Kasih Sayang Seorang Ayah


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 19 April 2013

Hai namaku Aisyah, aku hidup bersama ayahku. Ibu ku sudah meninggal saat ibuku melahirkanku. Aku tak sempat untuk melihat wajahnya. Tapi foto-foto ibulah yang membuat ku menjadi semangat. Ayah ku adalah seorang arsitektur di Jakarta. Aku bangga terhadap ayahku. Bila besar nanti aku ingin sekali menjadi dia, bekerja tanpa putus asa.

Hari ini adalah hari pertama ku masuk sekolah menengah pertama. Aku bersekolah di sekolah Berlin Internasional School. Saat hari pertama sekolah memang aku seperti dijauhi, kan baru pertama sekolah. Aku mempunyai seorang sahabat yang namanya Alisa. Dia sangat baik padaku dan dia adalah tetanggaku. Dia mengerti dengan keadaan ku sekarang.

Di kelas, suasana dangat sunyi, tak ada satupun kata yang keluar dari bibir manis kawanku. Pantes saat ini mereka diam, hari ini adalah ujian pelajaran MATEMATIKA. Mereka terlihat bingung, menggaruk-garukkan kepalanya lah, dan sebagainya. Aku tertawa melihat mereka dengan tingkah lucu mereka. Bel pun sudah berbunyi, tanda jam pulang pun tiba. Seperti biasanya ku menuggu jemputan ayahku. Tak lama ayahku pun tiba, ku pun langsung masuk ke dalam mobil ayahku. Di dalam mobil ku bercerita bagaimana keasyikan ku di kelas, ayahku tertawa, terharu, dan sebagainya.

Sesampai kami di rumah, ku pun langsung memyimpan tas di kamar dan langsung ke dapur untuk membuat kopi untuk ayahku. Ku kasihan melihat ayahku yang dari tadinya kecapean. Ayah ku pun meminum secangkir kopi buatanku.
“Rasanya itu manis sekali, seperti senyuman kamu Aisyah.” Kata ayah menggodaku.
“Hah? masa sih yah? makasih ya yah, Aisyah sayang sekali sama ayah.” Jawabku dan langsung memeluk ayah. Air mataku perlahan-lahan jatuh. Ku teringat hal-hal yang tak mungkin, ku mengingat jika ayahku nanti pergi jauh, siapa yang akan menjagaku?” tanya ku dalam hati.
“Sama-sama Aisyah.”

Malam pun tiba, seperti biasanya aku makan malam bersama ayahku. Ku teringat ibuku, andai saja dia ada disini, pasti aku akan makan makanan yang sangat enak dan nikmat. Dan aku tak kesepian karna dialah yang selalu menyayangiku. Tapi ku juga senang, masih mempunyai seorang ayah, dia selalu menjagaku, merawatku, saat ku kesepian dia yang selalu menghiburku dengan kekonyolannya itu. Saat ku mengingat ibu, aku pun menjadi tak selera makan. Air mataku perlahan-lahan jatuh. Makanan itu tak kusentuh lagi.
“Kenapa kamu Aisyah? kok gak dihabiskan makannya?” Tanya ayahku dan datang menghampiriku.
“Aisyah tak kenapa-kenapa kok yah.” Jawabku sambil menghapus air mataku.
“Terus? Mengapa makanan mu itu tak kamu sentuh lagi? dan kenapa kamu menangis Aisyah?” tanya ayah lagi yang sangat penasaran.
“Aisyah tak selera makan saja yah, Aisyah menangis Karena Aisyah teringat Bunda yah.” Jawabku dan memeluk ayah.
“Sudahlah Aisyah, ayo kamu makan entar kamu sakit. Setelah kamu makan, ayah janji akan menceritakan bundamu bagaimana kesehariannya itu.” Gumam Ayah dan tersenyum manis.
“Baiklah yah.”

Setelah makan kami pun berkumpul di ruang keluarga, dan ayah pun langsung menceritakan tentang bunda. Ingin rasanya bunda dan ayah ada selalu di dalam dekapku. Sedih rasanya mendengar cerita ayah. Malam pun sudah larut sekali, aku pun langsung ke kamar ku dan terbawa ke dalam mimpi yang indah.
Pagi pun tiba, hari ini hari minggu seperti biasanya aku dan ayahku sering berbelanja ke mall. Jalan jalan adalah kesukaanku. Kebetulah hari ini hari libur ayahku kerja. Hari ini aku belanja di sebuah mall dekat dengan rumahku. Sudah 2 jam kami berbelanja, kami pun pergi ke sebuah café di sebuah mall itu. Kami pun makan siang bersama. Setelah itu kami pun pulang.

“Ayah, Aisyah ingin sekali pergi ke makam nya Bunda, Aisyah ingin mendoakan untuk bunda, agar bunda disana tenang.” Gumamku bersedih.
“Tapi nak?” jawab ayah menoleh.
“tapi apa yah? Ayah gamau ya antar Aisyah ke makamnya Bunda, Aisyah pengen mendoakan bunda yah.” Tanyaku dengan suara keras.
“Bukan seperti itu nak, bukannya ayah tak mau mengantar mu ke makam bundamu, ayah sedang tak bisa mengantarkanmu ke makam bunda karena pemakamannya di rumah nenek kamu nak, sangat jauh nak kita kesana.” Jawab ayah panjang lebar.
“Gapapa yah, Aisyah akan libur sekolah.”
“Tetap tidak bisa nak.”
“Ayah selalu seperti itu, tak mau mendengarkan apa yang Aisyah mau.”
Ayahpun hanya terdiam, ia tak tahu harus menjawab apa lagi. Akhirnya dia putuskan untuk kemakamannya bundanya Aisyah. Mereka pun menyiapkan barang yang harus dibawa. Sudah 8 jam perjalanan ke kampung halamannya, dan akhirnya mereka pun tiba. Aisyah sangat sibuk, ia ingin sekali ke makam bundanya, malam pun ia jadi meminta untuk ke makam ibunya. Ayahnya terus membatalkannya.

Keesokan harinya, mereka pun pergi ke makam bundanya. Aisyah sagatlah kusyuk mendoakan bundanya. Ayahnya sangat terharu melihat anaknya itu. Iya benar benar mendoakan bundanya. Ia menangis dan memeluk ayahnya.
“Ayah, Aisyah ingin sekali melihat wajahnya bunda, Aisyah ingin memeluknya ayah.” Gumam Aisyah dan memeluk ayahnya lagi.
“Iya nak, tapi bagaimana nak, bunda mu sudah tidak ada lagi di dunia ini, dia sudah di tempat yang sangat tenang nak.” Jawab ayahnya.
“Aisyah ingin menyusulnya yah.”
“Nak, pasti kamu akan menyusulnya nak.”
“Benerankan yah?”
“Iya nak.”
Semua yang ada disitu menangis melihat Aisyah yang sudah 11 tahun ditinggal oleh bundanya tetapi ia masih tetap menyayanginya.

Hari ini adalah hari pembagian rapor UTS semester 1. Aku menuggu kehadiran ayahku, tapi tak datang datang juga ke sekolah. Sudah 1 jam ku menunggu ayahku. Aku merasa khawatir terhadap ayahku. Aku menghubunginya, tapi Handphonenya tidak aktif. Aku mulai cemas, aku takut terjadi apa apa pada ayahku. Ku berdoa kepada tuhan agar ayahku baik-baik saja. Ku mondar mandir di depan kelasku tapi ayahku belum datang juga. akhirnya aku pun mengambil sendiri hasil ujianku ini. Setelah itu aku pun pulang, sesampai ku disekolah, tak sedikit pun ku mendengar suara ayahku.

Mungkin ayah ku sibuk dengar kerjanya. Ku mendengar suara teriakkan di luar rumahku. Ku pun membuka pintu, ternyata dia adalah teman kerja ayahku.
“Ada apa pak? Kok teriak teriak?” Tanya ku dengan lembut.
“Ayahmu nak…?” jawab bapak itu.
“Ayahku kenapa pak?” tanyaku lagi.
“Ayahmu sedang di rumah sakit, ia kritis, dan sekarang dia belum sadar juga nak.”
“Apa? Ayah ku di rumah sakit?”
“Iya nak.”
AYAAAHHH. Teriakku, ku tak sanggup melihat keadaan ayahku sekarang ini. Benar atas dugaanku, ayah ku pasti sedang tidak baik kondisinya. Ku peluk ayahku, ku cium dia. Tapi sekarang dia sudah tidak ada lagi di dunia ini. Dia sudah meninggalkanku dan juga orang orang yang ada di dunia ini. Aku ingin ikut kalian yah, bunda, Aisyah rindu kalian, Aisyah rindu senyumnya ayah, senyumnya bunda, kasih sayang ayah dan bunda. Aisyah ingin ikut kalian yah bunda.
TAMAT

Cerpen Karangan: Alifia Zahra
Facebook: alifia zahra
Hai, namaku Alifia Zahra. biasa teman-teman menyapaku Alifia.hobiku menggambar, menyanyi,dan browsing. cita-citaku ingin menjadi Arsitek. sudah dulu, ya! kalau mau ngobrol denganku lebih lanjut, add facebook ku: Alifia Zahra. atau follow twitterku : @alifiamuchtar. see you :)

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Keluarga Cerpen Sedih

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply