Kawan Sejati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 23 February 2016

Seorang sosok wanita yang sangat baik dan rendah hati sedang mengayuh sepeda miliknya, dengan perasaan yang selalu dibawa oleh keceriaannya itu hari-harinya terasa lebih indah dan apa adanya. Riana Sri namanya, sebuah nama yang singkat dan sederhana. Dia mempunyai banyak sekali teman, karena kebaikannya terhadap teman-temannya itu dia sangat disenangi oleh siapa pun. Tapi ada seseorang temannya yang sama sekali tidak menyukainya, selalu saja merasa iri dengan apa yang menjadi kesenangan Riana. Walau dia berada di keluarga yang serba berkecukupan selalu saja bagi dirinya serba kekurangan.

Sebuah mobil yang melaju kencang mendahului sepeda Riana, hingga membuat sepeda Riana tidak memiliki keseimbangan sehingga sepedanya menjadi oleng, dan Riana pun terjatuh. Mobil itu seperti tak menyadari bahwa sudah menabrak sebuah sepeda, mobil itu tetap melaju kencang. Seorang laki-laki yang melihat kejadian itu menghampiri Riana dan sepedanya. Laki-laki itu mencoba melihat keadaan Riana dan berkata, “Kau tak apa?” Gumamnya. Riana mencoba bangun dan sedikit meringis menahan sakit, dia memegangi siku tangan kirinya. Laki-laki itu membantu Riana untuk bangun dan berdiri.

“Bisa ku lihat?” tanya laki-laki itu untuk memastikan luka Riana.
“Tidak usah, hanya luka kecil saja,” jawab Riana setelah melihat tangannya sendiri dan merasa hanya luka kecil.
“Benar?”
“Iya,” Riana membalasnya dengan senyumnya yang anggun.
“Sepedamu bagaimana?” tanya laki-laki itu dengan melihat keadaan sepeda Riana yang rantainya terputus dan seperti ada lecet di bagian stangnya. Tanpa berkata Riana langsung melihat kondisi sepedanya itu. Riana sempat kebingungan, bagaimana dia akan berangkat ke sekolah, pikirnya.

“Kamu mau ke sekolah?” tanyanya lagi.
“Iya,” Riana masih mencoba memeriksa sepedanya.
“Itu akan lama bila dibetulkan, kamu Riana kan? Anak XII IPA 1?”
“Iya, kamu tahu aku?” Riana balik tanya.

Laki-laki itu tersenyum, “Anak mana sih yang gak kenal sama Riana Sri kelas XII IPA 1?” laki-laki itu mencoba mengakrabinya. Riana menjawabnya hanya dengan seulas senyum. “Bareng aku aja ya? Sepedanya dititipkan di bengkel sana tuh, sambil dibetulkan,” sambil menunjukkan sebuah bengkel di ujung jalan.
“Kalau harus nunggu sepedamu selesai mungkin kamu bisa meninggalkan 1 pelajaran,” bujuknya lagi. Riana berpikir sejenak, “Baiklah,” Riana menerima tawarannya.

Laki-laki itu bernama Dion kelas XII IPA 2 yang cukup disenangi banyak wanita karena kegagahannya dan kegantengan yang dia miliki. Tapi sayangnya Riana tak sama sekali mengenalinya, karena mungkin yang dia kenali hanya teman-teman perempuannya dan jika pun ada laki-laki hanya teman sekelasnya atau laki-laki yang pernah sekelas bersamanya sewaktu kelas XI, karena sewaktu kelas XI dia merupakan siswi pindahan dari sebuah sekolah yang terbaik di Lampung. Karena ayahnya yang hanya bekerja seorang buruh rantauan dari Lampung ke Jakarta maka Riana pun harus ikut, atas bantuan dari sekolahnya di Lampung karena Riana merupakan anak berprestasi se-Lampung maka dia bisa bersekolah di sebuah sekolah favorit dengan gratis karena ditanggung yayasan akibat prestasinya.

Virly sedang duduk di kantin, di meja paling pojok yang menjadi tempat favorit dia bersama cs-nya itu berkumpul.
“Vir.. lo tahu gak? Gosip baru?” Sindi mengajak cs-nya agar memperhatikannya berbicara.
“Apa?” jawab Virly biasa, sambil meminum jus yang dipesannya.
“Tadi Dion berangkat bareng sama Riana,” kata Sindi.
Teman-teman yang lain seperti Indri dan Vera pun hanya bisa cengo, dan Virly keselek minuman yang sedang diminumnya karena mendengar Sindi bicara.
“Yang bener lo?” Vera memastikan.
“Iya.. gue lihat sendiri,” Sindi berkata kenyataan.
Indri membantu Virly yang sedang keselek dengan menepuk-nepuk pundaknya, dan memastikan keadaan Virly baik-baik saja. Muka Virly berubah menjadi seperti orang yang kesal dan seperti memanas.

“Mungkin aja cuma sekedar ketemu di jalan, Riana kenapa-kenapa dan Dion membantunya,” Indri mencoba menenangkan suasana. “Masa sih? Seenggaknya gitu, Riana kan tidak mengenal terlalu banyak laki-laki selain anak kelasnya,” Sindi terus saja memanasi.
“Sudahlah, bukan urusannya juga kan?” Vera nampak cuek. Virly masih terdiam, mendengarkan ocehan teman-temannya itu. “Iya, itu mungkin hanya kebetulan,” jelas Indri.
“Bukan gitu, tapi kasihan kan Virly,” kata Sindi.
“Loh kenapa jadi bawa-bawa Virly?” tanya Vera.
“Ya.. kan tahu sendiri, Virly suka banget sama Dion, mana pernah Dion melirik Virly sekali saja. Hahaha,” jelas Sindi. “Kamu ini, itu kan hak Virly suka sama siapa saja, ya Dion juga berhak kok untuk memilih,” gumam Indri.
“Sudah… mengapa jadi kalian yang ribut sih,” Virly membentak, lalu dia pergi ke toilet.

Di toilet Virly mengaca dirinya, nampaknya dia sangat sedih. Mengapa hidupnya selalu saja memprihatinkan, tak seperti Riana selalu saja mendapat kesenangan walau hidupnya sederhana. Terkadang di dalam benak Virly ingin sekali berteman dengan Riana dan belajar kehidupan bersamanya tapi Virly merasa gengsi dengan teman-temannya, walau Virly tak pernah menjahati Riana tapi rasa irinya selalu saja menghantuinya jika saja Riana ingin membantunya ketika Virly sedang sulit mengerjakan sesuatu atau apa pun itu Virly selalu menepisnya dan menegaskan bahwa dia bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan dari Riana. Virly hanya dapat menangis meratapi kemalangannya, dengan orangtua yang tak pernah bisa memperhatikannya dan hanya ditemani dengan si Mbok dia bisa bertahan, padahal Virly sendiri tak membutuhkan uang dari orangtuanya, yang Virly inginkan hanya sebuah kasih sayang, Tapi Virly tak dapatkan itu lagi.

Sesampainya di rumah Virly mencari si Mbok, dia ingin mencurahkan semua isi hatinya pada si Mbok karena si Mboklah dia bisa tenang, tenteram dan selalu nyaman. “Mbok,” Virly memanggil si Mbok. Si Mbok muncul dari dapur dan menghampiri Virly. Virly langsung memeluk si Mbok dan menangis di pelukannya.
“Kenapa putri kesayangan Mbok menangis?” tanya Mbok sambil mengelus-ngelus rambutnya yang terurai panjang di pundaknya. “Mbok… dia.. dia berangkat bersama orang yang Virly suka, dia juga mendapat pujian lagi dari guru biologi atas tugasnya yang sangat memuaskan,” Virly menjelaskan dengan suara berpatah-patah karena tangisannya.

“Perempuan yang sekelas non lagi?” tanya si Mbok. Virly mengangguk mengiayakan.
“Mengapa non selalu iri padanya, kenapa non tidak berusaha mendekatinya dan berteman dengannya,” si Mbok menyarankan. “Virly pernah ingin melakukannya, tapi Virly malu dengan teman-teman Virly Mbok.. mereka tidak menyukai dia, dan mungkin hanya Indri saja yang terkadang akrab dengannya,” jelas Virly lagi.

“Sayang… tidak baik bila kita harus iri pada seseorang atas keberuntungannya, lebih baik kan bila kita mendekatinya dan berkawan baik dengannya, mungkin saja dia bisa membantu kita dengan masalah yang kita hadapi. Non kan pintar, belajarnya juga sangat baik, non juga cantik.. apa masih saja non iri padanya? Apa yang non iri kan darinya?”
“Virly gak tahu Mbok, Virly gak suka kalau lihat dia selalu unggul dari Virly, Virly selalu saja menjadi orang yang kedua di bawah dia dan di mata orang-orang seperti guru-guru dan teman-teman yang lain. Padahal setahu Virly dia hanyalah anak seorang tukang bubur di pinggir jalan, dan rumahnya pun amat sederhana bahkan berangkat sekolahnya saja dengan memakai sepeda,”

“Mbok yakin dia baik pada siapa saja yang ingin bergaul dengannya, buktinya dia juga pernah ingin mendekati non kan? Dan dia tidak pernah menjadikan non Virly sebagai saingannya, dia tetap menjadikan non sebagai teman di kelasnya,” Virly berpikir bahwa yang dikatakan oleh si Mbok adalah benar. Dia tak pernah menganggap Virly sebagai saingannya, dia selalu berusaha dan mencoba mendekati tapi Virlynya saja yang selalu menghindar dan tak mau kenal dekat dengannya. Virly berhenti dari tangisannya, dia merasa lebih tenang setelah mendengarkan saran dari si Mbok.

Virly nampak penasaran dengan seseorang yang pernah dia lihat sewaktu di depan sebuah sekolah yang kecil dan sederhana. Virly minta untuk diantarkan oleh sopirnya ke sebuah tempat itu. Ketika Virly melihat di kaca jendela mobilnya yang diam di dekat sebuah sekolah yang kecil dan sederhana itu, Virly melihat seseorang yang amat sangat dia kenali dan tak asing yaitu Riana. Virly melihat keakraban dari pada anak-anak kecil yang sedang bernyanyi-nyanyi bersama Virly di sebuah halaman kecil depan gedung kelasnya. Pancaran wajah dari Riana memperlihatkan betapa senang dan bahagianya dia bersama anak-anak kecil itu. Terlihat plang yang terpampang di ujung pagar sekolah tersebut “TPA. Ar-Rahman,”

Sekarang Virly merasa kagum pada Riana, bukan iri lagi. Virly melihat selalu keikhlasannya dalam setiap perbuatan yang dia lakukan. Virly semakin tahu kebiasaan apa saja yang sering dilakukan oleh Riana, dan dia selalu berusaha untuk mempraktekannya dalam kehidupan sehari-harinya. Virly belajar itu karena keinginannya, senang mungkin bila Virly bisa lebih jauh mengenal Riana karena dapat langsung berinteraksi dan sharing pada Riana tapi rasa gengsi masih belum bisa mengalahkan rasa keinginannya itu.

Sesampainya di rumah, Virly memberitahu si Mbok untuk memesan nasi box pada sebuah restaurant. Virly ingin memberikan makanan itu pada anak-ana panti asuhan yang ada di dekat jalan gang perumahannya. Mbok kaget ketika mendengar perintah dari non kesayangannya itu, tapi si Mbok merasa bangga dengan perubahan yang dilakukan oleh Virly. Karena dia tahu, Virly berubah setelah dia selalu bercerita tentang temannya yang bernama Riana itu. Mbok merasa penasaran dengan perempuan itu, maka si Mbok memutuskan untuk mengetahui di mana rumah anak yang bernama Riana dan mengetahui kepribadian daripada anak itu.

Sewaktu hari minggu, si Mbok pergi berbelanja ke sebuah pasar. Setelah selesai belanja dan memastikan bahwa masih pagi, mungkin si Mbok bisa mampir untuk sarapan dulu. Akhirnya si Mbok mampir di sebuah tukang yang jualan bubur di pinggir jalan yang menghadap langsung ke pasar. Seseorang yang melayaninya itu seorang gadis yang berjilbab dan cantik, senyumnya pada setiap pelanggan yang datang membuat orang senang melihat setiap senyumannya itu.

“Terima kasih,” si Mbok mengucapkannya sewaktu gadis itu memberikan bubur pada si Mbok.
Gadis itu tersenyum dan berkata, “Kembali kasih Bu, selamat menikmati,” Kata-katanya begitu indah dan lembut, dia mengatakan itu kepada siapa saja yang dia layani. Si Mbok mendengar sebuah percakapan antara gadis itu dengan temannya yang baru datang, sepertinya teman perempuannya itu habis olahraga dan dia pun bersama laki-laki yang nampak seperti pacarnya.

“Ri.. aku besok gak bisa ke sekolah, karena harus mengantar kakakku ke airport, aku titip buku tugas ya?” teman perempuannya itu berkata. “Baiklah, salam buat kakakmu ya?” jawab Gadis itu.
Ketika dia masih berbincang-bincang bersama temannya itu, bapak yang sedang melayani pelanggannya memanggil gadis itu, “Riana, bisa bantu Ayah sebentar Nak,”
“Iya Ayah, Riana ke situ,” Gadis itu menjawab dan menghampiri ayahnya. Si Mbok penasaran, apa dia Riana yang selalu diceritakan oleh non Virly. Si Mbok semakin tidak konsen makan, dan ketika Riana melewati si Mbok, si Mbok memberanikan diri untuk bertanya.

“Sekolah di mana Nak?” tanya si Mbok.
“SMA Nusa Harapan Bangsa bu,” jawabnya lembut.
“Kelas berapa sekarang?” si Mbok memastikan lagi, karena nama sekolahnya sama dengan non Virly.
“XII IPA 1 Bu,” dia menjawab dengan senyumnya.
“Oh… ya,” jawab si Mbok singkat. Ternyata benar dia orangnya.

Virly keluar dari kamarnya, dengan mendengar suara orang yang sedang bertengkar. Virly mencoba mengintip dan mencari sumber suara itu, dia terdiam ketika melihat papa dan mamanya bertengkar di dalam kamar. Entah apa yang sedang dibicarakan sehingga pertengkaran itu terjadi. Virly tak kuat bila harus mendengarkan papa mamanya bertengkar setiap pulang dari luar kota, padahal mereka ke luar kota bersama-sama serta urusan pekerjaan yang sama.

Virly lari ke luar rumah pada saat hujan lebat. Si Mbok melihat Virly berlari ke luar, dan mencoba mengejarnya tapi tak terkejar dan tak nampak batang hidungnya Virly. Dalam keadaan yang basah kuyup dengan air hujan, dan air mata yang tidak henti-hentinya bercucuran Virly tetap saja berjalan tanpa arah dan tujuan. Riana sedang berjalan dengan payungnya, dia pulang setelah menjemput adiknya. Riana melihat seorang perempuan yang sedang kehujanan duduk di jalanan, Riana iba melihatnya mana bisa malam-malam begini di waktu hujan ada orang yang sedang main hujan-hujanan. Riana mencoba menghampiri perempuan itu, dan memberitahu adiknya untuk pulang duluan karena rumah mereka sudah dekat.

“Mbak,” Riana mencoba menyapa perempuan yang sedang tertunduk sambil menangis itu.
Perempuan itu tetap menangis, lalu dia pun mendengar suara Riana dan dia pun memandang Riana lekat.
Riana nampak kaget ketika mengatahui itu adalah Virly. “Virly… sedang apa kamu? Hujannya deras sekali,” Riana nampak panik, segera dia membantu Virly untuk berdiri.

Virly masih tetap menangis, dirinya belum merasa tenang. Pikirannya masih kosong, Virly hanya menurut pada Riana dan mengikutinya hingga rumahnya Riana. Orangtua Riana menyambut kedatangan mereka dengan sangat hangat, ibu Riana memberi Virly sebuah handuk Riana pun meminjamkan baju untuk Virly. Virly baru sadar setelah berada di rumah Riana, pikirannya kembali lagi jernih. Dia tak menyadari mengapa sampai berada di sini. Virly memandangi kamar Riana yang kecil dan sederhana itu, tetapi dengan tataan pajangan serta kerapiannya membuat Virly nyaman berada di kamarnya itu.

Virly melihat buku-buku yang tertata rapi, dan photo yang terpajang di dinding serta hiasan di lemari dan jendela, Semua banyak dan bagus. Terdengar suara canda tawa bahagia dari ruang tengah, pintu kamarnya terbuka sedikit. Dilihatnya oleh Virly ayah Riana yang sedang bercanda dengan kedua adik Riana dan Riana sedang membaca sebuah buku di antara mereka. Ibu Riana datang dengan membawa sebuah piring yang berisi goreng pisang yang masih sangat hangat. Virly terharu melihatnya, dia iri akan semua itu, mengapa dirinya tidak bisa seperti itu? Padahal hidupnya serba berkecukupan. Virly pun duduk kembali di atas kasurnya Riana. Riana masuk ke dalam kamar dan mengajak Virly ke luar kamarnya untuk berkumpul bersama. Virly mencoba menolaknya tapi Riana tetap memaksanya, Virly pun menyerah dan mengikutinya.

“Ini temanmu itu Ri?” tanya ayah.
“Cantik ya yah,” kata Adik laki-laki Riana, Rio namanya. Virly memberinya sebuah senyuman, lalu duduk.
“Iyalah, namanya Kak Virly.. dia baik orangnya, pintar pula berbahasa,” gumam Riana memuji Virly seperti teman yang sudah lama kenal.
Virly merasa aneh, apakah Riana mengenalnya? Mengapa dia berkata demikian? Virly hanya melamun.
“Kalau begitu Kak Virly bisa bantu aku menyelesaikan tugasku?” tanya Rio sambil menyodorkan buku tugasnya.

Buku yang diberikan pada Virly yaitu tugas Bahasa Inggris, Virly mencoba menjelaskan kepada Rio maksud dari pertanyaan dan menerjemahkan sebuah cerita dalam tugasnya itu. Ketika Rio tahu jawabannya dia pun senang dan mengakui bahwa Virly memang pintar. Mendengar pujian Rio kepada Virly serta gombalannya semua yang ada di ruang tengah itu tertawa sangat puas begitu juga dengan Riana dan Virly. Senangnya Virly bagaikan bagian dari keluarga Riana.

Menjelang minggu pagi, Riana baru selesai mandi dan menghampiri Virly.
“Vir.. kenapa melamun?” tanya Riana menghampiri Virly yang sedang melamun di depan jendela.
Ketika Virly sadar bahwa di belakangnya ada Riana dia langsung memeluk Riana dan menangis padanya.
Riana kaget, tapi dia menyambut pelukan Virly. “Ada apa Vir?” tanya Riana penasaran.

Virly menceritakan semua isi hatinya pada Riana, dari soal dia iri padanya dan semua masalah tentang keluarganya. Riana mencoba masuk dalam kehidupan Virly dan mencoba untuk menenangkannya serta memberikan saran padanya. Virly merasa lega karena semuanya telah diceritakan pada Riana, termasuk rasa sukanya pada Dion. Akhirnya Riana pun jujur bahwa saat dia ingin mendekati Virly itu karena permintaan dari Dion, karena Dion ingin tahu tentangnya. Tapi Virly yang sudah salah paham, jadi Riana hanya dapat menceritakan apa yang dia tahu tentang diri Virly.

Sudah seminggu lebih Virly tinggal di rumah Riana, tanpa mengabari serta dicari oleh keluarganya. Virly tak ingin pulang ke rumah karena dia terlanjur betah di rumah Riana dengan keluarga yang sederhana dan harmonis itu. Virly selama seminggu ini tidak sekolah, dia hanya diam di rumah dan mengerjakan pekerjaan rumah, walau Riana dan keluarganya telah melarangnya tapi Virly tetap saja mengerjakannya. Ketika Virly baru saja selesai mencuci bajunya dia beristirahat di bangku depan rumah Riana. Sebuah mobil terparkir di depan rumah Riana saat Virly mencoba ingin masuk ke dalam rumah.

“Virly,” teriak mama Virly yang baru turun dari mobil itu. Disusul oleh papa, si Mbok dan Riana yang turun.

Mama menghampiri Virly lalu memeluknya erat dan menyiumi anak semata wayangnya itu dengan sangat hangat, air mata Virly tak sanggup tertahan. Dia sangat merindukan pelukan, ciuman, serta semuanya. Papa pun menyusul menghampiri dan melakukan hal yang sama seperti mama, juga si Mbok. Setelah itu ibu Riana mempersilahkan semuanya masuk. Mama dan papa menceritakan semuanya pada Virly juga meminta maaf atas semua perlakuan mereka selama ini. Mereka juga berjanji pada Virly tidak akan meninggalkan Virly sendirian lagi dan akan selalu ada untuk Virly. Saat itu juga ayah Riana dan adik-adiknya baru saja sampai di rumah, karena ibu Riana telah selesai memasak maka ibunya mempersilahkan semuanya untuk makan siang bersama di rumah Riana.

Cerpen Karangan: Anisa Oktaviani Kurnia
Facebook: Annisa Oktavia (Laskar Amanah)

Cerpen Kawan Sejati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Finishing Well My Hero

Oleh:
Aku sudah berdiri di depan gedung ini sekarang, ini adalah hal yang paling kutakuti di dalam hidupku ya tuhan bukannya tiga hari yang lalu dia meyakinkanku bahwa dia akan

Senyuman Terakhir

Oleh:
Ketika pagi datang, kesedihan terus mengusikku. Ku lihat tetesan air hujan jatuh satu per satu ke Bumi. Udara yang dingin, hembusan angin yang lembut memeluk tubuhku pagi ini. Aku

Harapan yang Terkubur

Oleh:
Kupakai seragam sekolah dengan nametag Azizah, gesper, dasi, topi, dengan kaos kaki putih serta sepatu hitam. Tak lupa untuk menguncir rambut, aku pun bergegas pergi ke sekolah. Kuhentakkan kaki

Rindu Ibu

Oleh:
“Kreeeek” suara pintu kubuka dengan pelan. Gara-gara matahari menyengat seperti lebah membuat seluruh tubuhku terasa panas. Kuistirahatkan sejenak tubuhku di atas kursi goyang dan kupejamkan mata sambil mendengarkan radio

Cukup Satu Teman

Oleh:
Hmmm… aku berpikir liburan tahun ini, terasa tak berarti bagiku, bagaimana mungkin hari yang paling ditunggu tunggu oleh kebanyakan anak sekolah malah menjadi kekosongan untuk ku. Betapa tidak kosong,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *