Kepergian Ayah Tercinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 14 February 2017

Namaku Maria, saat ini aku berusia 20 tahun. Aku sangat mencintai keluargaku, bagiku keluarga adalah jiwaku, hatiku dan istanaku. Di balik kesusahan hidup keluargaku memang ada kemudahan, nikmat dan kesulitan datang dan pergi silih berganti, sudah biasa dalam kehidupan keluargaku.

Aku terlahir dalam keluarga yang sangat sederhana. Kedua orangtuaku bekerja sebagai petani, setiap hari mereka sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami. Sebagai anak seorang petani hidupku sangat sederhana berbeda dengan sebaya, aku tidak sering mendapat uang saku sejak SD sampai dengan lulus SMA. Sebelum ke Sekolah aku harus makan kenyang dari rumah dan sepulang dari sekolah makan siang sudah disediakan oleh ibuku di rumah.

Kerasnya hidup dan beban berat yang harus ditanggung oleh keluargaku, memaksa kedua orangtuaku untuk rajin bekerja tanpa mengenal lelah demi menyambung hidup ini, pada suatu hari ibu pergi ke Sekolah adikku untuk menerima rapor kenaikan kelas. Di rumah hanya ada ayah dan aku, ketika aku sedang menyapu lantai kudengar suara ayah memanggil namaku. “Mar…Mar..!! tolong ayah, kepalaku pusing!” Aku langsung meninggalkan pekerjaanku dan berlari menuju kamarnya, sesampai di kamar aku segera menghampirinya, kulihat tenaganya hampir habis “ayah kenapa?” tanyaku dengan penuh khawatir. “aku akan ambil minyak untuk ayah yah!” Tapi tak ada jawaban yang keluar dari mulut ayah, aku berlari menuju kamarku untuk mengambil minyak kayu putih untuk oles di kepala ayah. Tapi rasa pusing itu masih ada bahkan menjadi-jadi. “Ayah…!!!” teriakku dengan keras. Aku menggerakan tubuhnya dan teriak di depan telinganya, tetapi ayah tidak bergerak sedikit pun, aku mencoba mendekati tubuhnya dan masih ada denyut jantung yang lemah dan ternyata ayah sudah pingsan dan harus segera ditolong “Ya Tuhan, mengapa bisa terjadi seperti ini?” tanyaku dalam hati.

Karena ibuku belum pulang dari sekolah adikku, aku pergi dari kamar ayah dan berteriak pada tetangga kiri dan kanan rumahku, jeritanku mengundang perhatian mereka, sehingga pada akhirnya mereka datang ke rumahku. “Ada apa?” Tanya salah seorang tetanggaku. “ayahku sakit” jawabku sambil meneteskan air mata. “sakit apa?” Tanyanya lagi. “aku tidak tahu, tiba-tiba ayah pingsan” jawabku. “yuk! Kita tolong dia, kita bawa dia ke rumah sakit” kata mereka kepada satu sama lain. Mereka bergotong royong menolong ayahku untuk membawa ke rumah sakit yang letaknya cukup jauh dari rumahku.

Sesampai di rumah sakit beberapa perawat langsung menyambut ayahku menggunakan tempat tidur beroda. Alat-alat kesehatan disediakan untuknya, kemudian infus dipasang pada tangan kirinya. Aku melihat semua itu dengan menangis pelan, seorang ibu tetanggaku mencoba menghibur dan menguatkanku dengan memegang tangan yang kuat dan mengajakku berjalan sebab tubuhku lemah karena kesedihan yang kualami. Tiba-tiba Ibu dan adikku datang, kulihat wajahnya sangat panik dan penuh kecemasan karena mendengar tentang ayah. “Mar… apa yang terjadi dengan ayahmu?” Tanya ibuku. “Bu… tadi kudengar dia memanggilku dan dia berkata bahwa kepalanya pusing, dan akhirnya pingsan”. Jawabku sambil menangis.
Tiba-tiba seorang perawat datang dan bertanya. “Siapa keluarganya bapak stefanus?, silahkan ke ruangan administrasi”. “aku istrinya” jawab ibuku. Ibu dan aku mengikuti perawat tersebut ke ruang administrasi.

“Apakah ibu yang akan bertanggung jawab akan biaya pasien tersebut?”. “Iya…!!!, aku yang bertanggung jawab”. jawab ibuku. Perawat itu memberitahu tentang biaya perawatan ayah yang berjumlah Rp 500.000,00 untuk biaya pengobatan. “Bu… mengapa biaya pengobatannya mahal sekali, bukankah rumah sakit sekarang ini sudah gratis?”. Tanyaku pada ibu. “Sudahlah sayang seberapapun pahitnya, nanti ibu mencari biayanya yang terpenting ayahmu bisa sembuh” jawab ibuku. Sambil berkata begitu kulihat ibuku merogoh saku celananya kemudian mengeluarkan uang dan menyerahkan pada perawat itu.
Sejujurnya aku sangat bangga pada ibuku, perjuangannya dalam membangun keluarga kami begitu besar. Dia jarang mengeluh ketika kami mengalami kekurangan, bagiku dia adalah seorang wanita yang sangat kuat dalam mempertahankan keluarga kami, aku sangat sayang pada ibuku apapun perkataannya selalu kuturuti apalagi ajakan berbuat baik tidak ada alasan bagiku untuk menolaknya.

Malam itu ibu dan aku menginap di rumah sakit, aku tidak tahan berada di tempat itu aku terus memandang di sekitar ruangan sunyi, sepi, dan hanya ada pasien-pasien yang tertidur pulas. Tiba-tiba tangan ayah bergerak-gerak dan matanya mulai membuka. “Dimanakah aku?” Tanya ayahku. “Ayah ada di rumah sakit” jawabku singkat. “Apa yang terjadi dengan diriku?” Tanyanya lagi. “Ayah pingsan selama seharian”.

Menurut hasil pemeriksaan dokter, ayah terserang penyakit tumor. Kami semua sangat sedih mendengar hal tersebut, ayahku harus dirawat 5 hari di rumah sakit. Kami bergantian menjaganya selama 5 hari dan ketika keadaan ayah lebih membaik, dia dibawa pulang dan akan istirahat di rumah.

Sebulan kemudian, penyakit ayah kambuh lagi. Pada waktu itu aku berada di tempat sekolahku, dan pada suatu hari tepatnya hari rabu pukul 03:00 aku terbangun dari tidurku dan tiba-tiba ada perasaan rindu akan ayah dalam hatiku lalu aku segera menelepon ke rumah orangtuaku untuk menanyakan keadaan ayah dan ibuku sendiri yang mengangkat teleponku. Ibu berkata bahwa ayah baik-baik saja dan kami tidak bisa mengganggunya karena dia masih tidur. Tapi anehnya perasaan saya semakin tidak tenang, saya merasa ada kesedihan, dan saya ingin menangis tapi tidak jelas karena masalah apa.

Sepulang dari sekolah sekitar pukul 14:00 aku melihat hp ku dan terdapat 15 panggilan tak terjawab dari nomor ibuku, dan 3 pesan dari ibu sebagai berikut:

“Selamat siang Enu (panggilan untuk anak perempuan) mulai tadi pagi ayahmu tidak bisa makan dan berbicara, kamu harus berdoa untuk ayahmu” selesai membaca sms yang pertama ini, hatiku menjadi sedih.

“Mar ayah mencarimu, dia memanggil terus namamu. Kamu harus minta izin pada gurumu untuk datang melihat ayahmu”.

“Mar ibu mencoba menghubungimu sebanyak 15 kali tapi tak ada jawaban darimu. Saat ini ayahmu kini tiada, dia telah kembali kepada sang pencipta”. Aku sangat kaget membaca sms tersebut, aku tidak percaya dan saya mencoba membaca ulang karena aku berpikir mungkin saya salah baca. Tapi ternyata masih sama. Seluruh badanku menjadi lemas dan air mata bercucuran membasahi pipiku. “Ayah, oh ayah mengapa begitu cepat kau pergi tinggalkan kami semua?”. Jeritan tangisanku memecah keheningan rumah tempat tinggalku bersama teman-teman.

Beberapa jam kemudian kulihat pamanku datang menjemputku, aku mempersiapkan diri dan pulang bersamanya. Sesampai di rumahku, kulihat jenazah ayah terbaringkan di meja dekat pintu masuk rumah. Aku dijemput oleh suara tangisan yang meriah, semua keluarga dan warga desaku berkumpul di rumah meratapi kepergian ayah. Dua hari kemudian jenazah ayah dimakamkan, warga desa bergotong royong mengantar peti jenazah ayah menuju tempat perkuburan, bagaikan kelompok semut yang bekerja sama mengantar makanan.

Semenjak kepergian ayah tercinta, aku tidak semangat lagi menjalani hidup. Disaat-saat sendiri ada dilema besar yang terus ada di hatiku. Seakan-akan kepergian ayah menjadi malapetaka bagi diriku. Mulai saat itu aku kembali tinggal di rumahku, Aku lebih suka menyendiri dalam kamarku dan jarang bergabung bersama dengan teman-teman di sekolah. Ibuku selalu bingung harus dengan cara apa lagi menghiburku. Setiap hari dia berusaha meluangkan waktu untuk bisa berbagi cerita yang dapat menghibur diriku, namun sayang sekali Aku hanya berdiam dan terpaku bagaikan bangkai mawar yang hampir mati.

Minggu berganti minggu, bulan berganti bulan perjuangan ibuku untuk membangkitan kembali semangat hdupku berhasil aku mulai membuka mulut dan berbicara serta mengungkapkan segala perasaanku. Tangisan dan jeritan karena kepedihan yang kualami memenuhi seluruh isi ruangan kamarku. “Ma, Aku marah pada Tuhan, mengapa Tuhan tega memanggil ayah begitu cepat?, Aku sulit menerima kenyataaan pahit ini”. Kataku dengan nada tinggi. “Sudahlah sayang.. Semua ini adalah rencana Tuhan yang paling indah dalam hidup kita”. Jawab Ibuku. “Tapi ma..” protesku. “sayang, kematian adalah awal kehidupan baru, kita semua akan mati sama seperti ayahmu. Tenanglah ayah mendahului kita untuk menyiapkan tempat yang paling bagus untuk kita semua nantinya.” Hibur ibuku. “Ma, apakah kita punya kesempatan untuk bisa bertemu lagi di dunia akirat nanti?” tanyaku ingin tahu. “oh yang pastilah sayang, kamu harus yakin kalau ayah juga akan menjadi orang setia saat menjemput kita menuju daerah surga nantinya”. jawab ibuku. Aku menjadi begitu lega karena bisa melepaskaan segala kepedihan yang selama ini menguasai hati dan pikiranku.

Keesokan harinya, aku dan ibu hendak ke Gereja. “Mar… bangunlah! Ayo ke Gereja.” Ibu membangunkanku sekitar jam 05.45. “ok Ma, aku segera bersiap-siap” jawabku dengan semangat. Setelah selesai berpakaian kami langsung ke gereja yang letaknya tidak jauh dari rumahku, menempuh perjalanan kaki kurang lebih 10 menit.

Sesampai di gereja aku langsung berlutut di depan patung pieta dan mencium kaki Yesus, aku tak bisa menahan air mataku yang berlinang membasahi pipiku. Sesaaat kemudian aku merasakan kehadirat Tuhan, ada kekuatan mendahsyat yang menjangkaui seluruh ruangan itu. Tiba-tiba hatiku bergetar merasakan hadirat Tuhan yang Kudus. Akupun berdoa dan menyerahkan semua kepedihan yang kualami selama ini pada Yesus dan aku pun mulai mengikhlaskan kepergian ayah tercinta, Aku menjadi semangat. seperti pagi ini di sekolah, Maria yang selama ini hanya diam dan murung kini benar-benar berubah 180 derajat. Seperti anak yang hilang dalam injil Lukas, Aku tidak berharap mendapat sambutan meriah dari teman-teman sekolahku, apalagi acara pemotongan kambing tambun dan penganugerahan cincin materai emas dan jubah terbaik, aku hanya berharap bisa diterima kembali oleh guru-guru dan teman-temanku di sekolah.

Cerpen Karangan: Ermenilda Ahus Lewur
Facebook: Menilda Pajang

Cerpen Kepergian Ayah Tercinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ratapan Anak di Luar Nikah

Oleh:
Sehabis pulang kerja Marni tampak sangat berang karena lantai kamar mandi rumah kontrakannya sangat becek malah kamar mandi itu banjir air baknya luber sampai setengah lantai kamar mandi itu

Sang Motivator

Oleh:
Apa pun yang terjadi, jangan menyerah dengan keadaan. Karena kita tak pernah tahu apa Rencana Tuhan untuk kita. Kita hanya perlu percaya bahwa Tuhan pasti punya rencana yang Indah

Cinta itu Murah Hati

Oleh:
Dewi Handayani merasa terpekur setelah membuka mukenanya dari menjalani shalat subuh. Ia tahu akan ucapan ibu di sebelahnya yang menjadi tahanan bersamanya di sel penjara wanita itu. Dewi masih

Ambilkan Sisir

Oleh:
Lembayung senja memeluk batin-batin berkemilauan sendu. Cahaya terang memang, namun sejenak kabut gulana membekap ruang mega, redup kehidupan yang ada. Senyum riang tenggelam pada ufuk barat yang meninggalkan makna

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *