Kembali Ke Pangkuan Mu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 13 January 2016

Terik matahari menyengat kulit, namun awan gelap mulai menutupi sebagian wilayah kota. Pohon-pohon di kanan kiri jalan tertiup hembusan angin kencang. Dingin seketika menyergap seluruh badan. Tiupan angin terkadang membawa pasir ke mana-mana, membuat mata menjadi perih. Apalagi kendaraan roda dua dan empat semakin ramai berlalu lalang, salah satu mobil yang ingin ke luar dari sekolah membunyikan klaksonnya lalu berhenti sejenak, ketika aku melintas tiba-tiba di depannya. Mobil itu parkir di pinggir jalan, seseorang mendongak kepalanya dari dalam dan turun dari mobil itu.

“Anna pulang sama aku yuk!” Ternyata Elsa, teman sekelasku juga sahabat karibku sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.
“Tidak, terima kasih sebelumnya, Sa. Aku tidak langsung pulang ke rumah, mau ke rumah sakit dulu.” Aku menjawab.
“Ke rumah sakit? Siapa yang sakit, Anna?”
“Aku belum tahu, Sa. Tadi ketika bel pulang sekolah berbunyi, aku mendapat telepon dari ibuku. Ibu memberitahuku bahwa aku harus segera ke rumah sakit.”
“Astagfirullah, ya sudah kalau begitu kita ke rumah sakit sekarang.”

“Tidak usah, Elsa. Kamu pulang saja. Kamu pasti cape, kan? Lagi pula, arah rumah sakit dan rumahmu berbeda. Aku tidak apa-apa kok sendirian ke rumah sakit.”
“Yakin kamu tidak mau ku temani? Rumah sakitnya di mana, Anna? Nanti sore aku akan datang ke sana.”
“Iya, di Rumah Sakit Umum Tenriawaru Watampone, Sa. Kamu duluan saja.”
“Hati-hati di jalan Anna. Jika kamu membutuhkanku segera hubungi aku.”

Aku menggangukkan kepala, bilang terima kasih kepadanya. Elsa lalu bergegas masuk ke mobilnya. Aku memerhatikan mobil itu sampai hilang di tikungan jalan. Menghela napas panjang, melirik handphone. Sudah jam dua siang. Saatnya menunggu becak yang akan membawaku ke rumah sakit. Namun, lima menit menunggu tak satu pun becak melintas di jalan Hos Cokroaminoto ini. Hujan turun lagi.

Seperti hari sebelumnya. Aku memutuskan pindah ke halte bus seberang jalan untuk berteduh, sebelum hujan mengguyur tubuhku. Setelah lima belas menit, akhirnya aku melihat becak berjalan di daerah ini, aku pun memanggilnya. Becak itu berjalan menuju ke arahku. Setelah naik, bergeraklah becak tersebut mengantarku menuju ke jalan W. Sudirohusodo Watampone.

Sesampainya di rumah sakit, aku segera berlari menuju ruang inap pasien. Di depan ruangan itu, aku melihat ibu.
“Bu, apa yang terjadi? Siapa yang sakit? Anna cemas ketika ibu menelepon dan menyuruhku ke rumah sakit. Anna pikir Ibu sakit.” Dengan napas yang masih terengah-engah aku memberikan pertanyaan kepada ibu. “Ayahmu, Anna.” Aku menatap bingung ibuku. Ya Tuhan, apa aku tidak salah dengar?

“Maksud Ibu apa? Ibu mengatakan bahwa Ayah sudah meninggalkan kita sejak Anna masih berusia delapan bulan. Mengapa sekarang kita harus peduli kepadanya, Bu?” Aku jongkok menahan amarah dan tangis. Ibu beranjak dari tempat duduknya, mendekat. Ikut jongkok di depanku.
“Nak, jangan membenci Ayahmu.. Maafkan Ibu yang tidak berterus terang kepadamu. Sebenarnya Ayahmu pergi meninggalkan kita karena ia harus bekerja di luar negeri, Ayahmu tidak lupa pada kita.. Dia selalu mengirimkan surat dan uang kepada Ibu.” Ibu mulai menangis tersendat, aku juga menangis mendengar penjelasan dari ibu.

Saat itulah, pintu ruang inap ayah terbuka. Seorang dokter berpakaian serba putih menjelaskan bahwa ayah mengidap penyakit tumor paru-paru dan harus segera dioperasi malam ini. Ibu dan aku menyerahkan operasi itu pada pihak rumah sakit. Aku menelepon Elsa, memberitahu bahwa yang sakit adalah ayahku.

Matahari perlahan memasuki kaki langit barat, memesona menikmati detik-detik pergantian sang waktu. Cahaya kuning lembut terpantul dari kaca-kaca besar bangunan, berkilauan menciptakan kedamaian. Senja benar-benar tenggelam. Malam menyapa dengan menjulurkan jubah hitamnya. Lampu-lampu berpendaran di luar bangunan rumah sakit. Aku takjub menyaksikan keindahan ciptaan Allah Yang Maha Sempurna.

Selama proses operasi berlangsung. Elsa dan kedua orangtuanya baru datang. Setelah beberapa jam menunggu, operasi ayah pun selesai dan berjalan lancar. Aku dan ibu memutuskan untuk menginap di rumah sakit. Sementara Elsa, Pak Andi, dan Bu Sinar pamit pulang untuk beristirahat.

Keesokan harinya, pulang sekolah aku ditemani Elsa berangkat ke rumah sakit. Ketika kami sampai, di depan ruang inap ayahku, aku melihat banyak orang yang datang termasuk tetangga dan kedua orangtua Elsa. Dalam hati aku bertanya apa yang sedang terjadi pada ayahku? Aku pun mempercepat langkahku. Ibu mengatakan.
“Anna.. Ayahmu harus dibawa ke Yogyakarta untuk dirawat, setelah operasi tiba-tiba kondisi Ayah drop karena dokter mengatakan bahwa Ayah tidak hanya mengidap penyakit tumor paru-paru. Ayah juga mengidap penyakit jantung.”

“Anna ikut, Bu.. Anna mau menemani Ayah di sana.” Mataku mulai berkaca-kaca. Aku menggengam tangan ibu, memohon kepadanya. “Tidak, Anna. Kamu akan Ibu titipkan kepada Ibu Sinar dan Pak Andi, sementara kamu akan tinggal bersama Elsa di rumahnya. Siang ini Ibu dan ayah akan berangkat ke Yogyakarta.” Aku terus membujuk Ibu agar mengizinkanku ikut bersamanya. Namun Ibu tetap tidak mengizinkan.

Ibu mulai merapikan pakaian-pakaian ayah di koper. Beberapa menit kemudian, datanglah angkot yang telah dipanggil oleh Pak Andi. Ibu ke luar dari ruangan dengan mendorong kursi roda ayah. Ibu mendampingi ayah yang wajahnya pucat dan lemah menuju ke arahku. Ayah mengelus kepalaku dengan lembut. “Anna, jangan lupa salat dan berdoa. Doakan Ayahmu ini agar sembuh dan bisa bersama kembali dengan kalian. Maafkan Ayah, Nak. Selama lima belas tahun Ayah tak pernah mengunjungimu.” Suara Ayah terdengar parau.

“Iya Yah, Anna sudah mengerti. Anna yang harus meminta maaf karena sempat membenci Ayah.” Aku berkata pelan sambil memeluk pundak ayah yang selama ini telah memberi sebagian hidupnya untukku. Ayah dan Ibu bergegas meninggalkanku lalu masuk ke angkot, angkot itu berjalan meninggalkan rumah sakit menuju bandara. Selama Ibu dan Ayah di Yogyakarta, aku tinggal bersama Elsa, Pak Andi, dan Ibu Sinar.

Dua minggu berlalu, ayah dan ibu tak kunjung kembali. Aku mendapat kabar dari Ibu Elsa bahwa ayah dan ibu ku akan datang. Namun pagi itu pertanyaan dan kebingunganku terjawab, ketika aku dan Elsa bermain di teras rumah, tiba-tiba terdengar suara ambulans. Aku dan Elsa kaget melihat ibu ke luar dari ambulans dengan wajah yang sedih dan mata bengkak.

“Ada apa Ibu? Apa yang terjadi?” Aku bertanya pada Ibu.
“Ayahmu Nak..” Dengan tangis yang semakin keras.
“Ada apa dengan Ayah?”
“Ayahmu.. ayahmu.. telah berpulang ke rahmatullah” Mendengar pernyataan Ibu, aku tak kuat, aku pun jatuh pingsan.

Setelah bangun, kepalaku terasa pusing, namun pikiranku langsung teringat oleh ayah. Aku pun berlari memeluk jasad ayah. Sayup-sayup terdengar lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema, orang-orang berdatangan untuk melayat. Ibu pun segera menghampiri untuk menenangkanku, menyuruhku untuk bersabar, dan ikhlas merelakan kepergian ayah.

Keangkuhan sang surya mulai nampak, membentang di langit khatulistiwa, aku dan ibu tetap berjalan menuju ke pemakaman, jasad ayah yang kaku pun mulai ditandu oleh beberapa orang. Setelah tiba di pemakaman, jasad ayah pun perlahan mulai dimasukkan ke dalam liang lahat. Akhirnya tanah itu pun mengubur seluruh badan ayah, tangisan ibu masih ku dengar. Aku menabur bunga di atas kuburan ayah, berdoa, menangis tersedu-sedu.

Setelah pemakaman selesai, kami kembali ke rumah. Ibu menceritakan kepadaku tentang ayah yang harus bekerja menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di Mesir. Ibu mengatakan kalau ayah sangat merindukanku dan ingin sekali berjumpa. Setahun yang lalu, ayah bercerita kalau ia pernah merasakan nyeri di dadanya, tetapi ayah hanya menganggap itu hal yang biasa dan terus bekerja menjalankan tugasnya.

Begitulah kematian, urusan yang tidak pernah bisa ditunda atau dimajukan. Semua makhluk yang bernyawa, besok lusa pasti akan mati, kembali ke pangkuan Allah SWT.

Cerpen Karangan: Indriyana Dewi
Facebook: facebook.com/dhewi.ardyansyah
Seorang mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Borneo Tarakan.

Cerpen Kembali Ke Pangkuan Mu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Traadisikah ini?

Oleh:
Baginya, dunia baru merupakan awal hidup baru, dan mungkin menjadi awal dari kebahagian serta semangat baru, atau bahkan merupakan masalah baru dan kesedihan yang akan terjadi lagi. Itulah yang

Aku Ingin Sekolah

Oleh:
“Ibu, Mila ingin sekali bisa sekolah kaya temen temen Mila yang lain” keluh Mila kepada Ibu nya. “iya Mila, ibu tau kamu mau sekolah. tapi mau diapain lagi, ibu

Bersatunya Hati Yang Patah

Oleh:
Semula semua baik-baik saja. Kebahagiaan menjadi hal utama dalam kehidupan mereka. Kasih sayang menjadi perekat dalam istana mereka. Menghabiskan waktu di rumah tanpa sedikit pun rasa bosan. Terlukis dengan

Terikat Tanpa Mengikat

Oleh:
Cahaya redup rembulan menggambarkan suasana hati yang bergemuruh di antara ketidakpastian menerima kenyataan bahwa aku sudah dijodohkan, malam ini terasa seperti mimpi buruk rasanya aku tak ingin bangun dan

Kisah Pak Hery

Oleh:
Matahari mulai memancarkan cahayanya dan menandakan kalau pagi sudah datang, seperti biasa Pak Hery bersiap untuk berangkat bekerja. beliau adalah seorang pekerja keras, beliau bekerja dengan gigih hanya untuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *