Kartini Dari Ujung Negeri

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Inspiratif, Cerpen Keluarga, Cerpen Pendidikan
Lolos moderasi pada: 1 December 2017

Suasana pagi yang indah, semilir angin yang berhembus dari arah laut, menyeberangi bebatuan karang yang berbaris dengan rapi di mulut pantai. Seakan tak mau kalah untuk turut memeriahkan suasana pagi, burung-burung saling berbalas kicauan indah menambah semarak menyambut datangnya pagi. Dari ufuk timur, sang surya mulai mengintip, dengan senyumnya yang sumbringah seakan memberikan semangat baru kepada seluruh penghuni Pulau Sabang. Pulau yang begitu indah, Pulau yang merupakan titik ujung barat Indonesia ini memang terkenal akan keindahan pantainya yang masih begitu terjaga dengan baik, yang akan membuat siapapun jatuh cinta dan akan enggan untuk meninggalkan Pulau ini.

Sementara itu, terdapat sebuah rumah di ujung pesisir Pulau yang berdiri sederhana, bahkan mungkin bisa dibilang rumah ini sangatlah tidak layak huni, namun hal tersebut tidak mengurungkan niat seorang anak yang menghuni rumah tersebut hanya berdua bersama sang Ibu ini untuk terus berjuang dengan segala keterbatasan yang mereka miliki.

Namanya adalah Toba, anak yang saat ini masih duduk di bangku kelas 3 di salah satu Sekolah Menengah Pertama Negeri di Pulau Sabang yang dengan semangatnya dia begitu ingin untuk menjadi seorang guru. Toba selalu ingin membanggakan sang Ibu yang hanya seorang diri telah merawat dan berjuang agar Toba dapat terus bersekolah dan dapat mewujudkan impian Toba menjadi seorang guru. Ibu Kartini memang seorang wanita kuat yang tak pernah menyerah dengan keadaan, semenjak kematian sang suami karena kecelakaan kapal ketika Toba masih berumur 3 tahun, Wanita yang kini telah berusia setengah abad ini pun terpaksa harus banting tulang untuk menghidupi keluarganya seorang diri. Meskipun hanya berjualan ikan asin, Ibu Kartini selalu percaya bahwa Tuhan selalu adil dan telah menyiapkan rezeki bagi seluruh umatnya.

Seperti biasanya, di pagi hari Toba selalu menyempatkan waktu untuk membantu Ibunya menyiapkan dagangan ikan asin sebelum di bawa dan di jual Ibunya di pasar. “Nak, kemarilah nak, segeralah ke masjid, shollat shubuhlah dahulu, lalu bantulah Ibumu ini menata ikan asin yang telah Ibu keringkan kemarin”, sekiranya itu lah yang selalu Ibu Kartini sampaikan kepada Toba di setiap pagi hari, sebagai seorang anak yang berbakti dan begitu menyayangi sang Ibu, Toba pun tak pernah menolak apapun perintah dari sang Ibu, dengan semangatnya Toba pun selalu cekatan membantu Ibunya, dengan tangan kecilnya Toba memilah tumpukan ikan asin yang digantung oleh Ibunya di atas tungku di dapur rumahnya.

Setelah dagangan sang Ibu telah siap dan tertata dengan rapi, Toba segera bersiap untuk berangkat sekolah. Dengan menaiki sepeda mini tua peninggalan dari sang ayah, Ibu Kartini selalu membonceng Toba dan mengantarnya pergi menuju sekolah, karena memang tempat sekolah Toba searah dengan pasar yang merupakan tempat sang Ibu menjual ikan asinnya, dengan membawa ranjang yang berisi ikan asin dagangan milik sang Ibu, Toba terlihat membuka beberapa buku pelajaran ketika dibonceng sang Ibu, hal ini selalu menjadi kebiasaan Toba karena memang jarak rumah Toba dengan sekolahanya cukup jauh dan memakan waktu yang lama untuk mencapainya, hal tersebut yang membuat Toba enggan kalau hanya duduk diam di boncengan Ibunya, sehingga Toba selalu menyempatkan untuk sedikit membaca buku-buku pelajaranya.

Sesampainya di depan gerbang sekolahnya, dengan sigap Toba segera turun dan meraih tangan sang Ibu lalu menciumnya, “Belajarlah dengan sungguh-sungguh ya nak, jadilah anak yang baik, jangan kecewakan Ibu nak, buatlah Ibumu yang tua ini bangga, buatlah Bapakmu tersenyum di atas sana nak”, itulah pesan yang selalu Ibu Kartini ucapkan pada Toba, yang semakin membuat Toba bersemangat untuk terus menuntut ilmu dan bisa menjadi seorang guru di kemudian hari. Toba sendiri sebenarnya anak yang sangat pintar, terbukti dalam beberapa tahun terahir, Toba selalu menjadi juara kelas, bukan hanya juara kelas, Toba pun menjadi ketua OSIS di sekolahnhya, dengan wajah tenang dan ramahnya, Toba selalu menjadi idola dan menjadi murid kesayangan dari para guru di sekolahanya.

Dengan prestasinya yang begitu membanggakan, sebenarnya banyak bantuan yang datang demi kelanjutan sekolah Toba, hal tersebut terlihat dari banyaknya tawaran beasiswa yang datang dari para guru di sekolah Toba, hal ini jugalah yang paling membantu untuk Ibu Kartini, dan membuat Ibu Kartini semakin yakin dan bersemangat untuk terus mendorong Toba agar tetap bersekolah, apapun rintanganya, bagaimanapun sulitnya, Ibu Kartini bertekat tak akan menyerah dengan keadaan dan akan terus memberikan yang terbaik bagi anak semata wayangnya ini, Toba pun sadar benar apabila dengan penghasilan Ibunya saat ini, sangatlah berat bagi sang Ibu untuk membiayai sekolahnya, Toba bahkan sempat ingin berhenti bersekolah dan ingin memendam cita-citanya dalam-dalam agar dapat bekerja membantu sang Ibu berjualan ikan asin, “Ibu, sepertinya Toba ingin berhenti bersekolah, Toba tidak ingin menambah beban Ibu, Toba bisa kok menjualkan ikan asin di pasar sehingga Ibu tidak perlu setiap hari menempuh jarak yang jauh agar dapat berjualan di pasar”, begitulah ucapan yang pernah Toba lontarkan pada sang Ibu. Namun sang Ibu tak pernah mengizinkanhya, “Bicara apa engkau nak, Ibumu ini masih kuat, Ibu ingin nasibmu lebih baik dari Ibu, almarhum Bapakmu pasti akan melakukan hal yang sama seperti Ibumu ini apabila dia masih hidup nak, bagaimanapun, pendidikanmu dan masa depanmu adalah yang terpenting nak” jawab sang Ibu sambil mengelus kepala Toba.

Sepulang dari pasar, Ibu Kartini selalu menjemput Toba di depan gerbang sekolah Toba, dengan membawa sisa ikan asin yang tidak seluruhnya laku, Ibu Kartini menunggu Toba dengan sabarnya, di bawah terik matahari, Ibu Kartini duduk di samping sepeda tuanya, rasa haus dan lapar seakan tak dihiraukanya demi melihat anak kebanggaanya keluar dari sekolah.

“Kring… kring… kring”, terdengar suara bel tanda berahirnya jam sekolah, Ibu Kartini segera berdiri menanti Toba keluar, terlihatlah Toba yang berlari menghampiri sang Ibu dan seperti hal yang wajib baginya, Toba segera meraih tangan tua Ibunya yang mulai terlihat mulai keriput untuk menciumnya. “Bagaimana sekolahmu hari ini nak, apakah engkau mendapat nilai yang bagus nak?, engkau tak membuat masalah kan di sekolah tadi nak?”, begitulah sekiranya yang selalu Ibu Kartini lontarkan pada Toba setiap sepulang sekolah, “Tidak bu, Toba tidak membuat masalah bu, nilai Toba tadi juga bagus bu, Toba tadi mendapat nilai 95 pada pelajaran matematika tadi bu”, jawab Toba yang duduk di boncengan sang Ibu, “Alhamdulillah nak, bapakmu pasti bangga melihatmu nak”, jawab sang Ibu sambil mengayuh sepeda dengan kaki-kaki tuanya tersebut.

Sesampainya di rumah, seperti biasanya Toba segera membantu sang Ibu untuk mengeluarkan sisa-sisa ikan asin yang belum laku untuk segera kembali menjemurnya agar tetap awet dan dapat dijual kembali pada esok harinya, sembari Toba yang sibuk menjemur sisa ikan asin, Ibu Kartini terlihat sibuk menyiapkan makan siang untuk dirinya dan untuk sang anak kebanggaannya, “Nak, segeralah kemari, tinggalkan kerjamu itu dahulu, kemarilah mari kita makan siang dulu nak”, terdengar teriakan Ibu Kartini memanggil Toba yang sibuk dengan ikan asinya tersebut, “Iya bu, Toba segera kesana bu”, jawab Toba pada sang Ibu, segera toba menghentikan pekerjaanya yang sebenarnya masih banyak ini, Toba segera mencuci tangan dan menghampiri sang Ibu yang sudah duduk di meja makan tersebut, “Sini nak, duduklah di samping Ibu, makanlah makanan yang sudah Ibu masakkan ini, Ibu yakin kamu pasti lapar, namun maafkan Ibu kalau Ibu hanya bisa menyediakan nasi dan ikan asin goreng ini nak, engkau tahu sendiri tadi dagangan ibu hanya laku sedikit nak”, sambut Ibu Kartini kepada Toba, “Ah, bicara apa Ibuku ini, apapun lauknya, asal bisa makan di samping Ibu sudah lebih dari cukup kok bu”, sambung Toba menjawab Ibunya. Dengan lahapnya terlihat Ibu Kartini dan Toba menyantap makan siang sederhananya, Kebersamaan yang begitu indah antara Ibu dan Anak yang seakan terlupakan segala beban hidup yang sebenarnya sangat berat, namun seakan semua beban itu hilang ketika mereka bersama.

Seperti tak ada lelahnya, setelah menyelesaikan tugas rumahnya, meninggalkan Toba yang masih sibuk menjemur ikan asin, Ibu Kartini melangkah keluar rumah membawa tas rotannya yang lusuh dan kumal yang berisi beberapa tumpuk ikan asin, Ibu Kartini melangkah dengan senyuman di wajahnya menghampiri rumah demi rumah di sekitar desanya, “Ikan asin.. ikan asin… ikan asin”, teriak Ibu Kartini berusaha menarik minat orang agar mengampiri dirinya dan membeli ikan asin yang dibawanya. Langkah demi langkah Ibu Kartini terus berjalan berharap ikan asinnya laku sehingga bisa pulang dengan membawa beberapa rupiah untuk membeli kebutuhan rumah dan apabila beruntung memperoleh uang lebih, Ibu Kartini selalu menyisihkan sedikit uang untuk ditabung untuk persiapan Toba mendaftar di Sekolah Menengah Atas, karena memang Toba saat ini telah mendekati masa Ujian Nasional dan akan segera lulus dari jenjang Sekolah Menengah Pertama.

Dengan keringat yang mulai terlihat mengucur dari tubuhnya, tidak bisa ditutupi betapa sebenarnya beliau sangat lelah, hingga yang diharapkanya pun terwujud, “Bu, Ibu Kartini, tolong kemari bu, saya mau membeli beberapa ikan asin bu”, akhirnya ada seorang warga yang memanggil dirinya dan sepertinya ingin membeli ikan asin miliknya. Mendengar ada yang memanggil dirinya, Ibu Kartini dengan cepat menghampirinya, dan memang benar saja, orang itu membeli beberapa ikan asin yang di bawanya. “Alhamdulillah ya Allah, engkau memang maha adil atas segala rizkimu”, ucap Ibu Kartini sambil menggenggam beberapa rupiah hasil menjual ikan asinnya.

Hari terlihat mulai gelap ketika Ibu Kartini memutuskan untuk menyudahi langkah kakinya dan mulai berjalan pulang ke rumah, dimana pasti Toba sudah menunggu kepulangan dirinya, setelah beberapa saat akhirnya sampailah Ibu Kartini di depan rumahnya, benar saja, Toba terlihat sudah berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangan dirinya, “Akhirnya Ibu datang juga, Toba sudah khawatir pada Ibu, besok-besok biar Toba saja yang keliling berjualan ikan asinnya bu, agar Ibu dapat lebih banyak waktu untuk istirahat bu”, ucap toba pada Ibunya yang terlihat kelelahan, “Sudahlah nak, kamu jangan khawatir, apa kamu lupa, Ibu mu ini kan Ibu super”, jawab sang Ibu sembari sedikit bercanda untuk menghilangkan rasa khawatir dari Toba, “Lebih baik sekarang kamu bersiaplah pergi ke masjid nak, sebentar lagi kan sudah waktu maghrib”, tambah sang ibu sembari mengelus kepala Toba, “Oke Ibu superku, Toba akan bersiap untuk ke masjid”, ucap Toba sembari membalas candaan dari sang Ibu.

Sembari menunggu Toba yang masih belum pulang dari masjid, terlihat Ibu Kartini duduk di kursi bambu yang ada di teras rumahnya, Toba memang selalu menyempatkan untuk belajar mengaji setelah shollat maghrib, sehingga pulang lebih lama. Dengan menggenggam sebuah foto di tanganya, yang merupakan foto almarhum suaminya, terlihat wajah tuanya yang telah mulai keriput itu mulai meneteskan air mata, serta menunjukkan ekspresi yang penuh kesedihan dan penuh dengan kenangan yang pernah dilaluinya bersama almarhum suaminya tersebut. Suami yang begitu dia sayangi, yang begitu dia cintai tersebut mungkin memang terlalu cepat pergi meninggalkan dirinya dan anak satu-satunya mereka, yang merupakan buah cinta bersama almarhum suaminya tersebut, kesedihan dan rasa kehilangan yang begitu besar yang dialami oleh Ibu Kartini ini sebenarnya selalu menghinggapi dirinya yang selalu membuat dirinya merasa sedih dan kesepian, namun sosok Toba lah satu-satunya yang selalu membuat Ibu Kartini menjadi kuat, semangat Toba untuk meraih mimpinya membuat Ibu Kartini seperti mendapat nyawa baru yang membuatnya menjadi kuat dan pantang menyerh, dia selalu percaya, bahwa segala yang terjadi adalah kehendak Tuhan dan pasti ada hikmah dibalik semua itu.

Namun lamunan kesedihan Ibu Kartini seketika terhenti ketika terdengar dari kejauhan suara Toba yang sepertinya telah pulang dari masjid, “Ibu, Toba pulang bu, ibu kenapa kok duduk sendirian di depan rumah bu?”, tanya Toba sembari menyapa sang Ibu, “Tidak apa-apa nak, Ibu cuma sedang menunggu kedatangan dirimu nak”, jawab Ibu Kartini sambil menutupi kesedihan dirinnya, “Tapi bu, kenapa mata ibu seperti habis menangis, ada apa bu, Ibu sedih karena mengingat Bapak ya?”, tanya Toba kembali, “Tidak nak, tidak ada apa-apa, mata Ibu cuma terkena debu tadi ketika bersih-bersih rumah nak, oh iya nak, bukanya kamu sebentar lagi sudah mulai Ujian Nasional, kamu harus segera belajar nak, jangan sampai anak kebanggan ibu ini dapat nilai jelek”, jawab Ibu Kartini sambil mengalihkan perhatian Toba agar tidak membahas tentang kesedihan hatinya, “Baiklah bu, Toba akan segera belajar bu”, sambung Toba yang sebenarnya tahu bahwa Ibunya sebenarnya pasti sedang sedih akibat ingat pada almarhum Bapaknya.

Hari demi hari berlalu di kehidupan Ibu Kartini dan Toba anak kebanggaanya tersebut, Ibu Kartini, sosok wanita tangguh yang berusaha dengan segala kemampuan dan keterbatasannya untuk menghidupi keluarga dan mewujudkan cita-cita anaknya, sementara itu Toba pada akhirnya hampir menyudahi masa Sekolah Menengah Pertamanya dan akan menghadapi Ujian Nasional sebagai syarat untuk melanjutkan sekolahnya ke Sekolah Menengah Atas, “Toba anakku, segera belajarlah nak, ingat besok engkau akan melaksanakan Ujian Nasional nak, ibu tidak ingin kamu gagal dalam Ujian Nasional tersebut nak”, pesan Ibu Kartini pada Toba, yang terlihat ikut panik dan khawatir dengan situasi Toba menjelang Ujian Nasionalnya, “Tentu bu, Ibu tidak usah khawatir, bukankah Toba selalu belajar bu, Toba juga tidak ingin mengecewakan Ibu, Toba akan berusaha yang terbaik untuk membanggakan Ibu”, balas Toba sambil meyakinkan sang Ibu.

Keesokan harinya, akhirnya tibalah saat dimana Toba mulai melaksanakan Ujian Nasionalnya yang memang telah ditentukan dan dijadwalkan oleh pemerintah dan dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia, seperti biasanya dengan semangat dan penuh keyakinan, Toba menuju sekolah bersama Ibunya yang memang selalu mengantar dirinya, “Nak, jangan lupa berdo’a sebelum engkau mengerjakan soal ujianmu, ingatlah bahwa do’a ibumu ini akan selalu menyertaimu nak”, pesan Ibu Kartini sebelum melepas keberangkatan Toba masuk ke dalam sekolah, “Tentu bu, Toba pasti akan memberikan yang terbaik agar hasil ujian Toba dapat membanggakan Ibu”, jawab Toba sembari mencium tangan sang Ibu.

Beberapa hari berlalu hingga Toba telah menyelesaikan Ujian Nasional terahirnya, Toba terlihat keluar dari gerbang sekolah dan berlari menghampiri sang Ibu yang seperti biasa sudah menunggu kedatangan Toba di luar gerbang sekolah, “Bagaimana nak, bagaimana ujian terahirmu tadi, apakah engkau mengalami kesulitan nak?”, tanya Ibu Kartini yang sembari mengayuh sepedanya menuju rumah, “Alhamdulilah bu, berkat usaha Toba dan berkat do’a dari Ibu, hari ini toba dapat mengerjakan soal ujian dengan lancar seperti ujian pada hari-hari sebelumnya bu”, jawab Toba yang duduk di boncengan Ibunya. Dengan senyum yang merekah di wajahnya, terlihat jelas betapa bangganya dan gembiranya Ibu Kartini mendengar jawaban dari anaknya, dengan penuh kebanggaan Ibu Kartini semakin semangat mengayuh sepeda tuanya agar segera sampai di rumah dan menyiapkan makanan untuk Toba dan untuk dirinnya yang sebenarnya begitu lelah dan lapar.

Hingga pada akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu oleh Toba dan Ibunya, itulah hari dimana pengumuman kelulusan bagi Toba dan seluruh teman-temanya tiba, dan pada akhirnya, seluruh keraguan, rasa kegelisahaan, rasa takut, rasa ragu, yang selama ini bercampur dan sangat membebani pikiran Toba dan Ibu Kartini seketika itu hilang setelah mereka mengetahui bahwa Toba berhasil lulus dari Ujian Nasional ini, bukan hanya itu, yang membuat Ibu Kartini semakin bangga adalah ternyata nilai-nilai Ujian Nasional Toba merupakan yang tertinggi di sekolahnya, rasa bangga Ibu Kartini benar-benar luar biasa, setelah perjuanganya dan pengorbananya selama ini ternyata tidak sia-sia, dengan segala keterbatasan yang ada, ternyata membuat Toba semakin termotivasi untuk terus maju dan berusaha sebaik mungkin demi masa depannya dan demi Ibunya yang begitu sangat dia sayangi dan menjadi semangatnya selama ini.

Sementara itu dalam rangka untuk mengenang saat-saat kelulusan untuk para murid, sekolah tempat Toba menuntut ilmu mengadakan acara perpisahan yang pada acara tersebut seluruh murid dan wali murid diundang untuk datang ke sekolah untuk bersama sama memeriahkan acara perpisahaan, tentunya Toba dan Ibu Kartini juga termasuk dalam pihak yang diundang untuk turut hadir. Pada hari berikutnya akhirnya hari pelaksanaan acara perpisahan itu pun datang, dengan sepedanya Ibu Kartini terlihat mengayuh sepedanya bersama Toba menuju sekolah tempat acara perpisahan tersebut berlangsung. Acara demi acara ditampilkan yang membuat meriah panggung perpisahan tersebut, mulai hiburan tari, hiburan musik, dan lain-lainya membuat siapapun terhibur dan merasa gembira. Namun, tidak diduga, di akhir acara ternyata mengharuskan Toba yang memang meraih nilai Ujian Nasional terbaik di sekolahnya tersebut untuk naik panggung dan memberikan pesan dan kesan atas prestasinya tersebut.

Dengan wajah yang masih sedikit bingung dan ragu, akhirnya Toba memberanikan diri untuk naik ke panggung dan menyampaikan pesan dan kesan dirinya. “Sebelumnya saya bersyukur atas apa yang Tuhan berikan pada saya saat ini, semua ini tidak akan terwujud tanpa adanya orang-orang hebat yang selalu membantu dan mendukung saya, kepada para teman-teman saya yang selalu mendukung saya, kepada Bapak dan Ibu guru yang tanpa lelah membimbing saya, dan yang paling penting untuk Ibu saya, Ibu yang selama ini merawat dan membesarkan saya seorang diri, Ibu yang begitu hebatnya bekerja membanting tulang demi keberhasilan anaknya, Ibu yang juga menjadi sosok Ayah bagi saya, betapa beruntungnya teman-teman semua di sini, yang hadir dalam acara ini didampingi Ayah dan Ibu kalian masing-masing, sementara saya, Ayah saya telah tiada ketika saya masih berumur 3 tahun, bahkan saya sendiri masih belum jelas benar bagaimana wajah Ayah saya, hanya ada sebuah foto peninggalan Ayah saya yang selalu saya lihat setiap saya beranjak tidur, jika kalian bertanya bagaimana saya kuat menjalani hidup saya ini dan terus semangat meraih cita-cita saya, maka saya akan menjawab ini semua karena sosok Ibu saya, sosok Ibu pekerja keras, tanpa ada kata menyerah meskipun lelah, meskipun penuh keterbatasan yang kami hadapi, namun beliau tetap berusaha dan berjuang demi masa depan anaknya, saya selalu bangga dengan Ibu saya, seorang wanita yang hanya dengan berjualan ikan asin, namun ingin anaknya sukses dan bisa bernasib lebih baik dari dirinya, saya bangga dengan Ibu saya, terimakasih bu, sungguh engkau adalah malaikat bagi saya, sampai kapanpun Toba anakmu ini akan selalu berusaha untuk terus membanggakanmu bu, Toba sayang Ibu”, itulah ucapan dari Toba yang di sampaikanya di atas panggung dan di depan semua yang hadir dalam acara tersebut. Seketika itu, suasana yang tadinya meriah seluruhnya terdiam dan terlihat seluruh orang meneteskan air matanya mendengar kata-kata Toba, khususnya Ibu Kartini yang terlihat tersedu-sedu mendengar ucapan Toba tersebut, kesedihan yang bercampur rasa bangga pada sang anak membuat air matanya seakan tak mau berhenti menetes dari matanya.

Pada akhir acara, ketika air mata Ibu Kartini belum berhenti benar menetes, terdengar suara dari pembawa acara yang mengumumkan bahwa Toba terpilih sebagai penerima beasiswa pendidikan, yang membuat Toba secara cuma-cuma dapat langsung melanjutkan masa Sekolah Menengah Atasnya. Hal itu tentu membuat Ibu Kartini semakin bangga, “Sungguh hari ini adalah hari paling membahagiakan untukku”, mungkin begitulah kata hati Ibu Kartini yang benar-benar bahagia dengan pencapaian yang di peroleh Toba. Di peluklah dengan erat tubuh Toba yang baru turun dari panggung, air mata kebahagiaan seakan tak mau berhenti menetes dari mata Toba dan Ibu Kartini, Tepuk tangan dari seluruh tamu yang menghadiri acara perpisahan tersebut yang seakan semuanya turut bangga dan bahagia melihat keberhasilan Toba dan Ibu Kartini, terlebih bagi sang Ibu yang merupakan sosok paling berpengaruh di balik keberhasilan Toba. Seorang wanita yang seharusnya tidak layak menanggung beban hidup yang begitu beratnya, seorang wanita dengan mimpi yang besar untuk melihat anaknya terus maju dan berhasil dalam pendidikanya.

Itulah Ibu Kartini, seorang wanita tangguh dari ujung barat Indonesia, seorang wanita yang membuat siapapun sadar, bahwa tidak ada hal yang mustahil dalam kehidupan ini. Seberat apapun cobaan yang kita dapaatkan bukanlah alasan untuk kita menyerah menggapai tujuan kita, asalkan tujuan itu baik, yakinlah Tuhan pasti akan membantu kita. Tidak hanya Toba dan Ibu Kartini saja yang dapat mewujudkan impianya, namun semua orang juga bisa melakukanya, tetaplah berusaha, jangan pernah takut akan kegagalan, dan selalu ingat akan Tuhan. Semoga cerita inspiratif dari Toba dan Ibunya ini akan membuat kita sadar bahwa kita semua layak untuk bermimpi dan mewujudkan impian kita semua.

TAMAT

Cerpen Karangan: Waismar Aminurrasyid Firja
Blog: Bahasakubahasamu1.blogspot.com

Cerpen Kartini Dari Ujung Negeri merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gelang Emas Untuk Bunda

Oleh:
“Lind, besok kan Bunda ultah, kita kasih kado apa ya?” ucap Dila pada adiknya, Linda. “emm… bagaimana kalau gelang emas kak? Kan dari dulu, bunda ingin sekali membeli sebuah

Ludah Untuk Si Cermin

Oleh:
Matahari pagi seperti menjadikan kulit si Hari kecil memerah. Ternyata bukan karena terik surya, tapi di pagi itu raut wajah kekecewaan dan kekesalan terlihat jelas menemani setiap langkahnya yang

Sepeda Kejutan

Oleh:
Dengan di antar Ruli, sore itu Danang pulang ke rumahnya sambil menangis. Wajahnya penuh ketakutan ketika ibunya dengan heran menanyakan apa yang terjadi. Danang tidak bisa menjawab, bibirnya bergetar,

Liontin Ibu

Oleh:
Lesung pipi yang meciptakan senyum yang begitu Indah ketika melihatku datang. Matanya yang membulat dan berbinar-binar ketika melihatku berlari ke pelukannya. Tangannya yang lembut ketika mengusap kepalaku. Suaranya begitu

Peri Kecil Tanpa Sayap

Oleh:
Aku tak tau sampai saat ini, alasan mengapa ayah meninggalkanku, dan ibu tentunya. Bukan ayah sebenarnya, tapi ibu, tapi bukan ibu pula, tapi takdirlah yang memutuskan. Aku hanyalah anak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *