Kata Kunci Untuk Ayah (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 23 August 2017

Aku diceritakan oleh Ayah tentang Ibuku dan masa bayiku ketika aku SMP, Ayah sering menceritakannya ketika kami makan malam. Aku juga mulai diajarkan oleh Ayah memasak. Berbagai jenis masakan aku pelajari darinya. Aku diajarkan juga cara menjahit, setiap ada pakaian yang robek atau kancing yang lepas, kita jahit. Aku mulai disuruh menyapu, mengepel, mencuci pakaian sendiri. Berbagai pekerjaan rumah tangga aku pelajari dari beliau.

Sampai aku pernah salah menjawab ketika ditanya oleh guru BK tentang pekerjaan orangtuaku. Dikala itu, aku masih tidak terlalu memperhatikan pekerjaan Ayahku, sehingga aku menjawab, Bapak rumah tangga.

Mendengar hal itu Ayah tertawa terbahak-bahak ketika kita makan malam.
“Ahahaha,” Ayah menepuk-nepuk meja makan. “Masa kamu jawab begitu, Lily?”
“Habis memang terlihat seperti itu, ahmph…” Aku juga sedikit menahan ketawa mengingat betapa konyolnya jawabanku ketika di sekolah.
“Haha, ya ampun.” Ayah menggeleng-gelengkan kepalanya. “Gini-gini Ayah juga bekerja loh, berdagang.”
“Iya sih, besok aku perbaiki jawabanku, Yah.” Akupun menyantap santapan terakhir —nasi yang ada di piringku.

Iya, benar yang dikatakan oleh Ayah. Semenjak Ayah menutup warungnya, Ayah mencoba berdagang, terkadang memang ada teman-teman Ayah yang mampir ke rumah membahas segala hal tentang perdagangan yang tidak aku mengerti. Tapi entah, aku kepikirannya Ayah lebih cocok jadi Bapak rumah tangga.

Aku pun tersenyum-senyum sendiri membayangkan jika Ayah memakai rok dan celemek sambil memegang centong mengedipkan sebelah matanya.
“Lily, kenapa senyum-senyum?”
“Hehehe, tidak.” Aku beranjak membawa piringku menuju wastafel untuk aku cuci.

Di saat aku melewati Ayahku, tiba-tiba beliau menggoda menyikut-nyikutku.
“Lagi kasmaran, ya?”
“Ih enggak, Yah. Enggak ada pikiran laki-laki sama sekali.” Aku pun berlalu.

Ucapan Ayahku terjadi. Awal SMA aku menyukai seseorang, teman sekelasku. Topik pembahasan pada makan malam selalu didominasi oleh laki-laki idamanku. Sebenarnya sejak awal aku tidak mau bercerita tentangnya, tetapi Ayah selalu bisa membuka mulutku.
“Gimana kabar Jono?” Ayah membuka pembicaraan.
“Ih, bukan Jono, tapi Jonny! Sudah dibilang beberapa kali juga, Yah.” Aku pun diam melanjutkan makan.

Jujur, sebetulnya ada kejadian tadi siang di sekolah yang membuat hatiku berbunga-bunga. Tetapi aku lebih memilih menyimpan kenangan ini sendiri —tidak menceritakannya.

“Dia benar-benar baik ya,” Ucap Ayah tiba-tiba tersenyum ke arahku, seolah-olah beliau tau apa yang terjadi.
Aku pun tidak bisa membohongi diriku, aku mengatakannya sambil tertunduk,
“I-iya, tadi siang dia meminjamkan bulpennya kepadaku.” Aku memegang kedua pipiku yang merah dan menggeleng-gelengkan kepala. “Dia terlihat sangat keren.”
Akhirnya aku menceritakan semua kronologinya, detail, tidak ada yang terlewat sedikitpun. Ayah yang mendengarkanku menghelakan nafas dan tersenyum, menikmati semua ceritaku. Setelah sekian lama aku baru menyadari bahwa aku hanya terkena efek barnum dari ucapan Ayah itu.

Setelah beberapa bulan, Aku sudah tiga hari berturut-turut telat makan malam, padahal aku sendiri yang memasak, tapi aku langsung pergi untuk mengeram di dalam kamar setelah menghidangkan makan malam. Aku sedang patah hati. Jonny, laki-laki yang aku sukai ternyata menyukai orang lain. Selama ini dia hanya bersikap baik terhadapku tanpa ada rasa apa-apa. Cintaku hanya bertepuk sebelah tangan.
Ayahku yang menyadari tiga hari berturut-turut aku telat makan malam membuka pintu kamarku. Aku tahu, tapi aku memilih tetap tengkurap di kasur dan mengabaikannya.

“Ehem.”
Aku sedikit melirik ke arah sumber suara. Aku terkesiap melihat Ayahku memakai jas hitam dengan pita di lehernya, membawa buket bunga mawar berdiri menatapku.
Aku langsung bangun dan duduk.
“Ada apa ini, Yah?” aku sedikit menjauh menjaga jarak dari keanehan Ayahku.
Ayah berlutut, memberi buket itu seraya mengatakan, “Lily, Aku mencintaimu. Aku persembahkan bunga mawar ini hanya untukmu.”
Aku ambil mawar itu dari genggamannya, lalu aku mengajaknya berdiri dan mendorongnya sampai depan pintu kamarku.
“Jangan mengganggu.” Aku mengeluarkan Ayahku dari kamar.
Ayahku hanya menggaruk-garuk kepalanya dengan wajah bingung. Aku menutup pintu kamarku. Sebetulnya aku senang atas tindakan Ayah tadi, hanya saja aku ingin sendiri dulu.
“Hmm, Wanginya.” Aku mencium buket pemberian Ayah itu, lalu kembali ke tempat tidur.

Setelah sekitar satu jam, Ayah datang lagi. Aku berpaling. Beliau duduk dis ebelahku yang sedang tiduran. Beliau mengatakan satu kalimat kepadaku,
“Rasanya tidak enak ya.”
Kalimat itu sangat mengenaiku. Aku tidak peduli aku terjerat efek barnumnya. Memang sekarang perasaanku tidak enak —hatiku sakit.

“Ayah,” Aku memanggil dengan suara lirih.
“Hm?”
“Apakah ketika Ayah ditinggal Ibu rasanya seperti ini?”
Ayah tidak langsung menjawab, beliau mengelus-elus kepalaku terlebih dahulu.
“Iya.”
Mendengar jawaban itu, aku mengubah sedikit posisiku. Rasanya aku ingin menangis.

“Lily, tidak salah jika kita bersedih.” Ayah menepuk-nepuk kecil punggungku, lalu berkata, “Tidak apa-apa, tidak apa-apa.”
Aku menutup wajahku ke bantal. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Aku menangis, menangis sangat kencang waktu itu.

Akhir SMA, aku mendapatkan beasiswa untuk kuliah di luar kota. Itu cukup jauh. Aku telah membulatkan tekad, ketika aku telah sukses nanti, Aku akan pulang dan membalas jasa-jasa yang telah diberikan oleh Ayahku. Aku berpamitan dengan Ayahku di terminal bus.

“Ketika Aku sukses, aku akan pulang, Yah.” Aku menyalim tangan Ayahku.
“Haha, tidak usah berlebihan, Lily.”
“Aku berangkat.” Aku menaiki bus.
“Hati-hati di jalan.” Ayah melambai-lambai ke arahku.

Aku dan Ayahku masih saling surat menyurat ketika aku di kota besar itu. Aku menjalankan studi selama empat tahun. Ketika aku diwisuda, berbagai pekerjaan sudah menantiku di kota besar itu.

Dua tahun berlalu, aku sudah merasa diriku sukses. Saatnya aku pulang, bertemu dengan Ayahku, membalas segala jasanya. Akan tetapi, kecelakaan itu terjadi.

Sekarang, di taman ini aku melihat ke langit, mengeluarkan air mata. Aku belum membalas apa-apa untuk Ayahku, dan pada akhirnya aku tidak bisa membalas jasanya.

Tiba-tiba Ayahku datang, duduk di sebelahku. Menatap lurus ke arah anak-anak yang sedang bermain di taman itu. Aku yang melihat Ayahku terkesiap.

“Ayah?!”

Aku reflek langsung memeluk Ayahku, tetapi tidak bisa —aku menembus badan Ayah. Ayahku tetap bergeming di tempat duduknya. Aku melihat Ayahku mengeluarkan air matanya, kedua tangannya menutupi mulut dan hidungnya, kepala Ayah tertunduk.

“Ayah, Ayah ada apa?” Suaraku mulai meninggi, tetapi beliau tidak mendengarku.

Aku teringat kejadian dengan relawan itu. Aku langsung memposisikan diriku seperti ayahku, lalu merasuki tubuh beliau. Sekarang aku berada di arus pikirannya.

“Raka.” Ibu sedang berbaring di kasur.
“Ya, Elisha?”
“Jaga Lily, baik-baik, ya.”
“Jangan mengatakan itu seolah-olah kamu ingin pergi.” Ayah memegang tangan Ibu. “Kita akan tetap menjaganya bersama-sama.”
“Raka.”
“Elisha.” Ayah menunduk, suaranya mulai tersengal, “Jangan tinggalkan kami.”
“Kenapa kamu menangis, Raka?” Ibu dengan lembut menyeka air mata Ayah. “Semuanya akan baik-baik saja.”
Ayah tetap menangis.

“Raka, aku mencintaimu.”
“Aku juga mencintaimu, Elisha.”

Setelah itu, tangan Ibu terjatuh dari pipi Ayah.
“Elisha?” Ayah menatap Ibu yang telah menutup matanya. “Elisha?” Suara ayah mulai meninggi, menggoyang-goyangkan badan Ibu, memeriksa denyut nadinya. Ayah menyadari sesuatu.
“Elisha!” Ayah berteriak, menangis dengan kencang.
Ibu meninggal dunia. Melihatnya juga aku ikut menangis.

Setelah itu aku melihat ayah setiap malam membaca buku psikologi anak sampai larut dan tertidur. Beliau juga belajar memasak dengan panduan buku, bereksperimen di dapur, kadang kebakaran, hangus, bahkan sampai meledak, tetapi ayah tidak menyerah, ayah mempelajari buku panduannya lagi, sehingga pada akhirnya berhasil.

Lalu ada saat dimana Ayah keluar dari pekerjaannya.
“Kamu yakin ingin keluar, Raka?” Ucap atasannya itu.
“Iya aku ingin lebih dekat dengan anakku.”

Setelah itu Ayah membuka warung di depan rumahnya.
“Raka, kamu tidak ingin menikah lagi?” Tanya salah satu teman Ayahku.
“Tidak, Aku masih mencintai Elisha.”

“Raka, hayuk kita berdagang!”
“Tidak sekarang, Tapi boleh setelah Lily SMP. Di saat itu dia sudah bisa mandiri.”
“Ah, kenapa sekarang kamu tidak menyewa pembantu saja?”
“Lily, anakku, bukan anak pembantuku.”

Ayah juga membaca buku tentang perempuan, pakaian perempuan, kadang berkonsultasi dengan tetangga tentang anak perempuan.

Melihat kejadian-kejadian itu aku menutup mulut dan hidungku. Terharu dengan semua yang beliau lakukan demi diriku dan Ibuku.

Sampai aku di bawa ke suatu tempat di dalam pikirannya, dimana Ayah sedang duduk menatap foto ibuku yang di atas laci di kamarnya.

“Elisha, kamu tahu? terakhir Lily mengirimkan suratnya katanya dia ingin pulang. Aku senang sekali dari sekian lama akhirnya putri kita kembali ke rumah. ‘Aku akan pulang ketika aku sukses.’ katanya. Benar-benar sesuatu, pikirku Lily sedikit berlebihan. Padahal kita tidak membutuhkan hal itu, kan? Tetapi tidak apa-apa, yang penting akhirnya Lily pulang.
“Tapi di hari yang dinanti-nanti itu, Aku malah mendapatkan kabar bahwa Lily kecelakaan dan meninggal ketika menuju ke sini. Aku tidak percaya, tapi nyatanya benar, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri jasad Lily yang diantarkan kepadaku. Melihat hal itu hatiku serasa hancur, hidupku serasa hampa. Sesekali aku sempat ingin bunuh diri saja, tetapi kata-kata kamu selalu mencegahku, Elisha. ‘Semuanya akan baik-baik saja.’
“Aku sedikit demi sedikit bisa merelakannya, hanya saja aku merasa masih belum melakukan apa-apa untuknya.”

Mendengar hal itu aku menggeleng.

“Apakah Lily sudah mendapatkan nutrisi yang cukup?”

Aku mengangguk.

“Apakah Lily sudah merasakan finansial yang baik?”

Aku menyeka air mataku yang keluar.

“Apakah Lily juga sudah mendapatkan pendidikan yang cukup?”
“Su-sudah, Ayah,” Suaraku tersengal.

Aku menangis, rasanya ingin mengucapkan terima kasih.

Aku pun keluar dari tubuh beliau.

Aku melihat beliau masih meneteskan air matanya, duduk bergeming di bangku kayu ini. Aku sebal tidak bisa berbuat apa-apa. akan tetapi tunggu dulu, aku pernah mendengar dari orang bahwa di saat kita sedang tidur, sesungguhnya kita tidak dikatakan mati ataupun hidup. Mungkin di saat Ayahku tidur, aku bisa melakukan sesuatu.

Pada malam hari, aku menyelinap ke rumahku, Sekilas aku melihat meja makan membuat aku bernostalgia, dulu aku sering bercengkerama dengan Ayah di meja itu. Beliau tertawa, aku ngedumel, aku bercerita dengan antusias, beliau mendengarkanku, ayah menggodaku, aku cemberut. Sudah banyak sekali kenangan yang terbentuk di meja makan itu.

Aku mengucek-ngucek mataku yang ingin mengeluarkan air mata, mengesampingkan kenangan itu dulu. Kembali ke tujuan awalku, aku melayang ke kamar Ayahku. Aku kira beliau sudah tidur, ternyata beliau sedang memandang fotoku dan foto ibuku.

“Selamat malam,” Ucap ayahku ke kedua foto itu lalu tidur.

Aku menunggu dua jam untuk memastikan Ayah sudah benar-benar tidur. Ketika dua jam telah berlalu, aku pun merasuk ke tubuhnya.

Sekarang aku seperti di padang savana, berdiri, tidak melayang. aku dapat merasakan rumput-rumput di telapak kakiku. aku pegang rumput itu dan mencabutnya.

“Ini seperti nyata.” Ucapku.

Aku menengok kesana-kemari, dan pandanganku terhenti. Aku melihat Ayah yang sedang berdiri. Aku langsung berlari mendekati Ayahku. Aku tidak peduli aku bisa meraihnya atau tidak, yang jelas ini terasa nyata bagiku.

Aku memeluk Ayahku, terasa hangat.
“Aku selalu suka dengan masakan Ayah. Aku sudah mendapatkan nutrisi yang cukup!” Suaraku mulai tersengal-sengal, “A-aku juga suka setiap pakaian yang dibelikan oleh Ayah, dan suka dengan motif yang Ayah buat di pakaianku. Ayah juga sudah banyak mendidikku, bahkan Ayah merupakan role model bagiku.”
Aku menangis tersedu-sedu.

“Jadi, jangan khawatir. Ayah sudah mengasuhku dengan sangat baik.”
“Syukurlah.” Ayah memelukku balik, tampak bahagia.

“Maafkan aku Ayah, maafkan aku. Aku tidak bisa membalas jasa-jasa Ayah.”
“Shh, tidak apa-apa, tidak apa-apa.” Ayah menepuk-nepuk punggungku. “Ayah tidak mengharapkan hal itu, Lily.”
“Terima kasih Ayah, atas segala-galanya.”

Setelah mengatakan ucapan terima kasih kepadanya, rasanya aku sudah tidak ada penyesalan sama sekali. Sepertinya aku bisa pergi ke akhirat sekarang.

Tubuhku semakin lama berubah menjadi kelopak-kelopak bunga.

“Ayah.”
“Hm?”
“Aku mencintaimu.”
“Aku juga mencintaimu, Lily”

Aku pun menghilang, kelopak-kelopak bunga berterbangan terterpa oleh angin.

Keesokan harinya, Raka bangun. Dia merasa bahagia. Semalam dia bermimpi bertemu dengan anaknya, Lily.

TAMAT

Cerpen Karangan: Pradipta Alamsah Reksaputra
Blog: pradiptaar.wordpress.com

Cerpen Kata Kunci Untuk Ayah (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terbelenggu Monster

Oleh:
Pernahkah kau merasakan bagaimana rasanya terbelenggu? ataupun hanya sekedar membayangkan dibelenggu oleh monster ataupun disekap oleh monster? rasanya tersiksa bukan? Dibelenggu oleh monster yang berwujud menakutkan, membelenggumu, mengikutimu, selalu

Bidadari Kecil

Oleh:
Aku seorang single parent. Aku mempunyai seorang putri yang sangat cantik, dia kebanggaanku, pelipur laraku, suka duka ku jalani bersama, ya… walaupun usianya baru menginjak 5 bulan, tetapi dia

Radio

Oleh:
Rasa sayang pada benda yang selalu menemani kesedihan dan kesendirian kita memanglah sulit untuk dipisah. Rasa sayang bisa berubah menjadi kesetiaan. Keduanya akan sulit bagi kita untuk tinggalkan, apalagi

Alea

Oleh:
Cahaya mentari telah menyinari pagi ini, kabut dingin pun perlahan menghilang, hanya tertinggal tetesan embun di pucuk dedaunan itu. Alea bangkit dari tidurnya, ia merasa mungkin ini sudah pagi.

Tahajud Nenek Aisha

Oleh:
“Labbaik Allahuma Labbaik. Labbaik Laa Syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika lak.” Itulah ucapan talbiyah yang ingin nenek Sumtiantuti ucapkan di tanah suci

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Kata Kunci Untuk Ayah (Part 2)”

  1. dinbel says:

    Sedih, tapi asyik ceritanya

  2. Mala says:

    Bagus banget ceritanyaaa
    Saya mewek bacanya T.T
    Saya tunggu karyamu selanjutnya ^^

  3. Indah says:

    Aku nangis loh :’)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *