Kenangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Jawa, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 29 February 2016

Minggu pagi, adalah hari yang sangat menyenangkan untuk anak-anak sekolah dasar. Apalagi yang suka nonton kartun, biasanya hari minggu memang waktunya untuk nongkrong di depan tv. Akan ada banyak sekali tokoh kartun yang bisa ditonton. Kayak Putri Shopia, Curious Gorge, aku ingat sering menontonnya saat pulang ke rumah. Davin sangat menyukainya. Tapi hari minggu itu sangat berbeda. Belakangan ini hari-hari memang berbeda di rumah. Sebabnya, umi masih saja memandang fotoku dengan mata kosong. Ayah yang memang biasanya pendiam menjadi semakin pendiam. Davin, yang biasanya nongkrong di depan tv, masih sibuk dengan mainannya. Entah apa yang ia lakukan, ia masih belum mengerti kehilangan. Rumah yang memang biasanya kosong itu pun, semakin bertambah suram. Aku tak mengerti kenapa, seharusnya memang tidak begini kan? Semua ini salahku. Kemudian ayahku memecah kesunyian.

“Uwis tha mi, relakno wae (sudah mi, relakan saja).” Umiku yang masih menerawang tidak menjawab kata-kata ayahku. Ayahku hanya bisa pasrah melihatnya dan Davin, masih bingung dengan suasana ini. Masih belum mengerti, kenapa. Aku juga masih bertanya-tanya kenapa.

Sore itu, sebuah sms masuk ke hp-ku. “Sidang Sarjana.” oh, dari jarkom himpunan. Lagi-lagi sidang, sedangkan aku? Masih sibuk dengan masalah pribadi. Masalah kemalasan. Aku tahu seharusnya aku tidak memilih jurusan ini. Tapi aku sudah terlanjur memilih jurusan ini dan tidak menyangka mengambil keputusan untuk mengambil topik skripsi yang pada akhirnya ku benci. Jadilah aku seperti ini, melanglang buana hanya di kamarku saja dan menyesali diri sendiri.

Mengapa? Bagaimana sendainya jika aku memilih jalan hidup yang lain? Bagaimana kalau aku memilih jalan hidup yang biasa-biasa saja? Toh aku ini anak kampung. Tidak ada satu pun keluargaku yang pernah mengenyam pendidikan setinggiku. Tapi dulu, aku bertekad ingin menjadi yang paling beda di antara keluargaku. Menjadi yang pertama bisa bilang kalau keluargaku memiliki seseorang yang bisa dibanggakan. Mungkin, aku terlalu bersemangat atau apa, sampai-sampai berakhir di jurang penyesalan ini. Dan sudah ku putuskan, aku akan berhenti melakukan ini dan melakukan apa yang ku mau. Tapi kalau dipikir-pikir dari awal ini memang yang ku mau. Tapi aku berhenti di tengah jalan seperti seorang pengecut.

Siang itu, “Waah, kelas sebelah kosong loh. Anak-anak agen 1 diajak ke mana gitu sama Bu Dwi, yuk pindah kelas ke sana aja. Lebih adem lagi.” kata Diaz ke anak-anak. Agen 1 adalah sebutan untuk kakak kelas kami, kelas akselerasi tahun pertama yang diadakan di sekolah kami. Atau bisa dibilang angkatan mereka, adalah kelas pelopor dengan tema percepatan. Gumaman riuh anak-anak menanggapi Diaz, menyetujui. Saat itu aku sedang sibuk membaca novel Harry Potter jilid 2 yang dipinjamkan oleh Dani dan tidak ikut berhuru-hara.

“Gimana? Ikut gak say?” tanya Sammie temen sebangkuku.
“Hayuk aja.” Jawabku singkat, kapan lagi kami bisa memakai ruang kelas full AC dan lebih luas dibanding kelas kami. Apalagi komputer kelasnya penuh dengan game dan film yang bagus-bagus, salah satu senior kami dari agen 1 memang terkenal hacker dan jago download film apa saja.

Tapi dasar aku, bebal, dan egois, akhirnya tinggal aku yang tertinggal di kelas. Kenapa? Karena aku terlalu fokus dengan apa yang ku baca. Akhirnya teman-temanku menyerah dan kembali lagi ke kelas kami. Beberapa hari kemudian Diaz, tiba–tiba menyeletuk ketika duduk di sampingku, “Eh, lo kenapa sih suka sendiri? Dulu pas awal gue lihat elo emang kayaknya susah banget ya diajak temenan.” Ucapannya memang agak menohok hatiku, aku teringat Retno, sahabatku sewaktu SMP yang pernah berkata aku bukan sahabat yang baik. Aku memang tidak mengerti cara menjadi sahabat baik, tidak pernah ada yang mengajariku. Aku cuma bisa menjawab, “Aku nggak tahu caranya.”

Pada akhirnya hanya beberapa teman cowok dan Sammie saja yang berkomunikasi denganku. Itu pun karena sama-sama suka komik dan of course Sammie teman sebangkuku. Sekarang aku mengerti kenapa aku tidak memiliki teman. Teman tanpa kebutuhan atau teman yang cuma dibutuhkan itulah aku. Aku sadar teman-temanku sering berkata seperti itu, dan mereka benar. Aku pernah bertengkar dengan teman sekelas SMP-ku, hanya gara-gara aku bilang aku nggak butuh bantuannya kalau dia hanya iri denganku. Sekarang aku yang iri dengannya. Dan itulah alasan kenapa sekarang aku jadi begini.

“Mbak, piye sekolahe? Lancar? (Mbak, gimana sekolahnya?)” Ibuku yang biasa ku panggil Umi bertanya di seberang sana. “Nggih, lancar Mi.” Jawabku sekenanya. Aku tidak terlalu dekat dengan keluargaku, mungkin karena aku memang terbiasa mandiri, atau aku memang pribadi yang tertutup.
“Pulang kapan Mbak? Ini Adik udah nunggu-nunggu Mbak pulang. Tiap hari nanyain, kan udah deket liburan tahun baru.” ibuku bertanya kemudian setelah aku terdiam. Hanya ada satu di pikiranku saat itu, aku ingin cerita ke ibuku tentang masalahku tapi ku putuskan aku akan mencari jawabannya saat aku pulang. Jadi, aku harus pulang.

“Minggu depan Mbak pulang Mi, naik kereta Kahuripan, nyampe sana jam biasa. Nggak dijemput juga tidak apa-apa,” minggu depan hari senin, aku tahu ibuku harus menjemput adik, jadi mungkin aku harus naik bus untuk sampai ke rumah. “Dijemput saja Mbak, Adik ada yang jemput,” ibuku menjawab kalem.
“Ya sudah, mau dibawain oleh-oleh apa Mi?”
“Sudah, nggak usah, bawanya berat nanti.” ibuku menyahut dan Klik ku matikan sambungannya.

Aku tahu keputusanku salah, salah besar. Tapi aku sudah membulatkan tekad, aku harus mencari tahu jawabannya sendiri. Tetapi ketika aku pulang, aku tidak menemukan jawabannya, aku hanya terkurung di pikiranku tanpa menemukan jalan keluar dan saat aku kembali ke perantauan, hal yang lebih buruk terjadi. Sampai akhirnya aku melakukannya, karena aku ingin semua ini berhenti. Saat aku sadar semua ini berhenti, aku hanya bisa melayang-lanyang mengamati.

Harusnya aku tidak melakukan ini, aku tahu aku salah. Tapi aku terlanjur melakukannya dan aku tidak bisa kembali. Aku tahu hal ini membuat keluargaku sedih, tapi saat itu aku hanya merasa seorang diri, dan tidak ada orang lain yang mengulurkan tangan. Mungkin aku hanya bisa berpesan, “Semua orang itu tidak hidup sendiri, hanya ada orang yang tidak mau bersosialisasi sehingga merasa hidupnya sendiri. Dan ingatlah selalu ada keluarga yang mencintaimu dan akan bersedih ketika kau pergi. Kau tidak pernah sendiri di dunia ini.”

Cerpen Karangan: Naomi Jasmine

Cerpen Kenangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Untuk Yang Terakhir

Oleh:
Matahari mulai terbenam dari ufuk barat, pelahan-lahan malam pun datang. Udara dingin terasa mulai menusuk. Entah mengapa udara malam ini sangat digin sekali, tiba-tiba rintik air hujan pun turun.

Akankah Kalian Tahu

Oleh:
Masa smp kulalui dengan sangat indah. Orang bilang, masa smp adalah masa-masa sekolah yang paling indah dibanding masa sekolah lainnya. Mungkin mereka benar. Pada masa smp aku memiliki banyak

Surat Dari Sahabat

Oleh:
Gak terasa kini kami sudah berpisah, tapi bagi kami berpisah bukan untuk selamanya, bahkan perpisahan ini langkah kesuksesan untuk kami dimasa depan nantinya. Haii… nama saya Difa Ramadhani, biasanya

Surat Terakhir Viona

Oleh:
Hari ini angela dan viona pergi ke sekolah bersama, mereka berdua adalah sahabat yang tak terpisahkan, hari ini hari senin dan hari ini angela menjadi petugas bendera tetapi viona

Kinara

Oleh:
Di persimpangan langkahku terhenti, ramai kaki lima di sebuah pasar, pusat Kota. Pandanganku tertuju pada sosok gadis kecil yang berbaju kusam, dengan rambut yang terurai tampak tak terawat. Dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *