Kau Selalu di Hatiku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat, Cerpen Rohani
Lolos moderasi pada: 16 February 2015

“Masih ku ingat indah senyummu.
Yang selalu membuatku mengenangmu.
Terbawa aku dalam sedihku
Tak sadar kini kau tak di sisi.”

Keadaan rumah masih seperti kemarin dan 3 hari berturut-turut yang lalu. Tetap sepi tanpa tawa. Tapi beruntung, kami selaku penghuni rumah mulai bisa beraktivitas seperti biasa. Aku, kakak dan adikku mulai bisa menerima hal ini. Kami semua juga saling menguatkan.

“Def! Pengen makan apa?” tanya kakak perempuanku yang mulai menunjukkan ke lapang dadaannya setelah menghadapi kematian ibunda tercinta kami sekitar setengah minggu yang lalu.
“Terserah adik ajalah, kak.” ucapku pelan sambil menatap pemandangan di luar jendela kamar.
“Kamu mau sarapan pakai lauk apa Rif?” tanya kakakku mengulang pada adikku dengan sabar.
“Aku pengen makan sama semur tahu kak. Bisa mbuat enggak kak?” tanya adikku yang berusia 8 tahun itu dengan polosnya. Mendengar kalimat itu kakakku hanya diam dan mengangguk. Ia segera menuju dapur untuk memenuhi keinginan adiknya itu.

Dari jendela kamar, nampak Minggu pagi yang suram. Matahari belum juga menampakkan dirinya. Padahal waktu telah menunjukkan pukul 08.30. Langit juga nampak tak begitu cerah. Ada awan hitam yang menyelimutinya.
Hal ini membuatku ingin naik ke ranjang tempat tidur. Aku juga menguap berkali-kali. Sedang adikku masih saja serius menulis sesuatu di buku bersampul BenTen salah satu tokoh kartun kesukaannya.

“Kakak mau tidur?” tanya adikku Arif. Mungkin ia tau kalau aku sedang mengantuk.
“Iya. Dari tadi kakak merasa ngantuk.” jawabku.
“Oh, ya udah kak. Kakak istirahat aja. Aku mau mau ke kak Feby dulu ya.” katanya. Adikku yang satu ini memang sangat perhatian kalau kakaknya sedang ngantuk, capek, apalagi sakit. Aku sangat bersyukur sekali memiliki adik yang demikian. Setelah aku bergumam dalam hati tentang Arif, segera kupejamkan mataku.

Dalam sekejap aku pun larut dalam dunia mimpi. Ketika itu aku melihat seorang laki-laki berpakaian serba hitam. Dia mendekat padaku tanpa menunjukkan mukanya. Kemudian ia bertanya,
“Apakah kau menyayagi ibumu?” sungguh pertanyaan itu membuat hatiku hampir pecah menjadi keping-keping.
“Tentu” jawabku singkat. Sebab aku tak mau menggores hatiku sendiri dengan jawaban yang telah aku berikan.
“Bukankah dia selalu bertindak keras padamu? Dia selalu membatasi kegiatan-kegiatanmu. Tapi mengapa kau masih berkata sayang?” tanyanya aneh.
“Karena dia satu-satunya orang yang mau mengasuh, mendidik, dan menyekolahkan kami bertiga dengan tetesan keringatnya sendiri. Meskipun ayah tak pernah aku ketahui keberadaannya dan tak pernah memperlihatkan batang hidungnya pada kami semua, namun bagiku ibu adalah segalanya. Aku akan tetap menyayanginya meski aku pernah merasa dikekang dan diatur. Tapi aku tau itu artinya ia tak ingin aku terjerumus dalam kesalahan dan itu artinya ia menyayangiku.” jawabku panjang lebar sambil meneteskan air mata.
Laki-laki itu kemudian mengangguk dan menghilang. Aku berusaha berteriak untuk menanyakan siapa namanya. Namun dia tak menjawab dan tetap menghilang. Aku hanya mampu menangis dan sekilas wajah ibu pun terbayang. Pesan yang pernah terlontar dari mulutnya kembali terngiang di telingaku
“Nak, belajar yang rajin ya. Supaya kamu jadi anak yang berguna. Jangan lupa sholat dan berdo’a, agar perjalananmu terus dalam lindungan Allah. Lalu kalau waktunya makan, kamu harus makan. Meskipun lauknya hanya semur tahu.” Aku pun hanya mampu meneteskan air mata mengingat kelembutannya.
“Def-Defi! Bangun..”
“Kak Defi ayo makan!” suara itu berkali-kali terdengar di telingaku. Aku pun terbangun karenanya.
“Lho! Kenapa nangis?” tanya kakakku. Aku hanya menggeleng. “Mungkin aku menangis karena mimpiku tadi” gumamku dalam hati.
“Ayo kak makan, semur tahunya udah jadi. Aku udah lapar.” ucap adikku tiba-tiba. Mereka pun bergegas menuju ruang makan. Aku mengikuti di belakang. Sekilas terngiang kembali senyuman ibu. Aku hanya berkata dalam hati, untuk tetap berusaha melaksanakan nasehat ibu dan berusaha jadi yang terbaik. Aku juga akan menjadi perempuan yang tegar seperti ibu. Ibu.. aku menyayangimu..

Note: “Orangtua tak mungkin ada yang mau menjerumuskan anaknya dalam kesalahan. Jika mereka memarahi atau sedikit mengaturmu, maka dengarkan, resapi, dan coba laksanakan perintahnya. Sebab, sejahat-jahat orangtua itu karena ingin anaknya menjadi yang terbaik”
“Pergunakan waktumu yang masih ada kini untuk membuatnya (orang yang kita sayangi) tersenyum. Jangan sesekali membuat mereka terluka.”
“Jikalaupun waktumu kini tiada, buat mereka bahagia dengan cara belajarmu dan do’a serta kerja kerasmu untuk meraih cita-cita yang mulia.”

Cerpen Karangan: Amanatul Haqqil Ibad
Facebook: Amanatul Haqqil

Cerpen Kau Selalu di Hatiku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Roda Terus Berputar

Oleh:
Hal yang menyedihkan terjadi pada akhir tahun 2010 sampai tahun 2011, tepatnya ketika aku kelas 4 SD. Dimana semua hal indah yang kumiliki hilang perlahan. Seperti air laut yang

Mimpi Lastri

Oleh:
Gadis yang masih cukup belia itu mendesah, bingung dan bimbang bagai dilema menguntit nuraninya. Pertanyaannya, apa yang harus dia lakukan sekarang dan selanjutnya. Haruskah dia menyesali semua ini. Wajahnya

Terimakasih Kakak

Oleh:
Rasanya kasih sayang dari ibu bapak kakak itu tak pernah berhenti untuk ku, aku ingin menciptakan suatu karya singkat. dialog kasih sayang kalian. Malam berganti pagi, “ndok, masmu sudah

Sebuah Cerita dari Sepasang Mata

Oleh:
Merah pada tangkup bibirnya boleh jadi tiada bergeming. Namun kelopak retinanya, lihatlah. Atau lebih tepatnya, dengarlah. Ia tengah bercerita. Tengah mengibaratkan dirinya sebagai sepasang kekasih. Dalam hal ini mungkin

Titik Terang Dari Makan Siang

Oleh:
Sudah 67 hari Momo berstatus pengangguran. Selama itu pula teka-teki ke mana Momo akan berlabuh tetap jadi misteri. “Momo mau jadi apa kamu. Kerjaan gak jelas, mau sampai kapan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *