Karena Aku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 25 September 2016

Ayah dan ibuku bekerja sehari semalam. Ini tugasku untuk menjaga adikku. Suatu sore adikku terlihat tidak semangat. Aku mengecek keadaannya. Ternyata dia mengalami demam biasa. Kami sering bermain dokter-dokteran jadi ini seolah-olah nyata bagiku. kuberikan dia obat penenang yang biasa ayah pakai ketika ia sakit. Tetapi aku tidak tahu itu berbahaya untuk dosis anak-anak. Padahal adikku tidak meminta untuk meminum obat itu tapi aku yang memaksanya.

Malam harinya setelah beberapa jam meminum obat dengan dosisi tinggi, adikku tak sadarkan diri. Bahkan demamnya sudah terlalu tinggi. Aku panik. Ini semua gara-garaku. Aku berlari ke klinik terdekat. “dokter… dokter… buka pintunya dokter… adikku sakit… adikku sakit dokter.. tolong dokter…” teriakku sembari menggedor-gedor pintu klinik. Tak berapa dokter lean membukakan pintu untukku. “ada apa… ada apaa?” tanyanya dengan kepanikkan setelah melihat aku menangis tak karuan. Aku langsung menggenggam tangannya. “adikku sakit dok!!” rengekku.

Setelah berada di rumahku. Dokter lean langsung memeriksa keadaan adikku. Pertama ia menyenteri mata adikku yang tak kunjung bangun. “sejak kapan dia seperti ini?” tanya dokter lean padaku. Aku diam sejenak dan menangis seketika itu juga “setelah dia minum obat ini” ucapku sembari menunjukkan sebotol obat kaplet yang kuberikan tadi pada adikku.
Dokter lean terkejut setelah tahu yang kuberikan adalah dosis yang tinggi untuk anak-anak dan bisa mengakibatkan gangguan liver dan ginjalnya. “kita bawa ke rumah sakit” ucap dokter lean sembari menggotong adikku. Aku menyesal dengan kejadian ini. Pasti ayah dan ibu memarahiku setelah ini. Aku tak pedulikan itu, yang terpenting adikku bisa dibawa ke rumah sakit dan ditangani lebih serius.

“aku tak menyangka dia bisa koma seperti ini” ucap dokter lean pada dokter yang menangani adikku. “akibat dari dosis yang tinggi dia bisa seperti ini. Hatinya mengalami gangguan yang cukup fatal walaupun penggunaan obat itu hanya diminum sekali saja” jelas dokter yuan. Aku menangis. “berapa kaplet yang diminumnya?” sambung dokter yuan. “2 biji dokter” ucapku terbata-bata. Dokter yuan dan dokter lean menggeleng-gelengkan kepalanya. “adikkk…” teriakku menangisi tindakan yang kubuat.
Sampai akhirnya ayah dan ibu datang menemui adikku. Ayah langsung menamparku saat itu sedangkan ibu menangis juga melihat anak perempuannya terbaring lunglai. “kurang ajar kau! Bagaimana bisa kau lakukan ini pada adikmu! Kau mau membunuh adikmu sendiri!” bentak ayah padaku. “maafkan aku, ayah” ucapku terbatah-batah.

Karena kejadian itu, aku memutuskan untuk menjadi dokter. bukan hanya karena aku ingin mengobati adikku saja, tapi karena kondisi kami yang miskin membuat ayah bermabuk-mabukkan. Aku harus mengubah ekonomi kami dengan cara ini
Hanya ibuku yang mengerti tentang perasaanku. Ia mendukungku untuk menjadi dokter dan masalah biaya ia akan berusaha keras untuk membantu mewujudkan cita-citaku. Adikku saat ini memang sudah sadar, tapi hidupnya tidak bisa panjang sebelum hatinya dioperasi dan diganti. Aku bingung menanggapi ini semua. Setelah sarjana kedokteran itu ada padaku. Aku melamar di salah satu rumah sakit. Rumah sakit medicalah akhirnya aku dipekerjakan disana.

Aku membawa adikku ke rumah sakit itu untuk dirawat. Belum ada pengganti hati adikku saat itu. Untung saja, ia masih bisa bertahan hidup dengan beberapa infus di tangannya. Hingga suatu hari ibuku memaksaku untuk mendonorkan hatinya untuk adikku. Jelas aku tak terima, ini kesalahanku mengapa ibu justru mendonorkan hatinya untuk adik, bukan aku! Tapi hatiku tidak cocok untuk didonorkan pada adik. Aku membantahnya meskipun ia menangis-nangis di depanku. Aku tak tega harus kehilangan ibu. Hingga akhirnya ibu mengancam, dia akan bunuh diri bila keinginannya tidak dituruti. Aku mengalah. Ternyata takdirnya berkata lain, hati ibu memang tidak cocok untuk adik.

Ibu diam. Sekarang tidak ada yang bisa ia korbankan lagi. kami hanya menunggu seseorang yang cocok untuk mendonorkan hati adikku. Tak berapa lama ibuku sekarang yang mengalami kanker rahim. Ia terpaksa harus dioperasi untuk pengangkatan rahimnya. Kubawa ibuku ke ruang operasi bersama suster dan dokter bagian dalam, dokter laki-laki itu bernama lim.

Dokter lim sedang mengotak-atik perut ibuku. Setelah operasi itu selesai. Jantung ibu berhenti saat itu juga. Seharusnya bius itu masih ada. “ada apa ini, dok?” ucapku yang mulai ketakutan. “jantungnya tak merespon dokter kim”
“apa lagi! segera lakukan kontak jantung!” ucapku. Mereka langsung melakukan kontak jantung pada ibuku. Aku mulai panik. Airmata ku terus berjatuhan. “tidak merespon dokter kim” ucap dokter lim padaku. Aku langsung mengambil benda itu dari tangan dokter lim. Aku kembali melakukan kontak jantung. Benar, tak ada respon dari jantung ibu. Aku menjerit seketika. “ibu…” aku memeluk raga ibu yang sudah mati. Dokter lim dan para suster tampak menyesal dan merasa iba melihat kepergian ibuku. Mau dikata apa lagi? ini memang sudah takdirnya. Aku harus ikhlas berpisah dengan ibuku.

Setelah kematian ibu, ayah lebih banyak bermabuk-mabukkan. Uangnya ia habiskan untuk permainan j*di. Hingga akhirnya aku juga ikut-ikutan dengan bergaul bersama preman-preman yang ada disana. Setiap pulang kerja kusempatkan untuk pergi ke markas besar preman. Ada gunanya juga aku disana, salah satu teman premanku mengalami tusukkan di bagian perutnya. Dengan alat dokterku, aku menanganinya dengan baik sampai dia pulih dari sakitnya.

Walaupun sekarang aku sudah berhenti menjadi preman, tapi aku tetap mengenal mereka. Mereka menerimaku dengan tenang. Bahkan sesekali mereka siap mengawasiku ketika preman lain berusaha untuk membunuhku.

Aku kembali ke ruang adikku, di ruang itulah dia dirawat bersama pasien lainnya. “terimakasih, kak. kau sudah banyak membantuku. Sekarang, kau boleh tinggalkan aku. Menghentikan pengobatan ini untukku” ucap adikku. Aku diam. Kualihkan pandanganku darinya. Aku menangis saat itu. Ini salahku, mengapa dia masih menganggap ini memang penyakitnya bukan karena salahku. “kau tidak boleh bicara seperti itu. Walau bagaimana pun, aku ini kakakmu. Aku wajib mengurusmu. Jangan bilang seperti itu lagi ya!” ucapku menstabilkan suasana.

“dokter kim!” ucap salah satu suster disana. Aku menoleh ke sumber suara. “ada pasien yang mau menyumbangkan hatinya untuk adikmu. Dia pasien rumah sakit wasinghton, amerika serikat. Berdasarkan informasi, keadaan hatinya bagus hanya saja pasien itu mengalami kanker tulang. Jadi hatinya tidak menganggu penyakit yang ia dideritanya. dokter kim” jelas suster itu memberikan info seputar pendonor yang dia maksud. Lantas aku tersenyum dan mengucapkan terimakasih untuknya.

Hari ini tepatnya tanggal 20 febuari 2009 aku dan adikku berangkat ke washington untuk melangsungkan pengoperasian itu. Operasi itu berjalan dengan baik. Hatinya sudah lagi baik seperti dulu. Hanya saja, pendonor itu kehilangan nyawanya karena sudah mendonorkan hatinya untuk adikku. Dengan membalas budi, kuuruskan pemakamannya disana. Aku juga berterimakasih untuk adik si pendonor. Adiknya juga seorang dokter. sama sepertiku. Mengalami nasib yang sama. Sama-sama menjadi dokter karena tindakan kecerobohan. Ini semua karena aku…

selesai

Cerpen Karangan: Sanniu Cha Putri
Facebook: Sanniucha Putri

Cerpen Karena Aku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Beristirahat Dengan Tenang

Oleh:
Malam ini adalah salah satu malam di musim hujan. Aroma tanah basah dan udara dingin masih mengudara. Sesekali angin berhembus tenang dan pepohonan bergemuruh bersamanya. Damai. Kueratkan kembali jaketku

Mawar Putih

Oleh:
“sebentar lagi hari ibu, kamu mau ngasih apa sama ibu kamu Nia?” “aku mau kasih ibu aku mawar putih, ibu aku suka sekali mawar putih!” “dari mana kamu bisa

Sahabatku SG

Oleh:
Mentari telah terbit dari ufuk timur menandakan satu hari baru telah datang, sungguh indah ciptaan Tuhan menghiasi pagi ini, bagi setiap insan pastinya ingin memulai hari baru ini dengan

Mereka Bilang Aku Gila (Part 2)

Oleh:
Vater dan uma selalu membuatku tersudut karena hal ini. Mereka sering menjuluki sebagai “An Over-thinker”. Oh man… I’ve done a test about “Are you an over-thinker”, and guess what?

Kembaran Ku

Oleh:
Kami bertiga berhenti di sebuah minimarket. Seperti biasanya, saat jalan jalan sore, walaupun menggunakan motor. “Ayah, belikan aku es krim” “baiklah, Adek mau rasa apa?” “Strawberry!!” “Ayah, Abang nggak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *