Kekurangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 31 May 2016

“Mikaaaa!! Main yuk!” Teriakan beberapa gadis berumur lima belas tahun terdengar sampai ke ruang duduk rumah megah tersebut. Aku menoleh pada Mika yang langsung bangkit. Tetapi mengernyit ketika menemukan dia malah menoleh dan menatapku. “Ikut yuk, Kay, kamu gak bosen apa di rumah terus?” tanyanya sambil melirik pergelangan tanganku.
Aku berusaha tersenyum dan ikut bangkit. Lalu berjalan menuju Mika dan memeluknya.

“Gak apa-apa, aku baik-baik aja kok, sana main, si Disha sama siapa tuh, udah manggil.” ujarku sambil menatapnya teduh. Tatapan kasih sayang seorang kakak. Sejenak, Mika terdiam. Lalu menghela napas dan menggenggam tanganku. Tangannya mengusap infus yang terpasang di pergelangan tanganku.
“Oke, Kayla baca novel-novel aku aja ya, biar gak bosen.” Lalu Mika berlalu dari hadapanku.
Aku menatap punggung Mika yang menghilang di balik pintu utama. Mengangkat tangan, aku menatap selang infusku. Kapan ini semua akan berakhir?

“Papa bangga sama kamu Mika. Teruskan prestasi kamu ya.”

Mikayla. Makayla. Kembar tetapi tidak identik. Aku, Makayla, selalu menjadi bayangan Mikayla. Tetapi tidak masalah, toh, aku cukup senang melihat adikku sendiri bahagia.
“Kamu gimana Kay, masih sakit gak abis dikemo tadi?” Mama menoleh padaku dan tersenyum. Tetapi aku tahu kalau itu senyuman terpaksa. Karena selama ini, aku hanya menyusahkan mereka saja. Tidak seperti Mika yang setiap hari membawa pulang hasil ulangan di atas 90, aku hanya membawa rasa sedih pada mereka.

“Gak sakit sama sekali kok, Ma, Pa, Kayla udah baik-baik aja.” Papa hanya terdiam dan melanjutkan obrolannya dengan Mika.

Tidak masalah, selalu itu yang ku katakan. Padahal, hatiku selalu nyeri saat mereka hampir tidak pernah memujiku. Padahal, aku sudah berusaha keras untuk menyamakan Mika yang sempurna, tetapi ku rasa itu tidak akan pernah terjadi. Karena aku punya penyakit ini. Penyakit yang menghambat segalanya dalam hidupku. Dan mirisnya, aku juga masih tidak bisa mendapat perhatian orangtuaku walaupun penyakit ini kian menggerogoti sel otakku.

Mikayla Adriana. Cantik, pintar, baik hati dan penurut. Orangtua mana yang tidak bangga dengan anak seperti Mika? Sedangkan kembarannya yaitu aku, hampir tidak pernah sekalipun mereka banggakan. Seperti saat ini. “Mika, nanti malam kita ke pesta Om Ken ya,” kepala Mama menyembul dari balik pintu kamar Mika.

Aku yang asyik membaca novel mengangkat kepala dan mendapati Mika mengacungkan jempolnya. Sekali lagi aku menunggu. Tetapi Mama langsung menutup pintu, bertingkah seolah tidak ada anaknya yang satu lagi di dalam kamar. Mika menoleh dan tersenyum lebar. “Kak! Bantuin aku milih gaun ya!” Sekali lagi, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, asal adikku bahagia, aku mempunyai obat untuk menyembuhkan nyeri yang kian lama kian menusuk itu.
“Iya, kayaknya kakak punya gaun yang ukurannya pas sama kamu, sebentar ya,” Mika tersenyum lebar dan berjingkrak kesenangan. Demi melihat senyuman itu, aku mematikan hatiku. Mematikan semua nyeri itu.

Satu hari lagi berada di ruangan putih menyesakkan ini. Sudah bisa ditebak bukan? Rumah sakit. Berbagai selang terpasang langsung ke tubuhku, membuatku bertanya-tanya. Kapan ini semua berakhir?

Krek.

“Pagi, Kayla, eh lagi gak ada Mika ya?”

Aku menoleh pada pintu dan menemukan seorang lelaki dengan hoodie dan setangkai bunga mawar putih memasuki kamar rawatku. Tersenyum senang, aku mempersilahkannya masuk. “Cam! Akhirnya kamu dateng juga.” ujarku senang. Cameron, biasa ku singkat Cam, melangkah mendekati kasurku. Aku dapat merasakan detakan jantungku terasa semakin cepat saat langkah Cam semakin dekat denganku. Cam berhenti di pinggir ranjangku dan menaruh bunga yang biasa ia bawa setiap seminggu sekali di vas yang ada di atas nakas.

“Hehe, seneng banget kayaknya, eh bentar, tumben kamu pake beanie?” Aku langsung terdiam dan meringsut saat Cam berusaha menyentuh kupluk itu.
“A-aku …” Aku menunduk. Tak mampu memandang Cam. Perlahan, tanganku menyentuh kupluk dan memperlihatkan rambutku yang sangat tipis, hampir botak. Efek kemoterapi. Aku tak sanggup mengangkat kepala dan melihat tatapan kecewa atau bahkan mencemooh dari Cam. Tetapi reaksinya sangat tidak terduga.

“Maaf, Kay, aku gak tahu, kalau kamu gak nyaman aku lihat gitu, pake aja lagi kupluknya.” Aku menggeleng kuat-kuat.
Tanpa sadar, air mata menggenang di pelupuk mataku, langsung luruh saat tangan Cam menangkup pipiku.
“Jangan nangis dong, Makayla kan kuat, udah sampe sini, masa nangis?” Cam tersenyum teduh. Membuatku seketika lupa daratan dan terbang setinggi langit. Membuatku seketika lupa tentang kesedihanku. Dia Cameron, sahabat masa kecilku dan Mikayla. Dia orang yang paling ku sayangi setelah Mika. Dan aku bertekad tidak akan mengecewakannya.

“Papa sama Mama mana Mik?” tanyaku saat mendapati Mika mengunjungiku sendirian.
Mika terlihat gelagapan selama beberapa saat. “M-mereka gak bisa dateng Kak, maafin Mika–”
“Mika, aku gak pernah ngajarin kamu buat bohong, bilang yang sebenarnya.” Aku menghela napas. Berusaha mengendalikan pikiran negatif yang menyerang.
Mika menunduk semakin dalam dan berujar pelan. “Maaf Kak, Mama sama Papa …. ada urusan sama pekerjaan mereka jadi ….” Aku menepuk puncak kepala Mika. Dan dia mendongak. “Iya, gak apa-apa Mik, aku ngerti kok, toh mereka kerja kan buat kita juga?”

Aku berusaha menampilkan senyum terbaikku pada adikku. Mika mengangguk pelan dan akhirnya mau tersenyum. Padahal aku jelas tahu kalau mereka hanya tidak mau menjengukku. Menjengukku yang tidak punya harapan untuk hidup ini.
“Oh iya Kak! Aku bawa novel baru! Keren loh!” Mika berujar antusias sambil mengobrak-abrik isi tas cokelatnya.
“Oh ya? Mana-mana?” ujarku tak kalah antusias. Selalu, aku akan selalu bersikap tegar di depan Mika, karena aku tahu, dia tidak boleh menjadi selemah diriku. Tidak boleh.

Suasana rooftop Rumah Sakit selalu bisa membuatku lega. Seolah semua beban-bebanku terbang ikut terbawa angin yang berhembus sayu. Aku perlahan mendekati bibir rooftop dan menatap langit malam. Menikmati keindahan malam yang mungkin beberapa hari lagi atau bahkan beberapa jam lagi tidak bisa ku nikmati. Tanpa sadar, kakiku bergerak melangkah semakin mendekati pinggir rooftop. Dan insiden itu terjadi. Pinggir rooftop sangatlah licin dan aku langsung terpeleset jatuh. Hampir jatuh, karena ternyata, ada seseorang yang menggenggam tanganku. Minimnya cahaya lampu membuatku tidak mengetahui siapa orang itu tapi dari suaranya, aku langsung bersyukur.

“Astaga Kayla! Apa yang kamu pikirin?! Kamu gila ya?!” Cameron. Berusaha keras menarikku. Aku terperangah dan tanpa sadar seulas senyuman terbit. Selalu, selalu dia yang menolongku. Saat berhasil menarikku, aku otomatis langsung menubruknya, jadilah posisiku menindihnya. Iris cokelat Cam sempat membuatku terdiam, tetapi aku langsung sadar. “M-maaf Cam! Aku gak sengaja!” Tetapi Cam malah menarikku dan aku jatuh menubruknya lagi. Cam merengkuhku dan aku bisa merasakan kalau wajahku memanas.
“Jangan pernah ceroboh lagi, Kayla, dasar bodoh.” Aku menangis dalam diam. Karena aku tahu, waktuku tidak lama lagi.

Untuk Papa dan Mama. Hai Pa, hai Ma, aku sayang kalian. Maafin aku, kalau kalian udah baca surat ini, berarti aku udah gak bisa ngerepotin dan ngecewain kalian lagi. Maafin aku yang gak bisa jadi Mika yang selalu buat kalian bangga. Maafin aku yang selalu ngerepotin kalian karena aku punya penyakit ini. Maafin aku Pa, Ma, karena gak pinter ngerangkai kata kayak Mika yang juara lomba nulis provinsi. Maafin aku atas semua keegoisan aku selama ini, selamanya, aku tetep sayang Papa dan Mama. Semoga Papa Mama sehat selalu. Dari Makayla Adriana yang sayang sama Papa dan Mama. Selalu dan selamanya.

Untuk Mikayla. Hai Mika! Maaf ya, aku udah gak ada di samping kamu saat kamu baca surat ini. Maafin aku ya karena ngerepotin kamu selama ini dengan minta beliin novel ini itu, hehe. Oh iya, maaf ya karena kamu harus terima surat ini dari Cam, bukan dariku sendiri, hehe. Semoga kamu bahagia terus ya, Mika, kakak selalu sayang kamu! Dari Makayla Adriana, kakak yang akan selalu menyayangimu.

PS: Kamu coba deh buka hati buat Cam, kalian pasti cocok!

Untuk Cameron. Hai Cam! Aku.. mau bilang terima kasih buat semua kebahagiaan yang udah kamu kasih ke aku, kalau gak ada kamu, mungkin hidupku terasa semakin pahit. Makasih juga kamu masih mau bersamaku, bahkan di atas semua kekuranganku, kamu masih ada di sampingku. Uhm, daaan, satu hal lagi sih, ehehe. Aku … Akan selalu sayang sama kamu, aku juga cinta sama kamu, Cam. Tetapi aku mohon, jangan karena aku, kamu jadi sedih terus, aku gak suka lihat kamu sedih terus-terusan dari atas sana. Aku ingin kamu bahagia. Jadi, tolong jangan menutup diri kalau ada yang lebih baik dari aku. Aku sayang kamu. Dari Kayla, yang akan selalu dan selalu menyayangi Cameron.

The End

Cerpen Karangan: Annisa Salsabila
Facebook: Annisa Salsabila
Annisa. Enam belas juli nanti. Suka nulis cerpen secara spontan. Itu aja.

Cerpen Kekurangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Poor Families

Oleh:
Sekarang ini aku jadi malas membaca novel, bagaimana tidak? di dalam novel hanya berkisah tentang kehidupan orang-orang kaya raya dengan rumah mewah bak istana atau sebuah mansion dengan fasilitas

Sahabat Terindah

Oleh:
Saat itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar tepatnya kelas empat. Di sekolah aku mempunyai dua orang teman yang menurutku berbeda dengan teman-temanku lainnya, ada yang nama nya

Disuruh Melipat Pakaian

Oleh:
Saya memiliki empat kakak kandung dan empat adik kandung. Kami di keluarga membagi tugas tugas untuk merapihkan rumah. Keempat kakak saya bertugas mencuci baju, menjemur baju, membuang sampah, dan

Pesan Untuk Alya

Oleh:
Udara pagi yang sejuk mulai menyapa pagiku. Berjalan dan berlari-lari kecil setiap minggu pagi adalah kegiatan rutin yang biasa aku lakukan untuk program penurunan berat badan (diet), meskipun kelihatannya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *