Kata Kata Terakhir Untuk Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 9 November 2016

Adzan maghrib berkumandang dari masjid dekat rumahku, menggelegar mengajak umat muslim menegakkan ibadah untuk mengingat Sang Pencipta. Ayah dan kakakku bersegera mengambil wudhu dan mengikatkan sarung untuk menutup aurat.

Tinggallah aku dan ibu berdua, memasak ayam goreng dan sayur bayam dari tetangga. Kebetulan saja, tetanggaku yang sangat dermawan tersebut kelebihan membeli ayam dan sayur, sehingga kelebihan tersebut dikirimnya ke keluargaku.

Suasana di dapur sunyi, hanya terdengar suara jam dinding kecil dan bunyi ibuku memotong bawang dengan pisau.

Aku, yang mood-nya sudah jelek sejak pulang sekolah, membuka pembicaraan dengan sindiran.

“Wah, Bu, kita sudah lama ya, gak makan ayam,” aku tersenyum sinis sambil memerhatikan masakanku, “memang ya, kita cuma bisa menunggu kiriman dari tetangga. Biasanya, cuma makan nasi sama tahu.”

Ibuku menoleh dengan cepat dan menatapku tajam.

“Apa maksudmu?”

“Ya, maksud aku, tumben aja kita bisa makan enak,” aku menaikkan bahuku, dan memasang wajah tak bersalahku.

“Kamu tidak tahu betapa kerasnya ayahmu bekerja? Kakakmu menuntut ilmu dengan beasiswa dari negara, sebentar lagi akan menjadi sarjana dan mendapat gaji yang bagus?”

Nadanya semakin meninggi, dan kerutan di dahinya semakin banyak tiap saat.

“Dan apa yang hanya kamu bisa lakukan? Mengeluh? Dasar, anak tidak tahu sopan santun! Kamu semestinya bersyukur masih bisa bersekolah dan tinggal di bawah atap! Kamu semestinya bersyukur masih ada nasi untuk dimakan!”

Aku balas menatap tajam kedua bola mata ibuku, yang terlihat menyala-nyala dengan kemarahan karena perkataanku yang kurang ajar. Aku, tanpa rasa takut, mengatakan segala hal yang ada di dasar hatiku.

“Lalu, apa yang ibu lakukan? Ibu hanya bisa memarahiku atau memasak, itu-itu saja! Ibu tahu, ibu-ibu teman-temanku semuanya adalah wanita karier yang sukses, menjemput anaknya dengan mobil setiap hari, dan berpakaian mewah. Ibu? Kerjaannya hanya memakai daster, make up apapun aja gak punya! Kadang aku tuh malu, Bu, kalau ditanya teman-temanku tentang ibu. Tidak ada yang bisa kubanggakan!”

Mata ibuku membelalak kaget, mulutnya membulat terkejut. Tangan kanannya menutup bibirnya dan bergumam istigfar beberapa kali, sebelum akhirnya meletakkan pisau yang masih digenggam tangan kirinya dan bergegas mematikan kompor.

Sebelum ibu bergegas, ibu sempat mengutarakan beberapa kata,
“Durhaka kamu.”

Ibu pun mengambil tasnya, yang berupa cinderamata dari Eropa –sebuah benua yang tak akan pernah mungkin dijejakkan oleh kami sekeluarga dengan kondisi ekonomi seperti sekarang– yang dibelikan oleh sang tetangga yang dermawan, dan pergi ke luar rumah.

Betapa kagetnya ayah dan kakakku mendapati aku sendirian di rumah, tanpa ibu dan tas jinjing kesayangannya. Aku berusaha menjelaskan apa yang terjadi, meninggalkan beberapa detil penting seperti betapa kejamnya perkataanku kepada ibu.

Ayahku berkunjung ke rumah-rumah tetangga dan tempat-tempat yang mungkin disambangi ibu, dan kakakku menelepon sejumlah sahabat karib ibu dan anggota-anggota keluarga ibu. Aku hanya menggigit jariku, merasakan penyesalan yang begitu mendalam, dan berkeringat dingin.

Ayahku pulang di saat yang bersamaan kakak meletakkan ponselnya di meja.

Hasilnya nihil.

Ibuku tidak ditemukan di mana-mana, dan tidak ada orang yang tahu di mana ibu berada.

Kami belum bisa melaporkan hal ini ke kantor polisi, karena 24 jam belum berlalu. Tetapi sungguh, kami sangatlah panik karena ibuku bukan tipe orang yang ngambek lalu kabur dari rumah, meskipun situasi yang dialaminya sangatlah berat.

Aku memang anak durhaka, anak kurang ajar, anak tak bermoral, dan akulah yang tak bisa kubanggakan. Aku hanyalah lima besar di kelasku, tidak bisa berpidato atau berdebat, cantik pun tidak terlalu, tinggi semampai pun tidak. Aku hanyalah anak yang memiliki ego tinggi, hanya bisa mengeluh pada orang yang telah bekerja keras agar aku bisa hidup dengan cukup.

Aku, kakakku, dan ayahku berlarian keliling rumah sambil meneriakkan nama ibuku, berharap tiba-tiba ada ibuku muncul dari ujung jalan, tersenyum.

Namun, itu semua hanya asa belaka, yang tak terjadi.

Ya Allah, Ya Tuhan, mana mungkin kata terakhirku untuk ibu, adalah kata-kata hina nan menyayat hati ibu seperti itu?

Jam tangan pemberian ibuku beberapa tahun lalu yang terlingkar dengan manis di pergelangan tangan kananku menunjukkan sekarang pukul tiga lewat lima belas pagi, dan masih tidak ada tanda-tanda ibu datang dan pulang ke rumah.

Aku memutuskan untuk mengambil air wudhu, berniat untuk shalat malam. Aku pernah mendengar, bahwa Allah akan mengabulkan permintaan hamba-Nya yang mencarinya di sepertiga malam terakhir.

Aku berdoa dengan khusyuk, memohon ampunanku kepada Yang Maha Kuasa karena telah mengucapkan sesuatu yang begitu kejam kepada ibuku sendiri.

Aku tahu betapa sakitnya perasaan ibu saat aku mengucapkan kata-kata pedas itu, tapi aku masih saja melanjutkannya.

Aku menangis sejadi-jadinya, mengharapkan apa yang kuucapkan dapat ditarik kembali, mengandai-andai apabila waktu dapat kuputar kembali.

Aku hanya ingin berada di pelukan ibu saat ini, tetapi ibuku entah di mana keberadaannya.

Aku ke luar gerbang sekolah dengan langkah gontai, menatap teman-temanku yang dijemput ibunya memakai mobil mewah dan bersolek sedemikian rupa. Aku sesungguhnya tak pernah sebegitu irinya terhadap mereka, karena aku tahu, ibuku memang ibu yang terbaik untukku.

Aku memang salah, termakan rayuan setan untuk menyakiti perasaan ibuku.

Bayangkan betapa terkejutnya aku, ketika aku melihat ibuku dengan pakaian bagus dan dengan bedak dan lipstik seadanya tersenyum tipis ke arahku.

Aku berlari sekencang mungkin, lebih kencang dibandingkan saat aku ujian sprint untuk pelajaran penjaskes, dan memeluk ibuku seerat mungkin. Tanpa membuang sedetik pun, aku menangis seraya meminta maaf berulang kali.

“Ibu, aku benar-benar tidak bermaksud mengatakan itu semua, aku salah, Bu. Akulah yang paling tidak berguna, hanya bisa mengeluh, padahal ibu, ayah dan kakak sedang berusaha sekeras mungkin agar kita semua bisa hidup melewati hari. Maafkan aku, Bu,” aku terisak di tengah-tengah perkataanku, “Jangan pernah menghilang lagi.”

Ibuku hanya membalas itu semua dengan isakannya pula, dan membalas pelukanku dengan erat.

Aku tidak tahu ke mana saja ibu pergi, dari mana asalnya make up yang ibu pakai di wajahnya yang menenangkan, siapa yang memberikan ibu pakaian bagus yang ibu sedang kenakan sekarang, tetapi yang aku tahu pasti, aku bahagia.

Aku sedang berada di rengkuhan erat ibuku, dan kata-kata yang kusebutkan malam itu bukanlah kata-kata terakhir yang kuucapkan untuk ibu.

Cerpen Karangan: Gabrielle A.
Blog: jinshimiya.blogspot.com

Cerpen Kata Kata Terakhir Untuk Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sisi Buruk Ketagihan Selfie

Oleh:
Matahari telah terbenam dan aku masih ada di sini, aku harus segera pulang. “Huft, tugas kelompok ini membuatku susah saja,” gerutuku sambil berjalan pulang. Ku ambil sebuah benda berbentuk

Dari Daun Pintu Kamarmu

Oleh:
Tak seharusnya kau begitu, terus-menerus bahkan tak pernah lelah memanjakanku. Setiap pagi kau tak pernah alpha mengantarkan teh hangat untukku, anakmu yang sudah tak berdaya ini. Kau juga terbiasa

Jelantik

Oleh:
Bapak masih terduduk di atas dipan, wajahnya mendongak ke atas. Mencoba bertanya kepada para penghuni langit, sekedar mencari tahu dimana Jelantik berada. Sudah seharian bapak menjadi patung bernyawa disitu

Perjalanan Hidup Ami

Oleh:
Hi, namaku Ami. Aku seorang PRT, janda beranak satu. Ziandra nama anakku. Pendidikanku yang rendah membuatku harus pasrah membesarkan anakku sendirian sambil mengais rezeki demi membesarkan si kecil. Asalkan

Dina dan Aku

Oleh:
Aku ingat saat usiaku 4 tahun. Saat itu Ibu mengajari aku dan Dina berhitung. Aku belajar menghitung jariku. Delapan, sembilan, sepuluh. Jumlah jariku ada sepuluh. Tapi saat itu Dina

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *