Kata Kunci Untuk Ayah (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Keluarga, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 23 August 2017

Aku menghampiri suatu tempat yang sudah tidak asing lagi bagiku. Aku duduk di suatu bangku kayu walaupun sebetulnya aku tidak disebut duduk. Mencoba meresapi angin sepoi-sepoi dan daun-daun yang berguguran yang menerpa kulitku, tetapi tetap aku tidak bisa merasakannya. Banyak anak kecil bermain kesana kemari. Aku tatap lamat-lamat tingkah laku para anak kecil itu, ada yang bermain ayunan, perosotan, atau sekedar lari kejar-kejaran sambil tertawa. Pemandangan itu membuatku bernostalgia akan ceritanya, mengingat seorang pahlawan yang tidak akan pernah aku lupakan.

“Ayah, sudah lama sekali ya?” Ucapku lirih di bangku taman itu sembari mengamati anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran ditemani orangtuanya.

Di sisi lain aku juga merasa menyesal. Ya, aku ini arwah gentayangan. Entah kenapa aku tidak pergi ke akhirat.

Kejadianya beberapa hari yang lalu, aku pulang merantau dari kota besar. Aku bangun dan merasa kepalaku sakit, mencoba mengingat-ingat sesuatu. Aku terkesiap ketika melihat ke ke bawah, melihat tubuhku sendiri tergeletak penuh darah di bagian kepalaku. Aku panik, mencoba meraih badanku, tetapi aku tidak bisa meraihnya. Tanganku menembus badanku sendiri. Sebetulnya apa yang terjadi?

Aku meminta bantuan kepada orang yang setengah sadar waktu itu.
“Badanku, badanku! Bu, tolong!”
Sekeras apapun aku berteriak, ibu itu tidak mendengarkanku. Aku melihat kembali diriku, telapak tanganku terlihat sedikit transparan, bahkan seluruh tubuhku. Ketika aku tatap lagi kakiku, ternyata aku tidak menapak, aku sedang melayang. Aku mencoba menyentuh bangku penumpang, dan tanganku menembusnya. Aku ini apa? Sesosok arwah? Apakah aku sedang bermimpi?

Aku kembali mengingat sebetulnya apa yang telah terjadi terhadapku. Setelah beberapa saat, aku mengingatnya! Ya, ini bukan mimpi. Sebuah kecelakaan telah terjadi padaku, bus yang aku tumpangi ini jatuh ke jurang, dan aku berarti, telah mati?

Apakah aku benar-benar mati? Kenapa aku harus mati disaat seperti ini? Bukannya aku takut akan kematian, tapi ini karena aku masih belum melakukan apa-apa. Apakah memang kehidupanku berakhir seperti ini? Pada akhirnya aku tetap tidak bisa membalas jasa-jasanya.

Terbesit di pikiranku, jika aku ini arwah, maka seharusnya aku bisa kembali ke jasadku ini, kan? Tanpa berpikir panjang aku mencoba mengklarifikasi pikiranku. Aku mulai memposisikan diriku persis seperti jasadku dan merasukinya, ketika aku sudah masuk, yang aku lihat hanya hitam gelap. Aku seperti memasuki suatu ruangan. Aku mencoba melangkah, meraba-raba apa yang ada di sekitarku, tetapi seperti tidak ada apa-apa. Di sini terlalu gelap. Ketika aku berniat untuk keluar dari jasadku, tiba-tiba aku terpental keluar —keluar dari jasadku.

Aku melihat jasadku kembali, dan ternyata jasadku tidak berkutik sama sekali.

Beberapa jam kemudian bala bantuan datang, hiruk pikuk mulai terdengar dari arah luar bus ini. Usahaku untuk mencegah jasadku diamankan percuma, tidak ada yang bisa mendengarku. Aku tidak terima melihat jasadku dibawa pergi. Aku paksakan diriku merasuki salah satu relawan itu, berharap aku bisa melakukan sesuatu. Mungkin mengendalikannya? Walaupun aku yakin hal ini sepertinya akan sia-sia seperti yang aku lakukan terhadap jasadku sendiri.

Setelah aku merasuki tubuh relawan itu, aku tidak percaya apa yang aku lihat. Aku seperti berada di tempat lain, mungkin dunia yang lain. Di ‘dunia’ yang lain ini, aku melihat dia sedang berbicara pada jasadku yang berbaring.

“Kasian sekali gadis ini, padahal masih muda, tetapi sudah meninggal.” Ucap relawan itu.

Meninggal? Jangan katakan hal itu Pak!

“Aku tidak percaya.” Aku melayang ke depannya dan berbicara kepadanya, “Tidak Pak, tidak, aku tidak meninggal kan?”
“Mungkin banyak hal yang kamu ingin lakukan Dek,” kembali relawan itu berbicara.
“Pak ini aku, berada di depanmu, masih hidup!” aku menunjuk mukaku di depan wajahnya.
“Semoga kamu bisa tenang di surga.”

Tatapan relawan itu lurus ke arahku, tetapi tidak melihat kedua bola mataku. Ketika aku melihat ke belakang, yang dilihatnya adalah tubuhku yang berbaring. Sejak awal relawan itu tidak menanggapiku, dia tidak melihatku dan mendengarku.

Aku berniat untuk keluar dari ‘dunia’ ini, dan aku pun langsung terpental keluar dari badan relawan itu. Aku melihat dia sedang memikul jasadku dengan tandu bersama relawan lainnya, menatap lamat-lamat jasadku, tanpa berkata apa-apa.

“Jadi yang tadi itu dunia pikiran relawan itu ya,” simpulku atas kejadian yang aku alami di tubuhnya. Aku kembali melihat kedua telapak tanganku, “Jadi benar ya aku telah meninggal, lalu sekarang aku harus bagaimana?”

Aku bingung ingin melakukan apa, harus ke mana? Tetapi yang jelas aku ingin bertemu Ayah. Memang itu tujuan awalku melakukan perjalanan untuk pulang ke rumahku dari sekian lama aku berada di kota besar itu. Walaupun beliau pasti tidak bisa melihatku, itu sudah cukup aku bisa melihat keadaannya dengan mata kepalaku sendiri. Sehingga aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju rumahku.

Perjalanan aku tempuh selama lima hari. Aku tidak merasa kecapean, ngantuk, atau kelaparan. Sesampainya di kotaku, entah apa yang terbesit di kepalaku, aku ingin menghampiri taman itu dulu. Sekarang aku duduk di bangku kayu ini, bernostalgia.

“Say, bisa pasang pampers dulu buat Lily? Sepertinya akan hujan, aku ingin mengangkat jemuran.”
Suami yang sedang mengerjakan tugas pekerjaanya menyahut, “Iya, baik”

Dikala itu aku diceritakan oleh Ayahku masih berumur bulanan. Ayahku langsung beranjak dari tempatnya menghampiriku, beliau baru pertama kali memasang pampers untukku menggunakan kain. Dengan ke-soktahuannya, dililitnya kain itu ke bagian bawahku. Ibuku yang sudah mengangkat jemuran dan membereskannya kembali menghampiri Ayah yang sedang memasang pampers.

“Hahaha, Raka.” Ibuku tertawa terpingkal-pingkal, “Aduh sayangku, itu mah bukan pampers, tapi ikat pinggang.”
“Hee, bukan begini ya Lis?” Ayahku menoleh kebelakang.
“Ya bukan.” Ibuku langsung mengambil alih, membetulkannya, melihat wajah Ayahku kembali dan tersenyum. “Yang benar seperti ini.”
Ayahku menghidari kontak mata dengan ibuku, menggaruk-garuk kepalanya sambil sedikit manyun. “Ya maaf, Aku baru pertama kali memasang pampers dengan kain, Elisha.”
“Hehe, tapi terimakasih ya,” balas Ibuku.
Ya begitulah katanya, dulu Ayah memang payah dalam hal mengasuh. Kepayahan ini tidak terjadi di satu hal saja.

“Huhuhu.”
Aku menangis karena tersandung. Di saat itu aku katanya berumur satu tahunan sedang berpegangan di tembok ingin berjalan. Ayah yang waktu itu sedang membaca koran kaget akibat tangisanku.
“Raka, tolong liatin tahu goreng yang dimasakan.” Ibuku langsung sigap menghampiriku untuk menenangkanku.
Sedangkan Ayahku langsung pergi ke dapur untuk menjaga tahu goreng yang sedang dimasaknya itu. Setelah beberapa menit menenangkanku, Ibuku kembali ke dapur melihat Ayah sedang mengotak-ngatik tahu di wajan dengan spatulanya.

“Raka, kok tahunya gosong?” Ibu terkejut melihat tahu yang dimasak oleh Ayahku.
“Eh? Gosong? Ini masih warna coklat kok Lis, belum hitam.” Ucap Ayahku sedikit panik takut ada kesalahan yang telah diperbuatnya.
“Iya coklat tua, mau sekering apa kamu memasaknya?” Ibuku menggeleng-geleng sambil menahan tawa. “Ya udah berarti tahu ini jatah kamu nanti malam.”
“Heee?” Ayahku lemas mendengarnya.

Keesokan harinya kejadian yang sama terulang lagi —aku menangis.
“Elisha, biar aku yang tangani Lily. Kamu lanjut saja memasak.” Ayah sudah belajar dari kejadian kemarin.
“Baik.”
Tetapi beberapa saat kemudian.
“Huaa uhu uhu uhuuu.”
Tangisanku malah semakin keras. Mendengar hal itu, Ibuku reflek langsung meninggalkan masakannya.
“Ini ada apa?” Ibuku sedikit khawatir menghampiri kami.
Sekarang di depan mata ibu terlihat Ayah sedang menari-nari di depanku sambil berkata, “Ayo, jangan menangis Lily, jangan menangis.”
Ayahku menoleh, ternyata ada Ibu yang sedang melipat kedua tangannya di depan, memperhatikan dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Pandangan itu jelas membuat Ayah merasa terintimidasi —menghentikan tariannya.

“Ya ampun, sebetulnya apa yang terjadi sih?” Ibu menghampiriku, duduk, lalu menggedongku.
Ayahku ikut duduk, menjelaskan, “Aneh ya, padahal menurutku ini lucu loh, tapi Lily sepertinya tidak suka.”
Ayahku berbalik memunggungi Ibu sebentar menyiapkan sesuatu pada mukanya. Setelah selesai, Ayah berbalik badan lagi.
“Bah.” Terlihat kedua kelopak mata Ayah dilipat ke arah luar sambil menjulurkan lidahnya.
“Kyaaa!” Tangan Ibu sukses mendarat di pipi Ayah dan membuat Ayah terjatuh. “Itu menyeramkan tahu. Lucu di bagian mananya?”
Ibuku menenangkanku kembali dengan menepuk-nepuk kecil punggungku.

“Aduh, duh.” Ayah bangun sambil mengusap-usap pipi bekas tamparan Ibuku. “Jadi, memang tidak lucu ya.”
Pandangan Ayah sekarang tertuju pada Ibu yang sedang menggendongku, menepuk-nepuk punggungku, menggoyang-goyangkan tubuhku naik-turun. Ayah mendengar Ibu berbisik di telingaku “Tidak apa-apa, tidak apa-apa” Berulang kali. Mata ibu terlihat teduh ketika menenangkanku.

Pemandangan itu katanya membuat Ayah merasa takzim. Tidak hanya itu saja, di saat Ibu mengeloniku, di saat Ibu memandikanku, setiap kali Ibu mengasuhku. Ayah selalu melihatnya dengan takzim. Katanya, Ayah merasa menjadi orang yang paling beruntung sedunia.

Ibu tiba-tiba teringat sesuatu yang sangat penting, “Ehh, masakan!”
Ibu cepat-cepat menaruhku yang sudah tidur pulas di ranjang. Ayah dan Ibu berlari ke dapur memeriksa wajan. Tapi terlambat, sekarang di depan mata mereka terlihat masakan yang sudah berwarna coklat tua, dimatikannya kompor itu. Ayah melirik Ibuku, Ibuku tersenyum lebar ke arah Ayah, dan tanpa dosa mengatakan sambil menunjuk masakan yang gosong itu,
“Masakan ini jatah kamu nanti malam ya, sayang.”
“Heeeee?”
Ayahku, dua hari berturut-turut makan malam dengan masakan yang gosong.

Ketika umurku tiga tahun, itu merupakan tahun tersedih bagi keluargaku. Ibuku meninggal. Ibu meninggal karena sakit. Kata Ayahku, aku menangis jika aku merasa kehilangan ibu, dan memang aku samar-samar mengingatnya. Tetapi tidak sedetail yang diceritakan oleh Ayah.

“Ibu, Ibu di mana?”
“Ibu sedang pergi ke tempat jauh, Nak.” Ayah mengelus-elus kepalaku.
“Ibu mana?” Air mataku mulai keluar.
“Iya nanti kita ketemu Ibu, tapi nanti masih lama, ya.” Ayah tersenyum menatapku. “Kamu tahu, Lily? Ibu sedang menunggu kita.”
Aku tidak mengerti apa yang dikatakan Ayah waktu itu, pokoknya Ibu harus ada di sini.
“Ibuu, mau ibuuu..” Aku pun mulai menangis, berguling-guling, tersengal-sengal meminta agar Ibu datang ke sini. “Mau Ibuuu uhu uhu huuu…”

Ayah yang melihatku mencoba menenangkanku, dari Ayah mencoba memelukku sampai Ayah mencoba melakukan hal-hal yang menurutnya lucu, seperti pura-pura jadi bebek atau menari, tetapi usahanya terlihat sia-sia, aku juga meronta-ronta ketika dipeluk olehnya. Kata Ayahku, aku malah terlihat sebal melihat Ayah yang sok-sokan menghiburku. Sehingga beliau akhirnya hanya memastikan agar aku tidak memegang bulpen, pensil, garpu atau benda yang dapat membahayakan aku sendiri.

Aku menangis sampai energiku habis dan tertidur. Di saat aku membukakan mata, aku berada di tempat yang baru, banyak sekali benda-benda yang belum aku lihat sebelumnya. Ya, aku dibawa oleh Ayahku ke sebuah taman.

“Ayah, apa itu?” Di saat itu aku antusias melihat perosotan.
“Itu perosotan.”
“Pelsotan?”
“Haha, bukan.” Ayahku tertawa. “Ikuti Ayah ya, pe.”
Aku mengikuti ejaannya, “Pe.”
“Ro.”
“Lo.”
“Sotan.”
“Sotan.”
“Nah, perosotan.”
“Pelsotan.”
“Haha,” Ayahku tertawa, menurutnya itu lucu, lalu mengajakku, “Lily, Mau naik pelsotan?”
“Mau, mau.”

Aku pun diturunkan oleh Ayahku dari punggungnya. Aku langsung berlari mendekati ‘pelsotan’ itu, disusul oleh Ayahku. Aku dibantu oleh Ayahku menaikinya. Bahkan beliau juga ikut menaikinya. Beliau menyuruhku untuk duduk di pahanya. Disaat kami hendak meluncur, Ayah memberi aba-aba,

“Satu… dua… tiga!”
“Yaaaay.” Kami pun meluncur.
“Ahahahaha.” Setelah mendarat kami tertawa.
“Lily mau lagi?”
“Mau mau mau.” Saat itu katanya aku sangat bersemangat.

Di taman itu kami melakukan banyak hal, menaiki ayunan, bermain jungkat-jungkit, melihat kupu-kupu yang hinggap di bunga, mencium aroma setiap bunga. Ayah sesekali beristirahat mengawasi segala tingkahku di bangku kayu taman itu. Kata Ayah, hari itu pertama kalinya beliau berhasil menenangkanku —bermain di taman itu.

Setelahnya, dikala aku sedih karena berbagai hal, seperti tidak dibelikan barang yang aku mau atau menangisi hal-hal yang tidak penting. Ayah selalu mengajakku ke taman itu. Di masa itu aku dan Ayahku sering sekali bermain ke sana dan kadang aku sampai lupa waktu. Dikatakan oleh Ayahku bahwa taman itu merupakan tempat kesukaanku.

Bahkan aku sendiri sekarang tidak bisa mengingatnya dengan baik —kejadian sewaktu aku berumur tiga tahun kebawah itu. Aku hanya tau apa yang telah diceritakan oleh Ayahku.

Dari aku SD, Ayah selalu memasak untuk kita. Sampai sekarang masakan Ayah selalu enak. Dulu aku selalu menunggu masakan dari Ayah walaupun sedikit tidak sabar.

“Ayah.”
“H-hm, tunggu sebentar lagi ya, Lily.”
“Ayah.” Aku menarik-narik celana Ayahku.
“Lima menit.”
“Aku sudah lapaaar.” Aku tiduran di lantai sembari melihat jam dinding, lima menit bagaikan satu jam bagiku.
“Nah, sudah jadi.” Ayah beranjak dari dapur ke meja makan untuk menghidangkan masakannya.
Aku pun langsung bangkit mengikuti Ayahku. “Hore.”
“Terima kasih sudah menunggu, Lily.” Ayah menoleh ke belakang ke arahku.
“H-hm.” Aku pun mengangguk.

Sewaktu aku SD, aku selalu diantar-jemput oleh Ayah ke sekolah dengan sepeda ontelnya. Sebelum kami berangkat, Ayah menutup warung depan rumah terlebih dahulu. Perjalanan menuju sekolahku lumayan jauh. Di perjalanan, aku melihat dari belakang Ayah dipenuhi oleh keringat. Sekali dua kali beliau mengusap mukanya dengan handuk kecil yang berada di pundaknya. Ketika jalan menanjak, Ayah sampai berdiri menggoeskan pedal sepedanya. Setelah sampai di sekolah, aku berpamitan dengan Ayahku. Begitu pula ketika aku pulang sekolah, Ayah sudah menungguku di gerbang sekolah sambil melambai-lambai ke arahku.

Aku merasa dulu Ayah sangat baik dalam hal mengasuh. Masakan beliau pun sangat enak, jauh dari kata gosong. Berbeda sekali dengan cerita beliau sewaktu mengasuhku yang masih bayi. Mungkin Ayah sedikit berbohong kepadaku agar aku terhibur.

BERSAMBUNG

Cerpen Karangan: Pradipta Alamsah Reksaputra
Blog: pradiptaar.wordpress.com

Cerpen Kata Kunci Untuk Ayah (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Secret of Adriana (Part 1)

Oleh:
Sesekali wanita itu menimang boneka beruang yang ada di tangannya, dengan senyum manisnya yang menyiratkan kasih sayang, sesekali ia menatap langit biru lalu kembali tersenyum dan kembali menunduk seolah

Aku Dan Kopi Sisa Ayahku

Oleh:
Sore ini, secangkir kopi itu mengingatkan ku pada ayahku. Kulihat dicangkir itu tersisa kopi yang kira kira setengah cangkir ukuran mungil. Cangkir mungil itulah yang biasanya digunakan ibu untuk

Ratapan Anak di Luar Nikah

Oleh:
Sehabis pulang kerja Marni tampak sangat berang karena lantai kamar mandi rumah kontrakannya sangat becek malah kamar mandi itu banjir air baknya luber sampai setengah lantai kamar mandi itu

Ayahku Punya Pacar

Oleh:
Pagi yang cerah, seperti biasa aku ikut ayahku ke kantor bersama ibuku. Aku yang tidak kuliah tahun lalu akhirnya mengikuti kemana ayahku pergi, mengurus kantor, mengurus urusan yang penting

Bekal Cinta Mama

Oleh:
“Ivani, bekal kamu mama taruh di tas kamu ya?” ucap mama lembut “hah, apa?!. Bekal?!. mah, Ivani itu sudah besar! nggak butuh bekal mama!. lagipula kalau Vani lapar, Vani

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *