Kesempatan Berharga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 2 April 2018

Pukul tujuh pagi, aku terbangun dari tidurku dan beranjak pergi dari kamarku. Hari ini adalah awal dari libur panjangku, hari yang kugunakan untuk beristirahat dari aktivitas sekolahku yang melelahkan. Apalagi aku berlibur selama seminggu.

“Baaaa…,” terdengar suara teriakan aneh.
Ternyata dia sudah bangun, ya itu adikku. Aku sudah terbiasa menyaksikan perbuatan-perbuatan aneh yang setiap hari dilakukannya. Bahkan ia bisa melukai dirinya sendiri. Aku dan keluargaku sudah lelah mengurusnya, namun tidak pernah berbuah manis.
Umurnya sudah 5 tahun, namun dia masih tidak bisa makan sendiri, bermain sendiri, belajar, atau hal-hal lain yang biasa dilakukan anak-anak seusianya. Sehingga dia merepotkan seluruh anggota keluarga kami.

Demam tinggi yang dialaminya sewaktu baru lahir menyebabkannya terkena autis. Akibatnya, dia sering melakukan hal-hal aneh yang kerap membuatku malu di hadapan teman-temanku ketika mereka bermain di rumahku.
Dia sering memukul-mukulkan kepalanya ke tembok, mematahkan sendok, bermain lumpur, dan hal-hal aneh lain yang membuatku mulai membencinya. Apakah ini takdir atau tidak, aku sangat malu mempunyai adik seperti dia. Aku terkadang iri melihat anak-anak lain seumurannya yang lucu dan sudah mulai bisa berinteraksi dengan baik.

“Ana, tolong jaga Kiki ya..,” teriak mama dari dapur.
Huh, kini aku yang harus menjaga anak itu. Bagiku, menjaga Kiki adalah hal paling membosankan dan melatih kesabaranku. Dia sangat hiperaktif dan sering melakukan hal bahaya. Kiki bahkan pernah memainkan pisau.

“Mama..,” katanya padaku.
“Apa? Aku ini kakak. Bukan mama, ingat…,” ucapku kesal.
Seakan tidak mendengar perkataanku, dia langsung menyerbu bola karetnya dan memukul-mukulkannya ke kepalanya. Dengan berkacak pinggang, aku menyaksikan perbuatannya yang konyol dan memalukan itu.
“Jangan…,” kataku seraya merebut bola itu.
Sambil tertawa, dia melompat-lompat setinggi mungkin sampai jatuh berulang kali. Namun, setiap ia terjatuh, samakin keras pula suara tertawanya. Lalu, ia berguling-guling di lantai dan mencoret-coret dinding.
“Ingat, gak boleh lari-lari. Duduk manis, ya…,” kataku seraya menatap tajam ke arahnya.
Tanpa menghiraukan perkataanku, dia pergi melengos di hadapanku dan pergi entah ke mana. Dan aku tidak mengkhawatirkannya. Biar saja dia pergi, kalau bisa tidak usah kembali. Memang, di hatiku tidak ada tempat untuknya. Aku tidak mempunyai setetespun perasaan sayang untuknya. Seakan, dia bukan saudaraku yang seharusnya kuperhatikan dan kusayangi. Entahlah, mungkin perasaan sayang itu sudah sirna.

“Ana..,” panggil mama yang sedang menggendong Kiki.
“Mama pergi sebentar ya… Kiki kan, harus menjalani terapi. Jaga rumah, ya..,” pesan mama lembut.
Kubalas senyum mama dengan manis. Namun, sekilas kutatap Kiki. Anak itu sedang menggigit ujung bajunya. Kutatap dia dengan sinis dan pandangan benci seakan dia bukanlah saudaraku.

Mama yang melihat pandanganku itu, seketika berubah mimiknya menjadi sedih. Tampaknya, beliau sudah mengetahui kebencianku pada Kiki. Aku saja yang heran, mengapa begitu sayangnya mama dan papa pada Kiki.
“Ana, kamu maklum ya sayang… bagaimanapun juga, Kiki ini adik kamu nak. Kita sama-sama berjuang..,” suara mama bergetar.
Kulihat air mata mama mengalir. Tampaknya, mama sudah berusaha keras untuk menahannya. Melihat kesedihan mama, aku ikut meneteskan air mata. Tak tega melihat mama tenggelam dalam ratapan menyedihkan itu.

Kulirik Kiki. Aneh, dia tersenyum manis padaku. Baru kali ini, aku melihatnya tersenyum padaku. Kali ini, jiwaku mendukungnya. Ada sebongkah perasaan terpendam di hatiku yang mulai bersinar. Sepertinya, aku masih sayang padanya.
“Kakak..,” katanya tiba-tiba sambil memelukku.
Aneh, sungguh aneh. Dia bisa menyebut namaku dengan baik dan bahkan memelukku. Kubalas pelukannya dengan hangat. Perasaan bersalah menyergap jiwaku. Kulihat mama yang tampak tidak bisa berkata-kata.

“Ma, bolehkah aku ikut?” Tanyaku.
Mama terkejut. Maklum, aku tidak pernah ikut mamaku membawa Kiki menjalani terapi. Biasanya, aku memilih tinggal di rumah sambil bersantai membaca komik. Namun, entah kenapa jiwaku meleleh kali ini.
Sambil mengangguk, mama mencium Kiki dengan hangat. Sepertinya, aku mulai merasakan kehangatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Lalu kami bergegas pergi dari rumah, sambil membawa Kiki.

Kami memilih menaiki taksi agar lebih aman untuk Kiki. Setibanya di taksi, pandangan Kiki terarah pada sebuah taman bermain yang belum pernah kami kunjungi sebelumnya. Aku dan mama saling pandang, mengerti perasaan Kiki. Aku tahu, Kiki pasti bingung menyampaikan kemauannya itu.

Mama mengarahkan supir taksi itu untuk berhenti di taman bermain itu. Aku merasa aneh, namun kali ini aku bersemangat mengajak Kiki pergi ke sana. Kami memang belum pernah pergi ke tempat seperti ini. Makanya, Kiki terlihat antusias sekali.

“Itu..,” tunjuk Kiki.
“Itu namanya jungkat jungkit..,” kataku.
“Itu..,” tunjuknya lagi.
“Itu namanya es krim..,”ujarku.
“Es krim..,” ulangnya.
“Ya, benar… kamu pintar..,” pujiku.

Akhirnya, kami berkeliling selama hampir satu jam. Kami juga mengajak kiki bermain ayunan, bermain jungkat jungkit, makan ice cream, dan lain-lain. Baru kali ini aku lihat Kiki bersikap tenang di tempat umum. Bahkan, dia bisa sedikit memahami perkataan aku dan mama.

Setelah puas, kami memutuskan pergi ke rumah sakit tempat Kiki akan menjalani terapi. Kali ini, kami menaiki becak. Kiki sudah mulai bisa diatur, ada harapan bahwa Kiki masih bisa sembuh. Kurasakan mukjizat dari Tuhan yang terus mengalir.

Awalnya, becak itu berjalan dengan santai. Aku, mama, dan Kiki menikmati perjalanan ini sambil bersenda gurau. Sampai akhirnya ada sebuah angkot yang melaju kencang dan kehilangan arah. Sepertinya, remnya blong.
Siapa sangka, angkot yang kehilangan arah itu melaju ke arah kami. Sampai akhirnya, suara benturan yang dashyat terjadi. Aku terlempar cukup jauh dari pintu becak itu. Memang sakit, tapi aku gesit mencari mama dan Kiki. Mama jatuh tepat di hadapanku. Beliau hanya mendapati sedikit goresan di lengannya.
Aku kembali mencari-cari Kiki. Di tengah percahan roda dan kaca. Sambil memegangi tanganku yang agak sakit, aku menjelajahi ke seluruh pelosok. Air mataku berlinang, teringat akan Kiki. Ternyata aku sangat menyayanginya.
Tiba-tiba, aku melihat sosok mungil bermandikan darah tak jauh di hadapanku. Kututup wajahku dengan tanganku. Aku merasa hampa, mati rasa. Terngiang sikap burukku pada Kiki selama ini.

Orang banyak menyelamatkan korban-korban lainnya. Aku dan ibu mengikuti ambulans yang membawa Kiki. Aku hanya teringat satu hal, sayangku pada Kiki. Perasaanku padanya selama ini tertutup oleh rasa malu dan gengsi. Namun, apa yang dilakukannya tadi pagi membuatku sadar, Kiki sayang padaku. Hanya dia tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Bagaimanapun keadaan Kiki, ikatan batinnya selalu terhubung padaku. Karena kami adalah saudara kandung, sedarah. Tidak ada yang menandingi kasih sayang, kasih sayang antara aku dan Kiki.

Air mataku berderai selama perjalanan. Sampai akhirnya kami tiba di rumah sakit. Kiki hendak dibawa di ruang UGD. Kutatap wajah polosnya sambil meneteskan air mata.
Tiba-tiba, dibukanya perlahan matanya. Ditatapnya lembut wajahku. Aku dan mama tercengang. Dia hendak mengucapkan sesuatu, dengan susah payah dipaksanya untuk berbicara.
“Aku…. sayang…. kakak..,” katanya perlahan.
Aku tercengang. Antara menyesal, sedih, bahagia, aku tidak bisa mengartikan perasaanku. Suster yang membawanya saja saling pandang dan keheranan. Aku diam membisu terduduk lemah di lantai.
Ibu yang melihatku menolongku dengan sekuat tenaga. Ibu menenangkanku meskipun beliau juga tidak tenang. Aku hanya berharap, Tuhan mau memberiku kesempatan untuk membalas Kiki. Walaupun hanya semenit, aku mencintainya. Aku mencintai Kiki.

Setelah 5 jam menunggu dengan gelisah, akhirnya dokter keluar dari ruangan Kiki. Raut mukanya terlihat lesu. Seperti tidak tega mengatakan suatu hal pada kami. Aku menepis-nepis dugaan buruk.
Sebelum dokter sempat berbicara, aku menerobos dan masuk ke ruangan Kiki. Aku sudah tidak tahan, sungguh tidak tahan. Aku ingin agar Tuhan memberikan aku satu kesempatan lagi untuk bertemu dengan Kiki.
Kutatap wajah Kiki lekat-lekat. Berharap, dia akan membuka matanya dan mendengarkan aku berbicara. Aku hanya ingin Kiki tahu, bahwa aku mencintainya. Aku sangat mencintainya, tidak dapat kugambarkan.

Tanpa diduga, aku merasakan tangan Kiki menggenggamku dengan hangat. Mulutnya bergetar, matanya mulai terbuka. Kutatap dia dengan tidak percaya. Tuhan membalas doaku, kesempatan untukku.
“Kiki… kamu harus tahu, dik.. Kakak, sayang, kamu… ya, kakak sayang kamu.” Ucapku sambil berderai air mata.
Kiki menganggukkan kepalanya lemah. Sambil bergetar, bibir mungilnya bergerak. Tangannya menggenggamku semakin erat. Kurasakan ikatan batin dan kasih sayang yang selama ini terpendam.
“Kiki juga sayang kakak..,” katanya susah payah.
Aku tidak percaya. Kudekap Kiki dengan hangat, sehangat kasih sayangku pada Kiki. Dokter yang menyaksikannya tercengang tak percaya. Aku merasakan begitu manisnya semua ini. Kasih sayang yang sebelumnya tidak pernah kuberikan pada Kiki.

Dokter mengajak aku dan mama ke luar ruangan. Agar dokter bisa merawat Kiki dengan lebih leluasa. Aku semakin yakin, ikatan batin Aku dan Kiki akan membawanya keluar dari masa kritisnya.

Setelah beberapa jam menanti dengan perasaan tak karuan, dokter keluar ruangan seraya tersenyum lega. Aku sudah bisa menebak keajaiban apa yang diberikan Tuhan dengan melihat raut dokter itu.
“Akhirnya, dia keluar dari masa kritisnya… kemungkinan besar, Kiki akan selamat,” ujar dokter itu seraya tersenyum.
Aku meneteskan air mata kebahagiaan. Semua rasa khawatirku sirna sudah. Tuhan sudah membalas doaku. Aku diberikan kesempatan yang berharga untuk lebih menunjukkan sayangku pada Kiki.

Mulai saat ini, aku bertekad akan lebih bersabar menghadapi Kiki. Tak peduli apapun pendapat orang mengenai Kiki. Karena aku sudah diberikan kesempatan berharga untuk menyayangi Kiki.

Cerpen Karangan: Diandra Rahel Tiomaura Situmeang
Facebook: Facebook: Diandra Rahel Situmeang
Nama: Diandra Rahelk T.S
TTL: Medan, 15 September 2004

Cerpen Kesempatan Berharga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perjaka Berponi

Oleh:
Bumi terus berputar, matahari tetap diizinkan-Nya bersinar, rembulan dan bintang-bintang menggantikan peran untuk menerangi langit di waktu malam. Dan menghitung jumlah bintang adalah kebiasaan Usuf, si perjaka berponi. Usuf

Impian Si Ayah Penjahit

Oleh:
Digelarkanlah sehelai kain gerusan yang berwarna kuning tua di atas meja dan diukur dengan menggunakan meteran pakaian. Seorang laki-laki tua tampak sedang menghitung dan mengukur kain gerusan untuk dibentuk

Karena Sering Begadang

Oleh:
Itulah sebabnya kenapa Tyo banyak dikenal oleh guru guru di sekolahnya, bukan karena prestasinya melainkan karena keburukan sifat Tyo yang selalu datang terlambat pergi ke sekolah, karena sering begadang

Takdir

Oleh:
Aninditha citra, gadis yang biasa dipanggil citra, seorang gadis cantik, pintar dan manis ini bersekolah di sma cendrawasih. Citra memiliki kakak perempuan yang bernama cindy. Orang tua citra adalah

Kebebasan

Oleh:
Otakku masih bekerja dengan normal, Tapi aku berfikiran bahwa aku sudah gila. Penglihatan dan pendengaranku masih berfungsi dengan baik, Hanya saja, aku beranggapan bahwa aku telah lama menjadi seorang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *