Kepergiannya Yang Tak Terduga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 17 March 2014

Sabtu pagi ada kabar bahwa ayah saya kecelakaan tepatnya di jl. baru mamuju, setelah pulang sekolah hujan gerimis terus mengguyur wilayah di mamuju. pas jam 04.23 wib aku disuruh oleh tante saya yang kebetulan rumahnya aku tumpangi, tente saya menyuruh saya untuk pergi menengok ayah saya di rumahnya, pasti pada heran deh kenapa saya lebih memilih tinggal bersama tante di banding sama ayah sendiri? itu dikarenakan saya sangat membenci ayah saya.

Setelah beberapa menit di perjalanan akhirnya saya sampai di tempat tujuan, sesampainya disana jujur saya sagat sedih melihat kondisi ayah saya yang terbaring lemah, tidak lama kemudian aku pun mengulurkan tanganku untk memijit badan ayah saya, jujur waktu itu aku benci sama ayah saya tapi aku juga sedih melihat kondisinya.

Setelah beberapa jam kemudian aku memutuskan untuk tidur dan ternyata aku belum makan, dengan sangat mengeluhnya aku meminta uang di ayahku untuk beli roti dan minumnya, ayahku pun memberikannya padaku aku pun pergi, tidak lama kemudian aku pun kembali, ayahku ternyata sudah tidur pulas sedangkan aku memutuskan untuk memakan roti dan minumannya sendiri.

Keesoakan harinya jam 05.12 aku bangun dan melihat ayah ku yang tengah sholat dengan keadaan yang terlihat kaku, aku begitu sedih dan aku juga rasanya ingin meninggalkan ayahku, keesokan harinya aku memutuskan untuk pergi dan aku sangat mengeluh ke ayahku untuk kembali ke rumah tanteku, ayah ku pun mengizinkan aku.

Setelah beberapa hari, ayahku sudah pulih dan kembali mencari uang seperti biasanya, ketika aku kehabisan uang aku pun langsung meminta ke ayahku dengan cara yang kasar, ayah ku pun memberikannya dengan cara datang ke sekolahku.

2 minggu sudah lewat tidak lama lagi ujian penentuan kelulusan dari SMP akan aku hadapi, dengan tekunnya aku belajar di tengah derasnya hujan yang membuatku heran dan bertanya-tanya “kenapa satu harian ini hujannya gak berhenti-berhenti padahal baju yang akan saya pakai untuk ujian besok belum kering”.

Jam 10.00 pagi tiba-tiba sepupu saya muntah-muntah, dan aku pun disuruh untuk mencari taxi, tanpa menggunakan alas kaki aku berlari dengan sangat panik di tengah teriknya matahari, tidak lama kemudian taxinya sudah saya dapat dan tante sama sepupu saya naik di taxi tersebut aku pun kembali ke rumah, karena saya bosan di rumah aku pun pergi jalan-jalan ke tetangga terdekat untuk cerita-cerita dan bermain untuk hibur diri.

Setelah beberapa jam tante dan sepupuku sudah datang, dari atas loteng sepupuku memanggilku dengan wajah yang tidak seperti biasanya aku pun naik ke rumah dan berkata “ada apa? tumben manggil aku segitunya” lalu sepupuku berkata “kamu yang sabar yah dek?” hal itu membuat aku semakin bertanya tanya ada apa sebenarnya? namun ternyata sepupu saya tidak memberitahukan saya dengan alasan dia dilarang oleh ibunya karena ibunya tidak mau aku sedih dan tidak pergi ujian penentuan kelulusan, aku terus bertanya-tanya ada apa?

Jam 06.00 minggu pas adzan maghrib dan keesokan harinya adalah hari senin dimana pada hari itu saya ujian, pada jam 06.00 itu aku dapat kabar dari tante yang ada di kampung bahwa ayah saya sudah meninggal betapa pada saat itu perasaan saya sangat campur aduk, aku pun langsung turun tangga dan memeluk sang kakak sepupu yang lagi masak dan aku berkata “kak ayahku meninggal..” kakak sepupuku pun langsung memelukku dan berkata “kamu harus sabar dek”

Tidak lama kemudian aku menelpon ibu saya “bu ayah kenapa?” dengan tersedu-sedu, lalu ibu saya berkata “kamu harus belajar dengan baik besok kamu sudah ujian nak” tanpa ada kata aku pun langsung menutup telpon tersebut. aku hanya bisa menangis. aku ingin pergi melihat wajah terakhir ayahku namun aku tidak kesampaian.

Aku selalu terhantui oleh rasa bersalahku ke ayahku yang dulu aku sangat membencinya selalu kurang ajar.. ingin rasanya ku memeluknya untuk terakhir kalinya, hanya aku anaknya sendiri yang tidak melihat jenazah terakhir ayahku.

Keesokan harinya aku sudah UN tentu saja aku tidak konsen pas jam 09.00 ayah ku sudah dikubur, sedangkan aku sementara jam istirahat di sekolah, teman-temanku hanya bisa membelai rambutku dan turut berduka cita.

Tidak lama kemudian bell tanda pulang pun berbunyi, aku pun pulang dengan sepupuku. sesampainya di rumah aku pun wudhu lalu membacakan ayat-ayat suci al-quran untuk ayahku dengan bercucuran air mata yang membasahi al-quran aku pun membacanya.

Tidak lama kemudian aku pun tertidur dan teringat oleh bayang-banyangan ayahku yang dulu selalu menyayngiku sedangkan aku tidak memperdulikannhya, sungguh kepergian mu tak terduga ayah,..

(SEKIAN)

pesan saya.. jangan lah engkau menyia nyiakan waktumu jikalau saat ini orangtuamu masih ada manfaatkan waktumu sebaik-baiknya, janganlah engkau lebih menghabiskan waktumu di warnet, ps, atw bahkan pacar ingatlah orangtuamu.. :’)

Cerpen Karangan: Wenny Nurrahma Makawi
Facebook: Wenny Rahma Aquarius
nama: wenni nurrahma makawi
ttl: masamba 15 feb 1998
alamat: jln beringin 01 no 10 sungguminasa

Cerpen Kepergiannya Yang Tak Terduga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terima Kasih Bunda

Oleh:
Tes.. tes.. tes.. tetes hujan perlahan-lahan turun dan akhirnya menyentuh tanah, langit masih terlihat mendung dan tak terlihat sinar kemilau sang mentari yang selalu tersenyum dengan hangat kepadaku. Kriek..

Desa Kenangan

Oleh:
Tiin, Tiinn suara klakson mobil terdengar di mana-mana, kanan kiri depan belakang semua mobil tak bisa bergerak, setiap hari selalu begini sarapan pagi dengan kemacetan itulah Jakarta, tapi walau

Harapan, Kenyataan Dan Waktu

Oleh:
“Teruslah berjuang meskipun harus mengorbankan tangan dan kakimu, berjuanglah, hadapilah, sampai kau mendapatkannya.” Itu adalah kata-kata yang didapat Risceal dari film yang baru saja ditontonnya. Setelah mendengarnya Risceal langsung

Secangkir Kopi Hitam

Oleh:
Lalu lalang kendaraan melintasi jalan raya yang kian hari semakin meretak, rapuh. Jalan raya tua yang sudah tak dihiraukan lagi oleh pemerintah untuk diperbaiki. Konon katanya jalan raya ini

Fia dan Apel Yang Ada di Puncak

Oleh:
Fia berjalan sendirian sambil menendang kerikil-kerikil kecil di hadapannya. Kepalanya yang setengah tertunduk seolah memberikan pancaran kemurungan. Padahal dia adalah seorang gadis ceria dan senantiasa bersemangat. Tiba-tiba, langkah kakinya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *