Kembalikan Kakakku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 10 February 2018

Aku menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur, tubuhku terasa sangat lelah setelah belajar seharian. Dari pukul tujuh pagi sampai pukul empat sore otakku dipaksa untuk menerima pelajaran yang membosankan bagiku, apalagi hari ini ada pelajaran matematika, pelajaran yang paling sulit diterima oleh otakku. Aku tak tahu kenapa tiba-tiba saja aku tersenyum melihat kakakku yang berdiri di pintu kamarku, ia terlihat manis sekali. Aku beranjak dari tempat tidurku dan menghampirinya.

“Ada apa kak?” Tanyaku padanya.
“Ayo makan! Hari ini kakak masak makanan kesukaan kamu.” Ucapnya sambil mengajakku ke ruang makan.

Aku sangat bahagia mempunyai seorang kakak seperti dia. Dia cantik, baik, rajin dan juga pintar. Dia selalu membuat hatiku tenang. Meskipun awalnya hatiku sedang gundah, namun karena kehadirannya membuat hatiku terasa damai. Kakak selalu membantuku mengerjakan PR yang entah berapa banyaknya, ia juga suka memberiku hadiah jika nilai ulanganku bagus. Tak ada kesan yang buruk saat aku bersamanya. Kakak adalah teman setiaku saat mama dan papa sibuk dengan pekerjaannya. Meskipun kakakku baru kelas dua SMA dan aku kelas satu SMP, namun ia seperti orang dewasa yang selalu melindungiku.

Nama kakakku Anggraini Valena, ia selalu meraih peringkat pertama di sekolah. Sedangkan aku Ravella Najwa yang selalu diomeli mama dan papa saat mereka melihat nilai raporku yang luar biasa. Aku terbiasa manja oleh kedua orangtuaku dan juga kakakku karena aku orang termuda di rumahku. Namun, aku suka sekali membantu kakakku mengerjakan pekerjaan rumah saat mama dan papa tidak berada di rumah. Aku sangat menyayangi kakakku, bahkan jika kakak sakit aku tak mau pergi sekolah karena aku ingin menjaganya. Karena itulah kakak juga sangat menyayangiku.

“Awas kucing!” Teriak kakak yang membuat lamunanku berlalu. Aku kaget melihat Pupus kucing kesayanganku telah menyantap dendeng kesukaanku.
“Loh, kok malah bengong sih? Pengen makan bareng sama Pupus ya?” Ucap kakak sambil tertawa kecil padaku. Aku merasa malu dan mulai menyantap makan siangku (meski sudah sore) dengan lahap, karena tadi siang aku belum sempat makan.

Suatu malam saat aku dan kakak sedang asyik menonton TV tiba-tiba hp kakak berbunyi.
“Siapa yang menelepon kak?” Tanyaku.
“Teman kakak dek, sebentar ya.” Jawab kakak dan pergi meninggalkanku sendirian.

Kakak terlihat asyik berbicara dengan temannya itu, sesekali terdengar tawanya yang pertanda betapa lucunya hal yang dibicarakannya itu. Tak terasa sudah pukul sembilan malam, namun kakak tak usai jua menelepon, aku pun menuju kamarku dan mulai tidur untuk bertemu dengan mimpi indahku.

Aku memeriksa tasku saat Pak Jajai memerintahkan untuk mengumpulkan buku tugas matematika.
“Aduh, kok bisa nggak ada?” Keluhku saat aku tidak menemukan buku tugasku di dalam tas.
“Kenapa Vel?” Tanya Vidia teman sebangkuku.
“Tugasku Vid, nggak ada.” Ucapku panik.

“Vella, mana tugasmu?” Tanya Pak Jajai yang telah berada di depanku, aku kaget dan tak menjawab sepatah kata pun.
“Kamu nggak buat tugas?” Tanya Pak Jajai lagi. Aku menunduk takut, Pak Jajai pun menyuruhku untuk keluar.
“Sesuai perjanjian yang sudah disepakati, yang tidak buat tugas silahkan keluar.” Tegas Pak Jajai yang membuat seisi kelas menertawakanku. Aku pun berlari keluar kelas karena malu, aku tahu ini semua salahku. Andai aku tidak lalai, aku pasti tidak dihukum seperti ini. Aku tak habis pikir kenapa tugasku sampai tak terbawa. Tadi pagi aku telat bangun, hingga harus tergesa-gesa untuk pergi ke sekolah.

“Kak, aku pulang.” Ucapku ketika baru saja sampai di rumah.
“Iya.” Jawab kakak yang berada di kamarnya. Kakakku selalu duluan pulang sekolah daripada aku, karena di sekolah kakak tidak ada sekolah sore seperti di sekolahku.

“Keluar dong kak! Tadi aku dihukum sama Pak Jajai karena aku lupa bawa buku tugas matematikaku kak.” Rengekku mengadu pada kakak.
“Iya, itu kan salah kamu. kenapa coba nggak bawa buku tugas.” Jawab kakak seperti mengejekku. Tak biasa-biasanya ia menjawab seperti itu, aku merasa aneh pada kakak, biasanya ia selalu berkata baik padaku.
“Maafin aku kak, aku lalai.” Ucapku sedih.

“Kenapa minta maaf sama kakak? Kamu nggak salah sama kakak, minta maaf sama diri sendiri.” Jawab kakak seperti bercanda.
“Aku minta maaf ya diriku sendiri.” Ucapku balik bercanda.
“Aku nggak punya waktu buat bercanda sama kamu.” Ucap kakak ketika ia membuka pintu kamarnya. Kakak asyik memainkan hpnya seolah-olah tak peduli padaku, ia lalu duduk di sofa tanpa menghiraukan aku yang dari tadi menunggunya keluar dari kamarnya. Hatiku semakin sakit, aku berlari menuju ke dapur, mana tau dendeng kesukaanku bisa menghibur hatiku. Namun, aku tak melihat makanan di atas meja, saat kuperiksa kulkas ternyata dagingnya masih di dalam kulkas. Aku sangat kecewa dan kembali menemui kakak.

“Kak, kenapa nggak masak? Vella lapar kak.” Ucapku sambil menekan perutku yang sudah sangat lapar.
“Masak sendiri!” Balasnya cuek dan tetap memainkan hpnya. Aku sangat kecewa dengan perlakuan kakak hari ini, aku lalu berlari menuju kamar dan menghempas pintu kamarku karena kesal, namun tetap tak ada reaksi dari kakak. Aku pun memeluk boneka beruangku dan mulai melepas tangisku.

Setiap hari kuperhatikan sikap kakak selalu membuatku jengkel dan menyebalkan, tak ada lagi kakakku yang seperti dulu, hpnya tak pernah lepas dari tangannya, ia selalu memainkannya. Yang lebih menyedihkan bagiku semua pekerjaan rumah dibebankan padaku, sama sekali kakak tak pernah membantuku, ia hanya pandai menyuruh ini dan menyuruh itu. Jika aku tak mau menurutinya, ia malah tega memukulku, tak sedikit pun aku menyangka kakak bakalan seperti ini. Mama dan papa belum juga pulang karena ditugaskan di luar negeri, aku tak bisa menghubungi mereka karena kakak melarangku, padahal aku sangat merindukan mereka.

Aku sangat lelah ketika pulang sekolah harus mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Kakak yang manis dulu telah berubah menjadi kakak yang menakutkan bagiku, suka marah dan selalu bicara kasar padaku, namun kepada orang lain ia selalu berkata lemah lembut.

“Lagi duduk-duduk aja sayang, sayang lagi apa?” Ucap kakak yang tak sengaja kudengar waktu itu.
“Menelepon sama siapa kak?” Tanyaku padanya. Kakak tak menjawab dan memandangiku dengan marah, namun ia tetap bicara dengan nada lembut pada orang yang meneleponnya itu.
Sejak saat itu aku mulai sadar bahwa kakak sudah mulai pacaran meskipun ia tak penah memberitahuku tentang hal itu, yang jelas semenjak kehadiran orang itu dalam hidup kakak membuat aku dan kakak tidak seperti dulu lagi, tentu saja aku sangat membenci orang itu.

Saat aku membersihkan kamar kakak, aku melihat angka 46 di kertas ulangannya, aku kaget melihat itu dan menanyakannya pada kakak.
“Ngapain kamu urus urusan kakak? Urus aja urusan kamu sendiri, emangnya kamu pikir kamu tu pintar apa?” Marah kakak padaku.
“Bukannya gitu kak, tapi nggak biasa-biasanya nilai kakak kayak gini. Atau gara-gara pacar kakak itu makanya kakak kayak gini?” Balasku.
“Eh, jangan hubung-hubungkan masalah pacaran dengan nilai, kamu tu masih kecil nggak kan pernah tahu gimana susahnya ngerjain soal-soal itu.” Jawab kakak.

“Sejak kapan kakak menganggap sebuah soal itu susah? Setahuku kakak seorang murid yang pintar yang bisa memecahkan semua persoalan, bukan kayak gini. Aku kecewa sama kakak.” Ucapku kesal dan pergi meninggalkannya.
“Terserah kamu.” Teriak kakak.

Aku semakin benci pada orang yang telah merubah hidup kakak, inginku mengadu pada mama tentang perubahan sikap kakak, namun aku tak punya hp ataupun nomor hp papa dan mama. Mungkin yang mama tahu aku dan kakak masih seperti dulu selalu berbagi satu sama lain, namun kenyataannya sekarang tidak lagi seperti itu. Kadang saat malam tiba, aku selalu mengeluh,
“Kapan mama dan papa pulang?” Aku selalu menumpahkan air bening dari mataku.

Tok tok tok.. Terdengar ada orang yang mengetuk pintu rumahku. Aku yang baru saja selesai menyantap sarapan pagiku segera membukakan pintu.

“Hai dek, Kak Valenanya ada?” Tanya seorang laki-laki tampan yang berada di hadapanku.
“Ada kak.” Jawabku sambil memperhatikannya.
“Jadi ini pacar Kak Valena” Pikirku.

“Siapa Vel?” Tanya Kakak dari kamarnya.
“Ini aku Irfan.” Jawab laki-laki itu.
“Suruh dia masuk Vel!” Teriak kakak.
“Silahkan masuk Kak Irfan.” Ucapku.

“Kakak pacarnya Kak Valena ya?” Tanyaku tiba-tiba.
“I iya dek.” Jawabnya agak gugup.
“O gitu, ya udah aku berangkat sekolah dulu.” Ucapku dan pergi meninggalkannya. Aku sangat membenci laki-laki itu, karena dialah kakakku menjadi berubah. Aku berangkat ke sekolah walaupun fikiranku masih tertuju pada laki-laki itu.

Sejak saat itu, setiap pagi laki-laki itu selalu menjemput kakak untuk pergi sekolah bersama, padahal sekolah kakak tak terlalu jauh dari rumah cuma butuh waktu lima menit untuk berjalan kaki, menurutku terlalu lebay pake jemput-jemputan segala. Aku yang semakin muak melihat laki-laki itu berupaya untuk cepat-cepat pergi sekolah agar tak bertemu dengannya. Namun, meskipun sudah seperti itu laki-laki itu sering datang ke rumah untuk mengajak kakak pergi jalan-jalan. Jadi, mau tak mau aku selalu memandang wajahnya yang membosankan bagiku.

Hari ini aku sangat senang sekali karena nilai ulangan matematikaku menjadi nilai tertinggi di kelas, teman-temanku tak mengira bahwa aku bisa mendapatkan nilai sebagus itu apalagi matematika. Saat pulang sekolah, aku pun berlari kegirangan untuk pulang ke rumah karena hari ini juga mama dan papa akan segera kembali ke rumah.

Setibanya di rumah, aku mendengar suara tangisan kakak di kamarnya. Diam-diam aku pun berusaha untuk mendengar ucapannya.
“Aku nggak mau putus dari kamu Fan.” Ucap kakak dalam tangisannya.

“Kak, kakak nggak apa-apa kan kak?” Aku memberanikan diri untuk bertanya padanya.
“Pergi kamu!” Teriaknya membuatku kaget.
“Tak ada lagi yang sayang sama aku, aku benci kalian semua.” Sambungnya lagi.

“Vella sayang sama kakak.” Ucapku berusaha untuk menenangkannya.
“Aku nggak butuh sayang dari kamu, aku cuma butuh sayang dari Irfan.” Jawabnya.

Aku berusaha untuk membuka pintu kamarnya saat aku tahu dia mengamuk-ngamuk di dalam kamarnya. Terdengar jatuhan benda ini dan itu.
“Kak, buka pintunya kak! Vella sayang kakak.” Ucapku yang mulai menangis.
“Pergi kamu!” Teriaknya.
“Ke mana Vella akan pergi kak? tolong buka pintunya.” Aku terus menyuruhnya untuk membuka pintunya, namun ia tak juga membukakannya untukku. Aku terduduk dan menangis di depan pintu kamarnya, berharap ia membukakan pintu dan memeluk diriku.

“Sayang, mama pulang.” Ucap mamaku dari luar, aku pun berlari memeluk mama.
“Kenapa nangis Vel?” Tanya papaku.
“Lihat kakak Pa!” Jawabku sedih.
Mama dan papa pun pergi untuk menemui kakak.

“Valena buka pintunya!” Teriak papa. Namun tak ada jawaban dari kamar kakak. Aku semakin resah akan hal itu. Papa pun berusaha membuka pintu kamar kakak dan akhirnya pintu itu pun terbuka.

Aku, mama dan papa kaget melihat kakak, ia terkapar di atas lantai, kamarnya sangat berantakan. Mataku tertuju pada racun pembunuh tikus yang tertumpah di lantai. Mama dan papa berlari memeluk kakak, sedangkan kakiku tertahan karena gravitasi bumi yang sangat kuat terasa dan pada akhirnya membuat tubuhku jatuh.

Cerpen Karangan: Mei Defrita Ratna Sari
Facebook: Dhea Meidefrita Ratna Sari

Cerpen Kembalikan Kakakku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mimpi Berto

Oleh:
Pada Suatu malam di sebuah kampung terpencil di ujung timur Indonesia, hiduplah seorang anak kecil yang bercita-cita menjadi seorang pemain sepakbola. Ia adalah Berto, remaja muda yang berasal dari

Citarasa Cinta Masa SMA (Part 1)

Oleh:
Namanya Aldiara Sanjaya. Begitu sempurna untuk dikagumi para kaum hawa di sekolahku. Secara fisik, ia tinggi, atletis dan jelas saja tampan. Seorang yang berotak encer dalam bidang akademik dan

Satria Belajar Bermain Gitar

Oleh:
Ngiiiingg!!! Suara nyamuk terbang dan hinggap di lengan Satria yang sedang tertidur pulas. Satria sempat mendengarnya, ah ini pasti suara peri yang lagi terbang.. pikirnya. Nyiiittt!!! Nyamuk itu menggigit

Keajaiban Kentut

Oleh:
Banyak yang enggak tahu, kalau diem-diem kaya gini ternyata gue punya phobia sama yang namanya kentut. Yang gue namain kaentut phillia, yaitu rasa takut yang berlebih terhadap kentut. Bukan,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *