan Ibu menghadapi semua ini sendirian, sungguh bukan itu maksudku Bu. Aku hanya tak bisa setegar Ibu dalam menghadapi semua ini. Jadi ku pikir aku butuh waktu sendiri, pergi dari rumah untuk menemukan jalanku kembali dan menenangkan hati.”

“Rasya, jangan pernah berpikir seperti itu. Jika memang rumah kita hancur maka yang jadi kekuatan Ibu adalah kalian anak-anak Ibu, terutama kamu yang sulung. Kamu jadi satu-satunya harapan Ibu, penguat, pelindung, dan semangat hidup Ibu. Ibu lebih rela kehilangan Ayahmu asalkan kamu masih bersama Ibu..”

“Ibu, aku yakin Ibu akan bahagia dengan kembali ke sanak keluarga Ibu. Mereka dapat melindungi Ibu, menguatkan Ibu, dan menyemangati Ibu..”
“Ibu tidak akan bisa hidup dengan baik jika anak Ibu hidup di jalan dan rusak oleh segala keburukannya. Kau tentu tahu bagaimana kehidupan di jalanan Nak. Di sana ada kekerasan, kriminalitas, obat-obatan terlarang, dan pergaulan yang tak terkendali Nak..”

“Lalu bagaimana caranya agar aku menemukan kembali rumahku, Bu?”
“Rumahmu di sini Nak, di hati Ibu, di sisi Ibu! Di mana pun Ibu berada di sanalah kau harus berada untuk mendampingi Ibu. Berjanjilah Nak, untuk selalu mendampingi Ibu!” ungkap sang ibu dengan deraian air mata.
“Maafkan aku bila aku telah menyakiti Ibu, maafkan Bu! Aku berjanji untuk selalu menjaga Ibu, menguatkan Ibu, dan tentunya membahagiakan Ibu..” Janji sang anak.

Cerpen Karangan: Shelini
Facebook: Shelin Niee
Shelini, lahir di Cirebon, Jawa Barat pada tanggal 1 Desember 2000. Sedang dalam tahap belajar menulis untuk menuangkan pikirannya. Penulis dapat dihubungi melalui Facebook: Shelin Niee, dan email: sheeelinnie[-at-]gmail.com.

Cerpen Karena Ada Rumah Yang Tak Akan Hancur merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mama dan Aku

Oleh:
Rani nur adwiya sari begitulah nama lengkap ku. tapi di lingkungan ku aku biasa dipanggil Nur. namun kisah hidupku tak seindah nama pemberian orang tuaku. awalnya hidupku cukup sempurna

Lebaran Si Mina dan Uang 10 Ribu

Oleh:
Ngatminah, gadis kecil di kecamatan Percut Sei Tuan daerah terpencil di Sumatera bagian utara tepatnya di kampung ranum Medan, Sumatera Utara. Ia dipanggil Mina oleh gadis tua yang diyakini

Kado Untuk Ibu

Oleh:
Aisyah Az-Zahra, biasa dipanggil Aisyah adalah seorang anak berumur 8 tahun yang sudah bekerja mencari penghasilan bagi keluarga kecilnya. Ayahnya meninggal 5 tahun lalu, karena penyakit jantung yang menyerangnya.

Bukan Ibu Cinderella

Oleh:
Malam ini begitu tenang, setenang tetesan mata air di puncak gunung. Namun tenangnya malam ini tak setenang hatiku. Di malam 7 hari kepergian almarhumah bundaku. Bunda yang amat aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *