Kenangan Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 10 June 2015

Namaku Bila, aku adalah anak sematawayang. Ya, aku senang sekali menjadi anak sematawayang karena aku dapat bermanja-manja dengan kedua orangtuaku. Orangtuaku pun selalu memenuhi keinginanku, sangat bersyukurlah aku dengan keadaan ini.

Malam itu terdengar suara mobil Papa yang baru pulang dari kantor tempat Papa bekerja, aku dan Mamaku langsung menyambut kedatangan Papa yang berada di depan rumah. Lalu hangat kurasa peluk dan cium dari seorang Papa saat itu. Setelah itu kami bertiga berkumpul di ruang tamu seperti biasa untuk berbincang-bincang sambil meminum teh bersama.

“Bil, minggu depan kamu bakal ikut SKAL ya? Wah… anak Papa jalan-jalan ke Bali juga deh.” Ucap Papa.
“Iya Pa, alhamdulillah akhirnya Bila bakal main ke Bali juga. Oya, nanti Papa yang nganterin Bila berangkat ke sekolah buat SKAL ya, sama Mama juga pastinya. Ya Pa?” Pintaku kepada Papa.
“Papa mungkin tidak bisa mengantar kamu nak, maaf ya sayang.” Jawab Papa singkat.
“Udah, jangan cemberut gitu. Bila kan berangkatnya bisa sama Mama aja. Papa mungkin lagi banyak kerjaan, jadi tidak bisa nganterin kamu.” Ucap Mamaku.
“Iya, Bila tidak boleh sedih gitu dong. Kan masih ada Mama yang nemenin Bila.”
Aku hanya terdiam mendengar perkataan Papa seperti itu. Biasanya saja Papa rela mengorbankan waktu kerjanya demi aku, tapi sekarang? Padahal aku hanya ingin melihat Papa bahagia ketika aku berangkat SKAL bersama dengan teman-temanku, tapi Papa malah menolak ajakanku tadi.

Setelah perbincangan kami di ruang tamu akirnya kami pun beristirahat di kamar masing-masing. Waktu telah menunjukkan pukul 9 malam, aku telah bersiap untuk tidur malam. Tiba-tiba terdengar suara pintu kamarku yang terbuka, ternyata sosok Papa yang masuk ke dalam kamarku.
“Anak Papa udah mau tidur nih? Tapi Papa ada kado nih buat kamu. Mau tidak?” tanya Papa.
“Wah… kado? Tapi kan ulang tahun Bila masih lama Pa.” Jawabku dengan keheranan.
“Kan Papa mau memberi kejutan ke kamu hari ini. Ayo cepat dibuka ya kadonya.” Ajak Papa.
Kado tersebut lalu aku terima dari tangan Papa, berbentuk kubus dan terasa sedikit berat jika dipegang itulah fisik kado tersebut.
“Ini bom ya Pa? Lumayan berat juga nih kadonya. Hehe.” Candaku untuk membunuh keheningan gelap malam saat itu.
Saat ku buka kado tersebut ternyata munculah hadiah yang selama ini aku idam-idamkan. Apalagi kalau bukan sebuah HP Blackberry. Aku terkejut bahagia dan langsung mengucapkan terimakasih sambil memeluk dan mencium pipi Papa. Lalu Papa membalasnya dengan mencubit ringan pipi mungilku ini dan mencium keningku. Tak hanya HP saja, Papa juga memberiku beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah. Aku pun bingung saat itu juga.
“Pa, beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah ini buat apa?” tanyaku keheranan.
“Kan Papa tadi udah bilang kalau Papa tidak bisa nemenin kamu berangkat SKAL. Jadi uang ini kamu simpan untuk berbelanja di Bali nanti ya. Jangan lupa juga, kalau ada teman Bila yang kurang mampu, Bila harus berbagi ya sama teman tersebut. Mengerti kan?” jawab Papa panjang lebar.
Seketika itu juga aku kembali memeluk Papa, lebih jelasnya memeluknya dengan sangat erat. Entah apa yang ada di fikiranku saat itu aku merasa benar-benar aneh. Pelukan itu benar-benar beda kurasa tak seperti biasanya. Akhirnya aku pun kembali tidur, Papa membaluti tubuhku dengan selimut agar aku tak kedinginan lalu Papa pergi dan meninggalkan kamarku sambil berucap “Selamat tidur nak”.

“Kring… kring…” terdengar suara jam bekerku yang telah membimbingku untuk segera beranjak dari ranjang tempat tidurku. Aku segera mempersiapkan diri untuk berangkat sekolah. Seperti biasa, hari Sabtu adalah hari dimana jadwal Papa untuk mengantarku berangkat sekolah. Karena hari Senin sampai dengan Jum’at Papa terlalu sibuk bekerja di luar kota.

Kemudian aku segera naik mobil untuk pergi ke sekolah bersama dengan Papaku. Di dalam perjalanan Papa mengajakku mengobrol tentang berbagai kegiatanku selama ini, lalu tiba-tiba Papa bertanya tentang suatu hal kepadaku diluar topik pembicaraan.
“Nak, tabungan kamu gimana? Kamu pasti tidak pernah mengeceknya ya? Mulai sekarang kamu harus bisa mengurus tabungan kamu sendiri ya. Kamu harus bisa mandiri, jangan mengandalkan Papa terus.”
Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan Papa tersebut. Kini aku kembali merasa aneh, aku tidak bisa menafsirkan keanehanku pada malam kemarin dan saat ini. “Tuhan, jagalah aku dan keluargaku”. Tanpa terasa hatiku mengucapkan kalimat tersebut. Ini benar-benar aneh.

Tibalah aku di sekolah, aku lalu berpamitan kepada Papa dengan mencium tangannya.
“Hati-hati ya nak. Jaga diri kamu baik-baik.” Ucap Papa singkat penuh makna, lalu aku pergi meninggalkannya menuju gerbang sekolah.

Sekolah, itulah tempatku mendapatkan ilmu, tempatku bertemu dengan para guru pahlawanku serta tempatku untuk bersunda gurau dengan para teman dan sahabatku. Banyak sekali pengalaman hidup dan motivasi jiwa yang aku dapatkan di sekolah ini. Senang rasanya bisa masuk di sekolah ini.

Tak terasa bel sekolah sudah membangkitkan semangat para murid disini untuk pulang. Aku pun segera mempersiapkan diri tetapi hari ini aku mendapatkan jadwal untuk kerja kelompok.

Waktu terus berputar, detik demi detik aku habiskan dengan mengerjakan tugas bersama sahabatku sambil bercandaan. Akhirnya tugas kami selesai dan waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 lama sekali rasanya, tetapi jika berkumpul dengan sahabat pasti waktu yang selama apapun itu akan menjadi lebih cepat. Setibanya di rumah aku pun kembali mengerjakan tugas rumahku, dan selama di rumah kali ini aku sama sekali tak melihat sosok Papa. Aku pun bertanya kepada Mama.
“Papa kemana Ma? Perasaan tadi Bila tidak melihat Papa sama sekali.” Tanyaku.
“Papa sedang pergi nak. Mungkin bersama teman-temannya sedang jalan-jalan.” Ucap Mama.
Senja telah tiba dan malam pun datang, entah mengapa hari ini aku sangat mengantuk akhirnya aku putuskan untuk tidur lebih awal kali ini.
“Skrek…” terdengar suara kelambu kamarku yang terbuka. Papa rupanya yang membuka kelambu tersebut. Aku pun tak menghiraukannya karena ini masih pagi buta. Dengan mata sayu-sayu aku melihat Papa. Saat itu Papa sedang memandangiku, entah kenapa Papa lama sekali memandangku dan mengusap-usap keningku. Setelah itu Papa meninggalkanku, tetapi sekali lagi Papa memandangku sangat lama dan akhirnya Papa menutup pintu kamarku.

Jam beker lalu membangunkanku, bergegaslah aku mandi dan sarapan bersama Mamaku.
“Papa kemana Ma?” tanyaku singkat.
“Papa sedang olahraga bersepeda bersama dengan temannya. Tadi kan Papa udah ke kamar kamu buat pamitan.” Jawab Mama.

Setelah kami berdua sarapan tetanggaku mengetuk pintu rumahku dengan wajah memerah kebingungan. Lalu aku dan Mama membukakan pintu untuknya. Tetanggaku langsung memeluk Mama dengan raut wajah seperti menahan tangis.
“Mba, Papa Bila kecelakaan. Sekarang beliau sedang berada di ruang UGD rumah sakit Bhayangkara.”
Aku beserta Mamaku pun langsung tersentak mendengar perkataan tetangga kami. Akhirnya Mama memutuskan untuk pergi memastikan keadaan Papa yang berada di rumah sakit sekarang. Sementara aku hanya menunggu kebenaran kabar tersebut di rumah.

Lama mungkin aku menunggu kepastian kabar tersebut. Dan akhirnya terdapat bunyi mobil ambulan yang berhenti tepat berada di depan rumahku. Jantungku berdebar cepat, perasaanku mulai kacau balau. Aku tak berani untuk melihat situasi di depan rumah karena aku tahu hal itu akan membuatku benar-benar seperti telah tebunuh.

Mama langsung menghampiriku yang berada di dalam kamar. Raut wajah Mama benar-benar memerah, pipi mungilnya telah basah oleh linangan air matanya, Mama lalu memelukku dengan erat dan berkata bahwa Papa telah tiada. Saat itu juga air mataku mulai menetes perlahan-lahan. Aku langsung berlari menuju ke ruang tamu dimana disitulah telah tampak mayat Papa. Melihat mayat Papa, seketika aku langsung menangis dan berteriak sekeras-kerasnya. Pelangi dalam hidupku kini telah menghilang, menjauh, dan pergi untuk selamanya. Kini Papa telah tidur nyenyak untuk selama-lamanya, hanya senyumnya yang terlihat cerah memancar pada saat itu. Papa telah pegi ke alam yang lebih indah bersama dengan kedua malaikat.

Saat itu aku hanya bisa menangis memandangi raut wajah Papa, aku mencoba mengikhlaskannya saat itu tetapi batinku menolak. Aku terus mengeluarkan air mata tanda aku tak bisa merelakan Papa yang pergi selama-lamanya dari dunia ini.

Melamun dan berdoa. Tak ada lagi yang bisa ku lakukan selain itu, sampai akhirnya tiba waktu untuk disemayamkannya jasad Papa pada lubang tanah tempat terakhir Papa. Kembali pada saat itu aku menangis terisak. Rasanya aku masih ingin merasakan hangat pelukan dari Papa, masih ingin merasakan dimanja olehnya, dan masih ingin juga merasakan cinta kasih dari Papa. Tapi kini Papa telah pergi menghadap Yang Maha Kuasa. Batu nisan telah tertancap pada kuburan Papa, aku memandangi batu nisan tersebut, aku mulai sadar kenapa tingkah Papa pada hari-hari sebelumnya di rumah sangatlah aneh. Ternyata, Papa sudah merasa bahwa Papa akan pergi dari dunia ini.

Sepulangnya aku beserta rombongan dari makam Papa, aku melihat banyak sekali karangan bunga yang berbaris rapi di sepanjang jalan ke rumah. Aku kembali menangis dan hanya bisa menangis. Tuhan, rasanya inilah hal terberat yang pernah aku rasakan dalam hidup ini. Aku benar-benar takut dengan keadaan ini. Bagaimana bisa aku menjalani hari-hari tanpa belaian kasih sayang dari seorang Papa? Bagaimana Bisa Ya Tuhan? Kenapa juga harus keluargaku yang mengalami kepedihan ini? Apa salah keluarga kecilku ini Ya Tuhan?

“Untuk Papa yang kini telah berada di Surga, sekarang aku telah mengikhlaskan Papa pergi. Meskipun, kini Papa telah tiada tapi aku yakin Papa selalu berada di dekatku untuk melindungiku setiap saat. Walaupun kini aku tak merasakan kasih sayang dari Papa lagi tapi aku hanya berharap Papa dapat mendengar suara hatiku ini bahwa aku benar-benar sangat merindukan Papa. Bila sayang Papa, maafin Bila kalo Bila punya salah Pa. Bila dan Mama mencintai Papa selalu.”

Cerpen Karangan: Nadia Salsabilah
Blog: bilabilol.blogspot.com
Facebook: Nadia Salsabilah

Cerpen Kenangan Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lampung Yang Membuatmu Bangga

Oleh:
Sindy Putri Anastasya adalah anak dari bapak Darmawan dan ibu Santi. Dia lahir pada 26 Desember 1999, sekarang usianya 13 tahun. Shanti duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP)

Sepenggal Kisah Mira

Oleh:
Aku bingung. Semua orang menatapku sedih. Bahkan tidak sedikit yang menangis. Aku masih termenung. Mama tidak menjawabku. Apakah mama marah padaku? Apakah aku tidak melakukan permintaan mama? Aku rasa

Perampok, Teganya Dikau

Oleh:
Air mata Zul Kaizani menetes membanjiri pakaiannya. Tergambar penyesalan yang amat besar di wajahnya. Ia meratapi tubuh Gurunya itu dengan penuh kasih sayang. Begitu juga dengan Paozan, matanya menggambarkan

Sepatu Untuk Nisa

Oleh:
Di jalan setapak sepagi ini sudah ada suara anak sekolah yang berangkat ke sekolah dia adalah Arif dan Anisa dua kakak beradik yang sangat akur. Arif begitu menyayangi adiknya

Maaf Mama

Oleh:
“Kalau pulang sekarang pasti gak ada lagi angkot, tapi kalau gak pulang mama pasti marah. Tapi mau naik apa, aduh…” langkah Dita tergangu karena lubang besar di jalannya. Karena

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *