Kejutan Air Mata

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 16 August 2016

Si jantan berkokok saat fajar terbit dari ufuk timur. Kini saatnya memetik buah kesenanagan setelah kian lamanya menanam dan menunggu di penjara suci. Usianya kini 13 tahun, rasanya seperti terlahir kembali akan rindu udara segar di pagi ini dan kedua mata yang bosan untuk berkedip walau sekejap. Sembari kicauan merdu burung yang elok terdengar di gendang telinga, mungkin, sebab semalam tadi hujan yang sangat deras dan tiupan angin lumayan kecang, membuat ranting ranting dan dedaunan pohon berhamburan di tengah jalan. Suara tumpuan kaki beralas sandal jepit sederhana bernada ‘DO RE MI’ dari becekan sisa air hujan di setiap langkah ia tempuh mengiringi perjalanannya.

Tibalah tujuannya setelah badan mandi air laut karena perjalanan cukup jauh yang membuatnya lelah dari stasiun, yaitu sebuah susunan batu bata berlapis cat putih beratap genting yang hanya dihiasi ventilasi dan pintu. Di sinilah tempat pertama kali hela nafas yang dihembusnya, sampai ia dititipkan oleh ibunya di penjara suci, kota santri.

Jari jemari di tangannya sudah geli tak sabar ingin memeluk mereka “tok tok tok, Assalamualaikum, ini fatih.” Ketukan pintu berulang berkali kali hingga ia lalai jari jemari tangannya merasakan sakit. “Pasti ini akan berhasil, tok tok tok, Assalamualaikum” dengan suara keras ia lontarkan. Fatih pun kesal dan ia berkeputusan membuka pintu “ngek…” suara dorongan pintu memecahkan keheningan suasana di sana. “hmm… aroma wangi apa ini, harumnya seperti kasturi.” batinnya agak sedikit terkejut, setelah ia membuka pintu. Sambil memejamkan mata ia penasaran harum bunga kasturi itu, membuat pintu hatinya bergetar dan kakinya berjalan otomatis terkendali oleh indra penciumnya. Satu persatu kakinya melangkah menuju. Bau semakin menyengat saja, rasa penasaran semakin besar, selaput indah terurai dengan rambut mata yang tebal dan lentik menutupi matanya. Sedikit demi sedikit matanya pun terbuka. Pandangannya langsung tertuju pada sosok wanita bergaun malaikat dengan rambut hitam panjang terurai rapi seperti disisir ribuan kali. Wanita itu berbaring nyenyak di atas kayu yang berdiri kokoh di tumpuk dengan kasur empuk menemaninya, seolah wanita itu bermimpi indah semalaman tadi dengan lesung wajah di pipinya. Wanita itu tidak pasti lagi adalah buah jambu yang terbelah dua bagian, yang tak lain lagi adalah ibunya, Fatih. “Mungkin ibuku sedang bermimpi indah sambil perawatan, sampai sampai tak membukakan pintu, he he” sahutnya dalam batin sambil tertawa kecil dengan raut wajah tersenyum karena melihat ibunya sewangi ini.

Tiba tiba tak lama Fatih melihat ibunya, ada yang menyambarnya dari depan. Pria tua berkemeja hitam bertubuh tinggi, kurus, dagu berjanggut putih tebal dan seluruh kepalanya tertutup uban, tak ada sedikit pun rambut hitam yang dimilikinya. Si pria tua itu memeluknya sangat erat. Dengan rasa sedikit terkejut karena datang yang tiba tiba membuat jantung berdebar debar “(Sepertinya aku kenal) Kakek” sambil melepas pelukannya dan menggenggam kedua tangan si pria tua itu “Kakek kapan kemari, aku sangat senang, Kakek berada di sini menyambutku. Hmm… kakek ini membuatku terkejut saja.” senyum lebar terpampang di wajah fatih, sedangkan si pria tua itu merundukkan kepalanya. Dia hanya menunjukkan rambut putihnya dan desakan dada karena helasan nafas yang tak karuan. Fatih yang merasa bingung melontarkan penasarannya “Kakek, kakek kenapa, apakah kakek sedang…” “I i i ibumu, ibumu sudah dipanggil tuhan fatih…” Langsung si pria itu menunjukkan wajah sedihnya dan air mata yang mengguyur pipi keriputnya dengan bicara terbata bata karena tak kuat menahan rasa sedih, sebelum laki laki berusia 13 tahun itu menyelesaikan ucapannya. “Apa ini, kakek berbohong” Fatih yang langsung melepaskan genggaman tangannya pada si pria tua itu karena tak percaya atas kematian ibunya.

Yang kini mencari tujuan udara segar, udara segar itu menyelimuti asap tebal. Fatih terbaring jatuh meneteskan air mata, Pikiran yang kacau dan was was dengan semua yang terjadi “jadi aroma harum ini menyan ibuku, lalu gaun malaikat yang ia kenakan adalah busana kematian, lalu tidur yang nyenyak ini, dia tak bernafas lagi.” Dengan rasa terkejut dan kecewa karena ia ingin merasakan kesenangan di rumah bersama ibunya. Keheningan suasana disana terpecah oleh tangisan Fatih dan kakeknya. Dan semalaman adalah alam yang menangisi kematian ibunya.

Cerpen Karangan: Mazaya Qudsya Putri
Facebook: Mazaya Qudsya Putri
MAZAYA QUDSYA PUTRI, lahir tgl 15 juli 2003 di banyuwangi, asal banyuwangi, sekolah SMPN 3 PETERONGAN, PONPES DARUL ULUM JOMBANG, hobi menulis cerita dan membaca buku, asrama bilqis

Cerpen Kejutan Air Mata merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hari Istimewa Bunda

Oleh:
Pagi itu, aku terbangun dari tidurku. Aku melirik jam dindingku. Ternyata, waktu telah menunjukkan pukul 05.00. Aku bergegas menuju kamar mandi untuk berwudhu, dilanjutkan dengan menunaikan ibadah Sholat Shubuh.

Kado Terakhir Dari Ibu

Oleh:
Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah. Ya itulah yang dialami bu Ratmi. Nadia, tak pernah menyukai ibunya. Ia selalu uring-uringan. Ia ingin seperti teman-temannya yang pulang pergi

Harapan Seorang Ibu

Oleh:
Duduk manis di beranda rumah, kegiatan yang selalu dilakukan saat libur sekolah, menikmati udara pagi yang sejuk di rumah reot peninggalan almarhum ayahku. Aku remaja miskin 16 tahun yang

Hadiah Itu, Kenangan Kita Teman…

Oleh:
Dulu aku tinggal di sebuah kota, dimana saat itu aku dipertemukan dengan seorang anak kecil seumuran ku bernama fadil dan rumah nya bersebelahan dengan ku . Disitulah dimana awal

Hari Terakhir

Oleh:
Pagi itu aku berangkat sekolah dengan gembira, sampai di sekolah entah mengapa saat aku melihat sahabatku hatiku merasa kesal, tiba tiba reza musuh bebuyutanku itu menghampiriku sambil berkata “mereka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *