Ketika Autisku Berbeda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 23 December 2017

Aku ada karena cinta. Begitu juga dengan kau, kau ada karena cinta.
Aku tak habis pikir betapa teganya orangtuaku menelantarkan aku di panti asuhan, karena aku didiagnosa berpenyakit autis sejak lahir.

Ibu suster yang berada di panti asuhanlah yang merawatku sejak kecil. Membesarkan aku dengan sabar dan penuh kasih sayang. Aku pun tumbuh bersamaan dengan waktu, berdampingan dengan alam, bersahabat dengan tembok, dan hidup dengan banyak petualangan. Aku tak tahu apa yang teman-temanku takutkan dariku, yang kutahu, mereka tidak mau berteman dengan aku. Mereka menganggap aku tidak ada ketika aku ada di dekat mereka.

Ibu suster bilang aku menderita autis sejak lahir. Aku selalu menangis sambil berteriak-teriak ketika keinginanku tidak dipenuhi, aku jarang mandi, aku juga suka memakan apa saja yang bisa kutangkap, sekalipun itu cicak bahkan kecoak.

Hal-hal menjijikkan seperti itulah yang membuatku dijauhi oleh teman-temanku. Eh, salah! Mereka bukanlah teman bagiku. Melainkan hanya pemeran pembantu untuk membuat suara-suara bising dalam kehidupanku. Tapi ibu suster bilang, saat aku berusia 9 tahun aku mulai seperti anak normal. Aku tidak mudah marah dan berteriak-teriak lagi. Namun, aku menjadi memiliki kebiasaan mencium bau benda apa saja di sekelilingku, baik itu sepatu, kotoran, bau badan seseorang, dan bahkan aku tidak dapat mengenali apa benda di sekelilingku jika aku tak mencium baunya. Tapi di samping itu semua, aku dapat menghafal setiap kejadian dalam hidupku. Dari mulai detik, menit, jam, hari, tanggal, dan tahun dapat kuingat secara keseluruhan.

Hingga pada saat umurku yang ke-9 tersebut, aku diadopsi oleh keluarga kaya. Entah apa yang membuat mereka mau mengadopsi anak seperti aku. Aku dididik dan disekolahkan. Namun tak ada bedanya, aku tetap tidak mempunyai teman sampai aku berumur 16 tahun. Namun di usiaku tersebut, aku sudah duduk di bangku kelas 1 SMA. Karena aku dapat menguasai semua bidang study yang diajarkan padaku, sehingga aku mengambil paket c ketika smp.

Di bangku SMA itulah aku mulai dihargai, karena tingkat pengetahuanku yang tinggi dan jauh berbeda dengan teman-temanku yang lain. Hal itu pun menjadi kebanggaan tersendiri bagiku. Saat itu, ada tiga orang anak laki-laki yang mulai mendekati aku. Tidak lain mereka adalah anak nakal di sekolah kami. Mereka membulyku selalu dan menjadikan aku seperti budaknya karena keterbelakangan mental yang masih tampak dalam diriku. Aku dipaksa untuk mer*kok, mencuri, dan mengganggu siapa saja yang bisa diganggu. Lambat laun aku mulai terbiasa dan cocok dengan cara bermain mereka.

Namun pada suatu malam, tepatnya pukul 11.24.03 wib, mereka mengajakku pesta s*bu di rumah salah satu temanku itu. Aku tidak pernah tahu bahwa mereka terikat dengan benda haram tersebut. Aku ketakutan, aku melarikan diri dan memutuskan untuk bersembunyi ke tong sampah besar di dekat rumah itu.

Pada pagi harinya aku dibangunkan oleh seorang tukang sampah, karena semalam aku tertidur di sana. Aku keluar dan melihat rumah temanku itu dikerumuni banyak orang, rumah itu diberi garis pembatas dan banyak polisi yang berjaga di sana. Tak lama kemudian, ambulan datang dan membuatku semakin kebingungan. Tak kusangka ketiga temanku itu telah meninggal tadi malam. Entah karena nark*ba atau ada hal lain, tak tahu dan tak mau tahu lagi tentang itu.

Di kelas 2 SMA aku pindah sekolah. Aku pindah karena tak mau lagi mengingat temanku yang dulu. Di sekolahku yang baru aku merasa paling hebat, dan nyaris tak ada tanda seperti berpenyakit autis. Aku memang menjadi nakal, dan menjadi ketua genk anak nakal saat itu. Banyak hal buruk yang kulakukan, seperti mencuri dari toko pakaian, sepatu, dan perlengkapan mandi. Aku juga pernah mencuri banyak makanan dari toko roti bersama dengan teman-teman genkku. Dan semuanya itu kami sumbangkan ke panti-panti asuhan. Aku tak tahu apa yang harus kuperbuat agar hidupku dapat lebih berarti. Namun yang pasti, aku hanya ingin membantu orang susah, menghibur yang sedih, berfantasi dengan duniaku sendiri, bermain dengan caraku sendiri, dan berbagi tawa dengan orang-orang di sekelilingku.

Namun akhirnya, aku mencapai titik terendah dalam hidupku. Kini aku terbaring lemah di salah satu ruangan rumah sakit. Aku didiagnosa terkena kanker otak, selain itu aku juga mengalami gagal ginjal yang semakin melengkapi penderitaanku. Namun disamping itu semua, aku bahagia. Karena di setiap sisa hari yang kumiliki banyak orang yang menjengukku, dan tak hentinya mereka menyemangati aku. Namun malaikat Tuhan berkata bahwa aku harus pergi. Aku sudah menyelesaikan apa yang seharusnya kuselesaikan. Aku bahagia melihat orang yang dulu membenciku datang menjengukku disela nafas terakhirku. Di samping itu, kulihat wajah ayah dan ibu kandungku. Penyesalanlah yang mereka tuai karena telah menyia-nyiakan aku. Dan mereka tersadar bahwa autis yang kuderita berbeda. Percayalah bahwa autis itu dapat menjadi normal, asal kau percaya bahwa Tuhan itu adil.

Cerpen Karangan: Novebrina Silalahi
Facebook: Novebrina Silalahi

Cerpen Ketika Autisku Berbeda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


(Bukan) Kisah 1001 Malam

Oleh:
Dedaunan kering beterbangan mengiringi langkahku. Tampaknya Sang Mentari sedang malas memunculkan cahaya hangatnya atau karena kumpulan mendung yang seolah arisan, menutupinya. Semilir angin tak begitu dingin, tapi cukup membekukan

Menggapai Sebuah Impian

Oleh:
Sebuah kebahagian adalah impian semua orang, namun apakah aku bisa mendapatkan kebahagiaan itu? mustahil bagiku. Aku merasakan hidupku tak pernah bahagia. Semenjak orangtuaku berpisah, sifat mereka berubah. Mereka menjadi

Permintaan Terakhir Kyla

Oleh:
Pagi itu sangat indah, sejuk dan juga cerah membuat semua hati senang dan bahagia karenanya tapi bukan untuk hati Kyla. Pagi itu baginya tak indah mungkin seperti pagi-pagi yang

Pumba

Oleh:
“Wooooo! Tumben banget lo, Fel?,” tanya Riska dengan menyalami Felly seperti biasanya. “Sejak kapan lo jadi hijabers dengan gaun kayak begitu, hah?!,” tanya Billy. “Kalau bukan karena aturan sekolah

Awan Kelabu di Langit Itu

Oleh:
Saat mentari mulai menampakkan dirinya pada dunia, para ayam pun mulai memperdengarkan suara indahnya, saking indahnya aku malas bangun dari mimpi-mimpi indahku. Ya, hanya dalam mimpi aku bisa melihat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Ketika Autisku Berbeda”

  1. dinbel says:

    Kerensssssss, bangets cerita nya. Walau singkat tpi bisa menginsfirasi banyak orang. Terutama para orang tua yg memiliki anak yang berkebutuhan khusus. Di tunggu ya kakak cerpen insfirasi lain nya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *