Kebahagiaan dan Kesedihan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 27 January 2017

Adzan Shubuh membangunkanku dari mimpi indahku. Hari ini aku sengaja bangun lebih pagi dari biasanya. Aku segera beranjak menuju kamar mandi. Hari ini adalah hari yang sangat aku nantikan, karena hari ini aku akan pergi berlibur bersama teman-teman. Setelah semuanya siap dan rapi, aku segera menuju ke tempat yang telah ditentukan.

“Rey, kamu bawa makanan apa aja?” sapa Ainun setelah aku selesai meletakkan tasku di dalam bus. “Apa sih? Baru datang udah ditanyain soal makanan.” jawabku dengan nada sedikit kesal. “Pokoknya nanti makanannya kita bagi, okay?” kata teman sebangkuku itu dengan bersemangat dan langsung kubalas hanya dengan anggukan.

Kami sangat menikmati perjalanan kami. Bercanda, bercerita, bernyanyi, dan makan snack, itulah yang kami lakukan sepanjang perjalanan. Sesampainya di Jatim Park, kami segera behambur menjajali berbagai wahana. Aku bersama Ainun, Azka, Sinta, dan Dirga mencoba bermacam-macam wahana. Mulai dari komedi putar hingga rumah hantu, semua telah kami siggahi.

“Main apa lagi, nih?” tanya Azka padaku. “Udahan aja ya, capek nih.” jawabku. “Yah… kok udahan sih, kan masih pingin main lagi. Lanjut main aja yuuk.” bujuk Sinta pada kami. “Tapi kayaknya kita harus istirahat dulu deh, aku laper nih.” kata Ainun dengan nada sedikit memelas. “Ya udah, kita istirahat aja dulu, kalau masih ada waktu nanti kita main lagi. Gimana?” terang Dirga berusaha agar tidak terjadi perdebatan di antara kami. Tak perlu waktu lama, kami semua segera menyetujui saran Dirga itu. Sinta juga ikut bersama kami, meskipun aku tahu bahwa dia ikut kami dengan hati yang sedikit kesal.

Kami beristirahat di taman, sambil memakan snack yang kami bawa dari rumah. Setelah itu, kami segera berkumpul bersama teman-teman kami yang lain untuk menikmati makan siang kami dan dilanjut dengan Sholat Dzuhur. Setelah sholat Dzuhur selesai, kami lanjut menikmati wahana yang lain. Kali ini, aku tidak ikut bersama Sinta, Azka dan Dirga untuk menjajali wahana lain. Aku tetap duduk di taman bersama Ainun sambil menikmati udara segar yang hanya dapat kami rasakan di Kota Apel ini.

Setelah sholat Maghrib, makan malam dan membeli oleh-oleh, kami segera melanjutkan perjalanan pulang. Saat berada di dalam bus, kebanyakan di antara teman-temanku tertidur, mungkin karena mereka kelelahan. Namun, hal yang berbeda terjadi padaku dan Sinta. Kami sama sekali tidak dihinggapi rasa kantuk. Bahkan, kami merasa khawatir karena besok adalah hari yang cukup mendebarkan bagi kami semua. “Rey, kalau besok hasilnya nggak sesuai sama harapan kita, gimana?” tanya Ainun dengan nada sedikit bebisik, karena tidak ingin membangunkan orang lain. “Hmm… entahlah, aku juga khawatir, Nun. Tapi semoga Allah mmberikan yang terbaik buat kita semua.” jawabku berusaha menenangkan Ainun.

Tak terasa, bus yang kami naiki telah berhenti. Itu berarti, kami telah sampai di sekolah. Kami segera membereskan barang-barang kami dan menuju ke orangtua masing-masing. Aku segera menghampiri Omku dan kami langsung pulang. Di rumah, Nenek telah menungguku. “Bagaimana hari ini? Menyenagkan?” sapanya saat aku baru saja masuk rumah. Aku sangat menyukai wajah itu, wajah yang selalu menebarkan senyum setiap kali aku datang. “Lumayan menyenangkan, sih.” aku menjawab pertanyaan itu juga dengan senyum di wajahku. “Ya sudah, kalau begitu sekarang cepat mandi. Nenek akan menyiapkan air hangat sebentar. Kamu sudah makan, toh?” tanyanya dengan nada lembut. “Sudah, Nek.” jawabku dengan singkat. Aku segera mandi, lalu pergi tidur. Malam ini, aku benar-benar tidak bisa tidur. Aku masih memkirkan perkataan Ainun tadi. Bagaimana kalau itu benar terjadi. Aku terus memikirkan hal itu sepanjang malam.

“Rey, ayo bangun, sudah siang.” aku merasa seseorang menggoyang-goyangkan tubuhku. “Iya Nek, sebentar lagi.” jawabku menawar. “Nanti kalau terlambat, Nenek nggak mau ambil rapormu loh ya.” mendengar hal itu aku segera membuka mataku. Bukan karena aku takut terlambat, namun karena hari ini adalah hari yang membuatku susah tidur kemarin malam. Aku segera bergegas menuju kamar mandi lalu sarapan.

Sesampainya di sekolah, aku segera berlari menuju kelas untuk melihat mading. Aku berteriak kegirangan saat aku melihat tulisan “RAINA PUTRI MAHARANI” berada pada urutan pertama, hal itu berarti aku menduduki peringkat pertama lagi tahun ini. “Wuih senangnya. Selamat ya. Jangan lupa traktirannya ditunggu.” Suara itu membuatku langsung menoleh ke samping. Aku melihat seorang anak laki-laki berdiri di sampingku sambil tersenyum ke arahku. “Kan kamu juga peringkat tiga besar, berarti aku juga bisa dapet traktiran, dong.” jawabku masih dengan nada kegirangan. “Tapi kan tetap lebih tinggi kamu nilainya.” jawabnya. “Gampang deh, yang jelas sekarang aku lagi seneng banget Azka.” Aku berlari meninggalkannya sendirian. Meskipun kami bersahabat sejak kecil, aku dan Azka memang selalu bersaing dalam hal akademik. Aku berlari menuju Nenekku dan tidak sabar ingin memberitahu kabar gembira ini pada Nenek.

Aku melihat Nenek dari kejauhan, dia sedang berjalan ke arahku. Tubuhnya terlihat begitu lemah, kakinya gemetar, dan wajahnya pucat. Segera kupercepat langkah kakiku agar dapat secepat mungkin berada di sampingnya. “Nenek kenapa?” tanyaku dengan nada cemas. “Nggak papa, Nenek hanya merasa ingin muntah. Mungkin masuk angin.” jawabnya berusaha menenangkanku. “Kalau Nenek sakit, kita bisa pulang sekarang. Pulang aja, ya?” tanyaku padanya. Nenek hanya menjawab pertanyaanku dengan menggelengkan kepalanya. Namun aku masih berusaha membujuknya. Akhirnya, setelah berusaha cukup lama, Nenek bersedia pulang bersamaku.

Di rumah, Nenek segera beristirahat. Aku berusaha menghubungi Omku untuk memberitahunya tentang keadaan Nenek. Tak lama kemudian, Om datang. Ia memutuskan untuk segera membawa Nenek ke rumah sakit terdekat. Saat itu aku benar-benar khawatir pada kondisi Nenek dan takut sesuatu yang buruk terjadi padanya. Namun, Om tidak memperbolehkanku ikut mengantar Nenek. Aku hanya bisa berdoa agar Allah memberikan yang terbaik pada Nenek

Malam harinya, orang tuaku datang. Ibu menemaniku makan malam dan tidur, sementara Ayah menjaga Nenek bersama Om. Hingga malam hari, aku masih belum boleh untuk menemui Nenek. Aku berusaha memejamkan mata, namun kekhawatiran yang bercampur dengan kesedihan ini merusak semuanya.

Keeseokan harinya, Ibu membangunkanku. Setelah sarapan, Ibu mengajakku mengunjungi Nenek di rumah sakit dengan diantar Omku. Sesampainya di sana, aku melihat seseorang yang selama ini selalu tersenyum ketika aku datang, kini tak lagi menampakkan senyum itu di wajahnya. Aku juga dapat melihat seorang anak yang tengah tertidur menjaga Ibunya, anak itu adalah Ayahku.

Aku duduk di samping Nenek dan terus berdoa agar ia segera diberi kesembuhan. Beberapa jam kemudian, Nenek akhirnya terbangun. “Kenapa disini?” kalimat itulah yang pertama keluar dari mulutnya saat ia melihatku. “Aku ingin menjaga Nenek juga.” jawabku sambil berusaha menahan air mata. Nenek hanya tersenyum mendengar jawaban dariku itu.

Setelah beberapa hari opname di rumah sakit, akhirnya Nenek diperbolehkan untuk pulang. Aku sangat senang ketika mendengar hal itu, dan segera pulang untuk merapikan rumah yang beberapa hari ini tidak terurus karena semua orang menjaga Nenek. Aku membereskan rumah bersama dengan Ibu. Setibanya di rumah, Nenek segera beristirahat di kamarnya. “Rey, bisa kesini sebentar?” tanya Nenek dari dalam kamar. “Iya, Nek.” jawabku singkat sambil berjalan menuju ke kamarnya.

“Kalau nanti kamu sudah tidak tinggal bersama Nenek lagi, kamu harus tetap jadi anak yang baik ya, harus bisa membanggakan orangtua dan juga Nenek.” kata Nenek padaku. Aku tidak mengerti apa maksud perkataan Nenek itu, dan entah kenapa tiba-tiba aku merasakan air mengalir membasahi pipiku. “Selalu tunaikan sholat dan jangan lupa selalu berdoa.” lanjutnya. Aku hanya terdiam, berusaha berpikir positif dan tidak memikirkan hal yang macam-macam. “Dan jangan lupakan teman-temamu yang disini, ya.” Sambungnya lagi. “Iya, Nek.” hanya kata-kata itulah yang dapat keluar dai mulutku saat ini.

Aku duduk di sofa sambil melihat televisi saat Ayah memanggilku. Ia menyuruhku untuk pergi ke meja makan. Di sana, sudah terdapat Ayah, Ibu, dan juga Om. Aku segera duduk di samping Ibu. “Kamu sudah tahu kan tetang kondisi Nenek?” tanya Ayah. Aku hanya mengangguk. “Jadi, tadi Ayah, Ibu, dan juga Nenek sudah berdiskusi. Dan kami memutuskan untuk membawamu tinggal bersama Ayah dan Ibu.” Aku terkejut dan tidak tahu harus berkata apa. “Ibu tahu, ini sangat berat bagimu. Tapi kamu juga harus memikirkan kondisi Nenek. Kamu nggak mau kan kalau Nenek sakit lagi?” jelas Ibu padaku. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. “Jangan khawatirkan Nenek, Om yang akan menjaganya. Kalau nanti Nenek sudah sembuh, Om akan mengajaknya bermain ke rumahmu.” bujuk Om padaku. Aku mengangguk.

Keesokan harinya, saat aku bangun, aku sudah melihat beberapa koper yang terisi penuh berada di kamarku. “Kita harus mencicil memindahkan barang-barangnya mulai dari sekarang.” jawaban itulah yang kudapat dari Ibu saat aku menanyakan mengenai hal ini. Setelah sarapan, Ayah mengajakku pergi ke sekolah. “rapormu belum diambil, kan?” tanya Ayah padaku saat kami berada di mobil menuju ke sekolah. “Iya.” Jawabku singkat. Aku bahkan melupakan hal itu. “Sekalian Ayah juga akan urus tetang kepindahanmu.” saat Ayah berkata itulah aku baru sadar bahwa inilah maksud dari ucapan Nenek kemarin. “Kenapa harus pindah secepat ini?” tanyaku masih tidak terima kalau harus pindah. “Ini kan sedang liburan semester, pasti banyak juga yang pindah sekolah. Jadi kita harus cepat-cepat mencari sekolah baru untukmu, sebelum semua sekolah penuh.” jelasnya. “Baiklah.” aku berusaha menerima kenyataan.

Beberapa hari setelahnya, aku harus pindah ke rumah orangtuaku. Hal ini dikarenakan aku harus mengurus dan mencari sekolah yang baru. Nenek tersenyum sambil melambaikan tangan saat mobil mulai berjalan menjauh. Aku benar-benar tidak bisa membendung air mataku. “Semuanya akan berjalan seperti biasa dan baik-baik saja.” ucap Ibu berusaha menenangkanku. Aku belum berpamitan dengan teman-temanku, aku belum mengetahui bagaimana nilai rapor Ainun, bahkan aku belum memberitahu Nenek bahwa aku menduduki peringkat satu lagi tahun ini. Namun, aku percaya bahwa suatu saat nanti aku pasti akan bertemu dengan mereka lagi dan juga semuanya akan baik-baik saja.

Hari ini adalah hari pertamaku di sekolah baruku. Aku berusaha mencari teman baru, dan aku akan terus berusaha mewujudkan mimpiku agar dapat mebanggakan orangtua dan juga Nenekku. Ternyata perkataan Ibuku benar, bahwa semuanya baik-baik saja dan berjalan seperti biasa. Mulai saat itu, aku menyadari bahwa terkadang kebahagiaan dan kesedihan itu datang secara bergantian.

Cerpen Karangan: Bintari Tri Ambarwati
Haloo… kenalin namaku Bintari. Ini adalah cerpen pertama yang aku upload. Semoga kalian suka dan semoga cerpen ini bermanfaat bagi semua pembaca. Selamat membaca yaaa, see yaa 🙂

Cerpen Kebahagiaan dan Kesedihan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


In My Life

Oleh:
Suatu hari disaat malam pun tiba keluarlah seorang wanita dari dalam rumahnya, dia seorang wanita yang cantik jelita namun sayang dia ditinggalkan oleh orang tuanya sejak kecil, kinipun dia

Handphone vs Buku

Oleh:
Ada anak bernama alice. Ia adalah anak yang tomboi dan punya banyak teman. Tetapi ia gemar membaca dia juga gak pake kacamata lho walaupun kutubuku. Mirip kayak tokoh hermione

Because Time

Oleh:
Duduk di kursi kamarku dengan alis berkerut. Seperti biasa, aku kembali dimarahi oleh ibuku yang galak ini. Tidak tau jelas apa kesalahanku padanya, hampir setiap hari ia memarahiku. Bahkan

Salah (Part 3)

Oleh:
Di perjalanan kak revi selalu memperhatikanku lewat kaca spion motornya. Entah mengapa aku merasa risih. Aku tidak suka dia melihatku terus. “ada apa kak? Kok melihatku dari kaca spion

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kebahagiaan dan Kesedihan”

  1. waaah isinyaaa bagus banget!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *