Kehilangan Yang Sama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 27 October 2013

Wanita berparas ayu itu duduk tak berdaya meratapi nasibnya kala jingga datang menjelma. Butiran air mata perlahan mengalir di permukaan pipinya seiring jingga yang mengucapkan salam jumpa dari sang surya. Dengan sapu tangan yang sejak tadi ia pegang, ia seka airmata luka yang semakin deras membanjiri permukaan pipinya.

Sangat lekat di ingatan saat terakhir ia berbincang-bincang bersama ayahnya. Kini, orang yang sangat ia sayangi itu telah menghadap Yang Kuasa dengan meninggalkan sejuta kenangan indah yang senantiasa seolah terlintas begitu saja di depannya.

Butiran air mata luka menghiasi setiap derap langkah ketika ia dan ibunya mengantarkan jasad mendiang ayahnya ke tempat peristirahatan terakhir. Pepohonan yang bergoyang seakan merasakan duka yang ia alami. Burung-burung yang bearkicau seakan mengucapkan kalimat tahlil yang akan mengiringi langkah ayahnya menuju alam barzah sana.

Penaburan bunga mengakhiri prosesi pemakaman pagi itu. Dengan tetesan air mata, ia beserta ibunya menaburkan bunga di atas kuburan yang masih harum semerbak itu. Tak lama berselang keduanya pun pulang melewati jalan pintas yang terjal dan berliku agar cepat sampai ke rumah.

Air mata luka masih menghiasi pipi ibunya ketika sampai di rumah. Sedangkan ia duduk di kursi teras rumah dengan air mata yang sudah tak nampak lagi menghiasi pipinya. Sejenak ia tundukkan kepala. Meratapi keadaannya saat itu. Sedangkan jari-jemari tangannya secara semu menengadah asa, berusaha menyampaikan setiap munajat pada Yang Kuasa.
Sinar mentari menyinari sebagian tubuhnya di saat ia sedang menengadah asa. Sinar mentari itu seakan memberi suatu kehangatan yang ia rasakan seperti kehangatan sentuhan seorang ayah pada anaknya. Ia buang pandangan muram ke cabang-cabang pohon di depan rumahnya, nampak dua ekor burung sedang berkasih-kasihan bagai seorang ayah dan anaknya. Di sebagian titik temu otaknya seakan berkata bahwa ia iri pada dua ekor burung yang baru ia lihat, sedangkan titik temu yang lain seakan marah karena merasa disindir dua ekor burung yang di lihatnya tadi.

Dua ekor burung itu pun pergi berganti linangan air mata kembali. Ingatan saat terakhir ia berbincang-bincang dengan ayahnya kembali merangsak masuk ke ruang-ruang kosong pikirannya. Ingatan itu sejenak membuat air mata sulit untuk diseka. Belum kering sapu tangan di genggamannya, kini sapu tangan itu kembali dihujani oleh air mata.
“Shof, kamu tau sendiri, kamu itu putri tunggal, jadi turutilah perintah ibumu dan jangan membangkang kepada ibumu ya nak…”
Itulah ucapan terakhir ayahnya sebelum pergi menghadap Yang Kuasa. Ucapan itu sangat membekas di ingatan wanita yang tak lain bernama Shofwa itu. Setiap kali ucapan ayahnya itu terngiang, tetasan air mata tidak bisa lagi dicegah untuk keluar dari pelupuk matanya.

Sore itu pecah oleh tangis sayu yang bersumber dari rumah Shofwa.
“Ibu… Bangun, Bu…” suara Shofwa itu hadir di sela-sela tangis sayunya. Tangisan memilukan yang pecah saat ibunya tak sadarkan diri karna penyakit jantung yang telah lama diidapnya. Ibunya sangat terpukul atas kepergian suaminya, hingga ia pun kini dibawa ke rumah sakit karna penyakit jantung yang ia derita.

Sapu tangan shofwa kini telah kembali dibanjiri air mata luka yang deras mengalir dari pelupuk matanya. Sapu tangan itu seakan tak pernah kering oleh air mata yang selalu membanjirinya. Air mata shofwa terus mengalir menemani jalan mobil yang membawa ibunya ke rumah sakit. Air mata yang diteteskannya seakan menandakan bahwa ia takut kehilangan orang yang sangat ia sayangi untuk kedua kalinya.

Jingga berhilirkan senja hadir di kelopak matanya, seakan memberi pesan perpisahan dari sang surya untuknya. Tapi tak lama kemudian jingga itu pun memerah bagai mengisyaratkan kematian dengan merahnya yang semakin merekah. Angin-angin senja yang menyapanya seakan membawa aroma yang kental dengan darah dan amarah membuatnya berada di bingkai pasrah di antara musibah.

Shofwa balikkan badannya menuju ruang di mana ibunya dirawat. Ia menunggu keluarnya dokter yang sejak tadi memeriksa ibunya. Bersama bibi dan para tetangga, ia menuggui dokter keluar dari tempat ibunya dirawat. Tak lama kemudian, dokter yang memeriksa keadaan ibunya keluar juga. Dengan nada cemas, Shofwa menanyakan keadaan ibunya pada dokter itu dan dokter itu menjawab bahwa keadaan ibunya saat itu masih baik-baik saja. Aura kegembiraan menyelimutinya karena mendengar ibunya baik-baik saja.

Pukul sembilan malam telah terlindas dari cakrawala jarum jam. Shofwa pulang dengan diantar oleh omnya karena terlalu lelah menungui ibunya yang tak siuman juga. Jalannya yang tergontai-gontai menunjukkan bahwa tubuhnya memikul kelelahan yang sangat. Ia lelah karena sejak ayahnya masuk rumah sakit itu kemarin malam, ia belum memejamkan matanya semenit pun.

Shofwa tertunduk lesu di atas sofa miliknya. Perlahan ia hempaskan tubuh lemahnya ke sofa yang telah didudukinya. Ia pejamkan mata yang bersisihkan luka dan sesaat kemudian ia terbawa arus mimpi yang menyeretnya berada di antara ada dan tiadanya.

Kebisingan seperti adzan subuh sampai di telinganya. Setelah ia teliti suara itu bukan suara adzan, akan tetapi suara orang tahlilan yang menggema dari luar kamarnya. Dengan kebingungan yang menimpa pikirannya, ia melangkah keluar kamar. Nampak di matanya para tetangganya sedang mengadakan tahlilan, mengetahui Shofwa sudah bangun dari tidurnya, bibinya pun melangkah, hendak menujunya.
“Ada apa ini, Bi? kok tahlilan ayah digelar sekarang?” tanya Shofwa penasaran.
“Ini bukan tahlilan ayahmu, tapi tahlilan ibumu,” jawab bibi Shofwa terbata.
“Tadi malam setelah kamu pulang dari rumah sakit tiba-tiba saja ibumu koma dan…” ucapan bibinya terputus karna tangis yang tak bisa ia bendung lagi.
“Dan apa, Bi?” Tanya Shofwa khawatir.
“Dan ibumu meninggal, Shof…” ucap bibinya lalu menyeka air mata dengan baju yang dikenakannya.
Shofwa tercengang mendengar ucapan bibinya itu. Ada desahan nafas berbau darah hinggap di tubuhnya, seperti ada sesuatu yang sejenak menghentikan detak jantungnya.
“Sudah dikuburkan?” ia bertanya dengan suara yang tak nyaring lagi didengar.
“Sudah, bersebelahan dengan makam ayahmu..” jawab bibinya dengan air mata yang semakin deras saja mengalir.

Dengan sekuat tenaga Shofwa berlari mengambil jalan pintas yang berliku dan terjal untuk cepat sampai di makam kedua orangtuanya. Ia tak mempedulikan sakit yang dirasakannya karena berjalan tanpa memakai alas kaki melewati jalan setapak yang berliku dan terjal dengan bebatuan yang hadir di setiap pijakannya. Yang hanya ia pikirkan bagaimana caranya agar cepat sampai ke makam kedua orangtuanya.

Langkahnya terhenti saat dua makam yang masih harum semerbak bunga berada selangkah di hadapanya. Di matanya yang sedari tadi dihiasi airmata, nampak dua kuburan yang masih segar dengan bunga-bunga. Di batu nisan kedua kuburan itu tertera nama ayah dan ibunya. Dengan air mata yang membanjiri pipinya, ia berlutut tak berdaya di antara makam kedua orangtuanya. Ia merenungi nasibnya sebagai anak tunggal yang di tinggal pergi oleh kedua orangtua. Di pikirannya, seakan tak ada lagi hari esok untuknya. Dalam benaknya berkata ia ingin membuat liang lahat untuk dimasukinya ketika waktu Tuhan telah menunjuk ke arahnya.

Raudlah-Najiyah, februari 2007

*) penulis lepas asal Sumenep Madura, Mahasiswa INSTIK Annuqayah, serta penggiat di Komunitas Cinta Nulis PP. Annuqayah Lubangsa Selatan.

Cerpen Karangan: Fairuz Zakyal ‘Ibad
Facebook: Fairuz Zakyal Ibad

Fairuz Zakyal ‘Ibad, merupakan nama pena dari Ach. Fairuzzabadi.Seorang pengagum cahaya, rembulan, dan kesunyian.Lahir di sebuah desa kecil yang dikelilingi aliran sungai, Lengkong Bragung Guluk-Guluk Sumenep Madura.Mulai menulis sejak mengenyam bangku Madrasah Tsanawiyah di Raudlah Najiyah, Lengkong, dan tetap aktif menulis hingga kini. Lebih senang menikmati oretan pena sendiri di antara kesunyian dari pada mengirimkan ke berbagai media massa. Tengah bermukin di Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Selatan dan penggiat di Komunitas Cinta Nulis (KCN) sekaligus “pengasuh” Komunitas Sastra Embun Pagi Raudlah Najiyah putri. kini tengah merampungkan buku kedua dengan judul, Tentang Kita, setelah buku pertama terbit dengan judul, Kesetiaan Purnama(2012)

bisa dihubungi di:
email: genangan.cahaya[-at-]gmail.com
fb: Fairuz Zakyal Ibad
hp: 081939455238

Cerpen Kehilangan Yang Sama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penyesalan Tak Pernah Datang di Awal

Oleh:
“Mila! Jangan pernah masuk ke kamarku dan mencoret-coret tugasku lagi!” teriakku dari ambang pintu saat kulihat adikku, Mila mencoret-coret tugas kliping yang susah payah ku kerjakan semalam, ku lihat

Senja Untuk Ayah

Oleh:
Aku Dita, usia ku 12 tahun, aku lupa kejadian terakhir yang menyebabkan saat ini aku harus dirawat di Rumah Sakit, ayah ku bilang aku kemarin pingsan dan sempat mimisan

Dua Kata Untuk Ibu, Terimakasih Dan Maaf

Oleh:
“Kangkung lagi kangkung lagi!!! Bosen tau nggak sih?!!” Teriak hana. “maafkan ibu nak, ibu tak punya uang. Besok kalau ibu punya uang, ibu belikan makanan yang lebih enak. Yang

Terima Kasih, Ibu

Oleh:
Ibu, setiap pagi dengan senyum mengembang kau menuntun sepeda tuamu menawarkan pisang ke rumah-rumah penduduk. Keringat letih membasahi tubuhmu tetapi tidak terkalahkan oleh semangatmu untuk mencari nafkah. Dengan menuntun

Lampu Ajaib

Oleh:
Suatu hari ada sebuah Keluarga bahagia, dan memiliki satu orang anak yang bernama Gendis. Gendis remaja pun sangat cantik namun karena suatu kecelakaan, Gendis harus merelakan kakinya di amputasi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *