Kecerobohan di Media Sosial

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 8 February 2017

Bunyi sebuah pesan SMS yang masuk ke dalam telepon gengam saya membangkunkan saya dari tidur. Tanpa melihat pesan tersebut, seketika saya melihat kepada arah jarum jam yang tepat pada pukul 7 pagi. Hal tersebut sontak membuat saya bergegas untuk meninggalkan tempat tidur. Tidak tahu apa yang membuat ranjang pada pagi hari terasa sangat menempel pada tubuh saya. Setiap kali saya berusaha untuk menggerakan badan saya dan bersiap-siap di pagi hari, ranjang tersebut seakan meminta saya untuk kembali tertidur dan seakan berkata “tidurlah kembali, 5 sampai 10 menit tidak akan memakan waktu terlalu lama.” Sudah diketahui oleh seluruh orang, bahwa itu tidak akan pernah berarti 5 sampai 10 menit. Hal itu tidak akan terjadi hari ini. Saya sudah bertekad untuk tidak terlambat pada hari pertama di SMA.

Tanpa ragu lagi, saya langsung berangkat dan menembus kemacetan Jakarta di pagi hari menggunakan ojek langganan saya.
Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, dari kejauhan saya sudah bisa melihat sekolah saya. Dengan perasaan yang gugup bercampur dengan semangat, saya pun memberanikan diri untuk akhirnya turun dari sepeda motor dan melangkahkan kaki saya untuk pertama kalinya. Tetapi, saya merasa ada suatu hal yang janggal. Saya masih berdiri di depan gerbang sekolah saya dengan keadaan terkunci sambil mengira-ngira apa yang kira-kira membuat saya berfikir bahwa ada hal yang janggal. Sampai akhirnya ada seorang satpam berpakaian rapi menegur saya. “Dek, mau ikutan jaga sekolah bareng saya?” spontan, saya menyatukan kedua alis saya dengan bersamaan serta membuka mulut saya mengeluarkan reaksi kebingungan. “Saya mau sekolah pak, tolong bukain pagernya karena saya sudah telat. Ini hari pertama saya pak” ucap saya dengan nada yang tergesa gesa. “Aduh, gimana ya, bukannya saya nggak mau bukain pager, tapi hari ini hari libur. Kalau mau nemenin saya jaga sekolah sih dengan senang hati” Jawab pak satpam sambil tersenyum lebar dan meninggalkan saya karena harus kembali menjaga sekolah.

Tidak berpindah posisi, saya masih berdiri tepat di depan pagar sekolah sambil memegang kedua tali tas saya. Dengan perasaan malu kepada bapak satpam yang menghampiri saya, dicampur dengan rasa jengkel, saya pun mengeluarkan telepon genggam saya dan membiarkan kedua ibu jari saya untuk mengekspresikan hal yang terjadi kepada teman-teman saya hingga dapat dibaca oleh seluruh orang. Dengan hati yang kesal, saya pun meninggalkan tempat dimana saya berdiri dan pulang kembali ke rumah. Panas terik matahari tercampur dengan kaki saya yang pegal-pegal selepas menempuh perjalanan untuk pulang ke rumah. Sesampainya saya di pintu rumah, tidak memikirkan situasi dan kondisi, langsung saya membanting pintu tersebut lalu bergegas lari menuju kamar saya yang berada di lantai atas.

Ketukan suara pintu terdengar sangat jelas di kuping saya. Seakan tak mendengarnya, saya mengabaikan ketukan tersebut dan mengunci kamar. Lama kelamaan suara ketukan tersebut reda dan saya berfikir, mungkin ibu sudah lelah dan membiarkan saya menenangkan diri di kamar. Tetapi setelah satu jam berlalu, saya mulai sadar akan apa yang saya lakukan siang tadi. Tak lama kemudian, ketukan tersebut terdengar lebih keras diirigi oleh teriakan marah ibu. Tak memiliki pilihan lain, saya buka pintu tersebut dan rupanya, ibu telah membaca pesan yang saya unggah tentang kekesalan saya mengapa tidak ada yang memberitahukan saya bahwa hari ini adalah hari libur. Tutur kata yang tidak sopan dan pilihan kata yang tidak baik membuat ibu marah dan menasehati saya.
“Media sosial itu adalah salah satu hal yang memang menyenangkan bagi seluruh remaja untuk digunkan, tetapi media sosial bisa dengan sangat mudah untuk disalah gunakan, seperti yang kamu lakukan tadi.” Kata ibu.

Melihat kembali tulisan yang saya unggah di media sosial tadi siang, saya kembali berfikir bahwa hal tersebut tidak seharusnya saya lakukan. Ditambah perasaan yang sangat tidak enak melihat betapa banyaknya orang yang melihat tulisan saya. Lalu, dengan cepat saya hapus tulisan tersebut sehingga tidak ada lagi yang dapat melihat hal tersebut.

Untuk melupakan segala hal yang terjadi pagi ini, mendengarkan musik adalah salah satu hal yang saya selalu lakukan. Sambil melihat-lihat pilihan musik yang terdapat pada telepon genggam saya, seketika saya ingat pesan SMS yang membangunkan saya di pagi hari. Tidak menunggu lagi saya pun langsung membukanya.

“Nak, hari ini seluruh murid diliburkan karena ada perayaan hari buruh nasional. Maaf ibu tidak bisa membangunkanmu di pagi hari karena kakekmu sakit, ibu harus pergi untuk menemaninya.” Tanpa berkutik sedikit pun, saya langsung bergegas masuk ke dalam kamar ibu dan memeluknya untuk meminta maaf atas prilaku yang saya telah perbuat dan berjanji untuk tidak melakukannya kembali di hari yang akan datang.

AMANAT: Kecerobohan kecil bisa memberikan dampak yang sangat besar. Oleh karena itu berhati-hatilah dalam memilih suatu keputusan. Karena, masalah besar sesungguhnya adalah kumpulan dari masalah-masalah kecil yang disepelekan.

Cerpen Karangan: Raffa Khalisha Izdihar

Cerpen Kecerobohan di Media Sosial merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah Sedih Di Sekolah

Oleh:
Saat pertama kali ku masuk sekolah, setelah lulusan smp 2 bulan yang lalu alhamdulilah aku lulus dari smp dan akhirnya aku masuk smu, rasa senang pertama kali masuk smu,

Berawal Dari Iseng

Oleh:
“Rika bagaimana perasaanmu setelah menjadi pelukis terkenal??, dan bahkan banyak majalah menerbitkan lukisanmu?” kata host di acara TV. “Seneng banget!!” kata Rika dengan tersenyum di depan kamera, dan penonton

Rindu

Oleh:
Lambaian angin seakan mengajak jiwa untuk beranjak dari alam bawah sadar. Mulai, sedikit dan akhirnya… yess aku berhasil menyelesaikannya. Ku berjalan menyusuri jalan setapak yang licin hasil dari tangisan

Diana dan Si Pussy

Oleh:
Diana sekarang telah duduk di bangku kelas lima di Sekolah Dasar. Keluarganya sedang bermigrasi ke kota, tetapi Diana tidak, Dia tetap tinggal bersama kakek, nenek, pamannya Kholil dan bibinya

Mimpi Seorang Gadis Desa

Oleh:
“Suara kokok ayam mulai terdengar di telingaku, kok kok kok petok. Itu adalah alarm ku tanpa Hp ataupun jam weeker. itu biasanya waktu menunjukan pukul 04.35. Kenalin namaku Linna

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *