Kehidupanku Setelah Adanya Virus Covid 19 (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Covid 19 (Corona), Cerpen Keluarga, Cerpen Ramadhan
Lolos moderasi pada: 13 August 2021

Seiring berjalannya waktu akhirnya hari kemenanganpun tiba. saat ini aku dan keluargaku bisa melaksanakan solat Idul Fitri seperti dulu bersama warga lainnya di lapangan basket yang tak jauh dari rumah. sehabis melaksanakan solat Idul Fitri di lapangan. Kamipun berlebaran ke rumah tetangga dan sodara terdekat. namun diperayaan kali ini ayah memutuskan untuk tidak mudik. meskipun virus Covid 19 mulai mereda. hingga kami melakukan Zoom untuk berlebaran dengan sodara yang ada di kota sebrang.

Seiring berjalannya waktu akhirnya pemerintah menghimbau agar kita semua dapat melakukan vaksinasi mengingat tentang bahayanya virus Covid 19, bahkan saking bahayanya disekitar rumahku sudah banyak yang terpapar, bahkan sampai meninggal dunia.

Seperti tahun lalu tetanggaku mas Agus terpapar virus Covid 19 sehabis menjenguk ibunya di kampung halamannya yang sudah lama terkena sturk akibat jatuh dari kamar mandi. untungnya kini mas Agus sudah sehat kembali dan sudah berkumpul dengan keluarganya, bahkan dua pekan setelah mas Agus dinyatakan positif Covid Pak Arman tukang bubur dekat rumahku dinyatakan positif Covid. hingga pada saat itu akses jalan untuk menuju kerumahku sempat ditutup, hingga pak Agus dinyatakan negatif. Hmmmsss sedih banget deh rasanya bila mengingat kejadian saat itu. dimana aku, keluargaku dan warga lain, harus benar-benar stay at home. bahkan aku sempat berpikir Tuhan itu jahat bahkan Tuhan sudah tidak menyayangi umatnya lagi dan pikiran negatif lainnya, hingga ada sebuah kejadian yang menyadarkanku saat adanya bencana ini, yaitu aku jadi lebih perhatian lagi sama keluargaku yang memang aku akui, aku anak yang nakal, terlalu cuek pada orang rumah dan sering pulang malam. mungkin ini memang rencana Tuhan agar aku bisa menyadari bertapa pentingnya sebuah keluarga.

Hingga pada sore hari aku melihat berita di televisi banyak korban yang meninggal dunia akibat wabah ini Astagfirullahalazim. hanya itu yang bisa kuucapkan. hingga ayah berkata mulai saat ini kita semua harus lebih mendekatkan diri pada yang Maha Kuasa dan jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan dan kebersihan serta mematuhi protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah.

Tak lama setelah itu aku mendapat kabar dari Nisya teman sekolahku saat smp kalau Pak Edward guru PLH yang pernah mengajarku dulu sekarang sedang menjalani isolasi mandiri di sebuah rumah sakit dan beliau meminta doa agar cepat diberikan kesembuhan dan terbebas dari virus Covid 19.

Setelah selesai bersih-bersih aku mempersiapkan diri untuk belajar online yang sebentar lagi diadakan. hari ini aku akan belajar bahasa Inggris dan akan dilanjutkan dengan mata pelajaran matematika, satu jam kemudian.
Sementara di ruangan lain kedua adikku sedang belajar bahasa indonesia didampingi ibu.
Semenjak adanya virus Covid 19 dan anjuran pemerintah untuk belajar, bekerja dan beribadah dari rumah. Ibu memang mendampingi adik kembarku untuk belajar, sementara ayah mengerjakan pekerjaan kantor di kamarnya.

Setelah kegiatan PJJ selesai dengan drama yang terjadi saat ibu menemani ibu menemani Zahra belajar. kami semua makan makan siang bersama, sambil menonton berita terbaru di televisi. dan yang paling mengejutkan ternyata saat ini korban yang terpapar virus Covid 19 saat ini berkisar 2659 jiwa yang semula hanya 1.500 jiwa dan korban meninggal di Jakarta 316 jiwa. sementara di Depok korban yang terpapar hanya 20.000 jiwa. karna memang kota tempat tinggalku saat ini memang dikenal kota yang rawan mudah terpapar karna banyaknya orangtua yang bekerja dan menitipkan anak mereka pada Art atau babysitter yang bisa saja mereka izin pulang kampung dan kembali tanpa mematuhi protokol kesehatan yang sudah dianjurkan.

Setelah kami usai mengerjakan tugas masing-masing. ayah mengajak aku dan adik-adiku mengisi kekosongan dengan bercocok tanam. dan aku akan mencoba menanam bibit cabai, bibit brokoli dan bibit kacang hijau. sementara Zanah dan Zahra diajarkan ayah untuk menanam bibit toge, bibit jeruk dan bibit yang sama denganku. sesuai bercocok tanam kami semua beristirahat.
Saat sore hari tiba dan kami sedang bercengkrama di ruang tamu tiba-tiba ayah mengajak aku dan adik-adiku untuk mengisi kekosongan dengan bercocok tanam.

Keesokan harinya sebelum pelaksanaan PJJ dimulai aku membantu ibu membersihkan rumah dan menyiapkan saran pagi. seusai sarapan aku dan adikku bersikap untuk melaksanakan PJJ. seperti biasa adikku didampingi ibu, sementara aku melaksanakan PJJ di kamar pribadiku. hari ini aku akan mengerjakan mata pelajaran bahasa sunda dan satu jam kemudian dilanjutkan dengan pendidikan agama islam. ya, selama PJJ berlangsung setiap hari aku mengerjakan dua mata pelajaran.

Alhamdulillah akhirnya pembelajaran hari ini dapat aku selesaikan dengan mudah, walau dari rumah dan tak ada teman yang bisa kuintip tugasnya, ha… ya, begitulah aku bila belajar di sekolah saat mata pelajaran agama, aku selalu mengintip tugas milik Devi teman dekatku. walaupun terkadang dia tak ingin memberikan tugasnya untuk kuintip, tapi aku selalu menggodanya hingga akhirnya dia luluh dan mengizinkan aku untuk mengintip tugasnya. ha.. lucu memang saat mengingat masa itu, masa yang kini harus terhenti karena adanya virus Covid 19. dan kini aku hanya berharap virus Covid 19 bisa segera pergi dan KBM di sekolah serta kegiatan perkantoran bisa normal kembali.

Ketika aku keluar kamar aku melihat Zanah yang sedang serius mengerjakan tugasnya.
Tak ingin mengganggu Zanah yang sedang mengerjakan tugas, kulangkahkan kakiku menuju sofa untuk melihat berita terupdate hari ini. saat aku memijit tombol on warna merah mataku langsung tertuju pada seorang wanita hamil yang ternyata terpapar virus Covid 19 dan saat ini sedang menjalani isolasi mandiri di sebuah rumah sakit, dan tanpa kusadari aku mengeluarkan cairan bening yang sedari tadi kutahan, aku tak menyangka ganasnya virus ini dapat menyerang wanita hamil.

Saat aku menyeka cairan bening yang sedari tadi sudah meluncur tiba-tiba ada tangan halus yang memegangi bahuku. tangan halus yang kutahu ini pasti tangan ibu. dan saat ku membalikkan badan terlibat raut wajah kawatir yang mengartikan sebuah pertanyaan ada apa, saat itu juga aku langsung memeluk ibu dan menumpahkan kesedihanku disana. saat aku merasa tenang akupun menceritakan apa yang kulihat tadi pada ibu. ibu pun membelai rambutku dan berkata semua akan baik-baik saja sayang, sudah jangan menangis lagi dong, nanti cantiknya ilang loh. akupun tersenyum mendengar yang ibu katakan.

Tiba-tiba saat aku sedang bercengkrama dengan ibu. ayah yang sedang mengerjakan tugas kantornya, keluar dari kamar dan mengabarkan jika seisi rumah nenek yang terdiri dari nenek, kakek, om, tante, dan 3 keponakanku terpapar virus Covid 19 dan saat ini sesedang menjalani isolasi mandiri yang untungnya tidak begitu parah, hingga hanya menjalani isolasi di rumah saja dengan pengawasan dari beberapa tim yang terdiri biasa menengani kasus ini dari rumah sakit, yang tak jauh dari rumah nenek. hingga kami mengadakan doa bersama untuk kesembuhan nenek sekeluarga.

Beberapa bulan kemudian
Hari ini bulan Ramadhan pertama dimasa adanya virus Covid 19. dan dibulan Ramadhan kali ini adalah cobaan terberat bagi kami. karma pemerintah mengimbau agar kita menjalani Ramadhan tahun ini, dengan tetap di rumah, tanpa adanya terawih di mesjid, tanpa adanya buka bersama bahkan tanpa adanya ngebuburit. hingga kami mengisi kegiatan Ramadhan ini dengan tedarus bersama seusai sahur yang dipimpin oleh ayah, bermain congklak dan kartu bersama adik serta membantu ibu memasak seusai belajar online. Bila rasa bosan datang kami menonton film bersama sambil memakan cemilan yang sudah dibeli melalui aplikasi online.

Tibalah hari pertama perayaan Idul Fitri dimasa adanya virus Covid 19. suasana tahun ini terasa menyedihkan tak ada yang menggumandangkan takbir bahkan tak ada petasan yang menggema. hingga kami semua yang bertakbir bergantian hingga pagi menjelang. saat pagi menjelang sesuai himbauan pemerintah kami melaksanakan solat Idul Fitri di rumah mengikuti imam yang sedang tayang di televisi. bahkan saat ini kami tak dapat berlebaran bersama tetangga maupun sodara terdekat.

Dua minggu kemudian
Saat kami sedang menonton televisi, kami melihat berita kalau saat ini KBM sudah bisa dilaksanakan, dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.
Alhamdulillah aku dan keluargaku senang mendengarnya, meski yang baru dibuka hanya persekolahan saja.

Alhamdulillah hari yang ditunggu tiba, dengan senandung riang aku menyiapkan segala keperluan sekolah tak lupa menyiapkan masker dan sabun pencuci tangan. saat kuberjalan aku bertemu dengan Gadis temanku hingga kami masuk bersama.

Suasana KBM hari pertama terasa begitu berbeda, penyampaian materi yang dipercepat, beberapa murid yang masuk sesuai kloter bahkan tak adanya kantin di sekolah. hanya doa yang bisa kupanjatkan saat ini semoga Covid 19 cepat berlalu.

Saat ada himbauan untuk vaksin banyak banyak warga yang mendaftar termasuk ayah dan ibu yang mendaftar melalui Rt setempat. sambil menunggu panggilan ayah dan ibu melakukan olahraga ringan setiap pagi. hingga dua minggu kemudian ayah dan ibu mendapat panggilan untuk melakukan vaksin di puskesmas yang tak jauh dari rumah. sebelum melakukan vaksin ayah dan ibu melakukan tensi darah lebih dulu, ayah 130/20 derajat sementara ibu 155/20 dan dinyatakan layak untuk divaksin. aku berharap semoga vaksin yang sedang terlaksana saat ini bisa membuat virus Covid 19 ini benar-benar pergi dan ngga ada lagi korban yang terpapar bahkan meninggal dunia akibat adanya virus Covid 19 ini.

Cerpen Karangan: Dinbel Pertiwi
Facebook: Dinbellap7165[-at-]facebooks.com

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 13 Agustus 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Kehidupanku Setelah Adanya Virus Covid 19 (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Pergi Ma, Pa

Oleh:
Semilir angin malam menembus jendela kamarku. Hingga tiba-tiba pintu kamarku terketuk pelan. “Hem pasti Tante Lia.” Gumam Ara. “Ra, ayo makan malem, semuanya udah pada kumpul di bawah.” ajak

Mutiara dan Sampah

Oleh:
Sampah dan mutiara, apakah perbedaan dari keduanya? Sungguh berbedakah? Bagaimana bila ada mutiara yang tanpa sengaja terjatuh pada tumpukan sampah apakah manusia akan melihatnya? Pasti mutiaranya terlihat, sungguh munafik

Momen Yang Tak Terlupakan

Oleh:
Tepat dua tahun lamanya sejak Covid-19 ini menampakan dirinya dan mulai mencari inang untuk berkembang. Aku masih ingat betul bagaimana suamiku kehilangan nyawanya karena virus mematikan ini. Memang virus

Titik Terang Dari Makan Siang

Oleh:
Sudah 67 hari Momo berstatus pengangguran. Selama itu pula teka-teki ke mana Momo akan berlabuh tetap jadi misteri. “Momo mau jadi apa kamu. Kerjaan gak jelas, mau sampai kapan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *