Kerikil

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 12 June 2017

Sudah sejauh apa aku berjalan tepatnya?
Ah.. mungkin kalau kuhitung dengan niat, bisa tembus separuh jumlah penduduk kota penghasil kopi terbesar ini.

Apa sih yang ada dalam otakmu Sha? Duit tidak punya, baju alakadarnya dan otakmu pun tahu cuaca sangat dingin. Mengamen pun rasanya ringkikkan kuda lebih bagus dari suaramu kalau itu yang terpikirkan untuk mendapat uang. Lagian siapa pula peduli? Mau kamu mengamen depan lubang hidung mereka pun belum tentu mereka mau memberimu gopekan.

Sebentar lagi hujan Sha, kamu mau berteduh di mana? Di depan toko orang bergabung dengan para pengendara motor? Atau akan bergabung dengan pengendara lainnya yang menerjang hujan?

Tidak pernah terbayang kau akan melakukan ini akhirnya Sha. Semuak itukah? Atau sebenarnya hormonmu saja yang sedang meledak ledak? Semua kerikil yang kau tapaki apa mereka belum cukup meredakan gemuruh dalam hati?

Kemana lagu lagu yang sering kau andalkan untuk menyumbat kalimat kalimat yang katamu menyakitkan itu? Atau ke mana perginya OST anime Jepun yang kau banggakan itu? Apa sekarang suara sol yang melindas kerikil lebih indah di telingamu itu?

Air langit mulai jatuh apa kau mau menari Sha? Memutar bahasa asing itu di kepalamu sekarang sebagai pengiringnya? Atau kembali menapaki kerikil yang sama untuk kedua kalinya?
Tidak. Kepalamu kan keras seperti batu kali. Jawabannya tidak.

Jadi, tujuanmu sekarang ke mana Sha? Sesombong itukah tidak mau kembali ketempat kau diberi makan gratis? Atau menunggu saja sampai tempat itu sendiri yang mendatangimu?

Terserah kaulah Sha, menari sajalah di bawah hujan sampai bibirmu biru. Menarilah dan jangan kembali kecuali bersama kerikil itu.

Cerpen Karangan: Ariesta Erwina
Facebook: Ariesta Erwina

Cerpen Kerikil merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tuhan, Aku Tak Ingin

Oleh:
Semua bermula di sore itu, sore tanpa senja, awal dari perpisahan yang abadi. Ketika sayup lafadh-lafadh indah mengalun merdu di setiap rumah suci-Mu, bergema menelusup ke dalam lubuk hati

Hari Yang Bersamaan (Part 1)

Oleh:
Mataku sudah pedas sekali rasanya sejak habis solat magrib sampai sekarang pukul 23.30 pandanganku selalu tertuju oleh leptop, entah apa yang aku lakukan itu tidak penting asalkan penat dan

Rindu Kasih Sayang Ibu

Oleh:
Pada hari itu, aku melihat ayah dan ibuku saling bertengkar di hadapanku. Entah apa yang mereka masalahkan, aku tak tahu. Sungguh aku merasa takut melihat ayah dan ibuku bertengkar.

Ternyata Ibu Peduli

Oleh:
Namaku wilania. Aku adalah anak kedua dari dua bersaudara. Umurku kini 15 tahun. Aku tinggal dengan keluarga yang berkecukupan. Ayahku bernama Jaenal, beliau berumur 49 tahun. Ayahku sudah dua

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *