Kedengkian Dibalas oleh Kasih Sayang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 9 May 2018

“Kamu itu, ya, kalau pulang sekolah jangan males-malesan! Mentang-mentang sekolah pulang sore.” omel Indah pada adiknya, Irtha.
“Aku nggak malas-malasan, kak. Aku ngerjain PR.” bantah Irtha. Indah melotot,
“Sudah deh, nggak usah membantah. Kakak capek.” Indah ngeloyor pergi meninggalkan adiknya. Irtha menunduk sedih.

Irtha adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, Idha, Indah, dan Irtha. Orangtua mereka sibuk, berangkat pagi, dini hari. Indah kini berumur 15 tahun, kelas 10. Sementara Irtha masih kelas 5 SD. Kalau Idha sudah kuliah.
Irtha tidak pernah bisa mengerti kenapa Indah selalu membencinya. Hal itu bermula semenjak ayah ibu mereka sering ke luar kota. Indah yang tadinya bersikap baik dan ramah pada Irtha, menjadi berubah drastis. Apalagi, ayah dan ibu kalau ke luar kota bisa berbulan bulan. Untunglah, Idha selalu ada di sampingnya, menemaninya.

“Irtha, kamu kenapa?” Idha tiba-tiba duduk di samping adiknya.
“Eh, nggak apa apa, kak. Ii tu.. cuma…” Irtha gelagapan. Idha tersenyum,
“Kakak tahu kamu dimarahin lagi ya, sama Indah?”
“Iya, kak.” Irtha menunduk. “Tapi jangan marahin kak Indah ya,”
Idha tersenyum mendengarnya, “Iya. Ya sudah, Irtha mau semangka? Kakak beli tadi.” Irtha mengangguk semangat. Idha tertawa menyodorkan sepiring semangka.

“Irtha, kakak mau mengepel ya,” Idha beranjak meninggalkan Irtha.
“Aku bantu ya kak.”
“Nggak usah, Tha. Kamu masih kecil.”
“Ayolah, kak. Mengepel itu asyik!” Irtha merengek. Idha mengalah.

“IRTHAAA!!! Rapihin kamarku sekarang!!!” teriak Indah dengan kerasnya, sampai Irtha yang sedang mengepel kaget. Indah berjalan dengan cepatnya, sampai ia terpeleset karena lantainya masih basah.
“Aduhh. Kamu mengepel bagaimana sihh?? Yang bener donggg!” omel Indah lagi, tangannya mendorong adiknya sampai jatuh membentur lantai. Idha yang sedang mengepel di bagian lain langsung datang,

“Astagfirullah, Indah!!! Kamu sudah sangat keterlaluan!” Idha menolong adiknya, Irtha. Indah hanya terdiam.
“ini adikmu, Indah! Dia adikmu! Kenapa kamu jahat sekali padanya??” bentak Idha. Sementara Irtha meringis kesakitan karena kepalanya membentur lantai.
“Irtha, Irtha, Irtha terus! Ibu, Ayah, kakak, nenek, kakek, om, tante, semuanyaaaa… IRTHA terus!” Indah berlari meninggalkan kedua saudaranya. Idha terdiam mendengarnya. Tampaknya, ia mulai bisa mengerti kenapa Indah bersikap seperti ini.

Idha berjalan pelan pelan menuju kamar kedua adiknya. Di kamar Irtha, Irtha sudah tertidur pulas. Idha melangkah perlahan menuju kamar Indah. Indah sudah tertidur juga. Idha mengernyitkan dahi melihat sebuah buku diary di meja belajar Indah. Ia baru melihat buku itu. Idha mengambil diary bergambar beruang tersebut. Ia membuka halaman pertama.

16/4/17
“Hari ini. Ulangtahun Irtha. Ayah dan ibu memberikannya sebuah kasur baru. Padahal, kasurnya yang lama baru dua tahun dipakai. Sementara kasurku sudah 10 tahun tidak diganti. Setiap hari ulangtahunku, mereka tidak ada. Tapi giliran Irtha? Mereka merelakan datang, bahkan membatalkan proyek. Tampaknya mereka lupa denganku.”

3/5/17
“kak Idha sekarang lebih perhatian pada Irtha. Ia rela mengajari anak itu sampai tengah malam dibandingkan aku.”

Idha tercekat membacanya.

20/5/17
“Ibu rutin menelepon kak Idha tiap malam. Kalau sering kudengar, yang ditanyakan selalu Irtha, Irtha, Irtha. Apa aku ini anak tiri ya? Lalu, ayah juga rutin menelepon Irtha tiap pagi. Sementara aku? Ahhh sudahlah.”

Idha menahan nafas membacanya.

10/6/17
“Kak Idha marah besar padaku karena aku mendorong Irtha. memang kenapa sih? Aku hanya mendorongnya. Tak sampai mati. Sepertinya aku anak tiri.”

Idha terdiam setelah membacanya. Airmatanya menetes. Apakah benar, ia selama ini lebih perhatian pada Irtha dibanding Indah? Oke, ia akan mengubah sifatnya, karena ia tak ingin ia bermusuhan dengan adiknya sendiri.

“Indah …, ini kakak buatkan sarapan loh…” Idha mengetuk pintu kamar Indah. Indah tak membukanya. Idha pun membuka pintu perlahan. Indah masih tertidur di kasurnya.
“Ndah… Indah …” Idha menggoyangkan tubuh adiknya. Indah membuka mata perlahan, ia memutar badannya, menarik selimutnya agar menutupi tangannya.
“Kamu kenapa, Ndah? Sakit?” Idha memegang dahi adiknya.
“Astagfirullah…” Idha terkejut. Dahi adiknya panas tinggi. Idha mengambil tindakan, ia mengompres Indah, dan mengambil termometer. Idha adalah mahasiswi Fakultas Kedokteran (FK). Jadi, ia bisa menangani kasus seperti ini. Idha dengan cemas mengompres adiknya.

Irtha masuk dengan pakaian rapi sehabis mandi, “Kakak… Kak Indah kenapa?” tanya Irtha kaget.
“Indah sakit, Tha.” jawab Idha lesu.
“Astagfirullah!” Irtha terbelalak kaget.
“Aku buatkan bubur dan teh ya!” Irtha lari ke dapur. Idha mengangguk. Indah membisu di dalam gulungan selimutnya. Irtha …

Tak lama kemudian…
“Ini kak.” Irtha membawakan nampan berisi bubur ayam dan teh hangat. Indah menatap adiknya lemah. Idha terbelalak kaget melihat tangan Irtha yang melepuh,
“Tanganmu kenapa?” tanya Idha hendak memeriksa. Irtha buru-buru menyembunyikannya.
“Eeh… Ini itu… Engg…” Irtha gelagapan.
“Kena air panas ya?” Idha langsung menebak. Irtha menunduk.
“Iiya… Tadi air panas yang kutuang buat bikin teh kebanyakan…”
Indah membisu mendengarnya. Lihatlah! Adiknya berkorban banyak untuknya. Adik yang selama ini ia benci.

“Tha…” Indah membuka mulut. Irtha menoleh,
“Ya? Kakak butuh sesuatu? Buah? Semangka?”
Indah menggeleng lemah, “Maafin kakak ya,”
Idha tersenyum. Irtha terdiam mendengarnya, “Kakak gak punya salah kok.”
Indah menangis. Ia dan Irtha berpelukan. Idha tersenyum bahagia.
“Kalian adik adik kakak. Harus akur, dong…” Idha memeluk keduanya. Indah tersenyum getir. Matanya basah oleh airmata. Kedengkian yang ia berikan pada Irtha dibalas oleh kasih sayang oleh Irtha. Kini, kebencian dan kedengkian karena kasih sayang dan perhatian tak ada lagi di hatinya. Idha saja dulu bisa berbagi kasih sayang dan perhatian orangtuanya pada Indah, kenapa Indah tak bisa melakukannya pada Irtha? Indah kembali memeluk adiknya. Irtha tersenyum bahagia sekali, kini kakaknya yang dulu telah kembali.

Cerpen Karangan: Nabila Alifiana
Blog: syahidahmenulis.wordpress.com
Maaf jika kurang bagus. Kritik dan sarannya ya, guys.

Cerpen Kedengkian Dibalas oleh Kasih Sayang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebuah Cerita dari Sepasang Mata

Oleh:
Merah pada tangkup bibirnya boleh jadi tiada bergeming. Namun kelopak retinanya, lihatlah. Atau lebih tepatnya, dengarlah. Ia tengah bercerita. Tengah mengibaratkan dirinya sebagai sepasang kekasih. Dalam hal ini mungkin

Itu Bukan Salahku

Oleh:
Hening malam membuat seorang gadis tertidur di meja belajarnya. Keheningan itu terpecahkan oleh suara rintikan air hujan yang semakin deras. Tetesan air hujan yang jatuh di leher gadis itu,

Penyesalan Riana

Oleh:
“Allaahuakbar.. Allahuakbar,” suara adzan subuh berkumandang, sang ibu membangunkan anaknya yang masih tertidur pulas. “Nak… Riana bangun! Salat Nak…” dari bilik kamar terdengar suara menyahut. “Aduh apaan sih Bu!

Botol Yang Terlupakan

Oleh:
Jam di dinding menunjukkan tepat jam 6 pagi, waktunya aku untuk pergi ke sekolah, aku bersekolah di sebuah SMP negeri di dekat rumahku, setiap hari untuk bisa sampai ke

Kakak Ku Hidup Di Hati Ku

Oleh:
Saat itu. Aku terisak-isak dalam tangisanku. “Karin, Karin kenapa? kok nangis gitu,” Tanya Kak Syahrin kepadaku dengan lembut. “itu ka Mama dan Papa bertengkar lagi, aku takut kak,” Jawabku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *