Karena Kita Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 7 May 2015

“Tak masalah bila akhirnya kita terpisah, tapi jika rindu datanglah seperti biasa, seperti yang sering kita lakukan, teruslah memejamkan mata sampai di mimpi-mu aku menjadi nyata,” pesan singkat Mutya.

Mutya menjadi salah satu korban kecelakaan beruntun. Kepalanya mengalami benturan hebat sampai-sampai kaca mobilnya retak. Beruntung seseorang dengan cepat menyelamatkan nyawanya. Tubuh-nya tetap pada wujud yang utuh, hanya bagian kepala-nya yang bermasalah. Lupa ingatan menjadi harga mati untuk seorang yang mengalami benturan keras.

Hatiku selalu menghawatirkannya, setiap malam tidurku tak nyenyak karenanya, makan pun jadi enggan. Di dunia ini aku tak bisa melihat apa-apa lagi selain penderitaan dan kesedihan, perempuan manis itu tersungkur lemah tak berdaya, di balik jendela aku menangis menyapa-nya manja. Namanya selalu ku sebut di dalam do’a berharap Tuhan memberi-nya daya untuk bangkit dan memelukku mesra, seperti yang sering dilakukannya saat bangun tidur di pagi buta.

Mutya seperti jasad tak bernyawa tapi berada di dekatnya sepanjang hari membuatku merasa nyaman, meski kami hanya diam. Untuk kesetiaan ini ku beri nama cinta. Dan untuk kesedihan ini ku beri nama rindu. Agar kelak saat orang lain bertanya padaku tentang cinta dan rindu, aku bisa menjawab dengan lantang, “Bahwa cinta itu, ketika kita kehilangan tetap setia menjaganya, bukan pada fisik tapi menjaga pada hati agar tak pergi meninggalkan. Dan rindu itu, ketika kita berpisah tetap dengan rasa yang sama, air mata jatuh tak wajar karenanya.”

Sekarang, jika umur Mutya tersisa 24 jam. Maka tak cukup bagiku menceritakan kembali tentang indahnya hidup berdampingan dengannya selama 24 tahun.

Kaki kecilku menjadi kuat berjalan semua karena-nya, yang selalu ada menggenggam erat tanganku, dengan penuh sabar mengajariku cara berjalan, hingga kini kaki kecil itu tumbuh menjadi besar, dan siap berjalan jauh menuntunnya bepergian. Tubuh kecilku, pengetahuan sempitku, semua berubah karenanya, benar-benar karena Mutya. Karena ia menyayangiku, karena ia merawatku, karena ia mengorbankan hidupnya untuk menghidupiku, karena ia selalu memberikan yang terbaik untukku.

Lama sudah tak mendengar suaranya, rindu menari nakal mengganggu pikiran. Airmata tak terhitung jumlahnya, yang jatuh ke pipi atau ke tanah semua keluar tanpa rasa sadar. Akhirnya, Mutya menyerah pada penderitaan-nya, ia berhenti bernafas, dan tubuh-nya menjadi ringan. Aku hanya tersandar, gila, tanpa airmata lagi. Dunia ini tak memberiku tempat sembunyi untuk menghilangkan kegundahan hati. senyum manisnya, tawa manjanya, tingkah lucunya, semua ada di pikiran ku. Aku menjadi nakal dan mulai durhaka padanya, aku berusaha menghapus semua yang mengganggu pikiranku tentangnya. Dimana keburukannya selama hidup denganku? Aku bertanya pada hatiku, semua tak ada yang bersuara, hanya bayangnya semakin kuat menyiksa batinku yang renta.

Namanya terukir indah di benakku, kasih sayangnya tertanam subur dalam hatiku. Meski aku bisa membeli dunia, tak akan ada bahagia tanpa Mutya di sisiku.

Tak masalah jika akhirnya harus terpisah, pernah hidup dan ditakdirkan menjadi anak Mutya itu sangat membuatku bahagia, ujarku lirih. “Ibu, aku mencintaimu”.

Cerpen Karangan: Fahrial Jauvan Tajwardhani

Cerpen Karena Kita Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Without Goodbye (Part 1)

Oleh:
“Apa Ayah akan segera pulang?” Wajah wanita itu tampak sedih, namun seulas senyum tulus tersungging di wajahnya. Sambil mengelus rambut hitam putranya ia menjawab pertanyaan yang tampak sederhana itu.

Kebahagiaan Singkat

Oleh:
Ini kisah tetang alasan dibalik nama gue. Nama gue boleh lo panggil Randy. Gue siswa salah satu SMA di Jakarta. Dari gue kecil gue selalu di tanya arti nama

Kejutan Dari Ibu

Oleh:
Pagi ini terasa cerah sekali, terik matahari menguning bagaikan telur dadar yang baru matang. Ah, pagi-pagi ini melihat matahari pun seperti melihat makanan. Tidak hanya itu, aku melihat burung-burung

Pengorbanan Ibu

Oleh:
Wanita separuh baya asik mengeruk sampah dan dimasukkan di dalam tas Plastik hitam besar miliknya. Dengan penuh pengorbanan melawan panasnya matahari hari ini dan pulang saat Senja tiba. Keringatnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *