Kasih Sayang Dalam Gelap

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 26 November 2017

Nisa, begitulah orang-orang memanggilku. Aku lahir sebagai anak ke 2 dari dua bersaudara. Dari sejak aku lahir hingga saat ini semua kebutuhanku selalu terpenuhi, namun satu yang sampai saat ini belum aku dapatkan yaitu kasih sayang dari seorang ayah.

Pada hari ini untuk pertama kalinya, aku tak melihat sarapan yang tertata rapi di meja makan. Tak kudengar suara ibu yang membangunkanku dari mimpi-mimpi yang menemaniku di setiap malam.
Kini hanya hembusan angin yang menemani pagiku yang kelam ini. Pertengkaran hebat tadi malam menyebabkanku tak tahu kini berada di mana dan harus pergi ke mana.

“Tring…!” Suara sendok dan garpu yang sengaja kujatuhkan di atas piring. “Cukup Ayah, sekali saja Ayah tidak membanding-bandingkan aku dengan kak Hana!”. Ucapku begitu lantang dengan emosi yang selama ini kupendam.
Sontak ibu langsung menoleh ke hadapanku dan menaruh tangan halusnya di atas tanganku. “Sayang kamu ini bicara apa nak?”. “Ibu tahu Ayah tidak pernah mengertikan perasaanku”. Ucapku sembari pergi meninggalkan ruang makan. “Yah… Nisa kenapa?”. Ayah tak sedikitpun menjawab pertanyaan ibu.

Melihat hal itu ibu pun pergi meninggalkan ayah dan mengejarku ke lantai atas hingga sampai di kamarku. “Nisa…” Ucap ibu dengan kagetnya, ketika melihatku yang sedang membereskan barang-barangku. “Kamu mau pergi ke mana Nak, ini sudah malam”.
Aku pun berhenti dan duduklah aku di tempat yang selalu menemani malam-malamku. “Bu aku capek, setiap hari aku harus mendengarkan perkataan Ayah yang selalu membangga-banggakan Kak Hana, Bu… Ayah tidak pernah mengertikan perasaanku”. Tegasku kepada Ibu.
“Nisa, Ibu yakin Ayah tidak bermaksud untuk membangga-banggakan kakak kamu. Dan Ibu yakin Ayah sayang sama kamu, walaupun perlakuannya seperti itu”.
“Sayang.. Kalau Ayah sayang kepadaku, apa pernah Ayah khawatirin aku, ketika aku tidak ada di rumah? Apa pernah Ayah ada saat aku sakit? Bu Ayah tidak pernah memberi sedikitpun kasih sayangnya kepadaku selayaknya seorang Ayah kepada anaknya”. Jelasku dengan penuh emosi dan linangan air mata.

Mendengar semua ucapku, ibu pun langsung memelukku dengan penuh kehangatan, sembari mengelus rambutku ibu pun berkata “Bagaimanapun ia memperlakukanmu, ia tetaplah ayahmu, percayalah suatu saat nanti ayah pasti akan berubah dan kasih sayang itu pasti kamu dapatkan”.
“Sudahlah bu biarkan dia pergi!”. Bentak ayah sambil menarik ibu, dan lepaslah pelukan itu. “Tapi ayah…” ucap ibu yang terus ia ulang, agar ayah tidak membiarkan aku pergi.
“Dari dulu aku tidak pernah mengharapkan dia lahir ke dunia ini, yang aku inginkan adalah seorang anak laki-laki yang akan meneruskan perusahaan kita nanti”. Tegas ayah bagaikan sebuah pisau tajam yang menusuk hatiku. Rasanya begitu sakit dan hanya air mata yang bisa mewakili perkataan demi perkataan yang tak sanggup kuucapkan kepada ayah.

Aku pun pergi meninggalkan ayah dan ibu, walaupun langkah ini begitu berat, tapi mungkin ini yang terbaik dan inilah yang ayah inginkan.
Kini aku tak tahu, langkah yang kuambil ini salah atau tidak. Pertengkaran tadi malam itu, sampai saat ini masih ada dalam pikiranku dan masih terbayang dalam ingatanku.

“Nisa!”. Terdengar jelas, dari kejauhan ada seseorang yang memanggilku. Namun tersirat dalam pikiranku, bahwa suara itu hanyalah halusinasiku saja.
Tetapi perlahan suara itu semakin jelas dan tampak dekat denganku dan suara itu pun melepaskanku dari lamunan. Aku pun menoleh ke sekeliling dan dari kejauhan tampak seorang wanita yang mengenakan pakaian begitu rapi dengan tas yang ia tenteng di tangannya dan sepatu hak tinggi yang membuat ia tampak anggun layaknya wanita karier di perkotaan.
“Kak Hana…” ucapku dengan kagetnya saat melihat ia tepat di hadapanku. “Nisa ayo pulang sayang!” Ucap kak Hana sembari menggenggam tanganku.
“Tidak!” Tegasku kepada kak Hana, sembari melepaskan genggamannya itu. “Tapi Nisa… Kamu harus tahu, semenjak kamu pergi dari rumah, kita semua mencari kamu, kita semua khawatir sama kamu Nis, termasuk ayah”. Jelas kak Hana, mendengar hal itu aku pun langsung berkata kepadanya, “apa? Aku tidak salah mendengar, ayah mencariku, ayah mengkhawatirkanku? Kakak ini lucu yah, seperti sedang mendonheng!”.
“Cukup Nisa, sekarang ayah sudah berubah, ayah sadar semua perlakuannya kepada kamu, itu salah. Semua ini terjadi, karena ayah sudah membaca buku catatan harian kamu”. Tegas kak Hana yang terus berusaha agar aku pulang.
“Sudahlah kak, kasih sayang yang selama ini aku harapkan dari ayah, itu semua hanya mimpi dan gak mungkin kenyataan kak!” Tegasku agar terlihat lebih tegar.

“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini”. Ucap seseorang yang berada tepat di belakangku. Aku pun menoleh ke belakang dan ternyata ia adalah sosok laki-laki yang membuatku pergi dari rumah dan kini berada di jalanan.
Saat melihatnya, aku pun teringat dengan perkataannya malam itu yang membuat hatiku terasa begitu sakit.
“Nisa ayah minta maaf nak, atas perlajuan ayah selama ini”. Ucap ayah dengan wajah penuh penyesalan. “Maaf, kata maaf itu memang mudah diucapkan, tapi memaafkan itu sulit!!” Tegasku kepada ayah.
“Ayah tahu salama ini ayah egois, yang selau mengaharapkan seorang anak laki-laki dan akhirnya ayah menyianyiakan kamu. Tapi sebelum ayah selesai dengan perkataannya, aku yang begitu emosi pun langsung memotongnya.
“Tapi apa ayah… Apa?” Ucapku dengan linangan air mata. “Tapi sekarang ayah sadar, kamu adalah titipan dari Allah yang harus ayah jaga dengan baik. Tolong maafkan ayah Nisa, tolong”. Mohon ayah hingga ia berlutut di hadapanku.
“Cukup ayah cukup! Sampai sekarang ayah berlutut di hadapanku atau sampai mencium kakiku, aku tidak akan pernah memaafkan ayah”. Tegasku dengan penuh emosi.
“Ayah tahu kamu pasti sulit memaafkan ayah, tapi ayah mohon kamu pulang yah, ibu sakit di rumah”. “Apa ibu sakit?”. Tanyaku yang perrlahan mulai lemas saat mendengar hal itu. “Iya Nisa ibu sakit, ibu mencari kamu, ibu pengen kamu pulang, ibu kepikiran kamu terus Nisa”. Jelas kak Hana yang membuatku semakin tidak karuan dan hanya ada emosi dalam diriku.

“Ini semua gara-gara ayah, kalau aja dari dulu ayah beri kasih sayang itu kepadaku, aku tidak akan pernah pergi dari rumah dan ibu tidak akan sakit”. Jelasku kepada ayah sembari menunjukkan telunjuk tanganku kepada ayah.
“Cukup Nisa, kamu tidak boleh seperti itu, bagaimana pun juga dia ayah kita, ayah kamu juga, kakak mohon buka hati kamu dan maafkan ayah”. Tegas kak Hana yang terus memohon agar aku memaafkan ayah.
“Apa semudah itu, kak Hana tidak pernah tahu apa yang aku rasakan selama ini, sakit kak sakit”. Tegasku dengan berlinang air mata. “Dan untuk ayah, aku benci ayah, ayah jahat, ayah jahat”. Bentakku sembari pergi meninggalkan ayah dan kak Hana.
“Tapi Nisa, ayah mohon Nisa, Nisa…” ucap ayah hingga ia terjatuh. “Ayah ayo bangun ayah!” ucap kak Hana sembari membantu ayah untuk bangun. “Ayah harus kejar Nisa” Ayah pun terus mengejarku walaupun pada saat itu, kakinya masih terasa sakit.

“Nisa…” Teriakan ayah yang terus kudengar berulang-ulang tanpa henti. “Cukup ayah, ini kan yang ayah mau? Aku akan pergi dari kehidupan ayah!!” Tegasku dengan penuh emosi sembari terus melangkah menjauh dari ayah dan tanpa kusadari ada sebuah mobil berada tepat di hadapanku dan akhirnya menabrakku.
“Awas Nisa…” Teriak ayah yang ku dengar pada saat itu. Semuanya gelap, semuanya hitam, tak ada yang dapat kulihat, saat itu aku merasakan takut, aku pun terus berteriak ketakutan.
Tetapi rasa takut itu hilang bak ditelan bumi, saat ada seseorang yang memelukku dan berkata “kamu jangan takut Nisa, di sini ada ayah”.
Dan pada akhirnya, walaupun dunia yang indah ini tidak dapat kulihat kembali, namun ada yang lebih indah, saat kasih sayang itu kini kudapatkan dari ayah.

Cerpen Karangan: Siti Ajisah Munawaroh
Facebook: Siti Ajisah

Cerpen Kasih Sayang Dalam Gelap merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Masa Kecilku

Oleh:
Hi, namaku Eli kurniawati teman-temanku biasa memanggilku Eli. Sekarang usiaku sudah 17 tahun, apa kalian pernah berfikir bahwa masa kecil adalah masa yang paling indah dan menyenangkan? Mungkin tidak

Kehadiran Yang Mengubah Segalanya

Oleh:
“Emil bangun…” teriak Mama Emil sambil menarik selimut yang menutupi Emil. “Udah jam segini kamu belum bangun! mau berangkat sekolah jam berapa kamu Mil, udah jam 06:00 lewat belum

Good bye, Sarah

Oleh:
Sarah, seorang anak berusia sekitar 9 tahun sedang duduk termenung di lapangan sekolahnya. Ia dihukum oleh gurunya karena tidak mengerjakan pr. Jika ia mengulangi perbuatan itu lagi, maka orangtuanya

Sahabat Atau Penyakit

Oleh:
“Kamu mau apa?” Tanya Gina, “Mau cari makan, laper..” balasku. Aku membuka payungku dan memakai jaketku, namaku Adillamira Nuristyana. “Hujan, di dalam aja.” Kata Gina, “Tapi, aku laper.” Kataku

Sahabatku SG

Oleh:
Mentari telah terbit dari ufuk timur menandakan satu hari baru telah datang, sungguh indah ciptaan Tuhan menghiasi pagi ini, bagi setiap insan pastinya ingin memulai hari baru ini dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *