Kata Sayang di Dinding

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 25 December 2017

Prang!
Prang!
Prang!
Bia kembali menerbangkan gelas ke kanan dan ke kiri dinding hingga pecah. Gadis tak waras itu selalu melakukan hal tersebut ketika tengah mengamuk. Gadis yang baru beberapa waktu lalu menginjakkan kaki di rumah ini selalu saja membuat hatiku dongkol karena keadaannya yang tiba-tiba menjadi manusia tidak normal pikirannya.

“Kak Oza jahat! Kak Oza jahaaat! Kak Oza jahaaaaat!” Ia juga selalu berkata demikian saat menjalankan kebiasaan barunya itu. Aku yang geram mendengarnya langsung menghentikan aktivitas dan ke luar kamar untuk melihatnya.

Plak!
Tangan ini melayang ke pipi kanannya yang mulus dengan kencang. Hal tersebut selalu kulakukan dengan tujuan untuk menenangkannya.

“Oza cukup! Sudah, jangan melakukan hal ini lagi pada Bia!” Ibu berkata sambil berlari kecil menghampirinya, memeluk tubuhnya yang mungil, lalu mengelus pipinya yang sudah terlukis merah kelima jari tanganku.
“Dia sudah tak waras, Bu. Tidak seharusnya dia tinggal di sini. Lama-lama semua barang yang ada akan habis karena dia.” Aku menjawab dengan kesal sembari menunjuknya. Ia yang ditunjuk seperti itu hanya menatapku takut.
“Bagaimana pun keadaannya ia akan tetap tinggal di sini dan menjadi adik kamu.”
“Tapi, sampai kapan pun aku tak mau punya adik seperti dia, ditambah dengan keadaan yang tak waras.” Kataku meninggalkan ibu yang sedang memeluk Bia kembali menuju kamar.
“OZA!” Teriak ibu kesal karena mendengarku berkata demikian. Namun, aku tetap berjalan tanpa mengindahkannya.

Enam bulan lalu, gadis yang lima tahun lebih muda dariku tersebut datang ke rumah bersama ayahnya untuk menjadi adik juga ayah baruku. Ibu menikah lagi dengan pria beranak satu itu setelah sekian lama sendiri karena ditinggal ayah untuk selama-lamanya.
Setelah beberapa hari menjadi anggota keluarga ini, gadis berambut panjang tersebut berhasil merebut hati ibu. Membuat wanita yang berhati malaikat itu lebih menyayanginya dibanding aku anak kandungnya. Namun, aku tidak terlalu mempermasalahkan. Yang menjadi masalah sekarang adalah mengapa pikirannya bergeser seperti itu?

“Na na na na na..”
Aku menghentikan jalan ketika melintas di kamar Bia dan mendengarnya bernyanyi. Kubuka pintu kamarnya sedikit. Terlihat ia sedang mencoret-coret dinding bercat putih ruangan tersebut dengan spidol.
“Dasar tak waras!” Aku menggumam sambil menutup kembali pintu kamarnya. Kemudian, melanjutkan langkah menuju kamarku untuk beristirahat karena lelah sehari beraktivitas.

Baru saja tubuh ini berbaring di kasur, lagi-lagi Bia mengamuk. Ia kembali memecahkan sesuatu. Tak tahu apa. Yang jelas benda dan bisa pecah. Lalu, dengan berat hati aku membangunkan diri menuju di mana ia berada.
“Kau gila! Cermin ini bisa melukai dirimu. Lepaskan!” Aku mencoba mengambil pecahan cermin tersebut dari tangannya, namun pegangannya kencang sekali.
“Bia lepaskan!” Aku berkata sambil membelalakkan mata padanya. Tapi, tetap tidak dilepaskan.
“BIA!”
Plak!
Plak!
Aku kembali melakukan hal tak terpuji pada dirinya. Biasanya ia tenang setelah mendapat itu dariku, tapi kali ini tidak meski sudah di kedua pipinya.
“Aaaaa.. Kak Oza jahaaat! Kak Oza jahaaaaat!” Bia meronta.

Aku menambah kencang pegangan tanganku pada tangannya. Namun, semakin kencang peganganku semakin pula ia meronta hingga aku tak bisa mengendalikannya. Sampai akhirnya peganganku terlepas setelah pecahan cermin yang sedang ia pegang digoreskan pada pergelangan tanganku.
“Bia kau gila!” Aku mendorongnya hingga jatuh ke lantai.
“IBU, BIA, BU.” Aku berteriak memanggilnya yang entah di mana. Namun, tidak sampai semenit wanita yang kini beranak dua itu datang.
“Oza, apa yang kamu lakukan? Ibu sudah bilang sama kamu untuk tidak melakukan ini lagi.” Ibu meninggikan suaranya ketika berkata demikian.
“Aku melakukan itu karena dia sudah terlalu, Bu. Lihat, tanganku menjadi seperti ini karena dia!” Aku berkata sambil menunjukkan goresan bercampur darah di pergelangan tanganku.
“Sudah seharusnya dia dibawa ke rumah sakit, Bu.” Kataku kemudian.
“Tidak, Oza. Bia akan tetap tinggal di sini walau bagaimana pun.” Ibu mendekapnya yang sudah sedikit tenang.
“Mau sampai kapan ia seperti ini terus? Sampai semua barang yang ada habis? Sampai ia melukai orang lain lagi? Iya Bu? Bu, ia akan lebih parah jika tidak ditangani. Ibu mau Bia seperti itu?”
Ibu hanya diam mendengarnya. Ibu melepas pelukkannya dari tubuh Bia secara perlahan kemudian memandangnya dengan sedih.
“Maafkan ibu sayang.” Ibu berkata sambil membelai wajahnya. Lalu, melihat ke arahku seraya menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa setuju jika Bia dibawa ke rumah sakit untuk ditangani. Aku tersenyum kecil ketika mengetahui itu. Akhirnya rumah akan menjadi tenang karena tidak ada lagi yang memecahkan barang-barang.

Ketika sore tiba, petugas rumah sakit yang akan menangani Bia datang. Ia kembali meronta-ronta saat hendak dibawa oleh mereka sambil berkata..
“Ibu.. Kak Oza..”
“Aaaaa.. Lepaskan!”
Ibu yang melihatnya seperti itu menangis dan sempat menghentikan langkah kedua laki-laki berseragam putih tersebut untuk membawa Bia, namun dengan cepat aku mencegahnya.
“Ibu.. Kak Oza..”
Bia kembali mengatakan itu hingga berkali-kali sampai akhirnya para lelaki tersebut berhasil membawanya.
“Bia, Oza, Bia.” Ibu berkata dengan parau di dekapanku.
“Sudah, Bu. Bia akan baik-baik saja. Percaya denganku.” Aku menjawab sambil mengelus bahunya agar bisa tenang.
Tetapi, ibu terus menangis dan menangis setelah tiga hari Bia tinggal di rumah barunya itu. Aku yang melihat ibu terus menitikkan air matanya menjadi sedih. Aku sudah mencoba untuk menenangkannya, meyakinkan bahwa Bia akan baik-baik saja dan segera pulih, namun tetap saja. Aku juga merasa sedih dan kehilangan semenjak tidak adanya Bia di sini.

Aku mendatangi kamar Bia ketika merindukannya, sama seperti yang dilakukan oleh ibu untuk mengobati rasa itu. Kuedarkan pandangan ke seluruh kamarnya, terlihat banyak fotonya terpajang di dinding. Ada sebuah coretan di dinding bercat putih tersebut yang kala itu ia tulis.
“Aku sayang Kak Oza
Aku belajar dan sekolah bareng Kak Oza.”
Aku terenyuh setelah membacanya yang membuat diri ini merasa bersalah atas apa yang sudah kuperbuat padanya. Perbuatan tidak menyenangkan yang menjadikannya seperti itu, yang membencinya karena telah merebut ibu dariku. Padahal, ia tidak merebut ibu. Ibu lebih menyayanginya karena ia anak baik, tidak sepertiku yang jauh dari kata itu.
“Maafkan aku, Bia.” Aku berkata dengan penuh penyesalan. Kemudian, melangkahkan kaki secepat mungkin menuju kamar ibu yang tengah menangisi dirinya terus menerus untuk mengajaknya mengunjungi Bia. Aku ingin meminta maaf pada gadis itu atas apa yang sudah kuperbuat. Ia begitu karena aku terlalu menekan hidupnya.

Aku langsung berlari menuju sebuah ruangan di mana ia tempati ketika sampai di rumah sakit untuk orang-orang yang kejiwaannya terganggu sepertinya. Aku kembali terenyuh. Tanpa sadar kali ini sampai meneteskan air mata melihat Bia mengamuk dan meronta-ronta sambil terus berteriak saat ditangani oleh para petugas rumah sakit ini.
“Bia tenang, Bi, tenang!” Aku memegang kedua tangannya, namun tetap saja. Ia malah berteriak semakin kencang.
“Aaaaaaaaaa..”
“Bia dengarkan aku!” Aku memegang wajahnya dengan kedua tanganku. Ia terdiam menatapku. Tak lama kemudian ia menangis dan berkata..
“Kak Oza jahat! Kak Oza jahat! Kak Oza jahat!”
“Iya Bia, maafkan aku. Maafkan aku sudah jahat denganmu.” Aku berkata sambil memeluknya.
“Aku sayang Kak Oza.”
“Iya Bia, aku juga sayang kamu.”
“Aku belajar dan sekolah bareng Kak Oza.”
“Iya, nanti kita belajar dan sekolah bareng, ya.”
Bia melepas pelukkanku. Ia kembali mengatakan sayang itu berkali-kali hingga ia menangis lagi.
“Iya Bia, Kak Oza juga sayang kamu. Nanti belajar dan sekolah bareng kakak ya, sayang.” Aku menjawab sambil kembali memeluknya, dan untuk yang pertama kali Bia membalas pelukkanku.

Keadaan Bia berangsur-angsur membaik setelah aku memutuskan membawanya kembali ke rumah. Ia sudah tidak lagi mengamuk juga memecahkan barang-barang karena jiwanya perlahan-lahan pulih. Untuk membuatnya kembali menjadi seperti dulu tidak perlu membutuhkan orang lain, melainkan kasih sayang orang-orang yang ada di sekelilingnya, yaitu aku dan ibu.

Selesai

Cerpen Karangan: Siti Mariyam
Facebook: Siti Mariyam

Cerpen Kata Sayang di Dinding merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rindu Nenek Menggerutu

Oleh:
“Rio notanya mana?” Tanya nenek yang sedang mencari nota di kardus yang masih dipenuhi dagangan. “Ya gak tau lah nek, orang rio dari tadi lagi bungkus gula merah” jawabku

Cobaan di Awal Ramadan

Oleh:
Pagi yang cerah, awal yang indah tak terasa besok akan memasuki bulan Ramadhan atau lebih dikenal bulan penuh ampunan. Semua umat islam di dunia sangat antusias dalam menyambutnya. Begitu

Pamungkas

Oleh:
Lastri baru saja melahirkan bayi laki-lakinya yang sehat dan normal. Ini adalah anaknya yang keempat. Tak banyak pancaran kebahagiaan di wajahnya. Tarno, suaminya, tahu kalau Lastri kurang bahagia. Dan

Diary Elza

Oleh:
Lembar demi lembar buku diary milik Elza sudah terisi deretan tulisan Elza yang begitu rapi. Entah apa jadinya jika lembar demi lembar itu sudah penuh oleh kata-kata ungkapan dari

Hujan Pengantar Tidur

Oleh:
Rintik hujan malam ini begitu sendu. Airnya jatuh menghempas genting tua rapuh yang masih terpampang perkasa di atas rumah. Mengguyur seluruh hamparan tanah di sekitar dinding tinggi yang entah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *