Keluarga itu, Keluarga Baiti

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Motivasi, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 27 July 2012

Sabtu, 09 Juni 2012
07.10 wib.
Tiba2 hp-ku berdering. Satu panggilan dari nomor kamu. Seketika q angkat. Dan kamu hanya miscall. Aku terbangun dari tidurku. Ada 3 sms. Satu dari kamu dan dua lagi dari nomer tak dikenal.

085376394***
“Assalam.
Mas Slamet dimana…???”

087879428***
“Mas… kalo bisa nanti siang ke HMJ ya..
Ada yg mau dibicarakan. Penting.”

My Sweety
“Mas bangun mas.
Dah siang nich.
Kita kan mau pulang ke rumah adex.”

Aku lupa jika tadi malam aku janji mau nganter kamu pulang. Tanpa menghiraukan 2 sms yang lain aku langsung mandi. Secepat mungkin. Dan selesai. Selanjutnya dengan kecepatan 100KM/Jam aku menuju kosmu. Dan 10 menit kemudian aku telah sampai di depan kosmu. Tidak ada kamu. Tidak ada siapa2 di depan sini. Suasana masih sangat lengang di pagi ini. Akhirnya Ku ambil hanphone untuk menghubungimu. Tapi ternyata ada sms darimu lagi.

My Sweety
“Bo”k yok mas”……..

Aku hanya tersenyum membacanya. Sembari berpikir kalo2 kamu merajuk karena aku telat datang. Ku hubungi kamu tapi g kamu angkat. Ku sms juga g di balas. Pasrah dengan keadaan. Aku hanya berdiam diri diatas motorku.
Tiba2 kamu keluar……
“ngantuk mas…. bo2k aja yok” sembari tersenyum manja.
Aku membalas senyum indahmu dengan senyum serupa. Tetap duduk di atas motorku.
“g’ jadi pulang…?????” tanyaku sekedar bergurau.
“g usah lah mas. Mending bo2k aja”
“ywdah low gitu mas pulang ja yach……. hehehe”
“eh jangan lah mas…. hehehe. Ywdah ayok brgkat. Adex gnti baju dlu yach” tanpa ba-bi-bu kamu langsung melesat ke kamarmu. Dan tak lama kemudian kamu sudah berdiri disampingku.
“ayok mas…….” sambil menyeringai
“mas gak bawa jaket lho dex…hehe”
“ihhh… mas ni. Ywdah pake jaket adex nich. Biar adex pke jaket yg lain”
“ywdah berangkat yok”

Keluarga itu, Keluarga Baiti

Kita dalam perjalanan menuju rumahmu. Pagaruyung. Ya… itulah nama desamu. 30 menit kemudian kita sudah sampai di halaman rumahmu. Ada Mas Agung dan istrinya dirumah. Ayah dan Ibu sedang dipasar kata Mas. Dek Ayu juga udah disekolah. Maklum, ini kan hari perpisahan disekolah dek Ayu. Gitu kata Mas Agung. Kamu langsung ke kamar dan aku ngobrol dengan Mas Agung. Bercerita tentang apa saja.
Mas Agung orangnya care. Sebentar saja kami sudah sangat akrab. Seakan saudara sendiri. Padahal ini adalah hari pertama aku berkunjung ke rumahmu.
Tak lama kemudian Ayah dan Ibu pulang dari pasar. Hangat sekali kedua orangtuamu menyambutku. Bersalaman. Ku kecup punggung tangan Ayah dan Ibu. Ayah langsung turut duduk bersama kami. Sementara Ibu mungkin menuju dapur sebelum akhirnya kamu datang mengantarkan minum. Teh….. ya kamu masih ingat kalo aku g suka kopi.
Ayah bercerita tentang banyak hal. Menanyakan nama. Alamat. Kuliah. Pesantren tempat dulu aku belajar. Dan masih banyak hal yang kami bicarakan.
“pinaringan asmo sinten niki…??”
Itu adalah kalimat tanya pertama yang kudapatkan dari Ayah. Selanjutnya tentang alamat dan banyak lagi. Lembut sekali tutur bahasa Ayah. Aku jadi malu tak pandai berbahasa jawa halus. Meski bisa, tapi bahasaku tak sehalus bahasa Ayah kala bertutur kata.
Setelah bercerita agak lama, kemudian Ayah mengajakku untuk sarapan. Hanya aku dan Ayah karena Ibu sedang mengurus Dek Nafiz. Adek kecil yang baru saja lahir 3 minggu yang lalu. Dan kamu entah sedang apa dikamar. Dan lagi2 Ayah bercerita banyak hal kepadaku.
“ingkang kathah maem e.. ampun isin2 ten mriki. Kedah dipun anggep griyo piyambak.. Mas” Lagi2 aku malu dengan segala tutur kata Ayah. Lembut sekali.
Ayah mulai bercerita tentang sebuah keikhlasan.
“dulu… kakak dan Mas2 nya Baiti g ada yang kuliah Mas. Kakaknya yang pertama. Kak Heni’ dulu ingin kuliah. Tapi ya karena biaya akhirnya g jadi kuliah. Kalau Mas Budi dulu sempat kuliah selama 2 semester. Tapi kemudian berhenti karena masalah biaya juga. Sedangkan Mas nya yang kedua. Mas Agung hampir masuk kuliah. Tapi malah menikah. Keluarga calon istri minta segera menikah. Akhirnya sekarang Baiti yang baru bisa kuliah” sejenak Ayah menghela nafas. Panjang sekali. Seakan ada nada kecewa disana. Kecewa karena tak mampu membiayai putra-putrinya untuk kuliah.
“Kita mesti ikhlas dan sabar. Ikhlas dan sabar itu dekat mas. Ikhlas adalah melaksanakan apapun karena hanya mengharap ridlo Allah. Sedangkan sabar adalah menerima dan menyerahkan segala sesuatu hanya kepada Allah.”
Ayah memberikan dua definisi yang tak kudapatkan dibangku kuliah. Ayah lebih paham dari aku. Dan mungkin hampir semua teman2ku di bangku kuliah. Ikhlas yang selama ini kami ketahui adalah mengerjakan sesutau tanpa mengharap imbalan. Dan setelah aku mendengar apa yang dikatakan Ayah, aku tahu kalau definisi yang kami pahami ternyata kurang benar. Jika hanya tak mengharap imbalan, maka itu bisa berarti banyak hal. Misal mencuri, mereka yang mencuri juga tidak pernah mengharap imbalan. Lalu apakah ini bisa disebut dengan ikhlas. Tentu tidak. Atau, orang yang memberi makan kepada orang lain karena kasihan melihat orang tersebut. Lalu. Apakah ini juga bisa dibilang ikhlas. Belum tentu bukan???? Karena ikhlas yang sesungguhnya adalah sebagaimana yang barusan dikatakan oleh Ayah. Begitu juga dengan sabar.
“Saya mencoba untuk belajar menerima apa yang telah diberikan oleh Allah kepada saya. Mungkin sekarang Kakak dan Mas2nya belum bisa kuliah. Tapi saat itu saya yakin jika suatu saat nanti pasti akan ada salah satu putra atau putri saya yang akan kuliah. Dan Alhamdulillah. Akhirnya Baiti sekarang bisa kuliah mas.”
Ayah kembali mengingatkanku tentang makna ikhlas dan sabar itu.
“Ikhlas itu setiap saat dan tanpa batas, Mas. Karena selalu ada kebahagiaan yang tak terduga dalam setiap keikhlasan. Karena Allah tak pernah mengingkari janji2-NYA. Karena ikhlas adalah awal dari sebuah kebahagiaan yang tak pernah terbayangkan oleh manusia manapun. Begitu juga dengan sabar. Orang yang sabar adalah mereka yang berkata “sesungguhnya apa yang kami miliki semua berasal dariMU ya Allah. Maka kami menerima apapun yang Engkau berikan.””
Aku jadi teringat kata-kata Ibuku. Dulu waktu kecil. Ibuku sering berkata kepadaku.
“Nak…. teruslah berusaha dan belajar untuk menjadi orang yang ikhlas. Ikhlas itu pangkal bahagia nak. Tidak ada kebahagaiaan yang dapat mengalahkan rasa bahagia yang terlahir dari sebuah keikhlasan.”
********

“ayok-ayok berangkat. Dek Ayu dah nunggu disekolah” Ibu mengajakku dan Ayah agar segera berangkat ke sekolah dek Ayu. Kami pun sudah selesai makan.
Kubereskan meja makan sebelum berangkat. Tapi lihatlah. Ayah berkata kepadaku agar Ia saja yang membereskan. Aku tak mau berhenti. Dan Ayah malah membantuku membereskan meja makan. Tampak sekali ketulusan beliau. Aku jadi malu. Malu ketika terkadang enggan saat diminta untuk mengerjakan sesuatu oleh Ayah dan Ibuku dirumah. Dan sekali lagi aku mendapat pelajaran yang berharga dari Ayah.
Kamu dan Ibu sudah menunggu di depan rumah. Kita berangkat bersama2. Aku berboncengan dengan Ayah dan kamu dengan Ibu. Kami di depan jauh, sementara kamu dan Ibu masih dibelakang.
Ayah kembali bercerita tentang banyak hal. Kali ini tentang berprasangka baik dan istiqomah. Karena tak ada yang lebih berat di dunia ini selain Istiqomah. Dan tak ada yang paling sulit kecuali berprasangka baik. Selalu berpikir positif kepada siapapun. Orang yang berpikir positif akan disenangi oleh yang lain. Sedangkan mereka yang selalu berpikir negatif akan sebaliknya.
Dulu Rasulullah selalu berbaik sangka (berpikir positif/ Husnudzon) kepada siapaun. Hingga ada orang yang awalnya selalu memusuhi beliau akhirnya menjadi malu sendiri. Dan akhirnya ia pun mengikrarkan keislamannya dihadapan Rasul. Begitulah kekuatan Husnudzon (berprasangka baik). Orang yang membenci kita pun akan berbalik menjadi senang dengan kita. Dan mereka yang sayang akan menjadi lebih sayang.
Istiqomah juga begitu. Kisah Ibnu Hajar merupakan pelajaran yang paling familiar untuk menjelaskan esensi dan kekuatan Istiqomah. Tentang hal ini, bahkan ada satu syair Arab yang mengatakan bahwa Istiqomah itu lebih baik daripada seribu Karomah. Berdasarkan kisah Ibnu Hajar, kita tahu bahwa batu yang sangat keras menjadi berlubang karena tetesan air yang terus menerus. Ini adalah Istiqomah. Dan siapa saja yang mampu Istiqomah dalam menjalankan setiap sesutu, maka ia akan berhasil dalam bidang tersebut.
“di depan pelan-pelan ya mas. Kita sudah hampir sampai” Ayah mengakhiri ceritanya dengan memintaku mengurangi kecepatan laju sepeda motor sembari menunjuk arah keramaian. Sudah dekat kata Ayah. Dan ketika aku berhenti di keramaian itu, aku tahu bahwa itu adalah pasar. Kulihat Ayah turun dari boncenganku sambil berkata, “sampean antosi Baity kaleh Ibu riyen geh mas, kulo tak mundut motor” (tunggu Baity dan Ibu dulu ya mas, saya mau ambil motor).
Ayah berjalan menuju keramaian itu. Masih tampak oleh mataku, jelas kulihat Ayah berbaur sangat akrab sekali dengan masyarakat yang lain (katamu, dulu Ayah pernah jadi Kepala Desa. Dan sekarang, Ayah sering menjadi penghulu ketika ada orang dikampungmu yang menikah). Lagi-lagi aku menyaksikan betapa Ayah sangat sederhana. Ayah adalah orang yang tidak memandang kasta dalam berhubungan sosial. Kepada siapa saja dan dimana saja. Dan kini aku mengetahui kenapa kamu (My Sweety) orangnya mudah bergaul. Tidak pernah membeda2kan antara satu sama lain. Ya…. itu semua karena Ayah telah mengajarimu banyak hal. Melalui sikap yang beliau tunjukkan.

15 menit kemudian.
Kamu dan Ibu sudah sampai di pasar.
“ayok mas, sekolah dek Ayu di depan tuch…” sambil menunjuk angin kamu mengajakku untuk lanjut. Dan aku kehilangan jejak Ayah.
“ayok mas…. Ayah ada urusan di pasar. Ibu yang nemenin kita ke sekolah” sedikit naik nada suaramu karena aku masih seperti orang linglung mencari kemana Ayah pergi. Dan sesaat kemudian kita telah sampai di sekolah dek Ayu. Aku langsung mengambil gambar2 dek Ayu yang saat itu memang tengah menarikan ‘tari persembahan’ sebagai tanda selamat datang. Aku tak tahu yang mana dek Ayu. Karena memang aku belum pernah melihatnya sama sekali. Tapi Ibu kemudian datang dengan tiba2. “Itu dek Ayu yang pakai mahkota, Mas”. Dan seketika pula Ibu berlalu meninggalkanku yang terus mengambil gambar dek Ayu.
********

Selama di sekolah aku hanya mengambil foto2 dek Ayu. Kamu becanda dengan saudara2mu. Sementara Ibu dengan Ibu2 yang lain juga tampak terlibat dalam sebuah obrolan. Aku tak begitu menghiraukan kamu dan Ibu. Karena aku ingin fokus mengambil gambar2 dek Ayu.
Acara perpisahan siswa-siswi SDN Pagaruyung di akhiri dengan muhasabah. Setiap orang tua siswa diminta untuk maju kedepan. Duduk diatas tikar yang telah dibentangkan memanjang. Setiap siswa-siswi kelas 6 juga diminta duduk diatas tikar serupa. Mereka diminta duduk menghadap orang tua masing-masing.
“kepada semua siswa dan siswi diharap sungkem menyalami tangan orang tuanya masing-masing” panitia memberi instruksi yang kemudian merubah suasana menjadi hening. Membunuh setiap keangkuhan yang pernah ada dimuka bumi. Menghanguskan setiap amarah yang pernah membakar ketulusan putra-putri Adam. Mengharu birukan suasana halaman Sekolah Dasar Negeri Pagaruyung siang itu. Bagaimana tidak. Setiap siswa dan siswi kelas 6 SDN itu tengah sungkem menyalami tangan orang tuanya masing2. Dan dari atas panggung, seorang panitia tengah membacakan untaian kalimat muhasabah. Perpaduan nada suara yang indah dan kalimat2 muhasabah itu sangat serasi. Menyatu dengan suasana hening di depan halaman SDN Pagaruyung siang itu.
Aku memintamu mengabadikan susana itu dengan Video. Dan aku terus mengambil gambar demi gambar yang semoga saja suatu saat nanti dapat menjadi memory bagi kita untuk kembali pada hari ini. Ya hari ini…. Sabtu, 09 Juni 2012.

Pukul 14.55 wib.
Acara perpisahan telah selesai. Aku memintamu untuk berbicara kepada Ibu agar beliau pulang duluan. Aku masih ingin disini. Aku masih ingin mengambil foto2 lain untuk memory kita. Dan Ibu bersedia. Aku meminta dek Ayu dan teman2nya yang lain untuk berfoto bersama dengan beberapa guru yang kebetulan ada disitu. Dua, tiga foto saja menurutku cukup. Selanjutnya aku menghampiri panitia (saat itu yang menjadi panitia adalah mahasiswa UNRI yang sedang KKN di desamu). Dan aku juga meminta kepada mereka agar berfoto bersama. Mereka tidak keberatan. Kamu turut bersama barisan panitia itu. Turut berpose dengan senyum yang menurutku selalu indah.
Setelah sekian gambar terabadikan, aku mengajakmu untuk pulang. Dan saat itu siang tengah beranjak kepada waktu sore. “Kita belum sholat Dzuhur lho dek. Dan ini sudah hampir sore. Kita pulang yok..”
Sampai dirumah ternyata masih seperti pagi tadi ketika kita tiba. Ayah tidak ada dirumah dan Ibu entah mengapa belum kunjung sampai dirumah. Aku tak begitu menghiraukan apa yang ada dirumah. Langsung menuju kamar mandi dan wudlu. Selanjutnya sholat Dzuhur.
Saat hendak Takbiratul Ihram, lamat2 kudengar suara Ibu. Sepertinya Ibu baru saja sampai dirumah. Tapi Ayah dimana. Ah entah lah… aku tak menghiraukan semuanya. Aku sholat Dzuhur di kamarmu. Ku amati setiap sudut kamar sebelum aku sholat. Tak ada yang aneh. Ada dua lemari pakaian di kamar. Satu menghadap ke arah barat dan satu lagi ke utara. Rapi dan harum sekali. Aku serasa betah berada dikamarmu.
Aku sudah selesai dari sholat Dzuhur. Saat keluar dari kamar kudapati Ayah sedang duduk di sofa ruang tamu. Lagi2 beliau mengajakku makan. “waktunya makan siang, mas” tutur beliau sambil mengajakku berjalan ke dapur. Aku nurut saja. Kali ini Ayah tidak bercerita banyak sebagaimana pagi tadi. Kali ini beliau lebih banyak bercerita tentang masakan yang sedang kami makan. Dan setelah selesai. Masih sama seperti tadi pagi. Ayah seperti tidak ingin aku membereskan piring2 yang kami gunakan untuk makan.
“Saya Sholat Dzuhur dulu mas. Sampean ngobrol2 sama Ibu dan Baiti di depan ya” beliau berlalu menuju kamar mandi.
Seperti kerbau yang dicocok dihidungnya, aku langsung menuju teras. Kulihat Ibu, Kamu, Mbak Heni’, Dek Ayu, Mas Agung, Dek Nafiz, dan beberapa tetangga lain tengah bercerita. Sepertinya kalian tengah berbagi rasa. Rasa yang dapat menyatukan setiap individu bagai ikatan keluarga. Dan inilah cara yang sangat baik yang diajarkan oleh nenek moyang kita. Kulihat Dek Ayu sedang bercerita tentang kisah yang ia alami di sekolah selama satu hari ini. Mas Agung disamping Ibu yang tengah menggendong Dek Nafiz. Mbak Heni’, kamu dan tetangga yang lain tengah berbagi cerita. Sekali lagi kusaksikan dengan mataku. Betapa indah dan hangat sekali kulihat suasana di depan teras rumahmu siang itu. Keindahan dan kehangatan dari sebuah keluarga yang mengajarkan banyak hal kepadaku. Dan “KELUARGA ITU, adalah KELUARGA BAITI”.

Nama Penulis: Slamet Mulyani
Blog: http://mulyanidhewe.blogspot.com

Cerpen Keluarga itu, Keluarga Baiti merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hampa (Part 2)

Oleh:
Yah akulah seorang Lita wanita berusia 23 tahun yang merasakan kehampaan itu sejak berumur 6 tahun ayah dan ibuku bercerai saat itu ibu pergi dari rumah sejauh mungkin, aku

Perbedaan Tidak Memisahkan

Oleh:
Arin senang membaca buku. Sementara, Rina senang bermain. Rina adalah adik Arin. Suatu hari, Clara, teman akrabnya berkunjung ke rumah Arin. “Ar, mengapa kamu senang membaca? Bagiku membaca itu

Seribu Malaikat

Oleh:
Nisman terperangah. Entah kenapa matanya langsung berair, tak pernah-pernah dia menangis begitu mudah selama ini. Kebahagiaan dalam hatinya membuat dia beku. Saat kesadarannya sudah kembali disalaminya Bu Bidan dengan

Please Come Back

Oleh:
Siang ini, panas sekali. Haduuhhh, bisa-bisa aku meleleh, nih, gara-gara panas ini. Menyengat sekali. Aku harus jalan kaki dari sekolah, karena hari ini tak ada yang menjemputku. “ES KRIM!

Tentang Kita

Oleh:
Di sudut sebuah gedung tua itu, tersusun rapi bangku-bangku panjang ditemani deretan kursi kayu bercat kusam. Bukan karena kusam dimakan usia. Melainkan, model bangunannya yang dirancang khusus menyerupai bangunan-bangunan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Keluarga itu, Keluarga Baiti”

  1. Semoga cerpenmu menjadi media yang bermanfaat untuk mengembangkan komunitas sastra Indoesia yang bermutu. Bergerak dalam kepribadian bangsa yang berguna bagi bangsa ini. Mengembangkan pikiran kerakyatan dan kebangsaan. Amien.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *