Karena Orangtuaku Sayang Padaku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 31 May 2016

“Di mana aku?” kanan-kiriku tak ada seorang pun, pada siapa aku bertanya? “Ah, mungkin di sana,” kataku pada diriku sendiri.

Dalam gelap aku menyusuri lorong gelap yang lembab ini. Aku coba memanggil seseorang, namun nihil tak ada suara kecuali air yang menetes. Aku mulai ketakutan, aku di sini sendirian dan benar-benar tak ada yang menemaniku. Langkah kakiku mulai melambat saat melihat ujung lorong yang nampaknya sudah mulai terlihat jelas.

“Akhirnya, setidaknya ada sedikit cahaya untukku,” Aku mulai memanggil seseorang.
“Halo, apa ada orang di sini? Apa ada orang yang bisa membantuku? halo aku membutuhkan bantuan, tolonglah jawab aku,” Hingga suara anak kecil yang menangis bergemuruh di telingaku, aku terkejut karena hal itu namun aku tetap melanjutkan perjalanan hingga ke luar dari lorong itu. “Syukurlah, aku bebas dari lorong itu. Tapi aku sekarang di mana? Kenapa di sini sangat sepi?”

“Halo… ada seseorang di sini?” aku terus berusaha mencari seseorang berharap dia akan membantuku
“Apakah itu kau Aldi?” seseorang berbaju putih memanggilku, aku mulai curiga karena aku tak tahu aku di mana. Aku sempat berpikir apakah seseorang berbaju putih ini adalah malaikatku. Namun aku buang jauh-jauh pikiran itu ketika seseorang berbaju putih yang ternyata wanita melanjutkan perkatannya.
“Aldi, ternyata kamu sudah di sini. Bibi sudah lama menunggu kedatanganmu untuk membantu mengurus anak-anak ini,” mataku terbelalak, kini aku tahu rasanya orang-orang yang disambar petir. Aku tak tahu siapa yang memberikan namaku padanya, tetapi mengapa dia tahu namaku.

“Maaf bibi, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” Agak sedikit ragu aku bertanya.
“Iya, apakah kau tak ingat bibi yang merawatmu sejak kecil ketika bibi menemukanmu di pinggir jalan?” Deg, jantungku yang seketika berjalan normal seperti berat untuk kembali melakukan tugasnya. Sebenarnya apakah aku tak salah dengar, aku ditemukan di pinggir jalan.

Karena aku tak yakin, aku terus bertanya pada bibi itu, dia menyuruhku untuk membantunya menjaga dan merawat anak-anak kecil bahkan balita ataupun bayi. Begitu banyaknya mereka sehingga aku kebingungan untuk mengurus yang mana. aku sempat berfikir, kemanakah orang tua mereka pergi.
“Bi, aku ingin bertanya. Ke manakah Ayah dan Ibu mereka pergi?”
“Orangtua mereka entah ke mana, bibi pun tak tahu kalaupun bibi tau bibi akan menghubungi orangtua mereka dan meminta untuk merawat mereka. Tapi apa daya itu hanya seandainya,” Bibi menjawabnya dengan wajah yang murung penuh peduli dan kasih. Dia menerima jalan hidupnya untuk merawat mereka.

Dari situ aku menyimpulkan bahwa tempat ini adalah panti asuhan, aku teringat kembali ucapan bibi tentang asalku. Asal pertama kali aku ditemukan. Aku sempat berpikir dan bertanya pada diriku sendiri, “Ke manakah Ayah dan Ibuku pergi, kenapa aku harus ditinggalkan?” Renungan itu tak berlangsung lama karena bayi yang sedang ku gendong menangis belum lagi anak kecil yang berlarian di atas Kasur setelah bermain lumpur. Mereka sangat nakal bagiku, saking kesalnya aku memarahi mereka. Namun bibi menyela kemarahanku.

“Aldi! Apa alasanmu memarahi mereka?”
“Mereka tak punya etika bi, kakiknya yang kotor sudah membuat kita harus membersihkan kasur itu,” aku menjelaskan kekesalanku. Bibi menarik napas dan menghembuskan napasnya, “Aldi, kamu bilang mereka tak punya etika, siapa yang mengajari etika pada mereka? Ayah dan Ibunya bahkan tak peduli padanya,” Aku ingin melanjutkan kata-kataku namun hantaman keras dari tangan bibi mendarat di pipi kiriku.
“Aaaahhhhh!” aku mengeram kesakitan, hantaman itu membuat aku kembali ke awal sebelum aku melewati lorong.

Perlahan aku membuka mataku, ternyata aku kini di kamarku. Di kamar sendirian, aku tersadar itu semua hanya mimpi. Aku teringat bahwa aku tadi memarahi ayah dan ibuku. Bukan hanya itu aku mengatakan bahwa aku akan tinggal sendirian tanpa ayah dan ibu. Sungguh, aku menyesal kini aku mengerti lorong gelap yang berarti ayah ibu tak ingin aku di kegelapan atau gelap tanpa seorang keluarga. Aku mengerti kenapa ayah dan ibuku tak meninggalkan aku sewaktu aku masih bayi, mereka sayang padaku. Aku mengerti kenapa ayah dan ibuku selalu menjagaku, mereka ingin aku tumbuh menjadi orang yang penuh dengan etika dan sopan santun. Aku berlari pada ayah dan ibuku, memohon maaf pada mereka tak seharusnya aku marah pada mereka. Karena orangtuaku sayang padaku.

Cerpen Karangan: Febinarila
Blog: febinari.blogspot.com

Cerpen Karena Orangtuaku Sayang Padaku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Atau Keluarga

Oleh:
3 minggu berlalu setelah kakak dari perempuan yang sedang melukis sebuah pemandangan di belakang rumahnya itu sembuh. Laki-laki yang berusia 19 tahun itu telah berada di sampingnya, menemaninya melukis.

Kalung Liontin Merah (Part 1)

Oleh:
“Aku nggak akan menangis. Hal itu hanya dilakukan oleh orang lemah,” ucapku dalam hati. Tapi ternyata pikiranku tak sejalan dengan hatiku yang telah tergores sekian lama. Tersirat banyak luka

Aku Bukan Patung

Oleh:
Awalnya gelap, tapi tiba-tiba… cahaya mentari menyilaukan. Sangat menyilaukan, tapi kenapa aku tidak bisa menutup mataku? Ya Tuhan, apa yang terjadi padaku? Tubuhku, oh tubuhku tidak bisa bergerak. Kenapa

Sinar Bulan Pertama

Oleh:
Malam terasa begitu dingin tanpa ada penerangan dari lampu di sekitar sini, tempat ini adalah sebuah lorong yang kanan dan kirinya terbentang tembok yang sangat tinggi hingga cahaya rembulan

Requiem Karma

Oleh:
Perlahan cahaya lazuardi menghilang dari rangkaian senja petang ini, lampu-lampu mulai menyala di setiap sudut kota; di tepi jalan, tempat-tempat ibadah dan gedung-gedung tinggi pun tak mau kalah memberikan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *