Kenangan yang Terlupakan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 29 November 2016

Aku memandang papan tulis yang kosong di depan kelas. Sudah 5 menit semenjak bel pulang berbunyi. Hanya aku sendiri yang berada di kelas sekarang. Perasaan ini selalu muncul setiap bel pulang berbunyi. Rasanya seperti mimpi, tapi mimpi ini terlihat sangat nyata. Kata ayah itu merupakan sebuah kenangan yang terlupakan, saat kutanya kenapa terlupakan, ayah hanya diam membisu.

Setelah berhasil menenangkan diri, aku cepat-cepat ke luar dari kelas ini. Pak Udin sudah menunggu di depan mobil, siap mengantarku pulang. Dia selalu menyambutku dengan senyuman, senyuman yang tidak akan pernah aku balas. Lebih baik aku pulang berjalan kaki dibanding harus satu mobil dengan orang lain. Orang-orang selalu mengatakan kalau aku ini kasar, egois dan tidak sopan. Tapi aku tidak peduli, aku tidak pernah bertanya apa yang mereka pikirkan tentang diriku.

“Neng Dara, hari ini mau langsung pulang?”
Aku menatap mata Pak Udin melalui kaca spion, lalu menaikkan salah satu alisku. Dia sudah mengerti maksudku. Artinya aku bertanya padanya kenapa aku harus membuang-buang waktu untuk ke tempat lain. Kemudian dia berhenti bicara dan langsung mengendarai mobil ayahku ini ke rumah. Suasana di mobil sangat sunyi. Aku mematikan radio karena tidak ingin mendengar hal-hal tidak jelas yang disampaikan penyiar radio.

Dari luar pagar rumah aku dapat melihat sosok mama di taman. Dengan terusan berwarna biru laut bermotif bunga, dia duduk sambil menikmati secangkir kopi di kursi taman kami. Taman merupakan tempat favorit mama, dan taman juga merupakan tempat yang paling kubenci. Setelah keluar dari mobil, aku hanya melirik mama yang memerhatikanku, lalu aku masuk ke dalam rumah. Anak durhaka merupakan sebutanku menurut Tante Irma, adik dari mamaku. Kalau dipikir-pikir, tante Irma yang pantas aku panggil “mama” dibanding mamaku sendiri sekarang. Tante Irma lebih peduli padaku. Mama? Semenjak aku memasuki SMP tiap hari dia hanya menghabiskan waktu di dapur dan di taman. Entah apa yang dilakukannya, aku sudah muak. Ayah selalu sibuk berkerja, aku hanya melihatnya sekali dalam seminggu, yaitu hari minggu. Tidak, orangtuaku tidak bercerai, hanya saja aneh.

Sepulang sekolah aku selalu membuat PR terlebih dahulu, supaya nanti aku bisa bersantai. PR hari ini lumayan sedikit. Hanya Bahasa Inggris dan Matematika. Saat membuka buku Bahasa Inggris, di halaman paling depan ada sebuah memo yang bertuliskan: “PR Bahasa Inggris, mewawancarai orangtuamu lalu membuatnya sebagai cerita pendek.”
“Kenapa Miss Dewi harus memberikan PR yang tidak jelas? Guru aneh,” gumamku dalam hati.
Karena ayah masih sibuk berkerja dan tidak mungkin aku membuang-buang energi untuk ke kantornya, aku hanya punya satu pilihan; mewawancari mama.

Dengan langkah yang berat aku menuruni anak tangga menuju ke taman. Selembar kertas berisi beberapa pertanyaan yang sudah aku susun di sekolah tadi ada di tanganku. Dari ruang tamu aku sudah bisa melihat mama, duduk dengan tatapan kosongnya seperti biasa. Sepertinya dia sadar kalau aku mendekatinya. Aku membuka mulutku, tapi kata-kata ini seolah-olah tersendat di tenggorakanku. Kuambil nafas panjang lalu mulai ‘berbicara’ padanya.
“Ma, kenapa mama memilih untuk tidak berkerja seperti ayah?”
Mama hanya menatapku lekat-lekat, setelah itu berpaling dariku.
“Ma.. jawab. Kenapa sih setiap kali aku berbicara sama mama, mama selalu diam?”
Mama berdiri, lalu berjalan dengan pelan ke dalam rumah. Tiba-tiba, aku merasa ingatan yang terlupakan itu kembali lagi. Aku hanya bisa menahan sakitnya. Bukan maksudku sakit seperti sakit kepala biasa, tapi sakit seperti sesak di dada.
“MAMA!” teriakku kencang, membuat mama berhenti melangkah.
“Kenapa sih mama selalu berpaling dariku? Aku ingat betul kata mama saat aku masih kecil, mama bilang aku harus selalu menatap mata orang saat berbicara, jangan berpaling karena itu tidak sopan. Kenapa mama berubah semenjak aku masuk SMP?”
Mama berbalik, dengan tangannya yang memegang cangkir erat-erat, dia menatapku sekali lagi.
“Kamu sendiri yang menginginkan semua ini terjadi. Kamu harus ingat.”
“Maksudnya apa? Kenapa bukan mama yang mengingatkanku?” tanyaku lagi, dengan nada kencang.
Mama berpaling lagi, karena kesal, aku langsung kabur dari rumah. Pak Udin dan penjaga tamanku berlarian ikut mengejarku. Pak Udin kembali, mengambil mobil untuk mengejarku. Sebelum mobil ayah yang dikendarai oleh Pak Udin mendekatiku, aku langsung menuju halte dan menaiki angkutan umum. Walaupun seramai ini, aku tidak malu untuk menangis di depan umum. Karena aku tidak peduli, bahkan aku tidak tahu apa yang harus aku pedulikan sekarang ini. Orang-orang yang bertanya kenapa pada diriku aku diamkan. Faktanya mereka tidak akan bisa membantuku.

Aku sudah sampai di tujuanku. Tujuanku adalah SD-ku dulu. Tempat di mana aku masih bisa tertawa, di mana aku masih bisa merasakan kehangatan dari kasih sayang orangtuaku dan di mana aku masih bisa bersama Dia. Dia yang tidak aku tahu namanya, Dia yang tidak aku tahu sosoknya, Dia yang sudah hilang tapi masih bisa aku rasakan kehadirannya. Dia menghilang dari kehidupanku semenjak aku memasuki SMP, aku tidak dapat mengingatnya. Bila Dia merupakan teman masa kecilku, aku pasti memiliki kenangan bersamanya, tapi sudah seluruh rumah aku cari dan aku masih tetap tidak menemukan sebuah kenangan bersamanya. Aku tidak pernah mempertanyakan siapa Dia, karena aku tidak yakin ada yang bisa menjawabnya.

“Neng Dara, ayo pulang.”
Suara lembut yang khas dari Pak Udin terdengar dari belakangku. Aku tidak punya pilihan lain selain menurutinya, aku hanya ingin ke kamar dan menangis sekeras-kerasnya sekarang.

Saat aku sampai di rumah, mama sudah tidak terlihat lagi. Tidak biasanya mama meninggalkan rumah tanpa ayah. Mama hanya keluar rumah hari Minggu dengan ayah ke suatu tempat. Aku tidak pernah diajak ke sana. Ayah bilang aku belum boleh ke sana. Dia berjanji akan membawaku ke sana di saat yang tepat. Sekarang aku sudah berumur 16 tahun dan aku belum diajaknya ke sana, jadi aku tidak terlalu memikirkan hal itu sekarang. Rasa ingin tahuku sudah lama hilang.

Rasa sedih ini sudah mulai pudar selagi aku mengarang PR Bahasa Inggrisku karena mama tidak bisa aku wawancarai. Aku baru ingat kalau mesin cetak milik ayah rusak, dan aku harus mencetak tugasku di tukang cetak. Karena flashdiskku tertinggal di sekolah, aku akan meminjam flashdisk ayah. Ayah menyimpan flashdisknya di kamarnya. Sudah sangat lama semenjak terakhir kali aku memasuki kamarnya. Wangi kamarnya masih sama seperti saat dulu, posisi barangnya pun juga masih sama. Aku membongkar laci-laci di kamar itu dan mencari flashdisk ayah. Saat aku menemukannya, ada benda lain yang menarik perhatianku. Sebuah kertas undangan yang pernah aku buat saat masih SD. Kertas undangan ini digunakan untuk mengundang orangtua ke acara perpisahan, hanya dibuat saat kelas 6 SD. Aku kira itu punyaku, tapi saat aku melihat nama penulisnya, hatiku seolah-olah dipukul dengan kuat, air mata membanjiri wajahku dan nafas yang kukeluarkan terasa berat.

“Nama penulis: RIKA”

Aku ingat sekarang, semuanya terlintas di kepalaku seperti sebuah film. Aku ingat semuanya. Aku ingat akan kenangan yang terlupakan dan seketika semua pertanyaanku terjawab. Aku tahu siapa diriku sekarang, seorang adik. Rika merupakan nama kakak perempuanku. Dia yang selalu mengajakku bermain saat mama dan ayah sibuk berkerja, dia yang membantuku menyelesaikan PR, dia adalah seorang kakak yang sangat baik.

Aku juga ingat detik-detik kematiannya. Dia merupkan korban tabrak-lari 4 tahun yang lalu. Saat itu Kak Rika sedang keluar untuk membelikan bahan-bahan prakaryaku karena mama dan ayah masih sibuk di kantor. Dan sejam kemudian, mama buru-buru mengajakku ke rumah sakit, ternyata Kak Rika sudah di sana dengan kondisi yang kritis. Tapi ketika aku dan mama tiba di rumah sakit, Kak Rika sudah menghembuskan nafas terakhirnya.

Aku masih berumur 12 tahun saat itu, hal seperti ini sangat sulit untuk kuterima. Karena sebelumnya aku tidak pernah kehilangan orang yang aku sayang. Karena itu, aku menyalahkan mama dan ayah yang selalu sibuk berkerja dan tidak pernah menyempatkan diri untuk mengurusku. Mama dan ayah selalu mengandalkan Kak Rika.

“Gara-gara kalian Kak Rika meninggal, coba saja Kak Rika tidak keluar untuk membelikanku prakarya, pasti Kak Rika tidak akan meninggal! Coba saja mama dan ayah selalu diam di rumah!” kataku saat itu.
Semenjak aku mengatakan hal itu, mama berubah. Tapi ingatanku hilang karena esoknya aku terjatuh dari tangga dan kepalaku terhantam dengan keras. Anehnya, hanya ingatanku mengenai Kak Rika yang tidak pulih. Mungkin karena mama dan ayah tidak menginginkanku untuk mengingatnya, makanya mereka menghilangkan semua kenangan-kenanganku dengan Kak Rika.

Aku bisa menerimanya sekarang. Semua hal yang tampaknya berat di hari itu sekarang bisa kulalui. Sekarang aku perlu mencari mama dan meminta maaf padanya, ini bukan salahnya. Aku tahu di mana aku harus mencarinya. Kutemui Pak Udin dan memintanya untuk mengantarku ke tempat di mana Kak Rika dimakamkan. Baru kali ini, aku memberinya senyuman. Pak Udin kaget, dan langsung mengantarkanku ke tujuanku.

Dugaanku benar, mama ada di sana. Duduk sambil menangis. Dari belakang aku peluk dirinya dan mengatakan, “Ma, ini bukan salah mama. Maafkan aku ya, Ma.”
Mama membalikkan badannya. Dia memelukku dengan erat untuk yang pertama kalinya dalam 4 tahun terakhir. Sepertinya mama menjadi seperti ini karena dia menyalahkan dirinya akibat ucapanku saat Kak Rika meninggal. Aku sudah mengiklhaskan kepergiannya sekarang, Kak Rika pasti tenang di sana. Setelah itu, aku dan mama pulang ke rumah bersama dan bercerita panjang lebar selama di perjalanan. Senang bisa melihat mama tersenyum kembali.

Cerpen Karangan: Karralika Raidinjana

Cerpen Kenangan yang Terlupakan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cewek Mobile

Oleh:
“krenteng, teng, teng, teng, teng!” berisik bunyi motor vespa kesayangan si Rian hentikan obrolan kami saat itu di sebuah kedai kopi pinggiran jalan ijen malang. Kami, gue (Tole), Katon,

Berdua Selamanya

Oleh:
Ini adalah kisah tentang cinta sejati. Cinta yang telah membawa mereka ke setiap lorong-lorong hati. Cinta yang telah mendorong mereka untuk berjuang membesarkan kami, putri-putrinya. Cinta yang telah mengiringi

The First Boyfriend

Oleh:
Cinta itu Rumit dan sulit dijelaskan… Cinta bisa merubah hidup dan jalan pemikiran kita… Karena cinta Aku kenal yang namanya ANIME, dan karena anime aku kenal dan deket sama

Kamarku

Oleh:
Gemercik air mulai terdengar berjatuhan membasahi atap yang sudah telihat rapuh pada rumah tua yang besar ini. Berlomba seakan siapa yang akan jatuh lebih dulu untuk membuat kayu pada

Lelah Keberuntungan

Oleh:
Hari liburan akan segera berakhir, kira-kira kurang dari lima hari lagi. Dan hari ini aku harus pergi ke sekolah karena harus daftar ulang untuk syarat aku naik ke kelas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *