Keluarga Tetap Menjadi Sahabat Terbaik Ku (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 8 February 2016

Pada suatu hari hiduplah satu keluarga kecil hidup dalam kegelapan dan amat suram. Di desa yang mata pencahariannya terbatas hanya sebagai nelayan. Keluarga kecil itu dijuluki oleh orang-orang di sekitarnya si “HITAM PEKAT.” yang berarti hidup yang suram. Keluarga itu terdiri dari sepasang suami-istri yang benama Hary Risky dan Juny Asyanti dan dikaruniai satu anak laki-laki bernama Faiz H. Risky dan satu anak lagi perempuan bernama Indah Ayunda Risky.

Suatu hari, Pak Hary akan pergi melaut meninggalkan seorang istri dan anak-anaknya selama 3 hari-3 malam. Dan Bu Juny menyiapkan makanan mentah seperti beras, dan rempah-rempah yang cukup untuk dikonsumsi selama beberapa hari. Tiba-tiba Indah mengucapkan salam, “Assalamualikum.”
“Waalikumsalam. Baru pulang Nak?” tanya Bu Juny. “Iya Bu.” ujar Indah. Selesai mengganti pakaian, Indah sedikit terkejut dengan ibunya yang sedang sibuk sore ini.
“Bu, sepertinya Ibu kelihatan ingin pergi? Ke mana Bu?” tanya Indah sambil duduk di kursi dekat tv. Bu Juny hanya tersenyum dan berkata pada Indah anaknya.
“Iya Ndah, Ibu akan pergi jauh dari sini. Jauh di mana tidak ada orang yang tinggal di sana. Karena Ibu sudah cape hidup susah kayak gini terus.” kata Bu Juny.

Indah terlihat sangat serius menanggapi pernyataan ibunya. “Ibu tidak lagi bercanda kan? mana ada tempat yang seperti Ibu maksud?” tanya Indah asyik nonton tv.
“hahaha,” nada tertawa Bu Juny, “Indah. Indah. Kamu ini, jadi anak kok percayaan bangat sih. Ya nggak mungkinlah Ibu pergi. Terus siapa yang kasih makan sama kamu?” ujar Bu Juny.
Pindah tempat duduk dekat ibunya, “tuh kan Ibu bercanda. Kebiasaan deh Bu. Terus beras dan ini (rempah-rempah) buat diapain Bu?” tanya Indah penasaran.
Ibunya menjawab, “ini semua Ayahmu yang minta Ndah. Dia akan pergi merantau sebagai nelayan selama 3 hari dan meninggalkan kita tanpa ada sepersen pun uang buat kita makan. Ibu tuh rasanya kesel jika pekerjaan Ayahmu hanya melaut saja. Padahal bila dipikir-pikir, banyak kok di perkotaan sana yang menerima karyawan.” sengaja di perdengarkan.

“Entah apa yang ada di pikirannya. Mungkin hanya ada ikan besar dalam kepalanya. Kita hanya ada di perutnya Ndah yang siap untuk dibuang sebagai zat metabolisme (mengibaratkan). Kesel Ibu, setiap hari Ayahmu pergi ke laut pulang-pulang bawa tempat yang sama nggak ada ikannya. Apalagi sudah 3 hari pasti ikan besar yang tertangkap tapi dalam mimpinya saja.” kesel Bu Juny. Mendengar semua itu Indah merasa hal ini sangat menyinggung ayahnya.

Indah berkata pada ibunya, “Bu, semua orang akan mengalami hal yang sama seperti kita, semua itu butuh proses. Ibu yang sabar dong Bu. Hati kita bukan lembek seperti daging tapi hati kita keras seperti batu. Indah nggak peduli orang mau bilang apa tentang Indah? Asalkan Indah dan keluarga kecil Indah bahagia. Itu saja Bu. Dan Ayah, Ayah bekerja menjadi nelayan itu pilihan hidupnya, niatnya dan jalannya sendiri. Ayah hanya butuh kita untuk mendukungnya. Bukan menjelekkan pekerjaannya. Tolong Bu, jangan katain Ayah seperti itu. Kita keluarga kecil dan jika ada salah satu yang patah hati maka keluarga kecil itu akan kehilangan satu orang lagi. Hargailah pekerjaan Ayah sebagaimana Ayah menghargai pekerjaan Ibu selama ini.” katanya kepada ibunya.

“maafkan Ayah Nak, Ayah belum bisa membahagiakan kalian. Ayah bukan Ayah yang baik untuk kalian. Penghasilan Ayah dalam sebulan belum bisa menandingi penghasilan Ibumu dalam sehari. Ayah sadar, pekerjaan ini hanya sederhana, namun apa daya yang bisa dikerjakan oleh anak lulusan SD saja, itu sangat mustahil kan Nak,” menyiapkan barang-barangnya, “ya udalah, waktunya Ayah pergi. Jaga kesehatanmu ya Nak, jangan lupa makan dan harus rajin sekolah. Daa, assalamualikuM.” kata Pak Hary sambil menyalakan motornya.

Setiap hari sekolah, Bu Juny selalu bangun kepagian. Ia membuat nasi kuning, mie kuah dan juga bakwan sebagai cemilan untuk dijual paginya. Rezeki yang masuk pun cukup untuk makan setiap hari. Terkadang jualannya tak semua yang laku terjual, Bu Juny tidak lagi memasak untuk makan malam. Akan tetapi mereka berdua memakan makanan yang tidak laris tadi. Syukur hidup Bu Juny ada kemajuan dibandingkan dengan hidupnya yang dulu. Dulunya, Bu Juny berdagang dengan menggunakan kereta dorong dan harus berjualan mengelilingi desa sampai laku. Namun sekarang, hidup Bu Juny sangat istimewa dalam berdagang. Ia menggunakan rumahnya sebagai wadah berdagangnya.

Setiap pagi Bu Juny sendirian di rumah dengan dagangannya. Tidak ada orang yang membantunya untuk berdagang. Indah pergi ke sekolah SMU dengan berjalan kaki yang jaraknya 8 Km dari rumahnya. Sementara anak laki-lakinya Fais merantau ke kota untuk mencari pekerjaan. Hidup sendirian dengan pekerjaannya sangatlah melelahkan. Namun itulah hidup butuh perjuangan. Namun, harapan yang sangat besar ada sama Indah. Indah anak satu-satunya anak perempuan yang bisa lanjut sekolah. Dialah yang akan merubah hidup si hitam pekat ini menjadi seperti apa.

Pagi hari pukul 07.45 Wib, Indah masuk ruang BK (bimbingan dan konseling). Lembar demi lembaran pada catatan harian siswi terlambat, nama Indahlah yang sering tertulis pada lembaran itu. Sebenarnya Indah adalah siswi yang sering terlambat sejak masuk SMU hingga sekarang ia sudah duduk di bangku kelas 3. Namun, ini adalah kali pertama Indah masuk ke ruangan BK. Banyak orang kata, ruangan ini bagaikan neraka, Indah pun masuk dengan perasaan takut dan grogi. Pak Sri adalah guru BK, ia sedang melihat-lihat catatan harian siswi terlambat.

“Indah Ayunda Rizki, itu adalah nama panjangmu bukan?” tanya Pak Sri.
“i.i.ya Pak itu nama Indah.” jawab Indah.
“kamu siswi kelas 3 kan?” tanya Pak Sri lagi.
Dengan rasa takut Indah menjawab, “i..ya kelas 3 IPA Teladan Pak.” suara pelan dan merunduk. Pak sri sangat terkejut mendengarnya. “apaaa? TELADAN kamu bilang?!” berdiri dari tempat duduknya.

“haa!!” tak percaya, “itu tidak mungkin. Katamu kamu anak IPA teladan, mana buktinya?” melemparkan buku catatan harian siswi terlambat kepada Indah. “ini nama kamu kan?” membuka catatan itu dan menujukkannya, “ini juga nama kamu kan, di bawahnya kamu lihat ada nama kamu, di lembaran sebelahnya ada nama kamu, nama kamu lagi dan kamu terusss!!” tegas dan marah. “kamu seharusnya bukan lagi IPA teladan Indah! Tapi IPS terlambat. Aku sebagai guru BK, akan melaporkan kasus ini sama wali kelasmu dan mengatakan kamu untuk dipindahkan ke jurusan lain. Jika kamu ingin bertahan, itu akan sangat memalukan dan jika kamu menolak! bapak sendiri akan melaporkanmu kepada pak kepala sekolah agar kamu dikeluarkan dari sekolah ini.” duduk kembali dan membuka laci meja.

“Ini!!” melemparkan amplop. “itu adalah surat panggilan orangtuamu. Besok jam 1 siang bapak akan menunggu orangtuamu di ruangan pak kepala sekolah. Silahkan kamu ke luar dari ruangan bapak! Cepat keluar bapak benci dengan siswi yang suka terlambat kayak kamu. Cepat keluar dari ruangan bapak.” Indah sangat sedih, mendengarkan kata-kata Pak Sri yang dilontarkan kepadanya. Dengan menahan tangisnya Indah pun mundur langkah demi langkah dan berhenti di depan pintu sambil berkata.

“terima kasih Pak,” menahan tangis, “saran dan masukan bapak sangat bermanfaat bagi Indah. Indah hanya bisa berharap, semoga apa yang Indah rasakan selama ini, bisa dirasakan oleh semua orang yang hidupnya semakin dekat dengan liang lahat. Semoga bapak sadarnya akan lebih cepat sebelum Indah akan dipindahkan ataupun dikeluarkan dari sekolah ini seperti ucapan bapak kepada Indah tadi. Dan satu hal lagi Pak, jika bapak memiliki seorang puteri yang sangat bapak sayangi, semoga saja dia akan sadar bahwa dia memiliki bapak yang sungguh bijaksana, bukan pula pada anak-cucunya, tapi bagi siswa-siswinya juga sangat bijak dalam mengatasi masalah-masalah sebagai guru BK. Terima kasih Pak, assalamualaikum.” ujarnya sambil menangis.

Indah pun menangis dan pergi mengikuti rute jalan balik ke rumah dengan sebuah amplop yang di tangannya. Indah sangat kecewa pada dirinya yang tidak begitu giat bangun pagi untuk ke sekolah lebih cepat dibandingkan anak yang memiliki kendaraan. Tiba-tiba Hp Indah berdering. “halo?” nada lesu.
“Iya Pak? Indah lagi di jalan pulang. Ada apa ya Pak?”
“tapi, Pak?” terpaksa. “iya Pak. Indah putar balik jalan Indah.”
“iya Pak!” Indah mendapat telepon dari bapak wali kelasnya Pak Umar. Dan ia menyuruh Indah agar datang ke sekolah. Indah pun memutar balik jalannya.

Sesampainya di sekolah Indah langsung ke kelasnya. Indah pun disambut riang oleh teman-temannya. “hai Indah.” ujar teman-temannya. Indah tak mengeluarkan sepersen kata pun dari mulutnya, hanya ada senyum yang menghiasi wajahnya. “Indah, sini Nak.” ujar Pak Umar. Indah pun pergi ke meja Pak Umar dan Indah kaget, Indah dikelilingi teman-temannya. “ada apa ya Pak?” tanya Indah sambil melihat teman-temannya sedikit takut.

“Indah, sebentar lagi kan ujian Nasional, sebelum ujian sekolah kita akan mengadakan kegiatan pentas olahraga dan seni khusus kelas 3. Setiap kelas ada perwakilannya. Karena kita hanya ber-18 jumlahnya, paling tidak ada yang akan double tugasnya. Indah mau di mana olahraga atau seni? Emm, kata teman-teman Indah bakatnya ada di olahraga dan seni. Indah boleh masuk kedua-duanya kalau Indah mau?”kata pak umar semua orang menatap kepada Indah.

“maaf Pak. Maafin Indah Indah nggak bisa. Indah nggak bisa ikut kegiatan ini. Indah hanya bisa ini,” memberi surat peringatan, “maafin Indah Pak” jawab Indah menangis. Teman-temannya pun kaget! Sebagai wali kelasnya, Pak Umar memberikan support yang besar pada Indah. “ini tidak akan terjadi Indah. Buat apa Indah mendengarkan omongan bapak tua itu. Sebenarnya dia sangat bodoh Indah. Mana ada siswi kelas 3 bisa dipindahkan? Nggak mungkin? Hahahaha,” semua tertawa selain Indah. “lagian Indah tidak perlu takut. Ini hanya surat panggilan orangtua yang pertama, sementara waktu Indah di sekolah ini nggak begitu lama lagi. Jadi Indah, tidak perlu terlalu khawatir. Kita sebagai anak teladan nggak bisa dong dibodohin oleh mereka yang nggak tahu apa-apa. Sekarang senyum dong Indah, ayo senyum!” ujar Pak Umar.

Suara hati Indah, “bener juga kata Pak Umar. Aku nggak bisa dibodoh-bodohi oleh orang yang nggak tahu apa-apa tentang aku. Seharusnya aku bangkit mendengarkan perkataan Pak Sri tadi. Aku akan membuktikan dan membuat mereka yang nggak tahu apa-apa menjadi tahu tentang keluargaku. Agar aku nggak diinjak-injak lagi. Iyah,” menarik napas panjang. “inilah kesempatan emasku untuk semua orang bahwa inilah aku, tidak akan ada lagi yang namanya si hitam pekat tapi ‘mawar merah.’ yang bisa membawa kesadaran, juga sangat sulit untuk dijumpai.” ujarnya dalam hati.

Indah dan teman-temanya pun menyusun persiapan untuk kegiatan tersebut. Mulai dari olah raga sampai seni mereka bersedia untuk ikut. Indah mempersiapkan semuanya tak kenal siang dan malam. Ia terlihat sangat riang sepanjang menyiapkan sesuatu yang sangat istimewa untuk malam puncaknya. Indah berdandan dengan sangat istimewa mengenakan kebaya merah dan sepatu high hills berwarna cokelat tela serta topeng yang sangat cantik berwarna merah yang sangat mendukung penampilannya di malam ini. Tak lupa Indah dan teman-temannya mengundang orangtua untuk menyaksikan kegiatan ini. Malam puncak telah tiba. Mulailah IMC menyapa penonton. Malam ini terlihat sangat ramai.

“Selamat malam semua, yang terhormat bapak kepala sekolah bersama staf dewan guru. Yang kami hormati para orangtua dari siswa-siswi kelas 3 SMU N 1 Bonpai serta yang kami cintai seluruh siswa-siswi SMU N 1 Bonpai.” ujar IMC kegiatan ini.

Begitu banyak rangkaian kegiatan pada malam ini. Sehingga Indah si mawar merah mendapatkan nomor terakhir yang akan membawakan ucapan terima kasih kepada Guru dari seluruh siswa. “oke. Terima kasih berikan applause untuk siswa-siswi dari kelas 3 IPS 3 yang telah memberikan penampilannya yang begitu menguncang. Sungguh penampilan yang begitu meriah pada malam hari ini. Kini hanya ada tersisa satu penampilan lagi yaitu dari kelas 3 IPA Teladan, atas nama… (tidak di izinkan) upps sory di sini namanya tidak dituliskan namun katanya ini adalah penampilan teristimewa untuk para guru serta orangtua. Baiklah kita sambut ini dia si Mawar merah.” kata si IMC.

Tiba-tiba lighting pada panggung mati -sebagian rencana agar terlihat dramatis- dengan musik yang bermain Indah dengan sulingnya, satu lighting menyala pada tengah-tengah panggung dan terlihat ada seorang gadis ditemani 4 orang dancer tidak lain adalah teman-temannya. Koreo yang sangat bagus dan terlihat sangat memukau.

Tiba-tiba ada suara terdengar, “Aku, adalah anak yang terlahir miskin, tak satu pun yang mau berteman denganku. Kami hanyalah keluarga kecil, yang kerjaannya menjadi buah bibir mereka yang sangat hangat. Aku bersekolah hingga sampai ke jenjang yang tinggi SMU, senang akan kedua kaki yang aku miliki. Berkat kedua kaki ini, aku bisa berjalan semauku ke sekolah meskipun sering terlambat. Hanya orang-orang yang tahu akan akuuu yang mengerti, susahnya melangkah dari awal. Hanya dia yang tidak mengerti akuu adalah orang-orang yang sok kaya dan pintar!!” suara lantang.

Bersambung

Cerpen Karangan: Mardianti Kantu
Facebook: Mardianti R.Biahimo
Namaku Mardianti Kantu. Usiaku sekarang 19 tahun. Tempat lahirku di Gorut (Gorontalo Utara). Namun sekarang, aku tinggal di asrama dekat tempat aku Kuliah. Aku kuliah di UNG, Jurusan kimia angkatan 2014. Aku memmpunyai kehidupan yang begitu gelap, suran yang nyata. Sebenarnya aku sedang mencari jati diriku. Dan aku ingin ke luar dari kegelapan itu. Aku ingin menjadi penulis. Penulis apa saja yang berkisahkan tentang aku sendiri. Aku pun ingin menjadi penulis naskah skenario, jika sukses jadi penulis. Aku ingin menulis semuanya, tentang aku dan keluargaku. Bagiku, buku adalah nyawa keduaku. Dia mengerti perasaan aku, meskipun hal itu sangat gila.

Ini adalah cerita yang pertama kalinya aku tulis dengan waktu yang sangat singkat. Karena bagiku ini adalah kesempatan. Kesempatan akan hilang begitu saja, jika dibiarkan. Dan tidak ada kesempatan lain yang akan datang dua kali dengan hal yang sama. Maka dari itu aku memutuskan ikut meskipun ini adalah kali pertamaku. Cerpen “Keluarga Tetap Menjadi Sahabat Terbaikku” sebenarnya aku kutip dari kisah nyata diriku sendiri namun endingnya itu adalah fiksi, meskipun menggunakan nama samaranku di cerita itu “Indah Ayunda Rizky”. Tujuanku menulis cerita asli dari hidupku supaya orang-orang tahu, jika memulai hidup dari bawah itu sebenarnya tidak sulit, agar mereka berniat dulu mau berubah. Selamat membaca.

Cerpen Keluarga Tetap Menjadi Sahabat Terbaik Ku (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gitar Tua Joko

Oleh:
Joko benar-benar bingung gimana harus meyakinkan Ayahnya yang udah mati-matian cari duit buat membiayayai sekolah Joko. Pasalnya, setelah Ayahnya membayar SPP ternyata Joko sering sekali bolos sekolah, Kata teman-temannya

Mawar Fadil

Oleh:
Suara teriakan itu menggetarkan hati, isak tangis pecah saat langkah kaki ayahku meninggalkan ibu yang sedang mengandungku di usia kehamilan 6 bulan, ayah pergi dengan mengucapkan talak cerai kepada

Api Yang Padam

Oleh:
“Seperti itukah caramu menciptakan sebuah kebahagiaan? Seperti itukah ikatan yang kalian maksudkan? Lalu bagaimana denganku?” Suara itu kembali terdengar, teriakan, bentakan, semuanya bagai benderang yang dengan mudah menghantam telingaku.

Kebahagiaan Untuk Ibu

Oleh:
Aku melihat kesedihan yang mendalam dari matanya. Matanya yang dulu semangat kini seakan rapuh, bagaikan pohon yang sudah berumur ratusan tahun. Aku merasa kasihan kepada ibu karena semenjak ayah

Semasa Kecil Kelam

Oleh:
Semasa kecil yang telah lama mereka tinggalkan. Semasa kecil adalah masa-masa indah yang tidak akan terlupakan, semasa dimana mereka bagaikan malaikat kecil yang belum ternoda, semasa dimana mereka merasakan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *