Keinginan dan Permintaan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 14 May 2013

“Kak… Aku ingin main bola!” rengek Rino, adikku. Aku menatapnya pilu, dulu ia sangat senang bermain bola. Sekarang, ia hanya dapat duduk di kursi rodanya. Kakinya lumpuh, dan ia harus meninggalkan hobi lamanya, bermain bola.
“Hmmm… Rino… kita main bola lempar saja ya?” jawabku.
“Tidak mau! Aku hanya ingin main sepak bola!” tolak Rino. Ia terus saja merengek untuk bisa bermain bola.
“Tapi, Rino… kamu harus tahu keadaanmu!” ujarku yang mulai tidak sabar meladeni Rino.
“Keadaan apa Kak? Kaki Rino lumpuh? Dan Rino tidak bisa bermain bola lagi? Iya… Rino memang tidak bisa! Aku benci diriku!” teriak Rino. Ia segera pergi menuju kamarnya. Aku, sebagai Kakak merasa gagal. Rino… Kakak minta maaf, batinku. Aku hanya bisa menangis dan menyesali sikapku. Bukankah selama ini Rino memang sering merengek kepadaku? Tetapi, kenapa sekarang Aku tidak bisa sabar?

Aku pun memutuskan untuk menyusul Rino dikamarnya.
“Rino… Kakak masuk, ya?” tanyaku pelan seraya mengintip ke dalam. Ku lihat, Rino hanya mengangguk. Aku duduk di samping kursi rodanya.
“Kak… maafkan Rino ya? Rino terlalu egois! Seharusnya Rino tahu… kalau Rino sudah tidak bisa bermain bola lagi, maaf ya, Kak?” tanya Rino.
“Tidak Rino… justru Kakak yang harus minta maaf. Maaf tadi Kakak kasar sama kamu, maaf ya?” susulku. Rino mengangguk, Aku pun tersenyum padanya. Ku lihat, dirinya tidak lagi seperti yang dulu. Kali ini ia lebih kuat.
Seminggu kemudian, Aku dan Rino bermain bola lempar di halaman belakang. Kali ini, ia terlihat lebih semangat lagi.
“Hmmm… Rino, kamu pasti bosan ya, bermain bola lempar terus?” tanyaku saat kami berdua beristirahat.
“Tidak, kok, Kak!” jawab Rino. Aku tahu, pasti jawaban itu bohong, namun Aku hanya tersenyum.
“Rino punya keinginan?” tanyaku lagi.
“Ada…” jawab Rino.
“Apa?” tanyaku makin penasaran. Rino diam sejenak, lalu mulai menjawab pertanyaanku. Tangannya memegang tanganku yang ukurannya sedikit lebih besar darinya.
“Aku… punya keinginan untuk… main bola!” ujar Rino.
“Ta…” ucapanku terpotong olehnya.
“Sssst… Aku belum selesai bicara,” ucap Rino, kali ini telunjuknya ada di depan bibirku.
“Aku ingin main bola… dan itu hanya suatu keinginan. Keinginan yang tak harus dituruti. Tapi… Aku punya permintaan!” ujar Rino. Mataku mulai berkaca-kaca. Diri Rino yang tiga tahun lebih muda dariku, sudah dapat berpikiran dewasa. Mengapa Aku tidak?
“Apa?” tanyaku dengan suara lirih.
“Aku… hanya ingin dapat bermain dengan Kakak, hanya ingin bersama Kakak, dan tak ingin sendiri…” jelas Rino, senyuman kini terlihat di wajahnya.
“Baik Rino… Kakak, akan mencoba menuruti permintaanmu…” ujarku yang langsung memeluk Rino. Sekarang Aku tahu, keinginan bukanlah sesuatu yang wajib untuk dituruti. Tapi permintaan, permintaan yang sangat berharga, mungkin patut untuk kita coba turuti.
Mulai saat ini, Aku berjanji pada diriku sendiri. Aku berjanji untuk menjaga Rino, menemani Rino, mengajaknya bermain, dan melakukan semuanya bersama-sama dengannya. Rino… Kakak sayang kamu…

Cerpen Karangan: Fadillah Amalia

Cerpen Keinginan dan Permintaan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kyu, I’m Really Scared

Oleh:
Ketika sebuah pohon busuk dari akarnya, mengumpulkan beberapa daun tidak akan mampu mendatangkan buah segar yang kita inginkan. Kau harus menanamnya kembali, berusaha lagi, dan menunggu lagi. Lagi dan

Nasihat Ayah

Oleh:
Aku adalah siswi kelas XI di SMPN 121 JAKARTA UTARA. Aku mempunyai cita-cita yang tinggi. Aku bercita-cita ingin menjadi seorang guru bahasa indonesia, karena aku sangat menyukai pelajaran di

Lukisan di Hati

Oleh:
Aku ingin melukiskan dirimu, terutama senyuman manismu, layaknya leonardo da vinci yang telah berhasil melukiskan monalisa hingga sekarang dengan senyuman misteriusnya… Angin berdesir gemuruh ombak membahana, kicauan burung memperindah

Ujian Untuk Andin

Oleh:
Malam semakin mencekam,,angin bertiup menampar alam, hingga menusuk tulang rusuk yang semakin hari semakin rapuh dengan tangan yang lebam. Ku lihat taburan bintang yang indah di atas langit sana,

Pengulangan

Oleh:
Hujan rintik rintik turun beberapa saat setelah Jenazah Kakakku dimasukkan ke dalam ruang peristirahatannya yang terakhir. Isak tangis yang masih terlihat di beberapa sanak saudaraku termasuk orangtuaku belum terhenti.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *