Kepergian Ayah yang Tidak Ku Duga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengalaman Pribadi, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 8 January 2016

“Boru, Ayah ingin kamu suatu saat bisa menjadi orang berhasil, selalu bersyukur pada Tuhan, dan selalu mengingat kami orangtuamu.”

Kata-kata itulah yang selalu aku ingat sebelum Ayah pergi meninggalkan aku dan keluargaku. Berhari-hari aku hanya merenung dalam kesedihan, mengurung diri di kamar, dan tidak mau berbicara dengan siapa pun. Kenyataannya Ayah sudah pergi menghadap Bapa di surga, bahkan untuk makan sesuap nasi pun mulut ini terasa kelu. Sebelum kejadian pada hari Minggu tepatnya pada tanggal 17 April 2010.

Namaku Vera Yunita Sihombing, lahir di Manduamas, Sumatera Utara. Tepatnya di desa Bajamas, kecamatan Sirandorung, pada tahun 1994. Aku terlahir dari pasangan Alm. Alapan Sihombing dan Rosda Sutriani Marbun. Aku adalah anak pertama dari lima bersaudara. Adik pertamaku bernama Wandy Erwanto Sihombing, adik keduaku bernama Cindy Yunita Sihombing, adik ketigaku bernama Aldy Erwanto sihombing, dan adik bungsuku bernama Alex Erwanto Sihombing. Secara finansial kehidupan keluargaku cukup sederhana.

Orangtuaku selalu mengajarkan kami anak-anaknya belajar dan bekerja keras untuk mencapai suatu tujuan. Sehingga, aku akan selalu berusaha untuk mendapat ranking di kelas walaupun itu sepuluh besar. Aku seorang anak perempuan yang pendiam, merasa sulit bergaul dengan orang lain. Aku jarang menceritakan perasaan, keinginan, dan harapan aku kepada orang lain. Akibatnya aku kurang dikenal oleh teman sepergaulanku. Hal ini membuatku mendapat sedikit pelajaran karena aku tidak sepenuhnya bisa diterima oleh masyarakat dan hanya mendapat sedikit dukungan dengan ketertutupan diriku.

Berbicara mengenai konsep diri, aku masih belum mengetahui apa kuantitas maupun kualitas, kelemahan dan kelebihan dalam diriku. Sehingga aku masih menjadi pribadi yang belum matang, tidak percaya diri, takut menghadapi kegagalan, dan tidak siap menghadapi tantangan. Aku juga bisa dikatakan anak yang mandiri karena dari SMP sampai SMA Ayah menempatkan aku di asrama Khatolik dan dididik secara ketat. Ayahku menyukai didikan yang seperti itu. Ayah tidak suka jikalau anak perempuannya panjang kaki atau sering berkeliaran ke sana ke mari, sehingga aku pun menjadi anak patuh dan tidak suka pergi ke mana pun yang menurutku itu ribet.

Ayahku sudah sakit-sakitan mulai dari aku SD. Ayah juga pernah hampir meninggal dikarenakan penyakit asam urat dan stroke ringan yang beliau derita. Ibuku pun selalu berusaha keras untuk mencari biaya pengobatan ayah, termasuk meminjam uang dari nenekku. Tidak terasa aku sudah lulus SMP dan akan melanjut ke bangku SMA. Akan tetapi, ketika ingin mendaftar ke bangku SMA aku tidak mempunyai uang sepeser pun untuk digunakan.

Aku takut meminta uang kepada ibuku karena waktu itu bertepatan dengan hari Ayahku akan dioperasi. Uang kami habis untuk pengobatan operasi Ayahku. Mau tidak mau aku pun menelepon ibuku dari wartel dekat asramaku. “Nak, Mama udah gak punya uang lagi. Coba sekarang kamu pulang ke rumah dan minta utang sama Oppung di kedai.” Itulah yang dikatakan ibuku. Aku pun bergegas pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, aku bertemu dengan adik-adikku yang dirawat oleh nenekku. Aku mengajak adikku Wandy untuk menemaniku meminjam uang ke tempat Oppungku di kedai. Puji Tuhan, aku mendapatkan uang untuk bisa mendaftar ke bangku SMA. Ibu memberitahu kami juga bahwa operasi Ayah berjalan dengan lancar. Kami pun turut bersuka cita. Setelah beberapa bulan berlalu, penyakit Ayahku kambuh lagi. Aku hanya bisa berdoa agar Tuhan mengangkat penyakit Ayah. Aku sangat menyayangi Ayah.

Ketika aku mengikuti misa di Gereja, aku meminta kepada Pastor agar mendoakan Ayah agar cepat sembuh. Aku selalu menangis setiap mengucap doa tentang Ayahku. Aku sangat menyukai hari Sabtu. Menurutku pribadi hari Sabtu itu lebih menyenangkan, aku bisa rileks sejenak dari semua tugas sekolah, bisa gereja dengan tenang, dan bermain dengan teman di asrama. Tetapi, semua itu terasa hampa ketika orang yang kita sayangi dan kita cintai pergi di hari yang sangat kita senangi.

Sabtu, 17 April 2010. Aku hendak berangkat ke sekolah, tetapi suster asramaku meminta aku untuk tidak pergi ke sekolah. Suster menyuruhku pergi menemani ia ke suatu tempat. Aku mengatakan kalau aku harus ke sekolah karena aku ada ujian bahasa Inggris. Akhirnya aku menyerah dan mengikuti perkataan Suster asramaku dan kembali mengganti pakaian. Tiba-tiba aku teringat dengan Ayah. Aku berfirasat bahwa suster akan mengajakku ke rumah untuk melihat keadaan Ayah. Aku meneteskan air mata dalam diam.

Dalam hati aku berkata, “pasti penyakit Ayah kambuh lebih parah lagi.” Aku sudah curiga kalau suster menyembunyikan sesuatu dariku, tetapi aku belum sadar juga jika hal itu tentang Ayahku. Kakak kelasku menenangkanku yang sudah menangis teringat Ayahku. Aku mengikuti Suster dan kakak kelasku ke depan pintu gerbang sekolah. Di sana sudah ada mobil dan di dalam mobil itu aku terkejut, mengapa ada beberapa teman sekelasku, guruku, dan ketua OSIS.

Aku semakin tak kuasa membendung air mata. Aku dihibur teman-temanku, tetapi aku tetap saja tidak bisa tertawa bahkan tersenyum sedikit pun. Dalam hidupku tidak pernah terbesit sedikit pun pemikiran bahwa Ayah akan pergi meninggalkanku dan keluargau untuk selamanya. Selama berada di dalam mobil, aku hanya mengira bahwa Ayahku hanya sakit parah dan sedang kambuh, sehingga beliau menyuruhku pulang dengan melalui perantara Suster.

Betapa terkejutnya aku ketika melihat banyak orang berada di depan rumahku. Perkiraanku, keluargaku sedang tidak mengadakan pesta apa pun. Aku heran mengapa banyak suara tangisan dari dalam rumahku. Aku hampir pingsan melihat keadaan Ayahku yang sudah tidak bernyawa lagi. Aku hanya bisa menangis, menangis, dan menangis. Aku, Ibuku, dan semua keluargaku hanya bisa menangis pilu melihat kepergian Ayahku. Aku tidak percaya kalau Ayahku benar-benar sudah tiada. Padahal, Jumat malam aku masih bercerita ria tentang Ayahku kepada teman-temanku. Tetapi, apa yang kudapat sesampainya di rumah, Ayahku sudah pergi.

Pada hari yang bersamaan, Ayahku sudah tiada, Ibuku menjadi janda, adikku Wandy mengalami patah tulang, adikku Aldy mengalami luka-luka, dan adikku Alex mengalami kebocoran kepala. Hari yang sangat sial bukan! Hari yang sangat aku sukai tiba-tiba berubah menjadi hari yang ku benci. Ketika aku mengalami hal menyedihkan seperti itu, aku selalu saja menyalahkan Tuhan. Mengatakan bahwa Tuhan itu tidak adil, Tuhan itu tidak melihat keadaan keluargaku yang rapuh, dan Tuhan tidak pernah mengerti akan hidup yang ku alami.

Semenjak kepergian Ayah, aku semakin menutup diri baik baik dari dalam keluarga maupun dari lingkungan. Aku hanya berbicara seperlunya saja. Teman-temanku merasa simpati dengan keadaanku yang semakin ekstropert. Keluargaku dan teman-temanku selalu berusaha menghiburku. Mereka mengatakan bahwa kepergian Ayahku itu adalah jalan terbaik yang Tuhan berikan.

“Dalam segala sesuatu baik senang maupun sedih, Tuhan pasti punya rencana indah di baliknya.” Dengan mengungkapkan kata-kata itulah mereka menghiburku.

Setelah sekian lama, aku semakin jauh dari teman-temanku, aku selalu menyalahkan Tuhan, tidak bisa menerima kenyataan, dan hilang harapan. Aku pun berinisiatif untuk intropeksi diri sendiri. Aku sadar bahwa yang aku lakukan adalah hal yang salah. Aku mencoba memahami semua yang Tuhan berikan dalam hidupku.

Aku jarang bersyukur pada Tuhan atas semua kasih karunia yang Dia berikan untukku. Aku hanya selalu sibuk dengan diriku sendiri dan tidak mempedulikan orang lain sekali pun itu keluargaku sendiri. Aku sadar bahwa aku benar-benar orang yang jahat. Merenungkan hal itu aku pun menangis. Secara perlahan-lahan aku pun berubah dan mau menerima kenyataan yang ada dan mulai bersyukur atas apa yang Tuhan berikan tanpa aku minta. Mengenai ketertutupan diriku, aku sudah berusaha untuk merubah diri.

Cerpen Karangan: Vera Yunita Sihombing
Blog: verayunita34.blogspot.com
Facebook: Vera JacKyu Sihombing
Nama: Vera Yunita Sihombing
Seorang Mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Trunojoyo Madura.

Cerpen Kepergian Ayah yang Tidak Ku Duga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Siapa Dikau

Oleh:
Aku memutuskan untuk menjadi seorang mahasiswa sembari bekerja di kampus tercinta. Bukan hal yang sulit untuk kulakukan, beraksi dan istiqomah untuk menembus angkasa Tuhan yang begitu terjal untuk kulewati

A Big Dream

Oleh:
Rumah terkadang menjadi taman terindah bagi sebagian orang. Tapi tidak denganku, yang selalu ingin menutup mata dan telingaku saat di rumah. Rumah bagai panasnya api bagiku. Yang selalu saja

Baju Indah Untuk Mama

Oleh:
Srek… Srek… Terdengar gesekan baju dari ruang menjahit. “MA…” teriakku mencari mamaku. “Iya sayang.. ada apa?” jawab mama santai. “Makanannya mana…? Aku lapar.” Jawabku kesal. “Iya… Sabar.” Jawab mama

Batik Buat Bunda

Oleh:
“Persembahan Untuk Bunda tercinta yang selalu memberikan kasih sayangnya tanpa kenal waktu, yang selalu memberikan perhatiannya tanpa kenal keadaan, dan selalu bekerja dengan kerasnya tanpa kenal lelah, Andi sayang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *