Kehidupanku Setelah Adanya Virus Covid 19 (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Covid 19 (Corona), Cerpen Keluarga, Cerpen Ramadhan
Lolos moderasi pada: 13 August 2021

20 Maret 2021
Awal terjadinya sebuah virus yang dinamakan virus Covid 19 seluruh masyarakat Indonesia diharuskan untuk tetap tinggal di rumah, bahkan melakukan kegiatan persekolahan, perkantoran hingga ibadah sekalipun harus dilaksanakan dari rumah. Seperti saat ini aku dan adikku yang baru memasuki taman kanak-kanak harus belajar dari rumah didampingi ibu, sementara aku yang menduduki kelas lima sekolah dasar belajar seorang di kamar peribadiku. saat ibu mendampingi adikku untuk belajar ayahpun mengerjakan tugas kantor di kamar pribadinya.

Saat pertama kali virus itu datang kami memang kesulitan untuk melakukan semuanya. terlebih ibu yang harus pintar membagi waktu untuk mendampingi adik belajar hingga mengurus rumah. begitupun denganku yang terbiasa belajar bersama teman-teman, bisa diskusi dengan mudah dengan teman. tapi kini aku harus belajar tanpa adanya mereka, meskipun materi yang dikerjakan sama dengan yang mereka kerjakan dan pengumpulan tugasnya pun sama. yaitu melalui email yang sudah diberikan oleh wali kelas kami.

Makin hari alhamdulillah kasus penderita Covid 19, tingkat kesembuhannya semakin meningkat, hingga kami diizinkan kembali melakukan aktivitas di luar rumah, namun baru sekolah tatap muka yang diperbolehkan untuk beroperasi kembali. walau tetap ada pembatasan jarak dan waktu. bahkan tidak hanya jarak dan waktu. tetapi jumlah siswa serta siswi yang mengikuti KBM di sekolah juga dibatasi serta diwajibkan untuk melakukan tes suhu dan mencuci tangan sebelum masuk kelas dan pelajaran berlangsung.

Hari ini hari pertama aku kembali ke sekolah, meskipun jumlah siswa yang dan siswi yang memasuki kelas harus dibatasi dan adanya peraturan baru sebelum mengikuti pelajaran. tapi itu tidak menyurutkan semangatku dan teman-temanku untuk mengikuti pelajaran.

Alhamdulillah pengecekan suhu hari pertama berjalan dengan lancar dan tak ada satupun siswa maupun siswi yang terpapar virus Covid 19. dan pembelajaran dapat berjalan dengan lancar, meskipun siswa dan siswi yang memasuki kelas hari ini saya hanya setengah dari yang biasanya yaitu 25 orang, sementara 25 orang lainnya diperkenankan menunggu di rumah dan akan memasuki sekolah pada siang hari.

Waktu sudah menunjukan pukul 12.00 siang. kini tiba saatnya siswa dan siswi kloter pertama untuk pulang ke rumah masing-masing. dan KBM digantikan oleh siswa dan siswi kloter kedua.
Saat tiba di rumah dan mengucap salam, aku langsung menyimpan masker ke dalam plastik yang tersedia di meja belajarku lalu mencuci tangan dengan sabun dilanjutkan dengan mengganti pakaian. tak lama setelah itu, tiba-tiba terdengar suara anak kecil yang sangat kukenal seperti sedang berjalan mendekat ke pintu rumah, siapa lagi kalo bukan Zahra adik kembarku yang mempunyai sifat sulit diatur dan selalu saja bikin ibu marah.

Seperti saat ini saat membuka pintu Zahra dengan wajah polosnya langsung mengambil makanan yang sudah tersedia di meja, namun saat makan itu akan mendarat ke mulutnya dengan sigap ibu berjalan dan menggenggam kuat tangan Zahra dan dengan senyum tipis disertai mata ibu yang melotot ibu berkata sebelum makan, cuci tanganmu dan bersih-bersih dahulu sayang. dan seketika Zahra terdiam dengan memajukan bibirnya kedepan dan mengembalikan makanan yang sedang ia pegang ke tempat semula dan beranjak masuk ke kamarnya, diikuti oleh Zanah sodara kembarnya yang sebelumnya Zanah sudah mencuci tangan.

Beberapa menit kemudian
Saat aku dan ibu sedang asyik menonton televisi. Kedua adik kembarku berjalan mendekati kami dengan pakaian santai yang mereka kenakan. Zahra memakai kaos ungu dan celana pendek warna cokelat sementara Zanah memakai kaos putih dan celana pendek warna coklat. hingga akhirnya kami larut dalam canda dan tawa.

Saat kami sedang asyik-asyik tertawa, tiba-tiba ayah yang sudah menyelesaikan tugas kantornya di kamar. mengacak-ngacak rambutku hingga akhirnya membuatku spontan melakukan apa yang dilakukan Zahra sepulang sekolah tadi.

Hari sudah menjelang pagi, seperti biasa aku bersiap-siap pergi ke sekolah. Seusai mandi aku bergegas menemui ayah, ibu dan adik kembarku untuk sarapan bersama di lantai bawah. setelah itu aku mengambil sereal serta susu yang tersedia di atas meja makan untuk segera melahapnya.

Beberapa menit kemudian
Kami semua sudah selesai sarapan, aku dan adik-adiku pergi ke sekolah diantar oleh ayah yang belum diperbolehkan masuk kantor.
Saat aku sudah sampai di sekolah, seperti biasa aku mencuci tangan di wastafel yang sudah tersedia di sudut kamar mandi sekolah, kemudian setelah itu aku menemui pak Arman satpam di sekolah untuk melakukan pengecekan suhu tubuh. dan alhamdulillah suhu tubuhku normal, hingga dianjurkan untuk segera masuk kelas.

Tet! Tet! Tet!
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, tak mau membuang banyak waktu akupun segera bergegas untuk pulang.
Setelah 20 menit menempuh perjalanan akhirnya aku sampai di rumah. setelah sampai di rumah aku segera melakukan anjuran pemerintah. namun saat aku hendak berganti pakaian aku melihat ayah yang sedang duduk sambil meminum dengan wajah terlihat sedang memikirkan sesuatu. saat kutanya apa yang sudah terjadi, ayah berkata dia sudah bosan bekerja di rumah dan ingin segera sepertiku, yang pergi ke sekolah walau hanya sebentar dan beberapa hari saja, akupun tersenyum mendengarnya. dan akupun berusaha menenangkan ayah dan mengajaknya berdoa, agar Covid 19 ini dapat segera berlalu dan ayah pun mengamini doaku. bahkan aku sendiripun sudah lelah dengan adanya musibah ini. aku hanya berharap virus Covid 19 ini segera berlalu. terlebih sebentar lagi akan memasuki bulan suci Ramadhan. apa mungkin aku dan keluargaku akan kembali menjalani bulan suci ramadhan tahun ini di rumah saja seperti tahun lalu.

Saat kami usai melaksanakan sholat Dzuhur tiba-tiba terdengar suara drum mobil yang sudah kukenal. suara Mobil siapa lagi kalau bukan mobil ibu itu tandanya adik kembarku sudah pulang.
Setelah ibu dan adik-adiku mengganti pakaian. aku membantu ibu menyiapkan makan siang. dan hari ini ibu memasak tiga menu makanan yaitu tempe orek, sayur bayam dan tak lupa usus goreng kesukaan kami dan tak lupa jus wortel serta jus tomat yang sudah tersedia di meja. itulah kebiasaan ibu setiap menyiapkan makanan selalu ada dua teko jus yang berbeda-beda setiap harinya. yang menurut ibu kami harus meminum minuman sehat setiap hari, apalagi semenjak munculnya virus Covid 19 saat ini. hanya bedanya kalau dulu tidak diwajibkan minum madu dan hanya diwajibkan minum jus saja. kini minum jus dan madu juga diwajibkan. bedanya hanya di waktu meminumnya saja, kalau madu sebelum makan kalau jus sesudah makan.

Saat kami selesai makan kami bersantai bersama di gazebo teras belakang rumah. obrolan pertama dimulai dari Zahra yang menceritakan tentang temannya Elsa yang tidak mau memakai masker dan mencuci tangan di sekolah hingga zahra mengatakan miss Bella memberikan pengertian pada adikku serta murid lain yang sedang mengikuti pelajaran tentang pentingnya mencuci tangan dan memakai masker disaat suasana seperti ini. hingga pada akhirnya Zahra mengatakan bila mulai besok Elsa akan mengikuti protokol kesehatan. hingga obrolan dilanjutkan olehku yang sangat senang dengan adanya tensi tubuh di sekolah sebelum mengikuti pelajaran, karna dengan begitu aku bisa mengetahui tensi tubuhku yang berbeda-beda selama enam hari.

Beberapa bulan kemudian
Hari ini hari pertama aku dan keluargaku menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan ini. Meskipun tahun ini masih dalam situasi yang sama yakni virus Covid 19 yang belum berlalu. namun ada sedikit perbedaan dimasa ini, pemerintah sudah mulai mengizinkan aku dan keluargaku untuk melaksanakan ibadah solat terawih di mesjid bersama warga lainnya, meskipun diharuskan tetap memakai masker saat pelaksanaan solat serta jumlah rokaat yang dikurangi. tapi aku bersyukur, paling tidak kita bisa melakukan momen yang paling indah yang selalu dinantikan dibulan yang penuh berkah ini.

Pukul 17.00
Kini tiba saatnya aku dan keluargaku bersiap untuk berbuka puasa. berbagai menu untuk berbuka puasa hari sudah tersedia di atas meja. Seperti es cincau, es campur dan goreng super lezat buatan ibuku juga sudah terhidang di atas meja.

Pukul 18.00
Azan maghrib telah berkumandang kini tiba saatnya aku dan keluargaku untuk berbuka puasa. lalu aku menyantap sedikit es campur yang sudah kutuangkan ke dalam mangkuk kecil. setelah itu aku bergegas membantu ibu mengambil wudu untuk menunaikan solat magrib berjamaah bersama ayah, ibu dan kedua adikku di mushola. setelah kami selesai melaksanakan solat Magrib, kami melanjutkan memakan takjil yang tadi sudah tersedia dan setelah itu kami bersiap untuk menunaikan solat Terawih di mesjid. setelah pulang solat Terawih kami lanjutkan dengan makan malam.

Semakin hari suasana bulan puasa tahun ini semakin indah. walau virus Covid 19 masih merajalela, tetapi sekarang protokol yang harus dipatuhi tidak membuat aku dan keluargaku jenuh seperti saat pertama kali virus ini hadir. karna aku masih bisa bertemu dengan orang yang Kita sayang asalkan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Cerpen Karangan: Dinbel Pertiwi
Facebook: Dinbellap7165[-at-]facebooks.com

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 13 Agustus 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Kehidupanku Setelah Adanya Virus Covid 19 (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ada Yang Pergi dan Kembali

Oleh:
“Mereka selalu berjuang demi beberapa lembar rupiah yang halal. Dengan cara apa pun asalkan halal. Setiap harinya berjuang demi menafkahi keluarga. Mereka bukan kepala atau Ibu rumah tangga, tapi

Burung Dari Kertas Origami

Oleh:
“Happy Britdhay Lissa..” Nyanyian Saudara dan keluargaku, memenuhi rumah ku dan sekitarnya. Hari ini adalah ulang tahun kesepuluh, Lissa. Lissa adalah namaku, lengkapnya, Lissa Margareth Carramely. “Lissa, selamat ulang

Salah (Part 4)

Oleh:
Sesampainya di rumah, aku menangis sejadi-jadinya. Aku tidak tau kenapa aku menangis, aku tidak tau apa masalahku. Sebenarnya aku tidak ingin menangis. Tapi aku bingung, mengapa hatiku sakit sekali.

Menggapai Mimpi Walau Tanpa Ayah

Oleh:
Di suatu hari ada rumah yang cukup besar yang berisi dua keluarga yaitu anak dan ibu, tidak ada sesosok ayah yang dapat menjadi kepala keluarga. Mereka berdua telah berpisah

Pertemuan yang Kuimpikan

Oleh:
Brakkk…! terdengar suara barang terjatuh dari kamar seorang gadis yang pagi ini tengah terburu-buru. Nenek dari gadis tersebut buru-buru menuju kamar, “Ada apa ini?” tanya Nenek. “Eh Nenek, maafkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *