Keinginan Terakhir Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 3 September 2016

Ali, itulah nama dari seorang anak yang dilahirkan dari keluarga yang kurang mampu di Kampung Mekarsari, Sleman, Yogyakarta. Sebuah perkampungan kecil di antara perkebunan salak. Ia adalah anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya Dea kelas 4 SD, ayahnya bekerja sebagai penjual salak dan ibunya tidak bekerja. Karena keadaan ekonomi yang kekuranagan Ali harus membantu ayahnya berjualan salak dan harus menamatkan sekolahnya di kelas 6 SD. Terkadang ia iri ketika melihat teman sebayanya memakai seragam sekolah dan bersekolah bersama. Tetapi apa boleh buat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja harus mencari uang kesana-kemari apalagi menyekolahkannya lagi. Meskipun begitu ia menjalaninya dengan sabar dan ikhlas.

Pagi ini seperti biasa ia membantu ayahnya berjualan salak. Hari ini sedikit berbeda karena mereka dapat sarapan meskipun hanya sebuah ubi. Bahkan terkadang ia sering berpuasa karena tidak mempunyai uang untuk membeli makanan. Meskipun begitu sosok ibu yang selalu memberikan semangat untuk kuat dalam menjalani kehidupan dengan segala keterbatasan ini membuat Ali semakin bersungguh sungguh dalam bekerja.

Ketika di perjalanan menuju pasar, dada ayah Ali merasa sesak. Ali segera mencari bantuan dan membawanya ke puskesmas terdekat. Ayah Ali disarankan untuk berobat di rumah sakit, akan tetapi ia menolaknya karena harus mengeluarkan uang sedangkan untuk makan saja susah. Tidak mau lama-lama mereka berdua meninggalkan puskesmas. Selama di perjalanan pulang Ali terus memikirkan keadaan ayahnya. Ali takut jika ayahnya tidak berobat di rumah sakit hal-hal yang tidak diinginkan akan terjadi.

Ketika Ali dan ayahnya sampai di rumah, tiba-tiba Dea memberikan surat kepada ayahnya yang berisi tentang tagihan untuk segera membayar biaya sekolah. Alangkah sedihnya Ali mendengar hal itu, ia pun tidak berani mengatakan kepada ibunya tentang peristiwa yang terjadi tadi siang. Ali tidak bisa tidur karena ia bingung memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan uang dalam waktu cepat.

Keesokan harinya Ali pergi mencari pekerjaan, iapun mendapat pekerjaan meskipun hanya memindahkan karung beras. Memang gajinya tidak seberapa, tetapi cukup untuk membeli makanan untuk hari ini. Tak terasa waktu begitu cepat, Ali meminta izin kepada pemilik toko untuk pulang dan meminta butiran butiran beras yang masih tersisa di truk. Ia segera mengumpulkannya dan membawanya pulang. Sesampainya di rumah, beras yang dibawa Ali pun dimasak oleh ibu dengan lezatnya. Mereka semua bersyukur karena bisa memakan nasi meskipun dengan lauk seadanya, karena bagi mereka nasi merupakan makanan yang sangat mewah.

Hari ini hari kedua Ali bekerja di tempat beras, akan tetapi disaat ia sedang menurunkan beras dari truk ke toko tiba-tiba seorang pekerja lain sengaja menyenggol tubuh Ali. Sontak Ali terjatuh dan beraspun berceceran, karena hal ini ia dipecat olah pemilik toko karena dianggap lalai dalam bekerja. Ali pun pulang dengan keadaan tangan kosong. Di tengah perjalanan ia hampiri oleh temannya yang bernama Sandi. Sandi menawarkan pekerjaan di Jakarta, tanpa berpikir panjang Alipun menerima tawaran tersebut. Ia segera memberitahukan hal ini kepada ayah dan ibunya, merekapun menyetujuinya.

Keesokan harinya Ali berangkat bersama Sandi ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta mereka berdua tinggal di rumah peninggalan kakek Sandi. Mereka mulai bekerja sebagai kuli bangunan. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan mereka lalui, Ali berfikir untuk mengirim uang untuk keluarganya di kampung. Tiba-tiba ia mendapatkan kabar bahwa ayahnya sudah tiada, ia langsung menuju ke kampung halamannya. Sesampainya disana, ibunya memeluknya dan menceritakan semua hal sebelum kepergiannya. Satu hal yang ayah inginkan adalah membeli tanah perkebunan salak, karena selama ini dari buah salaklah ayah dapat memenuhi kebutuhan keluarga. Ali berjanji kepada ibunya bahwa ia akan membeli tanah tersebut.

Setelah beberapa hari, Ali kembali ke Jakarta dan ia ingin bisa memenuhi permintaan ayahnya itu. Ia bekerja apa saja asalkan halal. Hari demi ia lewati dengan penuh perjuangan, keringat yang sering menetes dari kulitnya, dan kakinya yang berwarna hitam sebagai bukti perjuangannya dalam bekerja semua kisah yang pernah ia lewati akan selalu digoreskan melalui tinta pada secarik kertas. Ia sangat mencintai keluarganya, ayahnya, ibunya, adiknya.

Setelah ia merasa bahwa uangnya sudah cukup untuk membeli tanah, ia segera pulang menuju kampungnya. Ia pun segera membeli tanah tersebut, ia meminta restu kepada ibunya untuk membuat sebuah usaha produk makanan dari buah salak. Ibunya pun merestui tindakan tersebut. Usaha tersebut terus mengalami kenaikan hingga Ali berpikir bahwa ia akan mendirikan sebuah usaha di kota-kota besar. Lima tahun sudah berlalu begitu cepatnya Ali yang dahulu hanya seorang pedagang salak kini menjadi pengusaha besar di kota, bahkan produk makanannya sudah sampai dijual ke luar negeri. Ali menyadari bahwa anak kampung yang memiliki keterbatasan ekonomi, namun jika ia selalu berusaha, berusaha, dan berusaha pasti akan berhasil.

Amanat:
Kita harus menjalani problema kehidupan dengan ikhlas, sebab disitulah mental kita diuji.
Dengan usaha dan kerja keras maka apa yang kita cita-citakan dapat menjadi suatu kenyataan.

Cerpen Karangan: Fiorentina Miftha Rahadevi
Facebook: Fiorentina Miftha R

Cerpen Keinginan Terakhir Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah Dua Bersaudari

Oleh:
Di malam yang pekat, Amanda duduk termenung di kasur kamarnya, memegang sebuah benda yang dianggapnya paling berharga. Bukan sekedar benda, tetapi benda yang penuh dengan arti kenangan. Dipeluknya benda

Seekor Makhluk Sebuah Desa

Oleh:
Pada suatu hari Law (karakter utama) mendapat kabar dari kepala desa Viva tentang seekor makhluk misterius yang menghuni danau di desa tersebut, makhluk tersebut selalu memakan korban setiap malamnya,

Janji Ku Sebagai Penulis

Oleh:
Memandang langit begitu gelap. Semilir angin yang menebar pesona bahwa alam ini masih mampu menyejukkan. Rintik hujan yang turun dengan gembiranya. Mengingatkan aku pada masa kecil yang begitu manis.

You Are Inspiration in My Life

Oleh:
“Fyuuh… hari yang melelahkan” Keluhku melepas penat setelah bersekolah, bimbel dan les Bahasa Inggris dalam waktu sehari. Tiba-tiba terdengar suara mobil memasuki garasi rumah, kuintip melalui jendela rumah dan

Hati Seorang Ayah

Oleh:
Tengah tersandar dari lelah yang menguras semua tenaganya, juga tetesan peluh rela ia buang, bersama hari-hari yang dipenuhi sandaran doa di setiap langkahnya.. Begitulah ratapan hidup seorang lelaki tua

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *